Sayap Perwira

Sayap Perwira
27. Nyaris hancur.


__ADS_3

Bang Wira berusaha keras membongkar identitas Sahara yang begitu meresahkan itu. Pasalnya ia sendiri belum pernah bertemu bahkan belum pernah tau siapa Sahara.


Mata nya sesekali melirik Dinda yang sudah terlelap dalam hangatnya selimut tebal.


Kenapa perasaanku nggak enak sekali. semua akan baik-baik saja bukan?


Sejenak ingatannya tertuju pada pembantaian yang telah ia lakukan. Ia memang termasuk prajurit berdarah dingin. Menebas kepala orang bukanlah hal yang sulit bagi Taipan timur.


Bagaimana kalau dia mengincar anak dan istri ku? Ini adalah profesiku. Aku harus bisa menyelesaikan nya tanpa melibatkan Dinda sedikitpun.


Saking lelahnya Bang Wira, ia sampai tertidur dengan laptop terbuka. Lelah pikiran, lelah di badan ia rasakan begitu kuat. Sejak ia kembali dari penugasan, ia belum tidur dengan benar.


Sesaat kemudian Dinda terbangun dan melihat laptop Bang Wira menyala.


"Ini kenapa laptop Abang masih menyala?"


Dinda sedikit bergeser dan berniat mematikan laptop tersebut, tapi disana.. betapa syok dirinya saat melihat sosok yang ia kenal ada di layar laptop itu. Perlahan tapi pasti.. Dinda memindahkan file tersebut dari laptop ke ponselnya. Sedikit banyak Bang Wira memang sudah mengajarinya cara menggunakan laptop.


***


Pagi ini Bang Wira gelagapan melihat layar laptopnya masih menyala. Ia segera mematikan laptop nya.


"Ya Allah.. untung Dinda tidak melihatnya. Bisa kacau kalau sampai dia lihat" gumamnya pelan karena masih terbersit syukur dalam hatinya.


Tak lama Dinda menggeliat ringan dan terbangun dari tidurnya tapi wajah Dinda terlihat begitu sendu seolah menyimpan sesuatu.


"Sudah bangun sayang?" sapa Bang Wira.


Dinda terdiam seribu bahasa dan langsung menuju kamar mandi.


:


"Makan sama-sama yuk..!! Abang suapin" Bang Wira berusaha tetap berkomunikasi dengan Dinda meskipun Dinda nampak enggan bicara padanya, ia hanya menganggap semua ini hanya bawaan si jabang bayi.


"Abang duluan saja. Dinda belum lapar" jawab Dinda.


"Kenapa sih dek? Ada apa lagi? Bukankah kita sudah bicarakan ini semalam? kenapa kamu masih marah. Ini bukan Abang" selera makan Bang Wira mendadak hilang karena masalah Dinda yang masih terus bersikap aneh dan dingin padanya.


"Nggak ada apa-apa. Dinda hanya capek saja"


Bang Wira memilih diam dan menyudahi masalah ini, ia tidak ingin Dinda merasa tertekan dan stress menghadapi masalah. Dengan cepat ia menghabiskan sarala nya walaupun perutnya tidak ingin menerima karena rasanya sudah terlalu kenyang.

__ADS_1


"Abang berangkat kerja dulu ya dek" pamit Bang Wira tetap mengecup dan mengasihi dinda seperti biasanya.


"Iya.." jawab Dinda pelan.


...


"Rumah saya juga panas Bang. Semalam saya sudah bisa sedikit melunakkan hati Dinda tapi pagi ini sikapnya kembali berbeda. Entah karena dia hamil atau memang masih terpengaruh masalah Sahara ini."


"Nanti kita bicara bersama dan menjelaskan pada istri kita. Kalau sampai terlambat.. kita akan susah memperbaikinya" jawab Bang Bayu.


:


"Dari email ini. Mbak sudah bertukar nomer. Disini sudah di jelaskan, Bang Wira yang ada hubungan dengan Sahara dan mencoba mengenalkan Sahara sama Bang Bayu"


"Dinda juga sudah menghubungi nya mbak, tapi mereka bilang Om Bayu yang sudah bersama Sahara dan Om Bayu yang mengenalkan sama Bang Wira" jawab Dinda juga menunjukan pesan singkat dari Sahara.


Tepat saat itu Bang Wira melintasi rumahnya hendak menuju rumah Bang Bayu, namun siapa sangka malah mereka melihat Mey dan Dinda sedang berdebat di depan rumah.


"Duuh Bang.. mereka sudah ketemu. Mati aku Bang" Bang Wira begitu panik melihat Dinda berhadapan dengan istri Bang Bayu.


Secepatnya Bang Wira memarkir motor dan membuang puntung rokok dengan asal.


"Iya ma, jangan marah-marah.. kasihan si kecil" bujuk Bang Bayu kemudian memegangi tangan Mey.


plaaaaakkk..


"Abang nggak usah banyak alasan" pekik Mey usai menampar pipi Bang Bayu.


"Dindaa.. sayang..!! Dengar Abang dulu dek..!! Ini nggak benar sayang..!!" bujuk Bang Wira.


"Sekarang Dinda terlihat bodoh Bang. Dinda nggak tau mana yang benar dan mana yang salah????? Lalu apa maksud video ini???????" Dinda menyerahkan ponselnya dan ternyata video tersebut sudah ia ketahui.


Bang Wira mengusap wajahnya dengan gusar.


"Makanya Abang bilang kita harus bicara. Kapan kita mau bicara kalau kamu semarah ini dek????"


"Dinda nggak berhak marah, karena Dinda bekas orang. Itu khan maksud Abang...!!!!!!!!" pekik Dinda.


"Astagfirullah hal adzim.. Dindaaaaaa..!!!!!" emosi Bang Wira akhirnya terpancing dan tak sengaja membentak Dinda, bahkan Mey pun sampai terdiam. Bang Bayu mendekap istrinya dan mengusap punggung Mey hingga istri Danyon itu luluh dan tenang tapi tidak bagi Dinda yang malah semakin kalap.


Dinda menyambar cambuk di dinding rumahnya, ia mencetuskan cambuk itu ke tubuh Bang Wira, suaminya itu tidak menghindar dan menerima kemarahan dinda. Masih belum cukup dengan itu, Dinda masih menendang Bang Wira.

__ADS_1


"Abang tidak melarangmu membuang emosi mu Dinda. Tapi kalau sampai ada apa-apa dengan anak-anak ku.. kamu akan dapat pelajaran dari Abang..!!" ucap Bang Wira begitu tenang tapi penuh ancaman keras karena ia sudah melihat Dinda seakan menahan rasa sakit.


"Dinda nggak peduli. Lebih baik Dinda mati. Tidak ada gunanya lagi Dinda hidup"


Dinda melayangkan cambuknya tapi kali ini Bang Wira menangkapnya dan menarik Dinda. Dinda yang terkejut dengan reaksi Bang Wira akhirnya ikut terseret cambuknya. Dengan cepat Bang Wira menghantam sisi leher Dinda hingga istrinya itu tumbang.


"Abang jahaat" ucap Dinda sebelum hilang kesadaran.


Bang Wira mendekap erat dan merosot bersama Dinda. Emosinya luntur berubah menjadi rasa tidak tega.


"Sumpah mati Abang nggak pernah mengkhianati pernikahan kita. Maafin Abang..!!" Bang Wira menciumi wajah Dinda, tak hentinya Bang Wira mengusap disana sini.


"Ma, nanti ayah jelaskan. Sekarang kamu bantu Dinda. Ini juga karena salahmu..!!" bujuk Bang Bayu untuk penanganan darurat tapi kemudian ia menghubungi dokter Nick.


:


"Kandungan istri Abang aman" jawab dokter Nick pada Bang Bayu kemudian menoleh pada Bang Wira yang bersandar lemas di sofa sambil mengusap perut Dinda.


"Wira.. sementara baby twins mu aman. Tapi, keadaan Dinda........"


...


"Abang nggak pernah berhubungan dengan wanita lain, urusan perdagangan wanita ataupun sampai nikah siri"


Dinda memalingkan wajahnya, hatinya belum kuat mendengar semua penjelasan Bang Wira.


"Ini hanya manipulasi untuk memecah keadaan, kalau Abang stress, terpengaruh dengan masalah ini.. Abang tidak akan berpikir panjang dan keluar dari jalur. Mereka sudah paham.. cara memancing pria terutama yang notabene dalam pekerjaan Abang, adalah melalui keluarganya" dengan sabar Bang Wira menjelaskan pada Dinda.


"Sekarang yang buat Abang kepikiran, bukan masalah ini dek. Tapi kamu..!! Mbak Mey saja yang sudah bertahun-tahun mendampingi Bang Bayu masih bisa termakan jebakan, apalagi kamu yang masih terlalu awal. Abang bisa maklumi itu. Tapi.. jangan sampai semua ini mempengaruhi rumah tangga kita, ingat sayang.. sebentar lagi kita mau punya anak."


"Ini berat sekali Bang" jawab Dinda perlahan melunak.


"Nanti Abang jelaskan pelan-pelan..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2