
Jika tidak suka. Harap skip saja nggih. Nara ingin jalan ceritanya seperti ini. Nara tidak mood bersitegang lagi karena sedang menjaga diri. Terima kasih ☺️🙏
🌹🌹🌹
"Masa Bang??"
"Iya, Wira Nangis kejer lihat kamu mabuk. Kamu muntah terus. Nggak sadar buat ulah apa. Wira sudah nggak karuan dek. Orang tidak salah hampir kena hantam. Lampu merah di jalan di makinya. Palang kereta api di ajak gelud" jawab Bang Siregar.
"Belum lagi Wira yang kerepotan menutupi pahamu karena tingkahmu itu"
"Haaahh.. sampai segitunya????"
flashback on..
"Dinda.. sayang. Ojo ngono to dek" Bang Wira sampai melepas seragamnya untuk menutupi paha Dinda.
"Alaah gustiiii.. mati aku aku. Bojoku Gar..!!"
"Makanya mas, punya pacar itu di jagain. Pasti di selingkuhin ya?" ledek seorang pengunjung cafe.
"Eehh.. itu mulut di jaga ya..!!" bentak Bang Wira.
"Wiraaa.. urus Dinda dulu..!! jangan bertengkar" kata Bang Siregar.
"Waaahh.. jangan-jangan masnya ini pelecehan ya..!!" seorang wanita mengambil ponselnya kemudian mengabadikan wajah Bang Wira dan itu jelas saja memancing emosi Bang Wira.
"Kau mulut-mulut netizen laknat. Jangan ikut campur kalau tidak tau jalan ceritanya..!!!" ucap Bang Wira sudah kebakaran jenggot.
"Regar.. kau jelaskan..!! Kalau sampai masih ada netizen seperti ini.. kau akan berurusan denganku..!!"
Daripada terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Bang Regar segera meng handle suasana.
:
"Dindaaa.. Dindaaaaaa..!!!! Muntahkan semuanya..!!" pekik Bang Wira di samping parkiran, ia tidak peduli orang lain akan melihatnya dengan tatapan aneh karena seorang tentara berada di sebuah cafe dan sedang menolong seorang wanita mabuk.
"Urus saja istrimu..!! Aku hanya simpananmu saja..!!" Dinda tak kuat menyangga badannya oleng kesana kemari.
"Ya Allah, ampunilah aku..!! Aku memang benar-benar pantas mati."
"Dinda pengen muntah, perut Dinda sakit" kata Dinda meracau.
"Allahu Akbar.. anak Gar.. Haduuuhh.. Ayo ngebut Gar..!!" Bang Wira segera membawa Dinda ke mobil.
...
"Gimana Nick???"
__ADS_1
"Sabar Wir.. Diam sebentar..!!" kata Dokter Nick.
"Aahh.. Kelamaan.. Sini aku saja yang periksa." Bang Wira merebut stetoskop di telinga dokter Nick lalu menempelkan pada Dinda.
"Astaghfirullah.. nggak kedengaran apa-apa pot. Dinda sama anakku bagaimana?? Aku tadi khan sudah bilang cepat Nick.!!"
"Heeehh dodol.. mana terdengar kalau kamu tempel stetoskop nya di selimut Dinda. Mana sini aku periksa..!!" dokter Nick meminta stetoskop nya kembali tapi Bang Wira menolaknya.
"Kau jangan sembarang sentuh istriku..!!"
"Tuhan Maha Agung..!!" dokter Nick mengambil ujung stetoskop lalu meniup nya dengan kuat.
"Hwaduuuhh.." pekik Bang Wira langsung melepas stetoskop dan menggosok telinganya yang berdengung.
"Lu butuh gue nggak??????? Sok tau lu" ucap keras dokter Nick dengan jengkel.
"Iya, tapi lu juga jangan mepet bini gue." kata Bang Wira bersikeras.
"Demi apa ye, gue pengen banget nimpuk pala lu Wiraaa...!!! get out.. lu ganggu gue..!!!!!!" bentak dokter Nick.
"Nggak.. gue disini..!!"
"Terserah. tapi kalau lu ganggu gue.. ada salahnya gue kerja, jangan salahkan daku kalau software Dinda meleyot"
Bang Wira pun mundur teratur, tenang dan tidak bicara lagi.
"Urusan begituan aja lu anteng. Dasar otak bedah lu"
"Sono balas, lu khan paling jantan kalau bagian baku hantam..!!" ledek Bang Siregar yang akhirnya bisa meluapkan rasa kesalnya melihat tingkah Bang Wira yang terlalu panik melihat Dinda mabuk.
"Nggak apa-apa Wir.. calon bayimu aman, Dinda jantungnya melemah karena pengaruh alkohol... tapi masih terkendali" kata dokter Nick.
Kaki Bang Wira yang semula gemetar, kini menjadi lemah.. ia pun terduduk di lantai. Nafasnya sesak, air mata menggenang. Pandangan matanya kabur.. ia pun tersandar lemas di lemari nakas.
"Alhamdulillah.."
"Wiraaaaa..!!" Bang Siregar dan dokter Nick kelabakan bagaimana caranya merawat Bang Wira.
flashback off...
Bang Wira sudah berdiri di depan pintu dan mendengar Dinda sedang mengobrol dengan Abangnya. Ia membiarkan Dinda paham perasaannya meskipun harus mendengar dari mulut orang lain.
"Dulu Wira itu pacarnya banyak, kita saja sampai iri dia dengan mudah bisa dapat perempuan yang semuanya seksi. Mata para laki sampai hampir loncat lihatnya. Malah kita pun kaget saat tau dia malah menikahi gadis yang sudah hamil karena ulah litting kami." kata Bang Siregar mulai bercerita.
"Jadi Abang bukan menikah dengan janda??" tanya Dinda.
"Bukan, dan suamimu itu ikhlas melakukannya demi menjaga harga diri wanita itu. Dia itu Adinda"
__ADS_1
Dinda menunduk dan mulai berfikir jernih.
"Apakah Mbak Adinda begitu sangat berharga di hati Bang Wira?"
Saat inilah Bang Wira merosot dan meremas dadanya kuat. Mulut tak sanggup berbicara, tapi hati lah yang mengungkapkan segala rasa.
"Adinda sangat berharga karena dia sudah melahirkan anak Wira. Tak ada satu laki-laki pun yang tidak mencintai istrinya apalagi istrinya itu sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan buah hatinya. Tapiii........" Bang Siregar membelai rambut Dinda.
"Masa itu sudah terlewati, cinta pada Adinda tetaplah cinta.. namun telah usai, hanya tinggal kenangan yang tidak akan mungkin kembali lagi dan hanya tersimpan di dasar hati terdalam. Saat ini masa depannya adalah kamu. Cintanya.. sayangnya.. masa depannya hanya bersamamu. Adinda sudah tenang disana, kini yang tersisa hanya kisahmu dan Wira"
"Lalu apa alasan Bang Wira tidak jujur sama Dinda?" tanya Dinda.
"Jabatannya sekarang sudah naik. Kepala seksi intel. Dari yang dulu hanya anggota, kini segala tanggung jawab pekerjaan, dia yang mengaturnya. Pekerjaan ini sangat beresiko Dinda. Wira sangat takut terjadi apa-apa sama kamu. Tak ingin terulang 'tragedi Adinda' dalam hidupnya. Sekarang ini kamu adalah hidupnya dan Abang minta tolong untuk tidak berulah yang memancing emosi maung, karena kalau sudah terjadi sesuatu sama kamu. Satu Batalyon kena dampaknya."
"Dinda hamil khan Bang? Apa Bang Wira bisa cinta sama Dinda?"
"Eeehh.. ini anak. Kalau bukan adik.. sudah Abang sikat nih. Lah terus Wira sampai seperti itu kamu pikir karena apa?"
"Karena belain Mbak Adinda" jawab polos Dinda yang begitu menyebalkan.
Duduk disana Bang Wira hanya tersenyum kecut mendengarnya, tapi hatinya pun harus selalu sabar. Sudah resiko memperistri seorang Dinda yang dia sudah tau keadaannya.
tok.. tok.. tok..
Bang Wira bergegas berdiri dan dengan hati-hati segera membuka pintu agar Siregar dan Dinda tidak menyadari kehadirannya.
:
Dinda melotot ada kasur baru, box bayi dan beberapa perlengkapan bayi.
"Kenapa Abang beli barang banyak sekali?" tanya Dinda.
"Biar kamu kalau tidur nggak tendang Abang terus. Abang heran.. kita itu mau tidur atau main futsal?? Abang kena sleding terus" jawab Bang Wira membuat anggota yang membantunya menahan tawa.
"Terus box bayi ini??"
"Buat si Jaler lah." jawab Bang Wira.
"Laki?? Siapa yang Abang bilang laki?"
Bang Wira menyentil perut Dinda.
"Ya ini, yang kamu bawa kemana-mana ini"
.
.
__ADS_1
.
.