Sayap Perwira

Sayap Perwira
95. Kasus dalam.


__ADS_3

Bang Wira menggendong Tian yang sudah berusia tiga bulan sedangkan Bang Aaron menggendong Baby Faiz. Naufal Faiz Jaladara.


"Kamu niat gendong anak atau bawa baki bendera??" tanya Bang Wira.


"Aduuuhh.. ini setengah mati saya bawanya Bang. Takut remuk tulangnya saya pegang" jawab Bang Aaron.


"Masa nggak bisa bedain bayi sama ayam geprek??" Bang Wira menggeleng heran.


"Hoiii bro..." terdengar sapaan kencang padahal si punya suara masih jauh berada di tikungan.


"Aiisshh.. susah su datang" gumam Bang Wira melihat Bang Righan datang membawa putranya yang duduk di bagian jok depan motor dan terikat kain gendongan di perut.


"Suntul nih bro, nanti siang mancing yuk..!!" ajak Bang Righan.


"Saya nggak bisa Bang. Alena baru empat hari lahiran" tolak Bang Aaron.


"Saya juga nggak bisa" tolak Bang Wira.


"Bini lahiran juga?" tanya Bang Righan kesal.


"Hhhkkk.." tak disangka terdengar suara mual Dinda dari dalam rumah.


"Naahh... ituu.. bini isi lagi Bang" jawab Bang Wira sekenanya.


"Haaaahh... Nggragas.. bini baru lahiran sudah di hamilin lagi. Nggak beres nih si tole" Bang Righan menggaruk kepalanya ngeri merasakan ulah kapten Wira.


...


Bang Wira tersenyum getir mengingat bualannya. Mana mungkin Dinda bisa hamil sedangkan empat bulan dirinya tidak merasakan madu rindu.


Dinda mondar-mandir di hadapannya menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Tadi kenapa dek? kok muntah?" tegur Bang Wira melihat kesibukan Dinda.


"Seperti ada bau bangkai di belakang rumah Bang. Abang nggak mencium bau bangkai?" tanya Dinda.


"Iya pak, bibi juga bau"


"Oya??" Bang Wira segera menuju belakang rumah mencari sumber bau tersebut.


"Apa aku ini flu, nggak bisa mencium bau apapun" gumamnya. Lama kelamaan ia bisa mencium baunya.


"Eeehh iya, baunya semakin jelas"


Bang Wira memanjat dinding pembatas antara kompi dan rawa kampung sebelah. Matanya melihat benda mencurigakan di sekitar pagar. Kantong kresek setengah terkubur dan terlihat sesuatu yang mirip dengan rambut.

__ADS_1


"Dek.. sayang..!! Tolong ambilkan HT Abang..!! Sekalian sama hand glove di lemari..!!" pinta Bang Wira yang sudah memajat dinding.


Dinda pun segera mengambil HT dan hand glove.


"Terima kasih, kamu masuk saja dan jangan kesini. Tidur siang yang nyenyak sama Asya dan Tian..!!" pesan Bang Wira.


"Iyaa Abang..!!" Dinda masuk kedalam rumah tapi hatinya juga sangat penasaran.


Bang Wira mengawasi Dinda sampai istrinya benar-benar masuk.


~


"Pos depan, tolong hubungi POM.. ada yang mencurigakan di belakang rumah saya..!!"


"Siap Dan"


:


( cerita nyata, TL 1996. Belakang Mess T )


"Penggalan kepala mayat perempuan Dan.." kata seorang anggota POM.


"Astagfirullah..!!" Bang Wira mengusap dadanya.


Tanpa di sadari Bang Wira, Dinda sudah berdiri di belakangnya.


"Ijin ibu. Korban mutilasi, yang tertanam di sini penggalan kepala mayat perempuan" jawab petugas POM menjelaskan.


Bang Wira menoleh, ia melihat wajah Dinda seketika pucat, kakinya gemetar.


"Ya Tuhan.. siapa suruh kamu kesini dek..!! Abang bilang khan tidur sama anak-anak. Ini bukan barang tontonan..!!!!" tegur Bang Wira kemudian membantu Dinda duduk di atas sebuah batu besar.


"Itu mayat siapa Bang??"


"Mana Abang tau, mungkin warga sekitar" jawab Bang Wira.


"Dinda takut Bang..!!"


"Cckk.. lagian kamu..!! Abang bilang tunggu di rumah saja, kenapa sampai kesini sih??" tegur gemas Bang Wira.


"Aaron.. kamu handle situasi dulu..!! Abang mau antar 'DanIntel' ini pulang" perintah Bang Wira.


"Siap Bang"


~

__ADS_1


"Kamu ini.. mau tau aja urusan. Bagian dari dinas.. kamu jangan ikut campur. Sampai rumah kamu takut, tegang, nggak bisa tidur.. Abang juga yang repot" Bang Wira terus saja mengomel gemas karena wajah Dinda semakin pucat.


"Kenapa orang itu di bunuh ya Bang?" tanya Dinda masih terus berpikir keras.


"Ya Gustii.. pikir saja anak-anak sana besok mau belanja apa. Jangan ikut campur urusan ini" tegur Bang Wira.


"Tapi Dinda mau tau Bang"


"Nggak baik Dinda. Ini aib orang"


"Atau jangan-jangan............"


"Innalilahi wa inna ilaihi Raji'un... ini yang kerja kamu atau Abang? Kalau mau gantikan Abang kerja ya silakan pakai seragam kerja Abang" kata Bang Wira menghentikan rasa penasaran Dinda yang menyusahkan.


"Bagaimana ini?? Gantikan Abang kerja atau tidur di rumah????" tanya Bang Wira lagi.


"Tidur.." jawab Dinda pelan.


"Gitu khan manis"


"Tapi Dinda nggak bisa tidur"


"Halah terserah mu lah.. jungkir balik, lompat jauh atau kayang yang penting kamu ada di dalam rumah, jangan ada di list area..!!!!!" ucap tegas Bang Wira.


"Sampai Abang lihat kamu disana.. awas kau ya, Abang tumbuk kamu jadi mendhut"


...


"Ini buku pengajuan cuti untuk ibu-ibu dan anggota..!!"


"Apa ada yang mencurigakan?" tanya Bang Wira.


"Menurut keterangan ibu ( Dinda ), Bu Marto tidak di tempat selama empat hari tapi tidak ada laporan dan ijin" laporan seorang anggota.


"Jika ini terjadi, kenapa Marto tinggalkan jejak disini?? Bukannya itu bodoh??" Bang Wira masih menerka situasi dari kejadian ini.


"Ijin Dan.. terakhir kali Marto dan istri bertengkar hebat"


"Karena apa?" Bang Wira mengerutkan keningnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2