Sayap Perwira

Sayap Perwira
75. Usaha bujuk rayu.


__ADS_3

Bang Arman menjauh dari Dinda dan menjawab panggilan telepon Bang Wira.


"Dinda masih sensitif sekali. Abang sudah dengar cerita ini dari versi Dinda, tapi belum dengar cerita dari versimu. Kalau kamu berkenan, kamu bisa ceritakan sama Abang"


"Untuk apa? Ingin merajut kembali cerita lama??" jawab Bang Wira.


"Kalau Abang ingin melarikan istrimu, jelas Abang mampu. Tapi masalahnya tidak ada cinta di antara kami dan lagi............."


Belum selesai Bang Arman bicara, Bang Wira sudah kembali naik darah.


"Kau jangan macam-macam Bang, jangan pernah menyentuh wanita kesayangan Taipan timur..!!" ancam Bang Wira.


Bang Arman tersenyum kecut mendengar ancaman juniornya yang luar biasa itu.


"Dinda sedang marah, dan itu karena ulahmu sendiri..!!" kata Bang Arman.


"Datanglah ke Borneo dan bujuk sendiri Nyonya Wiranegara. Itupun kalau Dinda bersedia. Lagipula kenapa kau cari hal dengan wanita hamil??"


"Apa saya bisa percaya sama Abang???"


"Seberapa banyak di dunia ini, prajurit yang memiliki jiwa pengkhianat?" tanya Bang Arman.


Bang Wira sejenak terdiam. Ingin rasanya meluapkan amarahnya, tapi ini pun juga termasuk salahnya yang tidak sabar menahan emosi.


"Sebenarnya Dinda berulang tahun dan saya akan memberinya kejutan malam ini. Saya harap Abang bisa menyampaikan padanya. Saya akan kirimkan pesan ke pesan singkat Abang"


"Baiklah Wira."


:


Tak perlu sering Abang katakan rindu, cukup rasakan Abang ada di hatimu.


Terperanjat mata Abang melihatmu, gadis cantik pelipur lara.


Detak ini berdenyut kencang mengalir mengusik sanubari.


Tak paham Abang dengan rasa ini, ada rasa hati terketuk sadar, Abang jatuh cinta.


Dinda sayang..


Selamat ulang tahun untukmu, si jelita penyelamat imanku.


Selamat ulang tahun Mama sayang. Semoga bahagia selalu bidadari hatiku.

__ADS_1


Salam sayang..


Papa Wira.


Dinda mengembalikan ponsel Bang Arman dengan wajah datar.


"Abang sudah salin puisi viral itu dan sudah mengirim nya ke ponselmu..!!" kata Bang Martin.


"Iya, viral karena ini puisi Bang Wira yang paling datar sepanjang masa" ucap Dinda malas lalu masuk ke dalam kamar.


-_-_-_-_-_-


Dinda menangis di kamar kontrakan itu sendirian, Bang Arman hanya bisa menunggu di ruang tamu tanpa bisa berbuat apa-apa.


Dinda tidak mau makan, meskipun Dinda menjawab segala pertanyaan Bang Arman tapi ia tau betul jika mantan kekasihnya itu sedang bersedih.


tok..tok..tok..


Bang Arman segera membuka pintu kontrakan itu. Sungguh terkejut ia melihat sosok Wira disana bersama Aaron dan juga Alena.


"Kau benar-benar datang kesini??"


"Dimana Dinda??"


:


"Dek, kita pulang ya..!!"


"Dinda nggak punya rumah" jawab Dinda dengan cepat.


"Kita harus segera pulang dek. Tugas sudah banyak menunggu..!!" bujuk Bang Wira.


"Pulanglah, untuk apa mengajak wanita yang sudah Abang ceraikan..!!"


"Kapan? Kamu yang menitipkan surat ini dan Abang tidak pernah menanggapi nya." jawab Bang Wira kemudian meletakan surat yang ia yakini Dinda yang mengirimnya.


"Lalu bagaimana dengan ini" Dinda meletakan surat yang yang juga ia yakini Bang Wira yang sudah mengirimnya.


Bang Wira sekilas melihatnya kemudian melirik Alena dengan tajam.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Wira mengusap wajahnya.


"Kenapa kamu begitu yakin kalau Abang sanggup melakukan semua ini??" tanya Bang Wira lirih, tubuhnya pun masih terasa berat dan lemah.

__ADS_1


Bang Wira berganti menatap Alena.


"Ini.. Kamu juga yang melakukannya.. Alen???"


Alena masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Bang Wira. Hanya raut wajah penuh kebencian yang ia tunjukan.


"Jawab Alenaa..!!!!!!" bentak Bang Wira.


"Iyaaa.. kenapa?? Abang mau marah lagi sama Alena?? Dia mati pun belum cukup membalas sakit hati Alen..!!! Dia menggoda Bang Arman..!! membuatnya berpaling dariku" teriak Alen dan berdiri menatap Dinda dengan segala kebenciannya.


"Alena.. masalah antara kita dulu sudah usai. Semua ini karena Abang. Kamu memang gadis yang baik, tapi.. hati tidak bisa di paksakan Alen. Abang tidak mencintaimu dan Dinda tidak pernah mencintai Abang betapapun Abang mencintainya." ucap Bang Arman menengahi.


"Itu benar, dan sekarang Dinda merebut Abang Wira dariku dan membuat Papa Mamaku meninggal. Apa itu belum cukup alasan aku membencinya? Kau tau, Tuhan saja sampai mengutuknya punya penyakit jantung dan harus mendapat jantung dari istri pertama Abang. Banggakah dia menjadi yang kedua???" amarah Alena semakin tak terkendali.


Dengan tenang Dinda berdiri, ia berjalan menuju dapur dan kembali lagi ke ruang tamu. Dinda berdiri di hadapan Alena dan menyerahkan sebuah pisau ke tangan Alena. Seketika Bang Wira dan Bang Arman panik melihat pemandangan itu. Mereka ingin memisahkan Dinda dan Alena tapi Dinda mencegahnya.


"Aku pernah meratapi nasibku tapi Abangmu menguatkanku. Memang benar adanya, aku tidak pernah mencintai Bang Arman atau yang kita kenal sebagai Bang Martin saat masih pendidikan dulu. Aku juga tidak tau kenapa malah harus begitu jatuh hati pada Abangmu..!! Sangat.. dan sangat jatuh hati. Hanya Abangmu saja yang ku ikhlaskan menitipkan benihnya di dalam tubuhku" kata Dinda menatap mata Alena dengan lekat.


"Kamu ingin aku mati khan Alena?" tanya Dinda.


Dinda mengambil tangan Bang Wira dan menyatukan dengan Alena kemudian mengarahkan pisau di depan perutnya. Bang Wira terperanjat menarik tangannya.


"Hidup atau mati tak penting bagiku. Asalkan aku bersama anakku ini. Tak penting lagi suami tak mencintaiku atau ipar yang tidak bisa menerimaku" ucap Dinda terdengar tegar namun ada kepasrahan.


"Lakukan Alen..!! Aku pasrah"


"Alen.. jangan..!! Jangan sakiti Dinda..!!!" Bang Wira merebut pisau di tangan Alen, ia teringat tragedi Nesya yang membuat nyawa calon buah hatinya melayang.


"Aku benci diaaa..!!!" Alena mulai kalap, secepatnya Bang Wira menampar Alena.


plaaaaakkk...


"Kalau bibir Abangmu tidak kamu dengar, mungkin tangan Abang yang bisa memberimu pelajaran..!!!!!" bentak Bang Wira.


"Abang menamparku??" tanya Alena.


"Abang berhak menyadarkan mu yang salah jalan..!! Karenamu Abang terpancing emosi, karena kamu Abang hampir terpisah dari Dinda. Abang sudah bilang, jangan salahkan Dinda. Abang yang memilihnya mendampingi hidup Abang. Kalau kamu masih ingin di sebut adik, ubahlah sikapmu..!! Berlakulah hormat pada kakak iparmu..!! Tidak menghormati Dinda berarti kamu merendahkan Abang..!!!!" ucap tegas Bang Wira tak main-main memperingatkan Alena.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2