
Nara suka alur seperti ini. Jika ada kemiripan, Nara pun mengambil dari cerita Nara sendiri.. bukan orang lain. Jika tidak suka harap skip. Kita saling menghargai saja..!! ***Nara mengambil inti yang sama untuk menaikan cerita dan tidak mencontek.
Harap di ingat.. Di ujung peluru adalah KARYA NARA. Terima kasih***.
🌹🌹🌹
"Mau makan sama Abang?"
Dinda mengembangkan senyum cerianya.
"Bang Wira??" mata Dinda berbinar melihat tampannya pria yang berdiri di hadapannya.
Bang Wira pun tersenyum getir karena dalam hatinya menangis kencang.
"Abang darimana?" tanya Dinda.
"Lihat anak-anak. Mereka rindu sekali dengan mamanya" jawab Bang Wira.
"Anak-anak??" tanya Dinda bingung.
"Anak kita hanya Asya Bang. Siapa lagi?" Dinda tertawa karena merasa Bang Wira aneh.
"Kita baru mau punya dua anak. Asya dan si kecil kita ini" Dinda mengusap perutnya yang masih rata.
Jiwa Bang Wira ikut teriris pedih karena Dinda malah tak mengenali putra kandungnya sendiri dan malah mengingat Asya putrinya dari Adinda.
"Maksud Abang anak kita" jawab Bang Wira memperbaiki ucapannya. Ia ingin mengingatkan Dinda tentang Tian dan Nando.. tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat mengingat kondisi mental Dinda yang sedang dalam masa pemulihan.
"Kita makan dulu ya, biar bisa cepat pulang"
"Oke Bang" jawab Dinda dengan ceria.
:
"Apa-apaan ini Bang? Kenapa Dinda melupakan anak-anak????" tanya Bang Wira.
"Apa Dinda hilang ingatan??"
"Tidak Wir.. ini hanya sementara, nanti ada masanya Dinda akan tenang dan di saat itu juga segala memori Dinda yang terlepas akan kembali lagi. Ini juga untuk menyelamatkan dirinya agar tidak terus terpuruk" jawab Senior Bang Wira.
"Ya Allah Bang, bagaimana kalau Dinda nggak ingat sama anakku Tian?? Tian anak kandungku sama Dinda" Bang Wira begitu cemas dengan keadaan Dinda.
"Abang sudah bilang.. ini untuk mengembalikan keadaan Dinda melalui sugesti, nanti akan kembali lagi.. semua tergantung kestabilan emosi Dinda"
__ADS_1
Bang Wira terduduk lemas. Ia tak tau bagaimana harus menjalani segalanya. Semua ini terlalu berat untuk di jalani.
-_-_-_-_-_-
Bang Aaron dan Bang Siregar menguatkan Bang Wira yang seperti nya tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Kenapa masih disini? Dinda menunggumu..!!"
"Aku ingin Dinda sembuh tanpa bantuan hal seperti ini" kata Bang Wira.
"Kalau kamu siap mendengar dan melihat Dinda tersiksa karena penyembuhan jiwanya yang ekstrim ya terserah, ini hanya alternatif agar Dinda tidak gila" ucap Bang Siregar berucap jujur di hadapan Bang Wira.
"Kamu harus tahan Wira. Kalau kamu paksakan.. Tian dan anakmu yang masih ada dalam kandungan bisa terkena imbasnya karena ibunya stress"
"Rasanya aku nggak kuat mikir. Semua pilihan terasa sulit" jawab Bang Wira pelan.
"Ini ulahmu Wir, kamu yang tidak bisa mengatur hatimu. Ini adalah teguran keras dan kesalahan besar dalam hidupmu" kata Bang Siregar.
"Sebisa mungkin kita dampingi Mbak Dinda Bang. Kita awasi penyembuhannya sama-sama" kata Bang Aaron.
...
Asya kecil melihat mamanya menangis di dalam kamar rawat. Entah kenapa si kecil Asya jadi tak berani mendekati sang Mama.
"Asya sayang..!!" sapa Dinda.
"Mama nangis?" tanya Asya.
"Nggak.. mata Mama kena debu" jawab Dinda.
"Papa jahat?" tanya Asya lagi.
"Nggak nak, Papa baik kok.. sayang sama Mama" jawab Dinda dengan senyumnya yang mengembang. Ia tak ingin sikapnya yang berpura-pura akan mengganggu tumbuh kembang Asya.
flashback on..
"Dinda.. kamu akan semakin tersiksa dan sakit hati" kata dokter senior Bang Wira.
"Saya hanya ingin tau bagaimana cara Bang Wira mempertahankan hubungan kami. Saya juga tidak ingin salah melangkah karena bagi saya.. pernikahan hanya satu kali seumur hidup. Jadi.. kira-kira langkah apa yang bisa saya ambil Bang?? Tolong bantu saya..!!"
"Baiklah Dinda.. saya akan bantu kamu. Sebaiknya......"
:
__ADS_1
Bang Wira masuk ke dalam ruangan, tak ada seorang pun tau keadaan dirinya yang sebenarnya kecuali Hazna.
"Kamu benar-benar kuat?" bisik Hazna.
"Insya Allah.. satu kali ini, satu kali ini aku ingin berusaha mempertahankan rumah tangga ku dengan Abang" jawab Dinda lirih kemudian memasang tatapan kosong.
flashback off..
"Asya sayang Mama" kata Asya.
"Mama juga sayang Asya" jawab Asya.
Tak lama Bang Wira masuk ke dalam kamar.
"Asya sayang.. makan dulu sama bibi ya nak..!! Beli snack sama bibi di kantin, banyak makanan ada es krim juga" pinta Bang Wira dengan lembut.
Asya mengangguk mantap.
"Iya Papa" jawab Asya kemudian keluar dari kamar rawat Mamanya.
"Dek.. makan yuk..!! Ada Tian dan Nando juga di luar" ajak Bang Wira.
Hati Dinda begitu sakit mendengar nama Tian.. putra nya dari Bang Wira, tapi ia harus kuat. Jika memang Bang Wira bisa adil membagi perasaan.. ia ikhlas menata hatinya untuk bisa kembali bersama Bang Wira.
"Siapa Tian dan Nando? Dinda nggak kenal" jawab Dinda.
Bang Wira mengusap punggung Dinda.
"Keduanya adalah titipan Tuhan untuk kita. Tian adalah nyawa kita sedangkan Nando adalah pelipur lara kita. Abang bahagia sekali dengan kehadiran mereka di antara kita.. terutama Tuan.. dia hadiah terindah darimu. Saat itu.. Abang sangat menginginkan anak laki-laki"
"Dinda hanya punya Asya.. Apa Tian sangat berarti sampai Abang menceritakan hal ini"
"Segala dari mu sangat berarti, itu adalah satu hal yang selalu Abang banggakan.. Kamu dan Tian adalah pilihan Abang.. Jika saja hidup bisa memilih.. Abang ingin Asya terlahir dari rahim mu saja. Tapi Abang tidak bisa mengubah takdir.. takdir terpahit dalam hidup Abang" ucap Bang Wira tak bisa menahan air matanya.
Dinda pun merasa kepedihan yang sama, tapi ia berusaha kuat. Perjuangan ini masih panjang untuk di lalui.
.
.
.
.
__ADS_1