Sayap Perwira

Sayap Perwira
57. Hati yang tulus.


__ADS_3

"Baiklah Pak Wira."


Tak lama ada sebuah panggilan dari Bang Siregar.


"Ada apa? aku sibuk"


"Wiraa.. dengar dulu..!! Cepat kamu susul Dinda ke pihak POM. Nesya mengajak Dinda menemui Sahara karena tuntutan mu..!!"


"Apaaa????"


...


Dinda menemui Sahara di ruang penyelidikan, karena Sahara sedang berurusan dengan pihak militer, maka ia harus menerima ganjaran dari ulahnya lebih dahulu.


"Ternyata kamu yang sudah merebut cinta Bang Wira dari aku. Wajah yang masih terlihat sangat muda" kata Sahara.


Dinda duduk dengan tenang meskipun ia tidak paham bagaimana mengatasi situasi seperti ini.


"Apa usia begitu bermasalah? Jodoh tidak dapat kita tolak hadirnya termasuk saya yang menjadi istri Bang Wira."


"Aku berhasil membuat Adinda mati perlahan dan kau pun akan menyusulnya juga..!!"


Di luar sana Bang Wira sudah tiba. Ia begitu panik dan cemas melihat Dinda berada dalam satu ruangan bersama Sahara. Bang Wira memaki semua anggota yang sebenarnya juga bukan kewenangan nya untuk bersikap seperti itu, tapi Bang Wira sungguh tidak bisa menahan kepanikannya.


"Kenapa kau bawa Dinda tanpa seijinku..!!!!!!!" bentak Bang Wira pada Nesya.


"Aku nggak punya pilihan Bang. Pangkat Bang Rendra di tunda empat periode dan harus menjalani hukuman sel selama satu tahun. Kenapa semua tidak adil??" Nesya pun kembali pada sikap egoisnya sambil menggendong Nala.


"Kau bilang itu berat?? Itu terlalu ringan untuk Rendra. Bahkan pecat tidak hormat masih belum cukup untuk suamimu yang b*****t itu. Kau pun seharusnya juga mendekam di dalam jeruji besi..!!" Geramnya Bang Wira sudah naik di ujung kepala.


"Tapi lihatlah Nala Bang. Nala terlalu kecil. Dia butuh ayahnya. Kenapa hukum ini tidak adil??" pekik Nesya.


"Kau tau.. jika tidak karena Dinda yang berbaik hati padamu. Aku sudah menembaki kepala suamimu dan kau pun akan menderita di dala. sel. Suamimu itu biang masalah, apa kau tidak bisa memahami itu Nesya????" tegur Bang Wira.


flashback on..


"Jika Abang bertanya sama Dinda.. Dinda sanggup menjawabnya, tapi ini hanya antara kita dan tidak ada hubungannya dengan Mbak Adinda. Bisa??"


"Iya dek.. Abang paham. Yang lalu biarlah berlalu" kata Bang Wira.

__ADS_1


"Bang Rendra adalah tulang punggung keluarga. Mbak Nesya pun sangat mencintai Bang Rendra meskipun rasa cintanya yang keluar dari logika. Jadi.. demi memikirkan masa depan Nala, mintalah keringanan untuk hukuman Bang Rendra. Masalah penusukan itu, Dinda sudah nggak apa-apa. Lagi pula anak Abang masih baik-baik saja dalam perut Dinda" kata Dinda yang membuat hati Bang Wira tidak tega.


"Dinda tau, sampai saat ini Abang masih membantu susu untuk Nala dan masih sering membelikan pakaian untuk Nala. Jika suatu saat situasi tidak memungkinkan Mbak Nesya untuk merawat Nala.. Dinda bersedia merawat dan membesarkan Nala."


Bang Wira sungguh tidak menyangka Dinda memiliki hati yang begitu luas. Istrinya itu ikhlas merawat anak dari almarhumah istrinya meskipun anak itu tidak ada hubungan darah dengan mereka.


"Terima kasih banyak ya dek. Kamu tidak marah Abang diam-diam memperhatikan Nala" Bang Wira merasa sangat bersalah karena masih suka melakukan banyak hal tanpa seijin istrinya, bukan karena takut.. tapi lebih kepada bentuk penghargaan terhadap seorang istri.


"Dinda tau.. Abang pasti punya alasan, tapi Dinda istri Abang sekarang. Apa lain kali Abang bisa lebih terbuka sama Dinda?" tanya Dinda.


"Iya dek. Insya Allah" Bang Wira tidak berani bicara banyak. Batinnya masih terbolak balik belum juga siap jika Dinda sampai menangis menyadari segala kenyataan pahit.


flashback off...


"Mbak Adinda yang sudah pergi adalah takdirnya dan kembali pada Sang Pencipta dengan caranya yang seperti itu. Saya Dinda.. bukan Adinda"


Bang Wira gelisah dan takut istrinya Dinda berhadapan langsung dengan Sahara. Wanita itu sangat licik dan kejam. Hanya samar terdengar suara Dinda yang sangat tenang dan Sahara yang penuh dengan amarah.


"Seharusnya kamu mati, Jika aku tidak bisa memiliki Abang.. kau pun tidak bisa memilikinya" teriak Sahara.


Bang Wira sudah cemas was-was. Pintu itu sudah berusaha di bukanya, tapi sampai beberapa kali ia coba tapi tak juga membuahkan hasil.


"Kapten Panji Rakasheta Wiranegara adalah suami saya dan saya tidak akan membiarkan wanita lain mengambilnya dari saya termasuk kamu, ular betina..!!" jawab Dinda.


~


"Buka pintunya.. atau saya ledakan pos kalian..!!!!!!" bentak Bang Wira.


"Jangan komandan..!! Ini terkunci dari dalam, kita tidak bisa berbuat apapun."


Tak lama pintu terbuka dalam kepanikan Bang Wira yang luar biasa. Para anggota mengacungkan senjata mengira Sahara yang keluar dari ruangan khusus itu, tapi setelah Bang Wira melihat yang keluar dari ruangan itu adalah istri nya.. Bang Wira segera menghadang dengan tubuhnya sendiri.


"Jangan tembak.. Ini istri saya..!!" Bang Wira melirik sosok Sahara yang terkapar di lantai tanpa daya. Entah apa yang di lakukan istrinya sampai Sahara terkapar.


:


"Saya akan menyerahkan Nala kalau kamu sudah bisa berpikir jernih Nesya...!!" Sesaat tadi Bang Wira menyerahkan Nesya ke pihak rumah sakit untuk di tangani mentalnya dan membawa Nala pergi.


"Aku nggak mau Bang, aku mau sama Nala..!!" teriak Nesya histeris tak terkendali.

__ADS_1


"Perbaiki dulu mentalmu, kalau kamu di nyatakan sehat.. baru kami akan mengantar Nala kembali padamu" kata Bang Wira.


:


Gadis cilik itu langsung dekat dengan Dinda dan memeluk Dinda seperti ibunya.


"Cantik sekali ya Bang, tapi lebih dominan wajah Bang Rendra. Kalau Asya khan utuh seperti Mbak Adinda" Dinda mengatakannya seolah tanpa beban, tapi sebagai seorang pria.. Bang Wira tau betul kalau jauh di dasar hati Dinda pasti menyimpan rasa sakitnya sendiri.


Bang Wira tersenyum getir sambil membelai rambut Dinda. Tak tega rasanya melihat sabarnya sang istri terus menghadapi cobaan berat.


"Bang, Dinda pengen wajah anak kita mirip Abang deh" kata Dinda.


"Kenapa nggak mirip kamu saja? Ibunya khan cantik sekali. Cantik parasnya juga cantik hatinya" jawab Bang Wira begitu jujur mengakui bahwa Dinda memanglah menggetarkan hatinya.


Dinda hanya tertawa menanggapi ucapan yang ia anggap sebagai gombalan tak berarti.


"Ya Dinda pengen saja anak kita setegar ayahnya, setampan ayahnya dan yang seperti apa yang mamanya bayangkan"


Kening Bang Wira berkerut tak paham ucapan Dinda.


"Apa itu??"


"Hanya Dinda dan Allah saja yang tau Bang" jawab Dinda dengan senyumnya kemudian menciumi wajah imut Nala yang terus memperhatikan dirinya.


"Maa_maaa" ucap Nala menyapa Dinda.


"Sayaaang.. kamu memanggilku Mama??" Dinda sampai tercengang gadis kecil itu memanggilnya Mama.


"Bang, Nala memanggilku Mama." wajah penuh binar bahagia sungguh menyakiti hati Bang Wira.


Semoga Allah segera menggantikan segala kebaikan hatimu sayang. Nggak tega rasanya melihatmu terus menyayangi anak-anak yang bukan dari rahim mu sendiri meskipun kamu ikhlas melakukan nya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2