Sayap Perwira

Sayap Perwira
73. Awal badai.


__ADS_3

Warning..!!!


Dilarang spoiler di tengah cerita yang penuh konflik dan teka-teki..!!


🌹🌹🌹


"Abang mau hajar Alena?? Sekarang Abang buktikan kalau Dinda lebih penting dari Alen. Hubungan darah tidak berarti dan orang lain lebih Abang bela"


Dalam dada Bang Wira bergemuruh menahan rasa marah yang tidak mungkin ia luapkan pada sang adik.


"Aaron.. bawa dia pergi sebelum tangan Abangnya ini tak lagi bisa di mentoleransi sikap dia untuk Dinda.


Secepatnya Bang Aaron memisahkan Alena dan Bang Wira.


~


"Astagfirullah hal adzim.. kenapa Alena jadi begitu? Sebenarnya ada masalah apa antara Alena dan Dinda?" gumamnya tak karuan.


Mungkin nanti harus kutanyakan pada Dinda agar masalah ini cepat selesai. Aku, Dinda dan Alena sudah menjadi satu keluarga.. tidak mungkin terus ada ketegangan di antara dua wanitaku ini.


~


"Jangan begitu dek. Bang Wira dan Dinda sudah mengalami cobaan yang begitu berat. Jatuh bangun mereka menghadapi semuanya."


Alena diam saja tidak menjawab ucapan Bang Aaron. Segala nasihat Bang Aaron rasanya tak ada satu pun yang masuk dalam akal pikirannya. Tak lama Alena melihat Bang Wira menyambar kunci motornya dan meninggalkan rumah.


"Alen mau masuk dulu Bang..!!" kata Alena kemudian meninggalkan Bang Aaron sendiri.


***


Dinda meletakan ponselnya setelah membaca pesan singkat. Keningnya berkerut tapi tetap saja pesan itu membuatnya begitu penasaran.


Ketemuan di hotel???


:


Dinda membantu bibi memasak sembari mengasuh si kecil Asya yang mulai pintar.


Deru suara motor memasuki halaman rumah almarhum Papa Bang Wira. Pukul setengah enam pagi Bang Wira baru tiba entah pergi kemana saja sejak semalam.


"Baru pulang Bang, darimana?" sapa Dinda lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Ada keperluan sedikit. Kenapa sibuk sekali? Nanti kamu kecapekan. Pagi ini mual nggak?" tanya Bang Wira.


"Nggak Bang, hari ini si dedek anteng." jawab Dinda dengan senyum cantiknya.


Bang Wira sedikit membungkuk mencium perut Dinda dan mengajak calon bayinya bicara.


"Pintar anak Papa. Jangan nakal, jagain Mama ya..!! Kasihan kalau Mama sakit"


"Adek nggak nakal kok Papa"


"Pintar..!!" Bang Wira mengusap perut Dinda.


"Abang mau keluar lagi dek. Ada urusan lagi. Nggak apa-apa khan?"


"Iya Bang, Dinda juga ijin mau keluar sebentar"


"Kemana?" tanya Bang Wira.

__ADS_1


"Belum tau Bang. Teman Dinda ajak ketemuan sebentar"


"Di kawal Aaron ya..!! Atau sama om-om yang jaga di depan itu..!!" kata Bang Wira sembari melihat ponselnya karena ia memang akan keluar rumah.


"Dinda sendiri saja boleh Bang??"


Bang Wira berpikir sejenak. Selama ini memang dirinya belum pernah memberikan me time untuk Dinda. Usia istrinya masih terlalu muda dan ia tidak ingin pernikahan mereka sebagai ajang pengekangan.


"Ya sudah, tapi sinyal GPS tidak boleh mati..!!" pesan Bang Wira.


"Oke Papa sayang"


"I love you Ma. Jangan nakal ya disana..!!" Bang Wira mengecup kening Dinda.


...


"Saya nggak bisa lama An.. Istri saya ulang tahun, saya mau siapkan acara untuk istri saya."


"Kamu jangan bohong Bang. Kenapa kamu bohongi dirimu sendiri kalau kamu nggak bahagia. Selama ini kamu mencariku kemana-mana khan?" jawab Anne.


"Ngomong apa kamu An. Saya nggak ngerti" Bang Wira mengambil ponselnya lalu mencari posisi Dinda melalui GPS.


Hotel??? Untuk apa Dinda ke hotel?? Tapi nggak jauh dari sini, lebih baik aku kesana saja.


Bang Wira menjauh pergi tapi tak lama Anne pingsan dan membuat Bang Wira terkejut.


"Anne.. Kamu kenapa An?????"


...


"Saya punya bukti kalau suamimu ada main dengan wanita lain" kata seorang pria yang menemui Dinda.


"Mana buktinya??"


"Temui suamimu di rumah sakit 'Bunda'. Kamu akan tau bagaimana kelakuan suamimu selama ini..!!" kata pria yang sama sekali tidak di kenal Dinda.


...


Dinda berjalan ke ruang ibu dan anak. Disana ia melihat Bang Wira masuk ke ruangan itu bersama seorang wanita. Awalnya Dinda tidak berpikir macam-macam tapi saat ia mengintip dan melihat pemandangan di ruangan USG, hatinya begitu terluka.


"Sudah besar dia Bang" kata wanita yang Dinda lihat.


"Hmm.. dia sehat sekali."


"Lincah seperti Abang" kata wanita itu.


"Ngawur.. seperti kamu. Lincah, banyak tingkah" jawab Bang Wira.


Wanita itu tersenyum melihat Bang Wira yang berwajah datar.


Jantung Dinda seakan terhantam. Hatinya tak kuat melihat senyum wanita itu untuk Bang Wira. Nafas Dinda memburu sesak. Perlahan ia menjauh dari tempat itu.


"Saya harus pergi. Saya pesankan taksi online untuk kamu pulang..!!" kata Bang Wira pada Anne.


Anne mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih Bang"


"Hmm.. Kalau bisa, Abang jangan terlalu percaya dengan istrimu. Wanita mengalah bukan berarti tidak pandai main belakang"

__ADS_1


"Kamu tau darimana kalau Dinda banyak mengalah??" tanya Bang Wira.


"Taksimu sebentar lagi datang. Saya tinggal sekarang ya..!!"


:


Bang Wira memperhatikan ponselnya, ia melihat tanda GPS Dinda ada di sekitar rumah sakit.


"Dinda di sekitar sini?? Ada urusan apa Dinda di sini. Tadi dia ada di hotel." gumam Bang Wira sembari melajukan mobilnya perlahan.


Bang Wira terus memperhatikan titik GPS hingga matanya melihat Dinda duduk bersama seorang pria di tepi taman kota. Bang Wira pun segera menepi memarkir mobilnya kemudian menghampiri keduanya. Ada hati panas terbakar saat pria tersebut menghapus air mata Dinda. Perlakuan yang tidak biasa di lakukan pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan apapun.


~


Bang Wira tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat sosok yang sedang duduk bersama Dinda. Bang Wira menegakan badan memberikan penghormatannya melihat sosok Arman Martinez, senior Bang Wira.


"Selamat siang Bang..!!" sapa Bang Wira.


"Selamat siang" jawab Bang Martin atau yang Bang Wira kenal sebagai Arman di lingkungan nya.


Melihat wajah Bang Wira seketika Dinda menghindari Bang Wira.


"Tunggu dek. Kamu harus bicara dengan suamimu..!!" bujuk Bang Martin/Arman memegang tangan Dinda dan itu sukses menyulut emosi Bang Wira.


Bang Wira menepak tangan Bang Arman yang menyentuh istrinya.


"Kasar sekali..!! beginikah caramu memperlakukan seorang istri?" tegur Bang Arman.


"Abang tidak usah ikut campur urusan rumah tangga saya dan Dinda"


"Abang hanya tidak suka sikapmu yang kasar. Selama mengenal Dinda, Abang nggak pernah kasar sama Dinda" kata Bang Arman.


"Oohh.. sekarang Abang mau pamer kemesraan masa lalu Abang dan Dinda di Amerika?? Apa kalian berdua ingin mengulang kemesraan itu????" ucap Bang Wira terbawa emosi.


"Waahh.. atau jangan-jangan kalian berdua baru temu kangen di hotel??????"


plaaaaakkk...


"Taukah ucapan Abang itu sangat tidak berarah?? Lalu apa yang Abang lakukan dengan perempuan tadi di rumah sakit??? Menemani selingkuhan Abang yang sedang hamil muda??" bentak Dinda.


"Kamu yang berduaan dengan Bang Arman disini tapi kamu tuduh Abang selingkuh??? Abang hanya antar Anne karena tadi dia pingsan" jawab jujur Bang Wira.


"Berarti Abang menemui wanita lain khan di belakang Dinda??" pekik Dinda.


"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang Dinda???? Kamu juga tidak mengakui kalau kamu baru saja dari hotel. Bersama Bang Arman. Apa jangan-jangan di belakang Abang kamu ada hubungan sama Bang Arman????" bentak Bang Wira.


"Wiraaaa..!!!! Jangan asal bicara kamu..!!!!"


"Reaksi Abang tajam sekali..!! Apa kau ada hubungannya dengan anak itu Bang??" tanya Bang Wira.


"Kamu mabuk Wira???" tegur Bang Arman.


"Katakan itu anak siapa????" bentak Bang Wira menatap tajam Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2