
Bang Wira mengulurkan tangan kanannya tapi kemudian menariknya kembali.
"Kalau kamu menyakitinya.. kamu akan berurusan denganku..!!" ucap Bang Wira yang masih sempatnya mengancam Bang Aaron.
"Heehh Maung.. sekarang kau tau bagaimana rasanya cemas. Makanya kau jangan pernah permainkan adikku, atau kau akan habis di tanganku..!!" bisik Bang Siregar membuat Bang Wira semakin kacau.
"Ini mau kawinan bro.. bukan ajang adu otot. Cepat selesaikan akan nikahnya..!! Perkara kalian mau gelud.. nanti setelah akad nikah" tegur Bang Righan.
"Siap Bang" jawab ketiga pria bermasalah itu.
:
"Alhamdulillah.. sekarang Pak Aaron sudah sah menjadi suami dari Ibu Alena. Semoga rumah tangga bapak dan ibu menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah.
"Aamiin"
Alena langsung menubruk Abangnya dan menangis. Di saat itulah Bang Wira tak tahan lagi hingga menitikan air matanya.
"Salim dulu sama suami. Abang sudah ikhlas melepasmu untuk Aaron. Sekarang baktimu hanya untuk suamimu. Bukan Abang lagi. Tundukan pandangan dan tidak bersuara melebihi suamimu. Paham Alen??"
"Alen paham Bang" jawab Alen kemudian ia beralih mendekati Bang Aaron dan di saat ini Dinda mendekati Bang Wira.
"Insya Allah Alena akan baik-baik saja seperti Dinda yang bahagia bersama Abang"
Bang Wira memeluk Dinda dengan erat, ia bersandar lemah di bahu sang istri. Dinda terus mengusap wajah dan rambut Bang Wira sampai suaminya itu merasa tenang. Dinda tau ada air mata yang tumpah disana.
"Abang hanya punya dia, adik ku satu-satunya. Kenapa harus kulepaskan dia dengan cara seperti ini? Apa dosaku sampai adik ku menanggung akibatnya. Sesak sekali rasa hati ini dek"
"Abang tidak salah, Abang adalah kakak terhebat untuk Alena. Abang dan Alena memang pernah berada dalam rahim yang sama, namun nasib tiap manusia berbeda adanya. Tak ada yang perlu Abang sesali. Kita yang hidup di dunia hanya tinggal menjalaninya sebaik-baiknya manusia. Urusan surga dan neraka sudah ada yang mengurusnya" jawab Dinda.
Luluh lantah Bang Wira dalam pelukan Dinda tapi dalam hati tak bisa berbohong, batinnya begitu tenang bersama Dinda.
"Abang.. jangan lupa ya, hukuman Abang masih berlaku" ucap Dinda mengalihkan suasana.
"Iyaa.. Abang nggak lupa. Malam ini jadwal pakai dress malam Jum'at khan" jawab Bang Wira. Tapi sesaat kemudian ia melongo melirik Dinda.
"Malam Jum'at ya? Malam keramat donk"
"Ya karena Abang sudah jadi kakak dan suami yang baik, jadi malam ini ada dispensasi bonus untuk Abang" kata Dinda.
"Yeeess.. Alhamdulillah..!!! Terima kasih sayang. Abang nggak akan mengecewakan" Bang Wira sudah tidak tahan ingin terus mendekati Dinda sampai Dinda harus memundurkan wajah Bang Wira karena suaminya itu seakan melupakan tamu yang masih ramai memenuhi rumah Bang Aaron.
"Abaang.. Malu" tegur Dinda.
__ADS_1
"Ehm.. Maaf..!!" Bang Wira kembali memasang wajah cool saat perhatian para tamu tertuju pada kecerobohannya.
"Waah.. Wadan yang nikah, tapi Komandan yang bersiap bulan madu" ledek Bang Righan merusuh, wajah Bang Wira sampai merah di buatnya.
"Bagi saya, setiap hari adalah bulan madu. Manisnya rumah tangga akan selalu terasa jika rasa syukur dan cinta tetap ada dalam hati kita. Pasanganmu adalah rejekimu" jawab Bang Wira sembari menunduk menyembunyikan wajah malunya.
-_-_-_-_-
Alena terdiam duduk di tepi ranjang, rasanya ia masih belum juga percaya bahwa dirinya sudah menjadi istri seorang Letda Aaron.
"Sudah dengar waktu sholat Maghrib.. kenapa belum ambil wudhu?" tegur Bang Aaron.
"Masih capek Bang, Alen juga pusing"
"Capek atau malas?? Jangan banyak alasan..!! Cepat ambil wudhu..!!" perintah Bang Aaron.
"Sebentar lagi Bang..!!" tolak Alena.
"Sekarang..!!!!"
Alena berdiri dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Ia pun segera mengambil air wudhu.. usai wudhu, pandangan matanya kabur. Ingin memanggil Bang Aaron tapi membuka mulut pun rasanya tak mampu lagi.
bruugggh..
Bang Aaron yang mendengar suara itu seketika terkejut dan segera berlari menuju arah suara.
:
"Abang khan sudah bilang, momong istri hamil itu luar biasa. Ini baru Alena pingsan. Belum lagi kalau istri rewel. Bukan main buat kepalamu terasa mau pecah" Bang Wira ikut cemas melihat keadaan Alena, tapi kecemasannya sedikit berkurang karena Dinda bersedia merawat adiknya itu.
"Ini sudah nggak apa-apa kok Bang. Jangan cemas lagi, rumah ini hanya kurang ventilasi saja" kata Dinda.
"Tapi udara di puncak distrik sudah sangat dingin mbak, sudah melebihi pakai pendingin ruangan" jawab Bang Aaron.
"Kalau kita wanita yang sedang hamil sih mau sedingin apapun, kalau kita bilang panas ya berarti panas Bang" Dinda mengungkapkan kejujurannya.
"Iya Bang, Alen juga merasa begitu" baru kali ini Alena mau sepaham dengan Dinda.
"Ya sudah kamu buka semua itu penutup ventilasi..!! Yang penting istri nyaman, kalau kita yang kedinginan memang sudah nasib" ucap pasrah Bang Wira.
"Oya.. terus bagaimana soal rapat di kantor Gubernur hari ini?"
"Di handle anak buah Bang Righan. Mau bagaimana lagi, kita ada acara sendiri. Lain kali saya yang akan hadir." jawab Bang Aaron.
__ADS_1
"Oke.. lanjut saja" Bang Wira kemudian memperhatikan wajah lelah Dinda.
"Alena sudah baik-baik saja, ada Aaron. Kamu sebaiknya juga banyak istirahat. Kasian si kecil kalau kamu terlalu capek."
Alena melihat Dinda selalu menggenggam tangannya. Wajahnya pun nampak selalu mengkhawatirkan dirinya. Kini ia baru merasakan bagaimana rasa haru bisa sampai dalam hatinya.
"Pulanglah Mbak, Alen nggak apa-apa. Ada Bang Aaron. Lihatlah Abangku itu, terus saja menatap cemas padamu."
"Kalau masih nggak enak biar kutemani"
"Deek.. si kecil juga pengen rebahan" kata Bang Wira.
Alena tersenyum kecil.
"Abang.. satu Minggu ini tidak ada kegiatan berarti, boleh saya minta ijin bawa Alena ke Jawa untuk bertemu kedua orang tua saya?" tanya Bang Aaron.
Sesaat Bang Wira tertegun, saking kalut dan kacaunya ia sampai melupakan bahwa Aaron masih punya keluarga dan orang tua.
"Apa orang tuamu sudah tau tentang pernikahan ini?"
"Belum Abang"
"Astagfirullah.. kamu belum bilang, Abang juga lupa. Bisa-bisanya Abang seceroboh ini" Bang Wira mengusap wajahnya, tiba-tiba hatinya gelisah.
"Orang tua saya sangat modern Bang, mereka pasti akan langsung suka saat melihat Alena" kata Bang Aaron.
"Baiklah.. Abang percaya sama kamu"
...
Bang Wira menggandeng tangan Dinda untuk pulang menuju rumahnya. Jalan setapak disana begitu gelap dan licin meskipun mereka tinggal dalam satu asrama yang sama. Mata Bang Wira mengarah ke sekeliling.
Disini kurang sekali penerangan. Tempat ini pun masih di sekitar daerah rawan. Kenapa tidak ada yang menangani penerangan? Apa tidak ada biaya operasional?.
Tiba-tiba Dinda berhenti berjalan dan tangan Bang Wira sedikit tertarik ke belakang. Refleks Bang Wira menoleh ke belakang.
"Kenapa dek?" tanya Bang Wira.
"Bang......."
.
.
__ADS_1
.
.