Sayap Perwira

Sayap Perwira
40. Masalah nampan.


__ADS_3

"Bang Rendra??"


"Nahza?? Jadi yang Abang lihat semalam itu kamu??" tanya Bang Rendra.


"Iya, Abang sendirian??" Dinda mengucap basa basi.


"Nanti malam istri Abang baru datang. Hmm.. bisa kita bicara?"


"Maaf, Asya mau makan dulu Bang" kata Dinda langsung menghindar.


Nahza.. Kamu semakin cantik saja dan ternyata kamu istri Wira. Cukup sudah Dinda yang dulu, jangan ada lagi Dinda yang lain di hatiku.


***


"Hai Dinda.. aku Nesya.. istrinya Bang Rendra" sapa Nesya pagi itu saat pertama kalinya bertemu Dinda.


"Iya mbak, salam kenal" Dinda pun tersenyum dan menyentuh pipi mungil bayi yang di gendong Nesya.


"Namanya siapa Mbak?"


"Namanya Aura Hening Anahla. Biasanya di panggil Nala.. Tante Dinda" jawab Nesya.


"Nala, kita nanti main sama-sama ya..!!" kata Dinda.


"Iya Tante Dinda. Sekarang kita belanja ke pedagang sayur di depan Gang yuk..!!" ajak Nesya.


"Ayo mbak."


Nampaknya sudah ada keakraban yang terjadi antara Dinda dan Nesya.


***


"Ya sudah sana. Kamu juga cepat tidur, sudah malam" kata Bang Wira pada sambungan video call. Tiga minggu ini Bang Wira selalu menghubungi Dinda tanpa ada sehari pun terlewati.


"Iya Bang. Abang juga cepat istirahat" jawab Dinda. Entah kenapa melihat wajah Bang Wira yang tidak segera pulang membuatnya sangat kesal.


Dinda berniat mematikan sambungan video call nya tapi tiba-tiba dadanya terasa sesak. Rasa jantung nya seolah seperti terhantam kuat. Dinda menunduk sejenak dan mengatur nafasnya.


"Dek, kamu kenapa??" tanya Bang Wira.


"Mungkin kurang istirahat saja Bang"


"Abang hubungi teman Abang dulu ya. Sabar..!!" Bang Wira juga berniat mengakhiri sambungan teleponnya tapi Dinda melarangnya.


"Dinda bosan sama aura rumah sakit. Dinda nggak apa-apa kok. Kalau memang nanti masih sakit, Dinda lapor piketan" jawab Dinda.


"Lapor piketan piye to. Bilang sama Abang, bukan sama piketan..!!!!!!" tegur Bang Wira.


...


Pluto satu tolong siaga. Black Swan mungkin butuh bantuan. Kalau orbit mengarah ke depan, tolong di pancarkan..!!


Bang Aaron membaca informasi dari Bang Wira.


"Laahh, ada apa nih bini Taipan? Kalau ada masalah.. habis lah kita satu Batalyon" ia pun pergi menuju rumah Bang Wira memonitor keadaan Black Swan kesayangan Taipan.


//


Sampai di rumah Bang Wira, Bang Arron juga melihat Bang Rendra sedang merokok di teras.


"Kamu tenang saja, biar saya yang monitor. Sementara aman" kata Bang Rendra.


"Siap Bang. Ngeri saya kalau berurusan sama Bang Maung." jawab Bang Aaron.


"Hahaha.. sini dulu lah, ngopi. Jangan tegang. Dia itu sebenarnya baik kok, hatinya marshmellow."


Bang Arron akhirnya ikut bergabung bersama Bang Rendra. Canda tawa terdengar di antara pembicaraan santai kaum pria sampai akhirnya terdengar bunyi suara terjatuh dari rumah Bang Wira.


"Apa itu Bang??" tanya Bang Arron.


"Jangan-jangan istri Wira"


"Aduuhh.. ayo dobrak, bisa mati kita Bang" Bang Arron panik sendiri.


Karena mendengar kepanikan Arron, Bang Rendra pun jadi ikut panik, ia dan Arron langsung mendobrak pintu rumah Bang Wira.

__ADS_1


"Ya Tuhan.. Dindaaa..!!


...


"Apa???? Terus bagaimana sekarang??????"


"Masih belum sadar pot. Masih di tangani senior" jawab Bang Rendra.


"Aduuuhh.. masih dua hari lagi aku kembali." Bang Wira mondar-mandir di dalam tendanya dengan gelisah. Ia pun memutus sambungan telepon secara sepihak.


~


"Bangun Regar..!! Berangkat sekarang juga ke Jogja..!!!!! Dinda pingsan. Sampai dua jam lagi lu nggak sampai sana, gua pecat lu jadi Abang ipar..!!!!!!" bentak Bang Wira.


"Astaga.. apa pula nih si Maung. Hobby kali dia merusuh. Apa bakat terpendam nya hanya ganggu jam tidur orang??" Dengan mata masih lengket, Bang Regar segera bangun untuk menemui adiknya di Jogja.


...


Dinda meremas dadanya dengan sesak dan terus memanggil nama Bang Wira. Di tempatnya pun Bang Wira juga gelisah dan tidak bisa tidur.


"Mana si Regar ini??? Kenapa nggak ada kabar??? Pengen kabur dari sini.. tapi naik apa?" gumam Bang Wira pening memikirkan Dinda.


~


Bang Regar memegangi tangan Dinda.


"Sabar.. Beberapa hari lagi Wira pasti pulang..!!"


"Bang Wiraaa..!!" suara lirih Dinda membuat Bang Regar menjadi sedih. Ia segera menghubungi Bang Wira. Setelah mengirimkan video Dinda pada Bang Wira.


~


"Aku benar-benar ingin menghajarmu Maung"


"Dinda kenapa??? Ngomong yang jelas Regar..!!!"


"Bodoh.. Kau memang cari mati..!!" bentak Bang Siregar.


Bang Wira menjauhkan telinganya yang berdengung karena teriakan Siregar.


...


Bang Wira sudah frustasi, hingga pukul sepuluh pagi Bang Wira masih mengurusi masalah Dinda.


"Aaron.. kenapa istri saya????" tanya Bang Wira dengan gelisah.


"Kenapa semua orang sulit di hubungi???????"


~


"Maaf Dinda mengecewakan Abang" Dinda menangis di pelukan Bang Siregar.


"Nggak apa-apa dek. Semua khan sudah terjadi. Cuma Abang menyayangkan saja, semua terlalu cepat. Abang cuma cemas karena kamu terlalu muda bersama Wira." Bang Siregar menenangkan Dinda sampai gadisnya itu tenang.


"Abang nggak marah??"


Bang Regar hanya membelai rambut Dinda dan menyunggingkan senyum di hadapan Dinda meskipun hatinya kacau balau.


~


"Hamil?? Dinda Hamil?????"


"Iya Bang, istri Abang hamil muda.. jadi masih lemas" jawab Bang Aaron.


Suara Arron seperti terngiang di telinga. Jantungnya seperti terhantam kuat. Bayangan kehamilan Adinda berkelebat di pikirannya.


"Allahu Akbar.." Bang Wira menyentuh dadanya dan memastikan dirinya terjaga ataukah hanya mimpi.


bruuuuggghh..


"Dan..!! Dan..!!! Komandan bisa dengar suara saya"


-_-_-_-_-


Bang Wira berlarian menuju kamar rawat Dinda. Tak peduli badannya yang remuk usai latihan gabungan. Karena kebijakan atasan dan latihan memang telah usai, seluruh anggota pun di bubarkan dan diijinkan pulang.

__ADS_1


"Dindaaa..!!" Bang Wira membuka pintu sampai terpeleset dan terjungkal di depan ranjang Dinda.


Dinda lemas tak sadar dalam dekapan Bang Siregar usai mual hebat. Keadaan jantungnya turut memicu kurang stabilnya kehamilan Dinda.


"Dindaa..!! Dek, ini Abang pulang dek..!!" Bang Wira begitu panik sampai menyingkirkan Bang Siregar dengan paksa.


"Mana dokternya???? Kenapa sampai begini?????"


"Kamu bisa tenang dulu apa tidak sih pot???"


Bang Wira menekan tombol darurat berkali-kali tapi perawat tidak kunjung datang.


"Sabar pot, mereka masih jalan kesini..!!"


Saking paniknya Bang Wira, suami Dinda itu sampai menghantam tombol rumah sakit hingga pecah.


"Pot.. Haduuuhh.. bisa hancur ini rumah sakit" tegur Bang Siregar menenangkan Bang Wira.


Sebenarnya hati Bang Siregar sangat geram karena Bang Wira melanggar perjanjian mereka. Tapi melihat Bang Wira yang memeluk Dinda secara posesif, membuat hati Bang Siregar tidak tega juga.


"Sakit ya dek? Yang mana yang sakit??" Bang Wira meniup punggung tangan Dinda yang tertancap jarum infus kemudian menyampirkan pada bahunya agar bisa ia peluk.


"Kamu mau apa sayang?? Buka matanya dulu,. lihat Abang..!!"


Tak lama perawat masuk ke dalam ruangan dan langsung menerima kemarahan Bang Wira.


"Apa saja kerja kalian???" bentak Bang Wira.


"Mulutmu pot.. Astaga..!!!!" tegur Bang Regar.


//


"Makan ya dek..!!" Bang Wira membujuk Dinda agar istrinya itu mau makan.


"Dinda memalingkan wajahnya dan tidak mau bicara lagi"


Bang Wira menghapus air mata menggunakan lengannya. Ia sungguh tak paham dengan Dinda yang sebentar marah, sebentar senang, sebentar mau bicara, sebentar lagi menangis.


"Dinda maunya apa sih sayang??" Bang Wira sungguh melembutkan suaranya, sifat garangnya luntur terbawa angin membuat Bang Siregar terkikik geli.


"Bilang aja dek, mumpung di tawari tuh" kata Bang Siregar memanasi.


"Nikahin Dinda.. Dinda nggak mau buat Papa malu" jawab Dinda menuntut dengan emosional.


Bang Siregar dan Bang Wira pun saling lirik.


"Kamu mau nikah lagi?? Kamu sama Wira itu sudah menikah" kata Bang Regar.


"Kapan Bang..??? Dinda nggak merasa di nikahi"


"Kamu bagaimana sih dek, kita khan buat surat perjanjian itu sama-sama. Kamu juga yang sudah tanda tangan. Abang juga sudah mengakui pernikahan kita di secarik kertas di bawah surat perjanjian kita sebelum Abang berangkat latgab." sambar Bang Wira.


Dinda terdiam mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Nggak ada pesan apa-apa dari Abang. Yang ada hanya kertas makanan yang Abang minta"


"Astaga Tuhan, makanya khan Abang bilang.. kita harus bicara. Kenapa kamu suruh Abang bicara sama nampan????? Inilah akibatnya kalau jadi istri pembangkang. Kualat kamu ini..!!!! Tau rasa kamu sekarang.. perutmu itu bengkak karena berani sama suami" tegur Bang Wira


Dinda semakin terisak.


"Abaaaaang.. Dinda takut jadi hamil"


"Duuuhh.. mumet aku pot, wes bablas iki terus piye???" Bang Wira mengurut pangkal hidungnya karena bingung sendiri.


"Angkat tangan gue Wir. Celamitan amat sih lu" gerutu Bang Regar.


"Ya sudahlah, biar Dinda belajar ngasah sangkur keramat"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2