
"Kenapa semua seolah menyalahkan aku, aku sudah menerima hukuman dari masa laluku. Apa aku salah kalau aku menginginkan yang terbaik untuk hidup putriku?" tanya Bang Rendra.
Bang Wira menghajar bang Rendra membabi buta.
"Wir..jaga emosimu..?? Anak-anak sudah tidur. Kamu juga bisa buat Dinda kaget" tegur Bang Siregar.
Bang Wira berhenti menghajar Bang Rendra yang sudah setengah bonyok.
"Suara apa itu Bang??" Dinda menghampiri para pria di depan karena mendengar suara keributan kemudian si susul Hazna di belakangnya.
Bang Wira segera mendekap Dinda.
"Duduk sini dek. Kamu jangan terlalu capek"
"Bang Rendra?? Abang sudah bebas??"
Senyum Bang Rendra mengembang.
"Dinda..!!" Bang Rendra berniat mendekati Dinda tapi Bang Wira menghadangnya. Dinda pun bersembunyi di balik punggung Bang Wira.
"Kenapa semua orang memusuhiku????? Apa salah kalau aku ingin yang terbaik untuk Nala?" tanya Bang Rendra.
Bang Wira tak ingin berdebat lagi dengan sahabatnya itu. Ia menghubungi Bang Aaron.
"Aaron.. tolong kirim POM dan dokter jiwa ke rumah Siregar..!!"
:
"Beraninya kamu perlakukan aku seperti ini??????"
"Kamu keterlaluan Rendra.. kejiwaan mu patut di pertanyakan"
"Bagaimana dulu Rendra bisa lolos test psikologi?" tanya Bang Siregar heran.
"Itu bukan urusan kita, sekarang kita tangani dulu masalah ini..!!"
...
Malam itu juga Bang Wira, Bang Siregar dan Bang Aaron merundingkan masalah hak asuh atas Nala.
Dinda tau dalam hati Bang Wira sebenarnya masih menginginkan Nala, sebab Nala adalah cerita penuh kenangan milik Adinda yang masih tersisa selain Asya putri kecil satu-satunya.
"Abaang.. kalau Abang ingin Nala bersama kita, Dinda nggak apa-apa kok" ucap Dinda dengan ikhlas.
__ADS_1
Hati Bang Wira malah kacau berantakan merasakan keikhlasan Dinda. Entah kemarin istrinya itu hanya mengigau atau sungguh ingin.. yang jelas Bang Wira juga tidak tega jika harus membawa 'perempuan lain' ke dalam rumah tangganya sebab ia tau Dinda pernah mengucap inginkan anak gadis dari kondisinya yang sama sekali jauh dari kata sehat.
"Dinda.. aku sudah terlanjur sayang sama Nala, jangan di bawa pergi ya..!!" ucap Hazna sampai berlinang air mata. Bang Siregar menghapus air mata istrinya. Ada rasa cemas di hati Bang Siregar karena Hazna baru saja melahirkan.
"Nala akan tetap sama kita, Wira ini emosian tingkat dewa. Abang tau betul Asya Dan Dinda sudah cukup buat dia sakit kepala" jawab Bang Siregar.
"Baang..!!" rengek Dinda dalam pelukan Bang Wira.
"Sayang.. sejak awal Nala sudah besar sama ayahnya. Kalau tiba-tiba kita ambil Nala, dia pasti kaget. Lagi pula Nala khan jadi Putri Abangmu, berarti anakmu juga"
"Tapi Bang..!!"
"Abang buatkan dedek cantik untuk kamu ya, jangan berebut Nala lagi, kasihan dia..!!" janji Bang Wira terlanjur terlontar.
"Ini bulan ketiga Abang tidak menginginkan Dinda, Abang terlalu takut Dinda sakit. Bagaimana kita bisa punya anak perempuan?" tanya Dinda.
"Apa yang penyakitan ini terlalu merepotkan Abang?"
Mendengar itu Bang Siregar, Bang Aaron, Hazna dan Alena meninggalkan ruang tamu untuk memberi ruang untuk Bang Wira bicara berdua dengan Dinda.
"Kenapa harus ada pertanyaan seperti itu? Jelas Abang sangat menginginkan saat berdua sama kamu. Setiap hari melihatmu di sekitar Abang.. cantik, wangi begitu menggoda. Mana mungkin Abang nggak merindukan kamu. Beri Abang sedikit waktu, semua ini juga terasa berat buat Abang"
"Dinda tau.. Dinda tidak sehat. Jika memang ini waktu terakhir Dinda.. Dinda mohon ijinkan Dinda untuk memberi Abang seorang putri cantik" ucap Dinda sendu.
"Baiklah, kamu boleh hamil lagi. Tunggu kesehatanmu pulih benar. Tapi kalau ternyata anak kita nanti laki-laki, kamu tidak boleh merengek minta hamil lagi..!!" ucap Bang Wira bersemu janji kosong karena sungguh dirinya masih setengah hati karena takut terjadi sesuatu pada Dinda dan hingga saat ini.. dirinya masih mampu menahan gejolak dalam dada yang begitu menyiksa. Hanya dekat padaNya yang mampu mengalihkan segala rasa.
"Terima kasih banyak Abang"
"Sama-sama cantik" Bang Wira memeluk dan mengecup kening Dinda menyudahi ungkapan dari hati ke hati.
***
Alena melihat kalender di meja kerjanya. Sudah lewat jauh dari HPL tapi bayinya tak kunjung lahir. Tangannya mengusap lembut perut besarnya.
"Adek kapan mau main sama Papa? Sudah lewat sepuluh hari tapi kamu belum juga mau keluar..!!" tegur Alena.
Ada tendangan kecil merespon dari dalam perutnya.
Tak lama Dinda masuk ke dalam ruangan dan melihat Alena dengan wajah cemas.
"Alena kenapa?" tanya Dinda.
"Kenapa anak ku ini belum lahir juga ya mbak. Apa aku salah hitung HPL?"
__ADS_1
"Biasa ada yang begitu juga. Lebih baik Alen periksa ke kota, ada USG.. biar bisa langsung di pantau" saran Dinda.
"Ya sudah, Alen ajak Abang ke kota" Alena berdiri dari duduknya. Seketika ada rasa yang begitu hebat membuatnya sakit luar biasa pada bagian bawah perutnya.
"Mbak.. perutku sakit sekali"
"Ya ampun.. mungkin sekarang waktunya melahirkan" kata Dinda.
"Sebentar.. aku hubungi Abang dulu"
~
"Wa'alaikumsalam.. kenapa dek?"
"Alena mau melahirkan Bang.. Bang Aaron ada dimana?" tanya Dinda.
"Haaahh.. aduuhh.. iya sabar.. Abang cari dulu" Bang Wira kocar-kacir celingukan mencari Bang Aaron.
"Eehh Gombloh.. tolong bantu saya carikan Danton. Bilang istrinya mau launching" pinta Bang Wira pada seorang anggota nya.
"Siap"
Bang Wira menutup panggilan teleponnya dan bergegas ikut mencari Bang Aaron.
"Kemana sih itu bocah..!!" gerutunya jengkel.
...
"Ijin Dan.. ada pancaran dari Danki"
"Apa..??" tanya Bang Aaron yang masih berkutat dengan ketapel dan membidik burung incarannya.
"Ijin.. istri Danton mau memancing" kata seorang anggotanya tersebut.
"Laah.. mau mancing dimana? Semalam muara airnya meninggi. Bisa-bisa kita di terkam buaya"
.
.
.
.
__ADS_1