Sayap Perwira

Sayap Perwira
88. Saat yang tidak tepat.


__ADS_3

"Abaang.. tolong saya Bang. Perut Dinda kram di kolam renang.............."


"Waduuhh.. saya nggak bisa urusan sama istri orang sembarangan" kata Bang Righan dengan percaya diri.


"Maksud saya. Abang bawa mbak Icha untuk check keadaan Dinda. Kalau Abang punya niat macam-macam mending kita gelud aja Bang" ucap kesal Bang Wira.


"Oohh.. Abang kira, Abang yang di suruh periksa istrimu" jawab Bang Righan sembari menikmati camilan sorenya.


"Saya masih waras Bang"


...


"Om Wira.. ini bukan sakit biasa" kata Mbak Icha.


"Lalu apa yang terjadi sama Dinda mbak?" tanya Bang Wira cemas.


"Dinda mau melahirkan" jawab Mbak Icha.


Bang Wira terhuyung pening, rasa takut membayangi batinnya hingga membuatnya begitu tertekan. Dadanya terasa sesak, Bang Righan pun pingsan di tempat.


"Abaang.. Aduuh.. kenapa Abang malah pingsan" gerutu Bang Wira.


"Saya hanya bisa memberi aba-aba karena saya juga baru tau kalau saya hamil lagi?" kata Mbak Icha.


"Hhhaaaah.. astaga. Mbak Icha baru melahirkan tiga bulan yang lalu dan sekarang sudah hamil lagi?? Bukan main" ucap Bang Siregar sembari membantu mengangkat Bang Righan ke saung sebelah.


"Jangan pusingkan hasil kerja Bang Righan. Sekarang tangani Dinda dulu" kata Bang Wira.


:


Alen, Hazna sama Mbak Icha membantu sebisanya. Para anggota standby menyiapkan alat kesehatan sedangkan Bang Wira membantu menangani Dinda. Pernah sekali membantu persalinan Adinda membuatnya sedikit lebih mengerti langkah terbaik yang harus di lakukan.


Dinda terus merintih kesakitan sama seperti saat Adinda akan melahirkan Asya dan adiknya. Semua ini seketika membuatnya stress. Ia mengusap dadanya tak tahan melihat kesakitan Dinda. Ulah beringasnya siang tadi sudah membuat bayi kecilnya memprotes keras tindakan papanya.


"Abang.. boleh Dinda minta sesuatu?" tanya Dinda.


deg..


Jantung Bang Wira rasanya terhantam telak.

__ADS_1


"Apa?" tanya Bang Wira ragu. Air matanya menggenang hampir tumpah.


"Bisakah Abang saja yang bantu Dinda? Dinda kurang terbiasa dengan yang lain, dan nanti setelah Dinda melahirkan.. dalam keadaan apapun, tolong Abang tutupi aurat Dinda. Dinda ingin anak kita melihat ibunya dengan sopan" pinta Dinda.


Air mata Bang Wira akhirnya tumpah juga mendengar permintaan sang istri. Meskipun terasa sesak, ia tetap menyanggupi permintaan Dinda.


"Iya sayang. Apapun permintaan mu akan Abang penuhi."


...


Keringat dingin membasahi kening Dinda. Sesekali Dinda memercing merasakan sakit sampai menangis dan Bang Wira hanya bisa mengawasi sembari memijat punggung Dinda.


"Berapa jam perjalanan kita kalau harus ke rumah sakit kota?" tanya Bang Wira cemas.


"Bisa sampai empat jam, jalan distrik sangat rusak karena sore kemarin terendam air laut pasang" jawab Bang Siregar yang sudah mendapat informasi dari anak buah Bang Righan.


"Puskesmas atau tempat kesehatan terdekat?"


"Ijin Dan, tutup karena dokternya tidak ada. Dokter militer yang baru sedang dalam perjalan kesini bersama beberapa perawat sipil yang akan di tugaskan di pelosok sini" Jawab seorang anak buah.


Dinda menjerit kecil sampai meremas kuat lengan Bang Wira.


Tangan Dinda berusaha meraih apapun untuk mengurangi rasa sakitnya sampai akhirnya Bang Wira menyerahkan tangannya agar Dinda bisa menggigitnya.


Bang Wira menunduk berlinang air mata, tangan kiri memijat pelipisnya seakan tak merasakan tangan kanannya sudah menjadi bahan pelampiasan Dinda.


"Terima kasih banyak ya Bang. Abang sudah mengijinkan Dinda memakai jantung ini. Jantung istri pertama Abang. Mungkin karena adanya jantung ini.. pertama melihat Abang, Dinda sudah sangat mencintai Papanya Asya tanpa perlu mengenal siapa dirinya" ucap Dinda saat sakitnya mulai mereda.


"Jangan banyak bicara, tenagamu bisa habis percuma..!!" gelisah menghantui batin Bang Wira.


"Biarkan Dinda memandangi wajah Abang. Dinda ingin mengingatnya, wajah ayah dari anak Dinda" Dinda menguatkan diri menyentuh tangan Bang Wira.


"Cukup dek, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu akan puas melihat wajah pria b******k ini bahkan sampai nanti kulit kita mulai keriput" jawab Bang Wira sangat tidak senang karena dirinya sangat takut kehilangan Dinda.


Dinda tersenyum kecil sampai sesaat kemudian rasa sakit kembali membuatnya histeris mengerang kesakitan. Ada dua sakit yang harus di tahannya.


Batin Bang Wira semakin tertekan. Dirinya tidak bisa membawa Dinda ke rumah sakit karena jalan terlalu buruk. Guncangan akan membuat Dinda semakin merasa kesakitan. Bang Wira berdiri dan mengobrak-abrik taman di sekitar kolam tenang.


Bang Siregar dan Bang Aaron secepatnya menyergap Bang Wira yang berteriak kalap tak bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


"Istighfar Wir..!!" Bang Siregar mengingatkan adik iparnya.


"Cobalah untuk sedikit lebih tenang. Dinda akan baik-baik saja"


"Bang Wira.. Dinda mengejan terus" kata Alena.


Bang Wira sigap dan tanggap membantu Dinda.


:


Magrib baru saja berkumandang. Dinda sudah sangat kelelahan sampai suara pun begitu lirih terdengar.


"Ayo yang kuat sayang. Anak kita nggak bisa keluar, Abang bantu dorong ya..!!" kata Bang Wira setenang mungkin padahal dalam hatinya cemas luar biasa. Ia membetulkan letak cungkup oksigen di hidung Dinda lalu menunduk mencium perut sang istri.


"Anak papa anak hebat khan? Laki atau perempuan Papa tetap sayang." Selama berada di daerah distrik memang tak pernah ia menggunakan alat USG hingga kali ini Bang Wira tak pernah tau calon bayinya laki-laki atau perempuan.


"Tolong jangan buat Mama sakit, balas saja sama Papa..!!"


Tak lama Dinda mengejang, ia mengejan sekuatnya membuat Bang Wira kalang kabut. Tangannya menyambar selimut untuk alas bayinya.


Satu kali Dinda mengejan sekuat tenaga. Dalam hitungan detik bayi mungil melesat bebas di tangannya, beruntung Bang Wira siap menerima bayi kecilnya.


"Lailaha Illallah.. Alhamdulillah" ucap syukur Bang Wira begitu melihat bayi laki-laki terlahir dari rahim Dinda. Tangis haru tak bisa ia bendung, tapi Bang Wira segera sadar dan menyerahkan bayi itu pada Alena. Ia menyelesaikan Dinda lebih dulu.


"Anak kita sudah lahir sayang, laki-laki. Kamu senang?" tanya Bang Wira. Tak ada jawaban dari sang istri sampai Bang Wira melihat mata Dinda yang terpejam dengan senyum manis di wajahnya. Cantik.. dan begitu tenang.


"Dek..!!" Bang Wira sedikit menggoyang lengan Dinda. Ia memeriksa jalan nafas Dinda, masih ada tanda nafas tapi terasa begitu lemah.


"Wira.. jangan begitu..!!" cegah Bang Siregar.


"Dinda nggak gerak pot..!!" ucap cemas Bang Wira.


Saat panik itu menyerang, seorang dokter dan seorang perawat datang. Bukan main kagetnya Bang Wira saat melihat Mira terus memandangnya kemudian ikut langsung menangani Dinda. Mira.. wanita yang dulu pernah membuat almarhumah Adinda cemburu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2