Sayap Perwira

Sayap Perwira
67. Kalah.


__ADS_3

Bang Wira sampai meremas dadanya dengan kuat.


"Kenapa anak kita masih belum besar?" tanya Dinda.


Seketika Bang Wira membuka matanya. Benar saja, ada makhluk kecil yang tumbuh di rahim Dinda.


"Allahu Akbar.." Bang Wira sampai bersujud syukur karena do'a nya selama ini di kabulkan oleh Tuhan.


"Dok, kenapa anak saya masih kecil sekali?" tanya Dinda dengan sedih pada salah satu Dokter sipil di rumah sakit.


Bang Wira menyentuh kaki dokter dan memberi kode agar ia sendiri yang akan menjelaskan pada sang istri. Dokter pun akhirnya mengerti, mungkin ada masalah rumah tangga di antara pasiennya tersebut. Dokter tersenyum dan akhirnya meninggalkan Bang Wira dan Dinda.


"Itu karena makan mu terlalu sedikit. Lagipula ini khan hanya di layar. Selebihnya kamu sendiri sendiri sebagai ibunya yang bisa merasakan" jawab Bang mencoba menerangkan secara logis.


Dinda pun mengangguk dan sedikit lebih tenang begitu juga dengan Bang Wira yang tentunya begitu menginginkan hadirnya sang buah hati dari Dinda tapi kebahagiaan itu juga membuatnya resah karena pengobatan Dinda masih terlalu awal dan sangat berbahaya. Batinnya bergulat dilema.


"Abang nggak suka ya?"


"Nggak suka apa?" tanya Bang Wira.


"Selama Dinda hamil, Abang seperti tidak bahagia.. Abang lebih fokus pada Dinda dan bukan anak kita" jawab Dinda yang ternyata lebih peka dengan perasaan hati Bang Wira.


"Bukan begitu dek, kamu jangan salah paham. Anak akan sehat kalau ibunya sehat lebih dulu."


"Bang.. apapun yang terjadi, Abang harus menjaga anak kita baik-baik" kata Dinda.


"Sekali lagi kamu bicara macam-macam.. Abang nggak akan peduli lagi sama kamu..!!" terlontar ucap kasar Bang Wira, sungguh dirinya terombang-ambing dilema apalagi memori pahit tentang hidupnya membuatnya begitu takut kehilangan Dinda.


Bang Wira meninggalkan Dinda seorang diri, ia berjalan menjauh dari ruang pemeriksaan kemudian menyulut rokok untuk menenangkan diri.


Hati hancur lebur, bingung, kalut, resah dan berantakan bercampur menjadi satu. Tangis kepiluan sungguh menyakiti perasaannya.


:


"Begitu ceritanya Bang, makanya Dinda bingung. Anak kami sudah tidak ada. Jadi ini kehamilan kedua Dinda" kata Bang Wira menceritakan masalahnya pada seorang dokter dan senior di rumah sakit.


"Usianya masih sekitar lima.. enam Minggu Wira"


"Siap Bang, benar.. kalau saya hitung dari tanggal saya bersama Dinda, juga sama."


Di tengah percakapan, tak sengaja Dinda datang dan ikut mendengarkan permintaan Bang Wira.


"Abang.. apa tidak ada obat peluntur yang tidak meninggalkan rasa sakit?" tanya Bang Wira di balik kebimbangannya hatinya. Ia sangat mencintai Dinda melebihi apapun.


"Saya tau perasaanmu Wira. Tapi tidak ada obat yang tidak meninggalkan resiko" jawab Bang Wira.


"Saya ikhlas kehilangan apapun tapi jangan Dinda. Tak masalah jika takdir saya hanya memiliki putri semata wayang. Tolong saya Bang..!!"


braaakk..


Bang Wira menoleh ke arah suara, betapa terkejutnya Bang Wira saat sekelebat melihat Dinda lari dari rumah sakit setelah menabrak pot di dekat taman.


"Dindaa.. " Tanpa pamit Bang Wira panik dan segera mengejar Dinda.


Astagfirullah.. apa yang dia dengar. Tuhan.. jangan sampai Dinda salah paham.

__ADS_1


-_-_-_-_-


"Aku baru selesai menemui Rendra dan semua sudah beres seperti permintaanmu kemarin. Ada apa?" tanya Bang Siregar.


"Dinda hilang."


"Haaahh.. apa maksudmu???"


...


buugghh..


"Ini sudah kedua kalinya Dinda hilang, kenapa selalu seperti ini???"


"Aku belum sempat menjelaskan apapun sama Dinda" kata Bang Wira.


"Lalu selama ini apa saja yang kamu lakukan.?????" bentak Bang Regar.


"Posisiku masih serba salah. Kalau aku bilang keadaannya yang kemarin, Dinda bisa syok. Makanya diam-diam aku mencuri waktu untuk membuatnya hamil lagi, tapi setelah Dinda hamil.. ternyata kehamilan itu akan mempengaruhi kesehatan Dinda dan jantungnya karena operasi itu belum satu tahun dan Dinda kemarin mengalami penusukan juga sampai keguguran. Jadi kehamilan kali ini sangat rentan jika terkena obat-obatan" jawab Bang Wira menjelaskan perlahan.


"Bayangkan posisimu kalau jadi aku Gar. Rasanya aku ini sudah mau mati. Kalau kamu jadi aku.. tega kah kamu mengatakan semua kebenaran ini pada Dinda. Aku sudah mengalami menjadi seorang ayah.. tapi Dinda belum mengalami menjadi seorang ibu"


Bang Siregar sampai ikut mengacak rambutnya. Sebagai kakak jelas ia pun ikut merasakan resah. Bang Regar segera membantu Bang Wira untuk berdiri.


"Ayo cari Dinda. Jangan sampai Dinda nekat seperti kejadian waktu itu. Bisa puyeng sendiri kepala mu"


...


"Ayo cepat sedikit Gar..!!"


"Kita ini mau ke arah mana Maung?? Kanan atau kiri????" tanya Bang Siregar bingung karena mereka berdua terus berputar tanpa arah tujuan.


"Kanan itu ke pantai" jawab Bang Siregar.


"Dinda itu pasti frustasi, salah paham sama ucapanku."


Secepatnya Bang Siregar menuju arah pantai. Hari sudah mulai gelap. Sejak pagi hingga petang tiba, mereka hanya berputar mencari Dinda.


...


Bang Wira hampir frustasi tak kunjung menemukan Dinda. Pantai itu sudah menjadi pilihan terakhirnya.


"Gar, ada satu pantai lagi. Jarang di datangi orang. Ayo kita kesana..!!"


:


"Lailaha Illallah.. Dindaaa...!!!!!!!" mobil belum berhenti tapi Bang Wira sudah melompat keluar dari mobil.


Bang Siregar segera menepikan mobilnya dan segera menyusul Bang Wira.


~


"Dinda.. sayang..!! Ayo kita pulang..!!" bujuk Bang Wira berusaha meraih tangan Dinda.


"Pergilah Bang.. Biarkan Dinda sendiri..!!" ucapnya sudah kehilangan gairah hidup. Lemah dan tidak ada semangat sama sekali.

__ADS_1


"Dengar Abang dulu sayang.. kita bicara baik-baik" tak hentinya Bang Wira membujuk Dinda.


"Pulanglah Bang. Asya butuh Abang."


"Abang juga butuh kamu dek" kata Bang Wira.


Dinda tersenyum getir.


"Sebagai pengasuh Asya dan papanya? Kenapa Abang pura-pura bahagia saat tau Dinda hamil.?


"Nggak dek, dengarkan dulu penjelasan Abang..!!"


"Dinda sudah dengar. Abang tidak menginginkan anak ini. Dia sudah tiga bulan lebih Bang, jantung nya pasti sudah berdetak sempurna" ucap Dinda semakin membuat hati Bang Wira pilu.


"Kenapa jantung ini begitu menjadi hutang budi yang dalam? Kalau Dinda tau akan begini akhirnya.. demi Allah Dinda tidak ingin menerimanya. Dinda yang salah terlalu berharap dan mencintai pria yang hatinya tidak akan pernah untuk Dinda. Kenapa Dinda terlalu percaya diri kalau Abang akan mencintai Dinda dan memaksa percaya bahwa waktu dari kebersamaan kita akan memberikan cinta. Nyatanya anak ini pun tidak bisa menyatukan kita."


Kaki Bang Wira terasa lemas mendengarnya. Rasa bersalah itu seakan menghantam telak dirinya. Bang Wira berjongkok memeluk kaki Dinda.


"Siapa yang patut di salahkan dengan apa yang terjadi pada hidup kita? Jika saja Abang bisa menemukanmu lebih dulu, tak akan pernah Abang menikahi Adinda.. wanita yang saat itu sangat membutuhkan perlindungan. Dia sedang hamil. Abang menikahinya untuk menyelamatkan harga dirinya. Dari sana Abang tidak bisa bohong kalau ada cinta di antara kami hingga akhirnya kami memiliki seorang putra dan seorang putri meskipun jagoan Abang itu akhirnya harus ikut pulang menemani mamanya di surga." Perasaan sesak itu tak mampu lagi ia bendung.


Bang Siregar berjaga di samping mereka karena keduanya sedang tidak berada dalam keadaan stabil.


"Jika saja Abang mampu mengubah takdir. Abang hanya ingin hadirmu yang menemani hidup Abang tanpa sekelebat cinta untuk Adinda yang begitu menyakitkan. Abang inginkan sehat mu, senyum mu dan ceria mu. Hidup ini hanya akan ada cerita tentang kamu, Asya dan anak kita. Kalian adalah denyut nadi Abang. Tanpa kalian, Abang tak inginkan nyawa ini lagi" ucap jujur Bang Wira.


"Lalu apa yang Dinda dengar tadi? Abang ingin membuang anak kita. Selama ini Dinda mencoba mengerti Abang. Tapi Abang tidak pernah sekalipun menganggap Dinda ada"


Bang Wira semakin erat memeluk kaki Dinda. Dadanya kian sesak menahan beban yang selama ini ia pikul.


"Suami mana yang tidak bahagia mendengar istrinya hamil. Itu berkah dari Tuhan. Tapi setelah kejadian penusukan itu, dokter melarang mu mengandung untuk jangka waktu satu tahun kedepan. Hanya satu tahun saja" jawab Bang Wira mulai menjelaskan.


"Obat itu terlalu bahaya untuk kalian. Jika ini tidak beresiko untuk calon anak kita, obat ini bahaya untukmu atau mungkin bisa keduanya. Abang tidak sanggup ngambil resiko apapun dek. Kalai bisa memilih, lebih baik Abang saja yang mati daripada harus mengorbankan kalian berdua. Abang terus memikirkannya sampai fisik dan mental ini rasanya nggak kuat"


"Kenapa Bang? Kenapa harus seperti ini? Apa Mbak Adinda saja yang akan selalu ada di hati Abang?


"Dindaa..."


"Dinda merasakan satu denyut nadi bersama nya. Dinda ibunya" ucap Dinda mulai emosional dan menitikan air mata.


"Abang tau perasaanmu dek.. Abang juga nggak kalah sakitnya" Bang Wira beralih menghapus air mata Dinda.


"Jangan sebut Adinda lagi sayang, Abang mohon. Abang yang salah sampai membuatmu seperti ini. Adinda sudah hilang, yang tersisa hanya kenangan. Cintanya Abang hanya buat kamu"


"Kalau begitu.. biarkan Dinda menjadi seorang ibu..!!"


Bang Wira terdiam. Segalanya terlalu sulit. Pilihan apapun saat ini akan tetap menyakiti istrinya.


Dinda mulai bereaksi, menangis, meronta dan ingin lari dari hadapan Bang Wira membuat suami Dinda itu kalang kabut.


Bang Wira segera menarik tangan Dinda dan memeluknya erat meskipun dalam hatinya masih was-was.


"Iyaa sayang.. iya. Abang ijinkan Adek mengandungnya. Nikmatilah harimu menjalani kodratmu. Abang temani" Bang Wira mengecup kening Dinda. Akhirnya ia mengalah, semua kejadian ini juga tak luput dari kesalahannya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2