
"Astagfirullah hal adzim" Bang Wira mengusap dadanya. Sungguh batinnya mengalami pergulatan hebat, satu kali masa 'bersih' Dinda sudah terlewati tapi ia benar-benar tidak bisa menahan diri sampai harus membongkar paksa gembok Dinda.
Beberapa bulan yang lalu ia masih bisa mengendalikan diri, cukup dengan saling memberikan sentuhan skin to skin, 'bermain biola' dengan Dinda.. ia sudah merasa lega meskipun tidak sampai terlepas.
Bagaimana membujuk Dinda yang marah, aku terlalu ugal-ugalan karena begitu penasaran. Hatiku panas sekali Dinda menolak ku. Tapi kenapa aku juga tidak perhatian dengan istriku yang mungkin masih takut, atau mungkin sakit. Kenapa aku memaksanya. Bodohnya kamu Wira..!!
Bang Wira merutuki dirinya sendiri, sampai rasanya bising suara pesawat militer tidak menggangu telinganya.
"Kenapa wajahmu lesu?" tanya Bang Rendra.
"Nggak apa-apa" jawab Bang Wira kemudian berdehem melonggarkan jalan nafasnya.
Menit-menit saat mereka harus melompat dari ketinggian senyap menuju lokasi 'kerusuhan' yang sebenarnya.. melawan ******* bersenjata.
Pada titik yang telah di tentukan, Bang Wira melompat dari pesawat diikuti anggota teamnya. Pasukan elit di bawah kepemimpinan nya memang sudah tidak diragukan lagi hingga nama Taipan timur tersemat padanya.. senyap, sigap, tangkap dan tumpas.
Bang Wira melakukan cut away dan menghilangkan jejaknya disana. Mereka berjalan pelan dan saling cover antar anggota.
"Aman..!! Malam ini kita istirahat disini. Kalian segera istirahat, saya jaga pertama..!!" perintah Bang Wira.
***
Hari ke lima Bang Wira dalam penugasan. Ponsel Dinda bergetar. Dinda melihat ponselnya. Masih ada rasa kesal dalam hatinya, tapi tak bisa ia pungkiri juga ada rasa rindu dalam hatinya.
Dinda meminta ijin keluar ruangan untuk mengangkat panggilan telepon dari Bang Wira.
"Assalamualaikum.. lama sekali dek. Abang nggak punya banyak waktu" ucap Bang Wira langsung menegur Dinda.
"Wa'alaikumsalam Bang.. Ijin dulu sama Bu Danyon" jawab Dinda.
"Apa kabarmu dek?? Semua aman? kamu sehat?" tanya Bang Wira.
"Alhamdulillah Dinda sehat, bagaimana Abang disana?"
"Abang positif kena 'liver', rindu sekali sama kamu" Bang Wira mencoba menerka perasaan Dinda padanya.
"Dinda juga, cepat pulang Abang" ucap Dinda lirih tapi cukup melegakan hati Bang Wira.
"Iya.. doakan cepat selesai tugas Abang..!! Kita bisa kumpul lagi" jawab Bang Wira sembari tangannya menangkap bayi ular cobra yang melintas di sampingnya tanpa permisi.
"Iya Bang, pasti Dinda doakan yang terbaik."
__ADS_1
***
Tiga Minggu sejak kejadian itu, baru dua kali saja Bang Wira menghubungi Dinda. Itupun hanya sebentar dan hanya terjadi obrolan ringan di antara mereka. Doa tak pernah lepas dari bibir mungilnya untuk sang pencari nafkah keluarganya.
...
"Ini terakhir orang terakhir khan?" tanya Bang Wira sembari membekuk orang ke lima belas yang berhasil ia tangkap.
"Siap Dan..!!" jawab seorang anggotanya.
"Heeii komandan sial. Meskipun kamu menghabisi kami, kelompok kami besar. Saya pastikan keluargamu akan membayar mahal atas semua kelancangan mu ini..!!" ancam salah seorang pemberontak.
"Jangan banyak bicara kamu. Bertobatlah kamu selagi mampu..!!" ucap Bang Wira sembari menunggu truk dan pihak berwenang yang akan menangani kelompok yang di duga sudah membuat perpecahan.
"Nyawa harus di bayar nyawa komandan..!!!" ucap pria itu lagi.
Bang Rendra yang sudah lelah, mulai tidak berpikir logis. Ia mengangkat senapannya dan membidik ke arah pria tersebut.
"Jangan pot..!!" Bang Wira mencegah Bang Rendra, namun sayang.. peluru sudah tercetus secara serampangan karena Bang Rendra sedang tidak dalam pikiran yang stabil.
dooooorr...
"Aaarrghh.." Bang Wira terkapar memegangi dadanya. Benar saja.. tembakan serampangan itu mengalami ricochet.. membidik batu dan terpental mengenai dada Bang Wira.
...
Bang Wira berusaha keras untuk tetap sadar. Darah bercucuran menodai seragam Bang Wira. Ia memilih duduk bersandar memperhatikan lautan luas di bawah sana.
"Aku minta maaf pot, aku sungguh nggak sengaja" kata Bang Rendra penuh sesal. Tangannya menekan luka Bang Wira.
"Aku tau kamu lelah Ren, aku pun lelah.. lelah tenaga, lelah batin. Tapi tolong pakai akal sehatmu, kita membawa anggota disini. Keputusan mu adalah perintah bagi mereka. Kamu juga tidak ingin khan pulang nama? Ada anak istri yang menunggumu" ucap Bang Wira. Samar ia seolah melihat ada awan putih menerpa wajahnya bersamaan dengan seekor burung yang menabrak helikopternya.
"Anak ku..!! Dindaa..!!" gumamnya lirih, bayangan Nala terasa samar terlihat berganti dengan wajah Dinda lalu berganti lagi dengan siluet sosok yang belum pernah terbayangkan olehnya.
Apa dia akan mencabut nyawa ku?Aku ingin bertemu Dindaku.
"Allahu Akbar.. Let..!! Anda bisa dengar suara saya?????" sapa team kesehatan.
"Wiraa..!!!!! Sadar Wir.. atau kutampar pipimu itu?????" teriak Bang Rendra tak terkendali.
"Wiraa..!!!!!!!" Bang Rendra sampai harus mengguncang tubuh Bang Wira.
__ADS_1
...
"Benarkah ada anggota yang terluka??" tanya Dinda dengan cemas sebab sejak kemarin hatinya merasa tidak enak.
Para ibu anggota pengurus tidak ada yang berani menjawab pertanyaan istri dari Lettu Wiranegara, mereka takut jika istri komandan team pasukan itu syok jika tau suaminya yang terluka parah.
Tak lama Nesya masuk ke dalam ruangan membawa tangisnya. Sejujurnya ia sungguh bersedih setelah tau ternyata Bang Wira yang mengalami luka tersebut.
"Dinda.. yang sabar ya. Kita doakan yang terbaik, Mudah-mudahan Bang Wira baik-baik saja"
"Maksud mbak Nesya apa? Apa sudah ada kabar dari team?" tanya Dinda semakin cemas.
"Kamu belum tau?? Bang Wira yang terkena tembakan Din..!!!!!" jawab Nesya kemudian menyodorkan ponselnya pada Dinda.
Dengan cepat Dinda membacanya.
Di informasikan pada anggota. Hari ini telah terjadi ricochet yang mengakibatkan satu korban luka parah atas nama Lettu Panji Rakasheta Wiranegara. Saat ini korban sedang mendapatkan perawatan pada unit medis setempat
:
:
Setelah membaca berita tersebut kaki Dinda terasa lemas. Informasi ini terjadi kemarin pagi dan siang ini belum ada berita apapun lagi.
"Tolong beritau saya, apa ada info lagi mengenai suami saya?? Kenapa tidak ada satupun orang yang memberi tau saya???" tanya Dinda.
Tak lama satu buah truk tiba, beriringan dengan dua buah mobil Batalyon di belakangnya. Dinda menoleh dan ternyata rombongan team Bang Wira sungguh telah tiba.
"Abaaaang..!!" Dinda berdiri dan segera berlari menuju truk menurunkan para anggota, matanya menyisir dan memperhatikan satu persatu para anggota yang turun dari truk tapi sesaat kemudian pandangan itu tertuju pada mobil paling belakang. Terlihat ada sebuah peti yang tertutup ponco loreng.
"Bang Wira??? Nggak.. Dinda nggak mau Abang tinggal sendirian. Baang Wiraaaaaaaa......!!!!!!" Dinda berteriak histeris membuat para anggota dan ibu-ibu yang lain menjadi iba. Bang Rendra perlahan menghampiri Dinda.
Abang.. jika Dinda membuatmu marah.. maka marahilah Dinda dan katakan dimana letak kesalahan Dinda agar tidak menimbulkan kemarahan mu lagi, tapi Dinda mohon jangan tinggalkan Dinda.
"Biasakah Abang membawa Dinda kemanapun Abang pergi..!! Dinda ingin ikut Abang..!! Bawa Dinda kemanapun Abang pergi...!!!!!" teriakan Dinda begitu histeris menyayat hati. Perlahan kesadaran nya menurun hingga tangan itu menahan Dinda dalam dekapannya.
.
.
.
__ADS_1
.