
Fiksi tetaplah fiksi..!!
🌹🌹🌹
Bang Wira menahan laju darah yang mengalir deras dari perut Dinda kemudian membawa Dinda menuju mobilnya. Bang Siregar yang melihat darah menetes terkejut bukan main.
"Kenapa Dinda??? Kamu apakan Dinda??????" bentaknya.
Bang Wira terdiam, fokusnya hanya tertuju pada Dinda dan tak peduli apapun yang akan orang katakan.
Bang Siregar ikut dalam satu mobil bersama Bang Wira dan Dinda sedangkan Om Ody dan Bang Aaron duduk di bagian depan.
...
Wajah Bang Wira sudah begitu pucat, badannya lemas tak bertenaga menunggu Dinda yang belum usai mendapatkan penanganan.
Bang Siregar kembali menemui adik iparnya usai mendapatkan penjelasan valid dari beberapa orang anggota yang ikut berjaga di rumah Bang Wira.
Sesak Isak tangis Bang Wira ikut menusuk hati Bang Siregar. Bagaimana pun juga Bang Siregar juga sangat menyayangi adiknya itu meskipun hanya adik tiri.
Tak lama dokter Nick dan dua orang dokter keluar dari ruangan. Baru saja dokter menghela nafas dan membuka maskernya, nafas Bang Wira seakan terhenti, denyut jantung tak beraturan seakan menekan hebat.
"Wiraa............"
Terbayang kembali kesakitan batinnya dalam memori kehilangan Adinda dan bayinya. Kini ingatan itu kembali datang menghujam. Harus ia akui saat ini dirinya begitu mencintai Dinda melebihi apapun. Ribuan rasa sakit menghantam dadanya begitu keras hingga raganya, batinnya tak kuat lagi menahan segalanya.
bruuuuggghh...
"Astagfirullah.." para rekan kebingungan membantu Bang Wira yang sudah tidak sadar sebelum dokter mengatakan keadaan Dinda.
...
"Kenapa belum sadar?" tanya Bang Regar sembari membalurkan minyak angin ke tubuh Bang Wira agar littingnya itu segera sadar.
"Suami mana yang tidak tertekan dalam situasi seperti ini. Pernah kehilangan istri pasti meninggalkan trauma. Apa kau bisa bayangkan bagaimana sakitnya jadi Wira. Pekerjaan Wira sungguh tidak mudah." jawab Dokter Nick yang juga membantu menyadarkan Bang Wira.
"Aku paham. Lalu adik ku bagaimana?"
"Masih kritis Gar. Pisau itu menghujam lumayan dalam. Pendarahannya pun semakin 'deras' saja. Banyaklah berdo'a agar semua kembali baik-baik saja..!!" saran dokter Nick.
...
Bang Bayu menyandarkan tubuh Bang Wira padanya, Bang Bayu juga memijat kepala Bang Wira agar juniornya itu bisa lebih tenang karena Bang Wira terus meronta.
"Dindaaa.. Dindaaaaa..!!!!"
"Dinda tetap masih tidur, kamu harus kuat Wira.. kamu sudah janji akan kuat menjaganya" bujuk Bang Bayu.
__ADS_1
"Apalah aku Bang?? Aku tidak bisa menjaganya. Aku tidak bisa menjaga istri-istriku. Untuk apa aku jadi laki-laki. Aku tidak pantas jadi seorang suami" Bang Wira terus berteriak histeris. Jika tidak ada yang menemaninya saat ini mungkin Bang Wira sudah lari bunuh diri lagi tak kuat melihat Dinda yang sedang dalam masa kritis.
"Regar, tolong hubungi litting saya. Minta untuk memberi Wira penenang. Tenaganya terlalu kuat. Abang kewalahan..!!"
:
Bang Wira sudah tidur karena efek obat. Papa Akbar dan mama sudah datang membawa Asya. Gadis kecil itu hanya bisa melihat papanya yang tidur tanpa menyambutnya.
"Sabar ya sayang.. Asya ikut Opa. Papa sakit" kata Mama.
"Apa orang tua Wira sudah tau kejadian ini??"
"Siap sudah Dan. Tapi posisi kerja mereka sedang berada di luar negeri dan tidak bisa segera kembali." jawab Bang Bayu.
"Ya sudah, kita saja yang handle. Tugas luar negeri sudah berat. Selama kita masih bisa atasi, jangan membuat pikiran orang tua Wira..!!" perintah Dan Akbar.
"Siap..!!"
"Lalu bagaimana cucuku..??" tanya Dan Akbar.
~
"Putri papa. Papa tau kamu kuat..!! Papa bangga padamu nak" Papa Akbar membiarkan Asya mencium 'mamanya', bulir air mata Dinda berjatuhan. Papa Akbar tau ada bibir yang sulit berucap tapi air mata mengurai cerita.
"Cepat bangun nak..!! Kau tau.. si taipan timur itu begitu merepotkan kami. Papa bingung bagaimana menjinakan suamimu itu" kata papa berkeluh kesah.
Begitu menurutnya gadis kecil itu memberi ciuman hangat untuk sang Mama.
...
"Baiklah Regar.. Papa akan memindahkan mu di Batalyon nya Wira. Nanti Papa yang akan bilang ke pusat..!!" kata Papa Akbar.
"Pa, saya titip Hazna.. dia nggak punya siapa-siapa lagi."
"Siapa Hazna??"
"Calon mamanya anak-anak Pa" jawab Bang Siregar.
"Kamu sama Hazna sudah...."
"Belum pa, saya minta tolong untuk membawa Hazna dalam penjagaan papa sampai saya kembali bertugas. Wira sudah terlalu stress dan tidak bisa menguasai diri. Amarahnya bisa membahayakan dirinya sendiri. Kalau menunggu kepulihan mentalnya.. bisa sangat lama. Jadi biar saya mengambil alih melalui titik pokok yang sudah Wira tunjukan." kata Bang Regar.
"Wira sudah selesai melacak?"
"Sudah pa. Beres, cantik dan sempurna.. sayang ada kejadian ini. Wira tidak mungkin mengerjakan tugas ini. Fokusnya sudah terpecah jadi saya akan eksekusi bersama team. Tolong jangan katakan apapun kalau saya yang menghandle tugasnya. Biarkan Wira menjaga Dinda tanpa beban"
"Baiklah nak, papa merestuimu" Papa memeluk Bang Siregar.
__ADS_1
"Pa.. terima kasih sudah mencintai Mama dan menerima ku dalam hidup Papa. Tanpa Papa, aku bukan siapa-siapa"
"Sayang Papa sama.. antara kamu, Dinda juga adikmu. Semua anak Papa, tanpa syarat"
...
"Nggak kuat Bang..!!" Bang Wira terus muntah hingga badannya semakin bertambah lemas saja.
"Ini Bagaimana Bang?" Bang Maulana sahabat Bang Wira yang baru lapor kedatangan pun langsung sigap membantu Bang Wira.
"Entahlah, semakin parah saja keadaan Wira. Mau di dekatkan dengan Dinda pun tidak mungkin, Wira lemas sekali" jawab Bang Bayu.
"Coba dulu Bang..!!" pinta Bang Maulana.
:
"Kamu yakin??"
"Iya Bang. Tolong tinggalkan saya berdua dengan Dinda..!!" pinta Bang Wira masih duduk di kursi rodanya.
Bang Bayu dan Bang Maulana meninggalkan Bang Wira berdua dengan Dinda yang masih belum juga sadar.
"Assalamualaikum.. apa kabar sayang? Kamu bisa dengar suara Abang?" tanya Bang Wira yang langsung mendapat sambutan lelehan air mata dari sudut kelopak mata Dinda.
"Alhamdulillah.. ternyata kamu masih niat berantem sama Abang" ucap Bang Wira menahan tumpahnya air mata.
Bunyi alat medis di rumah sakit membuat suasana begitu dingin dan senyap. Bang Wira menyandarkan keningnya di ranjang. Tangannya membelai sayang perut sang istri.
"Sayang.. Asya sudah pulang. Dia rindu sekali sama mamanya. Tapi, papanya lebih rindu.. bisakah buka mata indahmu sebentar saja..!! Abang ingin sekali katakan... Abang sangat mencintaimu" Bang Wira sesenggukan tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia merasa lemah menghadapi segala kepahitan ini.
"Sampai terjadi sesuatu sama kamu.. lebih baik Abang mati bunuh diri" akal pikiran Bang Wira sudah ambruk dan goyah.
tiiiiiitt.......
Bang Wira melihat keadaan Dinda saat alat medis di kamar Dinda berbunyi.
Dinda mengejang, nafasnya tak beraturan. Tubuh Dinda begitu kaku.
tiiiiiiiiiiitttt.......
.
.
.
.
__ADS_1