Sayap Perwira

Sayap Perwira
81. Sebuah tanggung jawab.


__ADS_3

"Tapi... Abang minta satu hal, apapun yang terjadi pada Alena.. kamu akan melindungi dia. Jika seorang pria sudah bersanding dengan seorang wanita.. nyawanya sudah terbelah dua, apalagi wanitamu sedang mengandung. Hidup matimu hanya untuk belahan jiwamu" kata Bang Wira masih belum tega melepaskan adik tercinta.


"Satu penyesalan yang sampai saat ini Abang rasakan adalah sempat kasar dan tidak percaya dengan istri sampai nyaris Abang kehilangan Dinda. Emosi dan perasaan kita untuk istri akan selalu di uji. Maka pintar-pintarlah untuk menjaganya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari"


"Siap Abang. Saya paham..!!"


"Abaang.. Alena belum siap untuk menikah, apalagi sampai mengandung anak ini" kata Alena merengek meminta bantuan dari Abangnya.


"Kalian berdua sudah berbuat salah dan dosa sampai anak itu ada di rahim mu. Setelah kalian melakukan nya dengan suka cita, sekarang kamu mau bilang nggak inginkan anak ini Alen??" tegur Bang Wira.


"Seharusnya kamu berpikir sebelum melakukannya. Hubungan badan hanya untuk pasangan yang sudah menikah. Sekarang kamu harus lebih dewasa menyikapi kejadian ini. Jaga dan besarkan dia. Keluarga kita tidak di besarkan untuk menjadi seorang pengecut yang lari masalah. Berani berbuat.. harus berani bertanggung jawab..!!"


"Alen takut Bang"


"Kamu harus siap Alen. Ada darah Wiranegara juga disana..!!" jawab Bang Wira dengan tegas.


...


"Haah.. kamu mau kawin lagi Wir??????" tanya Bang Righan di seberang sana.


"Eeehh.. dengar dulu Bang. Yang mau menikah Aaron sama Alena. Mana ada saya mau kawin lagi, bisa-bisa besok pagi saya muntah paku di santet Dinda" jawab Bang Wira sembari melirik Dinda yang sedang makan buah kedondong.


"Laahh.. buru-buru amat Wir?"


"Nggak bisa di jelaskan dengan kata-kata Bang" ucap Bang Wira terdengar sendu.


"Oohh.. yowes, besok pagi sudah ada penghulunya. Abang kira kamu mau kawin lagi Wir, khan asyik kalau punya cadangan. Hahahaha.." tawa renyah Bang Righan terdengar nyaring, Icha yang mendengar nya langsung menjitak kepala Bang Righan karena terlalu jengkel.


~


"Bagus kah candaan seperti itu Bang?? Ucapan itu adalah doa, kalau sampai Abang macam-macam, Icha suntik badan Abang sampai kaku sebelah" ancam Icha.


"Abang bercanda dek, nggak mungkin lah Abang nakal.. istri Abang paling cantik sedunia" jawab Bang Righan.


"Interupsi Bang.. Dinda yang paling cantik" protes Bang Wira di seberang sana.


"Suka-suka kau lah Wira, kalau Abang nggak bilang cantik sekarang.. urusannya bisa panjang" bisik Bang Righan.

__ADS_1


"Oohh.. jadi Icha nggak cantik ya Bang?" tegur Icha.


"Astaga Tuhan.. salah lagi" Bang Righan memutuskan sambungan teleponnya sepihak karena sang istri sudah cemberut tak karuan.


:


"Di tambah apalagi nih sayang?" Bang Wira sedang memasak nasi goreng untuk Dinda.


"Sudah Bang, nggak ada lagi"


Bang Wira segera menuang nasi gorengnya di atas piring, hari yang lelah terbayar sudah karena Dinda sudah mau makan.


"Papaa.. mau..!!" Asya menarik celana pendek Papanya.


"Nanti ya nak. Ini pedas, buat Mama. Asya Papa suapin nasi sama lauk saja ya? Tadi Bibi masak semur ayam untuk Asya khan" kata Bang Wira.


Asya mengangguk menurut apa kata papanya.


"Asya mau di suapin mama?" tanya Dinda.


"Iyaa.. sama Papa. Ayo duduk sini. Makan sama papa. Mama masih suapin dedek di dalam perut. Oke sayang..!!" Bang Wira mencubit kecil pipi gembul sang putri.


Bang Wira melepas celemek dan bandonya lalu menyuapi Asya dan sesekali terdengar candaan ringan dari keduanya. Kali ini Bang Wira merasakan kedekatan khusus antara dirinya dengan sang putri. Hukuman dari Dinda akhirnya juga ada hikmahnya, dirinya bisa lebih dekat dengan Asya dan sedikit mengesampingkan kesibukan hingga komunikasinya dengan sang putri menjadi sedikit berjarak.


...


"Asya sudah tidur bang?" tanya Dinda.


"Sudah, Abang bacakan cerita dulu setelah itu membaca do'a tidur seperti katamu" jawab Bang Wira.


"Syukurlah kalau Asya sudah tidur, hari ini dia sedikit pilek. Adaptasi cuaca disini"


"Kamu juga cepat tidur, kamu sendiri juga mulai demam" kata Bang Wira kemudian menarik selimut dan menutup tubuh istrinya hingga sebatas dada.


"Dinda nggak apa-apa Bang, jauh lebih kuat daripada Asya"


"Kalau kamu memang sekuat itu seharusnya nggak ada lemas, pingsan, lesu dan kawan-kawannya. Abang cemas sekali lihat kamu seperti ini dek" kecemasan itu bertambah kala mengingat Dinda tak lagi mengkonsumsi obat penguat jantung.

__ADS_1


"Tidak ada obat yang lebih tulus dari sebuah do'a. Kalau Abang tulus mendo'akan Dinda dan anak kita.. Dinda yakin semua akan baik-baik saja" jawab Dinda.


"Tak akan pernah putus do'a untukmu. Harta dunia bisa di cari, tapi kamu dan anak-anak adalah harta yang tak akan pernah terganti"


***


Alena menyandarkan kepala di paha Bang Wira, ia menangis sejadi-jadinya sebelum Bang Aaron mengucapkan ijab qobul.


Tak berbeda jauh dari Alena, batin Bang Wira pun bergolak tak menentu. Hari ini dirinya harus melepaskan sendiri adik perempuan satu-satunya karena sang Papa sudah tiada. Kedua tangan Bang Wira menyentuh bahu Alena.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang. Istrinya Aaron. Abang harap kamu bisa menjaga nama baik suami, menurut apa kata suami jika perintahnya itu tidak menyimpang dari ajaran agama dan tidak juga melanggar hukum. Abang masih akan tetap berada di sampingmu tapi sekarang batas Abang tak lagi utuh, Aaron yang akan mengambil tanggung jawab itu. Selama masih ada nafas, bahu ini tetap bisa kamu sandari Alen"


"Maafin Alen ya Bang, Alen sudah membuat Abang malu dan menyusahkan Abang. Alen sadar, Alen belum menjadi adik yang baik untuk Abang. Alen belum bisa berbakti jadi adik Abang" kata Alena sesenggukan.


"Seorang kakak tidak minta balasan apapun. Cukup tidak menangis dan selalu bahagia.. itu sudah merupakan balasan paling indah. Kelak.. berdamai lah dengan kenyataan. Hormati keputusan Abang yang sudah memilih Dinda. Abang tidak mungkin memilihmu ataupun Dinda, tapi kalau kamu masih ingin melihat Abangmu ini tetap hidup.. Abang hanya minta satu.. sayangi Dinda, jangan menyimpan dendam karena Dinda tidak pernah salah..!! Itu saja dek" pesan Bang Wira.


Alena mengangguk sedih apalagi saat Bang Wira memeluk dan mengusap punggungnya dengan sayang. Jemari Abangnya itu menghapus air matanya.


"Cantik sekali, Abang tau kamu tidak jahat. Abang yang paling mengenal siapa Alena dalam hidup Abang" Bang Wira mengecup kening Alena.


"Abang gendong dan mengantarmu di samping Aaron ya. Akad sudah mau di mulai"


Dengan menahan derai air mata yang menyesakan dada.. Bang Wira menggendong Alena. Beberapa perwakilan anggota sudah datang di kediaman Bang Aaron. Mereka melihat wajah sendu sang Kapten yang akan melepas sendiri adik tercintanya untuk mengarungi perjalanan hidupnya yang baru.


Bang Wira menurunkan dan mendudukkan Alena di samping Bang Aaron kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan pria yang sesaat lagi menjadi adik iparnya.


"Sudah siap Pak Wira.. Pak Aaron?"


Bang Wira menatap Bang Aaron dengan tidak pasti, tangannya terasa dingin dan beku.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2