
Tolong untuk memahami keadaan Nara yang masih belum bersedia lanjut untuk novel yang lain. Nanti akan Nara lanjutkan. Tapi saat ini Nara belum mampu karena sesuatu hal. Terima kasih atas pengertiannya ☺️🙏.
🌹🌹🌹
"Sudah puas marahnya? Masih ada yang belum lega?? tumpahkan semua, Abang dengarkan..!!" kata Bang Wira menahan rasa sakitnya melihat Dinda yang setengah sadar. Ucapannya tadi memang menyakiti hati Dinda tapi tidak bisa ia tolak kalau hatinya pun terasa sakit dengan pertanyaan Dinda meskipun itu mungkin saja tanpa sadar.
Bang Siregar meminta cafe bagian samping untuk menjadi private room untuk Dinda dan Bang Wira hingga akhirnya disana menjadi ruang tertutup. Ia rela membayar mahal untuk itu. Bang Siregar pun memilih duduk di luar dan membiarkan pasangan suami istri itu untuk menyelesaikan masalahnya.
"Dinda adalah istri sholehah nya Abang. Jadilah dirimu sendiri. Hari ini, sebagai suamimu.. Abang sudah salah besar. Abang minta maaf..!!" Bang Wira mulai membujuk Dinda.
"Kata-kata Abang pasti sudah menjadi belati dalam hati mu. Yang sudah terlontar, tidak dapat di tarik kembali. Apa kamu mau memaafkan Abang?" tangis itu akhirnya tak terbendung lagi saat melihat tatapan mata Dinda yang kosong.
"Dinda cinta sama Abang, Dinda cemburu dan kesal karena Abang membandingkan Dinda sama Mbak Adinda. Dinda nggak punya kebanggaan. Mbak Adinda mempertaruhkan nyawanya demi anak Abang. Mbak Adinda menjaga anak Abang sampai tiba waktunya. Sedangkan Dinda.. Dinda nyaris membuat anak Abang celaka. Kenapa Dinda tidak mati saja??? Kenapa saat itu Dinda di selamatkan??????" ucapnya frustasi, mabuk dan tidak sadar.
"Jangan seperti ini sayang. Bunuh saja Abang yang tidak berguna ini..!!" Bang Wira mengangkat Dinda dan membawanya pulang.
...
Bang Siregar masih menekuk wajahnya dengan kesal. Tapi melihat perhatian Bang Wira untuk Dinda juga membuat dirinya pada akhirnya harus mengalah.
Suara tangis panik Bang Wira masih terdengar.
"Kau bisa diam atau tidak? Tuli kali rasanya kudengar tangismu itu, sudah macam gadis belia saja kau" tegur Bang Siregar dengan jengkel.
"Kalau tidak mau dengar, keluarlah sekarang juga..!! Aku juga tuli dengar omelan mu..!! Jangan ganggu aku.." ucap ketus Bang Wira.
"Kau ini benar-benar menyebalkan Wira" Bang Regar pun meninggalkan tempat
"Cepat sadar dek..!! Jangan mabuk lagi..!!" Bang Wira menyeka wajah Dinda dengan air dan handuk basah. Perasaannya masih takut melihat penampilan dinda. Kelakuannya juga liar dan nakal di dalam mobil membuatnya mati kutu.
__ADS_1
"Mentah sekali tingkahmu. Tapi Abang suka."
***
Dinda terbangun dan melihat Bang Wira duduk di tepi ranjang sembari menunggui dirinya. Tak lama Bang Wira menggeliat, Dinda pun perlahan kembali merebahkan dirinya, ia ingin tau bagaimana reaksi Bang Wira melihat dirinya kesakitan. Sebab suaminya itu berwajah datar saja dan terkesan sama sekali tak cemas dengan keadaan nya.
"eegghh.." Dinda mulai menggeliat mencoba peruntungannya. Seingatnya semalam ia hanya pulang bersama Bang Siregar dan Abangnya itulah yang merawatnya.
"Aaiiissshh.. kenapa lagi ini??" Bang Wira keluar dari dalam kamar meninggalkan Dinda.
Tanpa perhitungan, Dinda langsung duduk dan kembali kesal karena Bang Wira tak peduli padanya. Ia menyambar bantal dan melemparnya ke arah pintu. Tepat saat itu Bang Wira masuk dengan membawa segelas teh hangat yang akhirnya harus tumpah mengguyur tubuhnya karena tertimpuk bantal dari Dinda.
"Apa-apaan ini dek????" tegur Bang Wira yang sudah melihat Dinda duduk dengan hidung mengembang mirip kerbau.
"Semalam Abang kemana saja?? Kenapa nggak antar Dinda pulang?? Puas sudah memaki Dinda lalu pamit pergi???" tegur Dinda.
"Ini.. Ini nih kalau kebanyakan minum kecubung, tiang jemuran juga pasti kamu sayang-sayang" Bang Wira balik menegur Dinda sembari mengusap wajahnya yang tersiram air teh hangat.
"Ya Bang Siregar lah"
"Heehh.. buka matamu..!! Itu Abangmu ngiler di ruang tengah. Nggak usah berharap Siregar yang bantu kamu" tunjuk Bang Wira kesal.
"Itu.. Abang bawa apa??" Dinda menunjuk gelas yang di bawa Bang Wira dengan bibirnya. Agaknya sekarang Dinda sedikit merasa bersalah.
"Bawa air teh untuk Abang mandi" jawab Bang Wira kemudian meletakan gelas dan obat Dinda di atas meja nakas. Ia membuka pakaiannya yang basah hingga menunjukan perut sixpack nya. Tangannya menyambar handuk yang masih setengah basah untuk menyeka dirinya.
"Lihat apa? Mau??"
Dinda memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
__ADS_1
"Pergilah.. Dinda nggak mau lihat Abang"
Bang Wira tersenyum melihat sang istri yang masih nampak marah padanya.
Jelas kamu berbeda sayang. Dan itu hanya hati Abang saja yang tau. Abang menikahi Adinda karena menyelamatkan harga dirinya sedangkan Abang menikahimu untuk menjaga kehormatanmu. Abang pria normal yang masih memiliki hawa nafsu, dan Abang tidak ingin menyakitimu.
"Benar nih?? Abang keluar aja?? Nggak kangen??" tanya Bang Wira melihat Dinda berusaha tegar.
"Nggak"
"Ya sudah.. Abang keluar" jawab Bang Wira mengalah. Kemudian tangan Bang Wira menarik selimut di samping Dinda.
"Abang ingin paha ini tertutup dan Abang saja yang akan melihatnya. Abang tidak ikhlas pria lain memandang mu dengan pandangan tidak hormat."
"Sayang.. Abang menikahi mu bukan tanpa pemikiran yang matang. Dulu Abang juga melewati masa pacaran yang semuanya hanya mendapatkan sengsara. Maka dari itu, 'pacaran' dalam jalan halal adalah jalan terbaik. Dengar kata Abang. Adinda sudah tidak ada. Maafkan khilafnya Abang yang menyakiti hatimu. Sungguh Abang tidak sengaja"
"Satu alasan saja Bang? Kenapa banyak rahasia di antara kita?"
"Karena Abang suamimu.. kamu bisa apa?"
Dinda kembali memalingkan wajahnya, tak puas dengan jawaban Bang Wira yang terkesan menutupi banyak hal darinya.
Sabar sayang..!! Abang masih belum sanggup mengatakan, bahaya masih ada di sekeliling kita.
.
.
.
__ADS_1
.