
"Apa gunanya Dinda hidup Bang? Dinda tak ada gunanya untuk Abang dan hanya bisa menyusahkan saja"
"Lalu apa gunanya ada Abang?? Abang ada disini untuk kamu, kita akan besarkan Asya dan Tian sama-sama" jawab Bang Wira.
"Apa ini sikap dan mental istri Wiranegara?"
Bang Wira memahami kemungkinan Dinda mengalami baby blues. Istrinya itu ingin sekali menggendong Tian tapi sangat takut menatap bayi mungil itu. Dinda sangat takut menyakiti bayinya.
"Dinda nggak bisa jalan.. Dindaaa..." Dinda menangis menutupi wajahnya.
"Uusshhh.. sayang, kamu ini baru sadar. Wajar kalau sendi dan otot masih lemas. Bagaimana kalau Abang kompres dulu.. nanti kita belajar jalan..!!"
"Sudahlah Bang, jangan menghibur Dinda. Sakit jantung ini sudah terlalu parah" kata Dinda pesimis.
Bang Wira memeluk Dinda dengan erat. Betapa rapuh dan lemah istrinya saat ini, namun dirinya harus memberi kekuatan untuk ibu dari buah hatinya itu.
"Kita tidak boleh mengungguli Tuhan.. hanya Dia yang berhak atas segalanya"
...
Dinda merasakan ngilu saat Bang Wira mengompres kakinya tapi akhirnya ia merasakan nyaman dan perlahan ototnya terasa rileks.
"Kita belajar jalan sekarang?" tanya Bang Wira.
Dinda tersenyum dan mengangguk.
:
Bang Wira menahan tubuhnya Dinda yang akan terjatuh sampai tak sengaja bibir Bang Wira mengecup kening Dinda. Bang Wira pun ikut salah tingkah saat pipi Dinda memerah.
"Kita seperti main film jepang ya dek" ucap Bang Wira membuka pembicaraan.
"Film perang Bang?" tanya Dinda.
"Astaga.. film romantis lah. Mau apa kita main perang-perangan?" jawab Bang Wira mendengar respon Dinda.
"Oohh.."
__ADS_1
"Bang, apa Dinda masih bisa punya anak lagi?"
"Masih.. tapi punya Tian dari kamu, itu sudah cukup. Abang juga sudah punya Asya. Sepasang.. dan hidup Abang sudah lengkap" jawab Bang Wira.
"Dinda masih pengen punya anak perempuan untuk Abang."
Bang Wira membelai rambut Dinda dengan lembut, ia tidak menanggapi rengekan Dinda. Ia tau pikiran dan hati Dinda sedang goyah.
"Sayang.. manusia adalah makhluk paling egois dan tamak. Abang tau kamu ingin memberikan 'hadiah' itu untuk Abang, tapi sebagai manusia biasa.. kita tidak boleh melampaui batas. Ada banyak manusia di belahan dunia ini yang menginginkan keturunan tapi belum juga terkabulkan, sedangkan kamu sudah bisa memilikinya.. jadi banyaklah bersyukur. Kesehatan juga sangat mahal harganya. Sekarang, tugas kita sebagai orang tua hanya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Allah menagih kesiapan kita sebagai orang tua atas titipanNya"
Dinda mengangguk mengiyakan nasihat Bang Wira.
"Jangan tanya tentang anak lagi ya..!!" pinta Bang Wira.
Dinda mengangguk lagi. Tapi entah apa yang sedang di rasakan istri Wira ini.
***
Dua bulan berlalu.
"Cantik sekali Mbak Hazna" Dinda memainkan pipi bayi mungil dalam gendongan papanya.
"Jelaaaass.. anak siapa dulu donk" jawab Bang Siregar dengan sombong.
"Anak coba-coba selesai sunat ya?" ledek Bang Wira membuat wajah Bang Siregar masam.
"Jangan bongkar kartu di depan anak gadisku kenapa sih Wir, nggak asyik banget lu" ucap kesal Bang Siregar tapi kedua ibu muda itu sudah tertawa terpingkal.
"Sudah.. jangan berdebat lagi. Pokoknya Papa Nila paling hebat." Hazna mencairkan suasana.
:
Bang Wira dan Bang Siregar sedang sibuk berbincang masalah kegiatan kantor, tapi sesaat kemudian perasaan mereka berdua terusik dengan hadirnya sesosok pria di hadapannya.
"Rendraa??" Bang Siregar terbelalak namun wajah Bang Wira nampak datar saja. Ia terus menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
"Maaf aku mengganggu."
__ADS_1
"Duduk dulu bro..!!" ajak Bang Siregar selaku tuan rumah. Ia tau tujuan kehadiran Rendra malam ini.
"Nala sedang tidur sama Nila. Kamu mau menemui Nala?"
"Besok pagi saja aku temui putriku" jawab Bang Rendra.
Bang Rendra melihat Bang Wira sama sekali tidak melihat ke arahnya, menyapa dirinya pun tidak. Merasa bersalah dengan semua kejadian yang menimpa rumah tangga littingnya itu, ia melapangkan hati menyapa Bang Wira lebih dulu.
"Hai Wira.. apa kabarmu?"
"Buruk" jawabnya singkat.
"Aku minta maaf, karena ulahku.. rumah tanggamu menjadi korban" kata Bang Rendra.
"Semua sudah terjadi. Lebih baik kau perbaiki dirimu menjadi lebih baik. Kita sama-sama punya istri yang nasibnya kurang beruntung. Apa kau mau menyakiti wanita lebih dalam lagi?" tegur Bang Wira.
"Aku sudah sadar Wira. Sakitnya Nesya menjadi hukuman terberat buatku. Kini aku hanya punya Nala" jawab Bang Rendra.
"Maksudmu??"
"Aku akan mengambil Nala dan menceraikan Nesya. Tidak mungkin Nala akan di besarkan ibu yang kurang sehat mentalnya" ucap Bang Rendra tanpa rasa bersalah.
"Kau yang sakit jiwa Rendra. Kau yang buat semua ini berantakan tapi kau mau lepas tangan. Sebenarnya kau ini waras atau tidak????" bentak Bang Wira.
"Aku juga akan mempertahankan hak wali Nala, aku tidak rela dia hidup dengan ayah sepertimu" imbuh Bang Siregar ikut geram.
"Apa kalian berdua ini pria baik-baik?" Bang Rendra tidak terima dengan penolakan kedua sahabatnya.
"Aku mungkin memang bukan pria baik-baik. Tapi masih waras dan punya akal" ucap Bang Wira tak sabar lagi. Rasanya ingin sekali menghantam wajah Bang Rendra sampai babak belur.
.
.
.
.
__ADS_1