
"Kapan kita ke Bang Nicko check kandungan?" tanya Dinda seketika membuat hati Bang Wira resah.
"Ya nanti akhir bulan depan saja. Bulan ini Abang sibuk sekali. Kamu tau itu khan?"
"Ini masih awal bulan Bang. Masa nunggu sampai akhir bulan depan?" protes Dinda.
"Sabar ya, yang penting kamu nggak ada keluhan lagi. Masih awal dek, kamu mau lihat apa? Anakmu masih seperti biji kacang merah" jawab Bang Wira.
Dinda pun akhirnya menurut dan tidak bertanya dan berpikir macam-macam. Ia hanya fokus pada Nala.
"Hmm.. ngomong-ngomong.. kenapa Sahara bisa sampai terkapar?" tanya Bang Wira.
"Dinda hantam. Karena dia sudah bicara keterlaluan" jawab Dinda.
"Bicara apa dia??"
"Dia mau ambil Abang kembali. Jika dia tidak bisa memiliki Abang, maka Dinda juga tidak bisa" Dinda menjawab sambil memaksakan senyum di hadapan Nala.
"Kamu jawab apa?"
"Dinda lupa, tapi langsung Dinda hantam. Abang khan suaminya Dinda" kata Dinda.
"Waahh.. gawat..!! Kalau Abang ngelirik yang lain, bisa geser nih rahang" Bang Wira memasang wajah khawatir nya.
"Nggak Bang, Dinda sayang Abang.. di hantam begitu pasti sakit. Jadi kalau Abang mau mendua ya nggak apa-apa. Dinda cuma bantu malaikat maut kasih racun di kopi Abang."
Bang Wira menelan salivanya yang terasa menyekat kerongkongan.
Perempuan nih kalau sudah marah, jadi singa semua.
"Dinda ijinkan kok Bang"
"Nggak.. terima kasih. Pelihara kamu saja sudah senam jantung" jawab Bang Wira.
Dinda menahan senyumnya melihat Bang Wira tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Tak lama Nala tertidur pulas dalam pelukan Dinda.
Dinda, maafin Abang. Apapun akan Abang tabrak asalkan kamu bahagia.
...
Bang Siregar duduk sambil mengembangkan sarungnya di ruang tamu.
"Hoeee.. Jangan pameran kendi pecah ya..!! Bini gue bisa gumoh" tegur Bang Wira.
"Lu beneran kagak sembuh juga.. jangan harap bisa tarung di malam pertama" ancam Bang Wira melihat Abang tiri Dinda yang memang sangat manja itu.
__ADS_1
Tak ayal Bang Siregar langsung berdiri dan merapikan sarungnya membuat Hazna tercengang.
"Abang sudah sembuh?" tanya Hazna.
"Ehm.. masih sakit dek, sedikiiit" jawab Bang Siregar.
Bang Wira gemas sekali pasalnya Bang Nicko sudah memberikan obat terbaik dan hari kedua biasanya pasien sudah bisa beraktivitas kembali.
"Pakai rok lu besok, masa nggak sembuh juga"
"Iyeee.. Sana lu, ini urusan calon pengantin"
"Masih calon aja sombong, gue sudah jago cetak goal" jawab Bang Wira tak kalah sombong.
"Okeeyy.. bulan depan kalau ada kabar baik, door prize dari gue, dua puluh lima juta" ucap Bang Siregar sesumbar.
"Gue tagih masuk rekening Nyonya Wira" Bang Wira pun tersenyum meledek.
...
"Ya kabar baik kita rukun saja donk dek, lalu apalagi?"
"Oohh.. Dinda kira"
"Oya dek.. besok ada dua bibi datang sama Asya. Kamu nggak apa-apa khan ada bibi di rumah ini? Harus ada yang membantumu mengerjakan pekerjaan rumah" kata Bang Wira.
"Ya sudah kalau begitu, kalau kamu nggak nyaman.. bilang sama Abang ya dek..!!"
"Iya Bang"
***
Pagi ini Bang Wira terbangun dari tidur sepertiga malamnya, ia kusyuk berdo'a meminta pada Tuhan agar Dinda segera kembali mengandung, tapi belum juga satu bulan sejak tragedi itu.
Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Aku merasa diriku lemah, kecil dan tanpa daya. Tak sanggup rasanya mengungkapkan fakta bahwa anakku sudah tidak ada dalam rahim Dinda. Jika aku memaksa mengungkapkan semua.. Dinda bisa syok, jantungnya bisa melemah.. tapi kalau aku menyimpan terus rahasia ini, aku pun takut Dinda akan bertanya, kenapa perutnya tidak juga membesar.
"Bang.. kenapa nggak bangunin Dinda sholat?"
"Abang hanya sholat tahajud, Abang maunya bangunkan kamu nanti kalau sholat subuh" kata Bang Wira kemudian membelai rambut Dinda.
"Tidur lagi..!! Abang belum selesai"
Tak lama, Dinda kembali tertidur tapi ia sadar betul tangan Bang Wira mengusap perutnya sambil membaca ayat suci Al-Qur'an.
...
__ADS_1
"Selamat pagi Pak.. Bu. Saya Onah yang akan mengasuh Neng Asya. Ini Lena yang akan mengasuh Neng Nala" kata Bi Onah memperkenalkan diri.
"Baiklah bi, saya tinggal disini. Tapi mohon maaf, karena rumah dinas itu tidak seberapa luas.. Bi Lena bisa tinggal di rumah Pak Rendra sembari menunggu yang punya rumah datang.. saya yang akan handle semua. Saya sudah di beri amanat begitu sama Tuan rumahnya" jawab Bang Wira.
"Iya pak, kami paham"
:
"Bi Lena, tolong kukunya besok di potong ya..!! Nanti kena kulit Nala. Nala dan Asya sama-sama sensitif" Dinda mengingatkan Bi Lena setelah memandikan Nala sore hari.
"Hanya kuku saja si permasalahkan Bu?" tanya Bi Lena.
"Saya mengingatkan, anak-anak saya sensitif dengan goresan." kata Dinda.
"Ya sudah, ibu saja yang pakaikan popok.. saya mau buat susu untuk Nala" jawab Bi Lena sembari pergi ke dapur.
Dinda kemudian mengambil alih Nala dan mengajak gadis kecil itu bercanda.
"Bi, susunya buat lebih hangat ya..!! Nala suka susu hangat"
"Aduuhh.. ini sudah jadi. Semua susu khan sama saja Bu. Apa ibu saja yang ganti susunya. Saya nggak paham" ucap Bi Lena.
Bang Wira melepas kancing baju seragamnya, ia baru saja datang usai lepas dinas tapi langsung di suguhi pemandangan yang membuatnya jengkel.
"Mari pak saya bantu lepas pakaiannya..!!" Bi Lena dengan sigap membantu Bang Wira tapi komandan muda itu menolaknya.
"Tugasmu itu membantu istri saya mengasuh anak-anak. Bukan mengasuh saya..!!!!" ucap tegas Bang Wira.
Bi Lena sedikit mundur mendapatkan penolakan tegas dari majikannya.
"Kamu sini ma..!! Ikut papa ke kamar dulu..!!" ajak Bang Wira memasang wajah datarnya.
Dinda pun mengikuti Bang Wira masuk ke dalam kamar.
"Sahara bisa kamu libas, kenapa cuma sebutir Lena saja nggak bisa kamu atasi..!!" tegur Bang Wira.
"Dinda bukannya nggak bisa Bang.. tapii......"
Belum selesai Dinda bicara, istri Wira itu sudah pingsan.
"Astagfirullah.. kamu kenapa ini dek, kenapa tiba-tiba pingsan begini????" Bang Wira panik sembari merebahkan Dinda di ranjang.
.
.
__ADS_1
.
.