Sayap Perwira

Sayap Perwira
100. Mati kutu.


__ADS_3

"Dari hasil pemeriksaan medis Dinda.. Ada depresi yang di alami istrimu. Maaf kalau aku harus tanya ini. Apa kamu ringan tangan?" tanya dokter.


"Nggak lah Bang. Mana tega saya main tangan menyakiti perempuan" jawab jujur Bang Wira.


"Berarti kamu sudah menyerang mentalnya. Kita butuh dokter kejiwaan Wir"


"Ya Allah Bang.. apa sampai separah ini keadaan Dinda?" tanya Bang Wira syok mendengar keterangan dokter.


"Iya Wira. Tatapan mata Dinda kosong. Dari riwayat yang saya terima, Dinda memang sempat frustasi dengan penyakit jantungnya. Tapi sekarang keadaan ini kembali menyerang Dinda, entah karena apa.. mungkin kamu dan Dinda yang tau jawabannya" jawab Dokter menjelaskan.


...


"Makan ya sayang..!!" bujuk Bang Wira sebelum dokter jiwa datang untuk memeriksa keadaan Dinda.


"Dinda mau pisah sama Abang"


"Dinda.. yang menjadi beban di hatimu itu sudah tidak ada? Kenapa kamu masih ingin pisah dari Abang?" tanya Bang Wira.


"Mbak Adinda memang tidak ada, tapi bayangnya selalu ada di antara kita karena Abang tidak adil membagi perasaan Abang"


"Abang tidak akan begitu lagi. Abang janji tidak akan ada Adinda lagi di antara kita" Bang Wira sudah cemas ketakutan karena Dinda terus saja menolak nya.


"Janji hanya tinggal janji Bang. Dinda sudah nggak bisa percaya siapapun lagi termasuk Abang"


:


Bang Wira hanya bisa menunggu di luar saat dokter jiwa memeriksa keadaan Dinda. Terdengar suara tangis yang begitu menyakitkan.


"Saya ingin pisah dari Bang Wira. Tapi Bang Wira nggak mau melepaskan saya..!!!"


"Kenapa Bu Dinda ingin berpisah?"


"Karena suami saya itu terlalu mencintai istrinya yang sudah tiada. Mbak Adinda" jawab Dinda.

__ADS_1


"Bu Adinda sudah tidak ada, Pak Wira hanya mencintai bayang semu. Tapi dalam keadaan nyata.. Pak Wira hanya mencintai ibu. Alangkah baiknya ibu belajar berdamai dengan kenyataan."


"Apa dokter ingin berada di posisi saya? Setiap hari di cintai hanya sebagai pelampiasan. Menyayangi hanya karena sudah terlanjur menikah. Saya di cintai karena saya yang hidup dan bisa menjadi teman yang bisa di ajak bicara. Suami singgah menggauli karena nalurinya sebagai pria yang datang tapi tidak ada cinta di dalamnya. Tidak ada rindu, tidak ada ikatan batin, Abang tidak mencintai saya" kata Dinda penuh dengan emosi.


Bang Wira merosot bersandar di dinding menangisi setiap kata dari Dinda.


"Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah Dinda. Tajam sekali sakit hatimu sayang." rasanya tak kuat mendengar tangis perih Dinda. Ia baru menyadari sakitnya perasaan melihat orang yang ia cintai sedepresi ini.


"Memang Abang sangat mencintai Adinda sayang, maafkan kecerobohan Abang sampai membuatmu seperti ini. Abang janji akan merubah semuanya. Demi kamu, demi kelangsungan rumah tangga kita. Tapi mencintaimu.. Abang tidak pernah bohong"


Langkah cepat terdengar menghampiri. Bang Siregar datang membawa wajah geram dan panik.


"Kenapa sampai seperti ini???" tanya Bang Siregar sembari mengangkat kaos Bang Wira.


"Aku sudah bilang untuk kendalikan perasaanmu..!! Waktu itu kamu sendiri yang meminta Dinda dan berjanji untuk tidak pernah ada lagi nama Adinda yang kamu sebut. Kalau dia masih ada di hatimu.. ya terserah padamu.. asal jangan pernah kamu ucapkan di hadapan aduk ku Dinda" tegur keras Bang Siregar.


"Aku nggak sengaja" jawab Bang Wira.


"Kamu benar-benar cari mati..!!! Sekarang Dinda jadi tertekan karena ulahmu. Serangan jantung bisa saja mencabut nyawanya tiba-tiba. Apa kamu sudah siap jadi duda untuk kedua kalinya??? Bodoh sekali kau pot..!!!!!!"


Tak lama dokter keluar dari kamar rawat Dinda. Wajah dokter seakan menunjukan situasi yang tidak baik.


"Keadaan Bu Dinda tidak baik. Saya tidak bisa lagi bertanya mengingat keadaan jantungnya" kata dokter.


"Saran saya untuk Pak Wira.. segera move on dan melanjutkan dengan pasangan yang masih ada di dunia. Bu Dinda sangat butuh dukungan moril. Yang pergi biarlah pergi.. sekarang PR kita berat Pak Wira, karena juga harus mempertahankan janin yang baru tumbuh dalam rahim Bu Dinda"


Mata Bang Wira masih melotot mendengarnya tapi Bang Siregar sudah menghajar Bang Wira habis-habisan.


"Sampai kapan kamu mau siksa Dinda??? Bodoh.. benar-benar bodoh....!!!!!!!"


:


"Tapi pot, selama hampir lima bulan sejak Dinda melahirkan, aku baru menyentuhnya tadi" protes Bang Wira pada littingnya yang juga seorang dokter kandungan.

__ADS_1


"Kamu merasa pernah mendekati Dinda nggak selama ini?" jawab dokter.


"Pernah lah.." Bang Wira melirik Bang Siregar yang masih menatapnya dengan jengkel.


"Tapi khan tidak sampai melakukannya dan aku nggak tanam juga karena aku ingat keadaan Dinda"


"Ya itu, apapun alasannya.. 'body contacts' tetap bisa mengakibatkan kehamilan, apalagi masih berbekas" kata dokter menjelaskan.


"Astagfirullah.. piye iki" perasaan Bang Wira rasanya berantakan, tapi dalam hati masih terucap syukur karena Dinda tidak mungkin lagi meminta cerai karena kehamilan ini.


"Ini akibat kedunguanmu Wir.. aku tidak mau tau. Selesaikan masalah ini dan aku tidak mau terjadi sesuatu sama Dinda. Sampai Dinda menangis lagi karena mu, aku Abangnya yang akan mengahajarmu lagi..!!!!" ancam Bang Siregar.


"Iya.. aku tau, maaf..!!"


.


.


.


.


Hai readers.. berhubung SP sudah mau tamat. Nara lanjut di SP 2 ya. Pihak NT tidak mengijinkan sesion 2 ada disini, jadi harap maklum adanya ya. ( Check SP 2, apakah tetap berkonflik sampai akhir?? )


Kita lihat yuk nanti.. siapa saja tokoh di SP 2.😘😘😘🙏🙏🙏


Happy reading..!!!


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2