Sayap Perwira

Sayap Perwira
43. Si cantik ku yang unik.


__ADS_3

"Kamar ini berubah Bang? Untuk kita berdua?" tanya Dinda saat melihat kamar itu sudah tidak lagi seperti sebelumnya. Interior kamar sangat sesuai seleranya, perpaduan warna ungu dan pink lembut. Kamar itu hanya terpampang wajahnya, foto Asya, beberapa foto kebanggaan Bang Wira dan moment saat kenaikan pangkat Bang Wira.


"Iya donk"


"Tapi Dinda nggak mau satu kamar sama Abang. Dinda biasa tidur sendiri atau berdua dengan Asya." jawab Dinda tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Lailaha Illallah.. cobaan macam apa ini Tuhan??


"Please dek, sekarang khan kamu sudah tau status kita, masa Abang masih harus tidur di luar.. dingin dek, banyak nyamuk" jawab Bang Wira.


"Nggak aahh, Dinda nggak mau tertindih badan Abang lagi. Abang suka mepet sama Dinda"


Bang Wira terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya membujuk sang istri.


"Ehmm.. sebenarnya kamu belum tau rahasia kamar ini dek" bisik Bang Wira.


"Kamar ini.. ada tokeknya. Dia sembunyi di belakang lemari. Belum lagi.. ini khan asrama Batalyon yang sudah puluhan tahun berdiri, pasti banyak cerita kelam di baliknya dek. Dulu tuh.. dekat lapangan tembak ada pembunuhan noni Belanda, kakinya di ikat bola berduri. Ini malam Jum'at, biasanya dia lewat. Abang nggak perlu cerita karena nggak mau ingat bagaimana ngerinya wajah noni Belanda itu"


Bang Wira pun meninggalkan Dinda yang sudah mulai cemas dengan ceritanya.


"Bang.. hari ini Asya pulang nggak?" tanya Dinda.


"Asya pulang hari Minggu" jawab Bang Wira santai menuju belakang rumah melihat hewan-hewan peliharaannya.


~


"Aaron.. saya mau minta tolong..!!"


"Siap Abang.."


~


"Ijin ibu.. mau kemana?" tanya Pratu Ody saat melihat Dinda berjalan keluar dari rumah.


"Beli bakso di ujung gang Om"


"Aduuuhh.."


"Ijin Ibu, biar saya keluar asrama belikan ibu bakso. Bapak sedang briefing dengan Danyon. Ibu jangan keluar rumah" Om Ody cemas sekali karena Bang Wira sudah meminta agar para ajudannya mengawasi rumah dan melaporkan kalau mungkin istri kesayangannya Dan Wira itu 'bertingkah'.


"Saya beli sendiri saja Om. Nggak usah bilang sama Abang" jawab Dinda.


"Ijin ibu, kami bisa di hajar komandan kalau ibu jajan sembarangan"


"Nggak om.. " Dinda terus melaju menuju gerobak bakso yang biasa berkeliling di sekitar asrama.


Panci bakso baru saja di buka, uap panas mengebul dari panci, suara terompet bakso begitu khas di telinga. Aroma kaldu menyeruak sampai hidung Dinda.


"Hhhkkk.." Dinda berlari menjauh dari gerobak bakso dan muntah di tepi parit lapangan olahraga.


"Ibuu..!!" Om Ody panik melihat istri komandan killer nya mual. Ia segera mengambil ponselnya.


"Ijin Dan.. ibu mual di tepi lapangan."


:

__ADS_1


Bang Wira berlari dan langsung membantu Dinda.


"Kamu mau kemana?"


"Mau beli bakso"


"Apa nggak bisa tunggu Abang sebentar??? Gerobak sak bakule mesisan tak angkut, hanya tunggu sebentar saja kenapa nggak sabar sekali...!!!!!" tegur keras Bang Wira.


"Dinda maunya sekarang, nggak mau nanti. Dinda nggak tau belakangan ini kalau pengen sesuatu nggak bisa di cegah" jawab Dinda.


Sampai saat ini Bang Wira belum juga tega mengatakan kalau istrinya itu sedang mengandung sebab Dinda terlihat sangat takut menghadapi kehamilan. Teringat ucapan papa mertua padanya.


flashback on..


"Dinda takut hamil, karena temannya pernah di p**k**a saat mereka sekolah di luar negeri. Temannya itu setiap hari merasa kesakitan, depresi, hingga bunuh diri. Jadi ia mengira.. setiap kehamilan itu pasti menyiksa dan akan membuatnya sakit. Belum lagi sebelum keluar negeri, Dinda pernah mengalami pelecehan, jadi saya mengirimnya ke luar negeri sekalian mengobati tingkat stress nya. Alhamdulillah sekarang Dinda sudah sembuh. Yang melecehkan itu anggota sendiri, saat kalian masih pendidikan. Dinda pun diam dan tidak mau bicara soal itu."


"Komandan tau siapa orangnya?"


"Tidak tau, Siregar pun tidak tau" jawab Dan Akbar.


"Makanya saya berharap kamu tidak gegabah dalam hal ini. Saya takut kalau Dinda jadi trauma. Waktu delapan bulan ini pergunakan sebagai teknik pendekatan lebih dulu."


"Saya paham Dan"


"Seandainya Dinda tidak seperti harapan mu bagaimana Wira??"


"Tidak masalah Dan. Saya juga bukan pria yang sempurna" jawab Bang Wira.


"Satu lagi Wira. Dinda kurang pandai sholat dan mengaji, karena saya sendiri masih proses belajar. Kami ini semua mualaf. Apa kamu keberatan atau menyesal mengetahui hal ini setelah kamu menikahinya??" tanya Dan Akbar.


"Tidak sama sekali Dan. Saya yang meminta pernikahan ini. Komandan tenang saja, saya akan membimbingnya semampu saya...!!"


flashback off..


Bang Wira pun menarik nafas panjang.


"Ayooo.. Bu komandan mau makan apa? Pokoknya kamu nggak mual Abang turuti"


...


"Kalau mual makan baksonya ya jangan pilih bakso. Khan ada makanan lain. Mie ayam, atau mungkin kamu mau ayam goreng K*C"


"Tapi Dinda maunya bakso Bang..!!"


Bang Wira menepuk dahinya tak tau lagi bagaimana caranya bersabar menghadapi bumil seksinya ini. Jemari nya mengetuk meja berkali-kali, berpikir keras di saat genting memang tidak mudah.


"Duuuhh.. mana mau Maghrib lagi dek." ucapnya kemudian.


"Memangnya kenapa Bang?" tanya Dinda sambil menggulir pentolan bakso di dalam mangkok. Ia ingin sekali melahapnya, tapi perutnya seakan tidak bisa menerima.


"Seingat Abang.. ini adalah bulan sakral nya orang di jaman lampau, jaman masih terjadi peperangan dulu"


Dinda menatap wajah Bang Wira dengan ekspresi datar.


"Serius Bang??" Dinda mulai terpengaruh.

__ADS_1


"Iya, kalau nggak cepat pulang.. kita bisa di incar, kita khan penghuni asrama" kata Bang Wira.


"Terus bagaimana ini Bang?"


"Nanti Abang pesan makanan lain buat kamu, sekarang kita pulang dulu..!!" ajak Bang Wira.


...


Bang Wira mondar-mandir di ruang tengah karena Dinda benar-benar tidak mau dirinya ada di kamar.


"Oke..!! kalau begitu terpaksa ini jalan terakhir..!!"


:


Bau aneh menyeruak di sekitar kamar. Lama kelamaan bau itu semakin tajam menusuk hidung.


"Bang..!!" sapa Dinda saat merasa bulu kuduknya meremang. Tak ada jawaban dari sang suami. Samar terdengar suara tokek di celah pintu dan benar saja saat itu ada tokek yang langsung merayap naik di samping daun pintu.


"Abaaaaang..!!!!" teriak Dinda sekuatnya.


"Ada apa dek??" tanya Bang Wira.


"Itu, di samping Abang ada tokek. Dinda takut"


"Abang khan sudah bilang di kamar ini ada tokeknya. Kamu jangan teriak.. ini sudah ada bau aneh. Jangan-jangan dia kesal sama kamu karena kamu teriak" kata Bang Wira


"Baaanng.. Dinda takut. Ambil tokeknya donk..!!" pinta Dinda.


"Kamu di luar dulu. Ini tokeknya bukan sembarang tokek. Kalau nggak Abang yang tangani.. nggak akan mau pergi"


Dinda berjingkat-jingkat dan melipir di samping tembok dengan geli. Setelah Dinda keluar, Bang Wira menutup pintu kamar dan tertawa geli.


"Sini tokek manis.. pintar sekali kamu sayang. Cantik ku itu harus di bujuk dengan cara halus biar mau di dekap. Enak saja malam Jum'at aku tidur di luar" gumamnya sambil menangkap tokek yang masih menempel di dinding kamarnya.


"Dek.. tokeknya lari ke belakang lemari, Abang nggak bisa ambilnya" kata Bang Wira.


"Yaaaa.. gimana donk Bang"


"Ya terpaksa kamu tidur sama tokek"


"Nggak mauuu.. Abang temani Dinda tidur..!!!" rengek Dinda dari luar kamar.


Senyum nakal dan licik Bang Wira pun tersungging penuh aura negatif kemudian Bang Wira melepaskan tokek itu keluar jendela.


"Katanya nggak bisa tidur sama Abang??" goda Bang Wira.


"Abaang iihh"


"Sini masuk dulu. Abang mau buat mulai malam ini, kamu nggak akan bisa jauh dari Abang"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2