Sayap Perwira

Sayap Perwira
31. Hanya tiga kata.


__ADS_3

Jantung Bang Wira berdetak kuat saat Dinda tiba-tiba mengejang.


"Dinda..!!"


Beberapa orang anggota mengendong dan menangani dua bayi mungil itu.


Dengan sigap, perlahan Bang Wira menekan perut Dinda. Satu plasenta keluar dengan sempurna, hanya tersisa satu lagi yang belum selesai. Dinda pun semakin mengejang.


"Kenapa helikopternya lama sekali???????" pekik Bang Wira semakin panik, frustasi dan emosi.


Deru suara tembakan semakin kencang mendekat ke arah mereka, amarah Bang Wira ssmakin menjadi. Ia memutar senjata di punggungnya, matanya yang awas membidik musuh dari kejauhan. Predikat sniper yang juga tersemat pada dirinya membuatnya mudah saja melumpuhkan lawan. Sekali memberondong.. musuh habis rata dengan tanah.


Bang Wira pun kembali terfokus pada Dinda yang beberapa saat sempat ia tinggalkan.


"Alhamdulillah.. itu Dan..!!!" kata seorang anggotanya menunjuk sebuah helikopter yang terbang mendekat ke arah mereka.


...


Bang Wira usai mengadzani putri kecilnya meskipun sedikit terlambat, ia membelai sayang putrinya itu sembari merebahkan kepala Dinda di pangkuannya.


"Ayo dek, kamu pasti kuat..!!" bujuk Bang Wira sembari memeluk Dinda dengan erat. Banyaknya darah usai melahirkan membuat Bang Wira tidak berani berbuat banyak karena takut salah langkah dalam menangani Dinda.


"Bang, langit sudah biru, indah dan cerah. Nanti.. Dinda ingin Abang menamai putri kita nama yang penuh makna. Jangan sematkan kesedihan di dalamnya" pinta Dinda.


"Iya sayang.. pasti..!!" jawab Bang Wira.


"Abang.. boleh Dinda minta sesuatu?"


"Apa? Semua yang kamu minta pasti Abang kabulkan?"


"Dinda ingin bermanfaat bagi orang lain. Jika ada yang membutuhkan diri Dinda untuk dirinya agar tetap bisa bertahan hidup. Maka kabulkan lah Bang" ucap Dinda terbata.


"Ngomong apa kamu ini? Ini Abang sedang membawamu untuk di tangani. Jangan bicara macam-macam. Jika memang ada yang membutuhkan mu.. itu pasti Abang. Abang tidak bisa hidup tanpa kamu" Bang Wira menarik Dinda ke dalam pelukannya.


"Dinda pengen lihat bayi kita Bang..!! Bisakah hanya ada kita bertiga? Dinda ingin hanya Abang yang melihat Dinda"


Perlahan Bang Wira mengatur posisi tidur Dinda. Ia pun menutup tirai kecil di dalam helikopter itu. Bang Wira menidurkan putri kecilnya di samping wajah Dinda. Jemari Dinda masih sempat membelai sayang pipi halus sang putri. Ada rengek kecil yang langsung paham sentuhan tangan sang ibu.


"Dinda ingin beri ASI untuk anak kita Bang..!!" pinta Dinda lagi.


"Kamu belum kuat sayang" tolak Bang Wira.


"Dinda tidak pernah memberi ASI untuk Nala, tapi kali ini ijinkan Dinda memberikan sayang Dinda untuk putri kita"


Sungguh perasaan Bang Wira tak karuan. Cemas dan takut membayangi benaknya. Ia pun membantu Dinda memberi ASI untuk putrinya. Bayinya sungguh tenang dan nyaman dalam dekap ibunya.


"Siapa namanya Bang?"


"Naresha Irania Rintis Biru. Abang akan panggil dia Asya"


"Terima kasih Abang." jawab Dinda yang kemudian melemah, pandangan matanya pun mulai terpejam.

__ADS_1


"Dindaa.. Sayaang..!!" Bang Wira mengusap pipi Dinda. Tangannya mengusap tubuh Dinda yang kurus, kering, tak terawat.


"Dinda sayang Abang, terima kasih untuk waktu yang indah untuk Dinda"


"Dindaaaaaaa..!! Nggak sayang..!! Kamu harus bangun..!! Sebentar lagi kita sampai sayang. Abang mohon Dindaa..!!" pekik Bang Wira membuat seisi ruang helikopter tersebut terlonjak kaget.


Bang Wira menyentuh Hela nafas Dinda. Ia berusaha sedikit menekan dada istrinya itu berharap ada jantung yang akan kembali berdetak. Luluh lantah Bang Wira melihat pemandangan di hadapannya. Putri kecilnya masih semangat meminum ASI dari istrinya yang telah tiada. Tangannya meremas helai kain untuk menutupi tubuh istrinya.


"Dindaaaaaaaaaa...!!!!!"


...


Helikopter sudah berganti pesawat militer. Tiga jam perjalanan sudah di tempuh. Team medis dari tempat semula ikut mengiringi Dinda selama perjalanan menyesuaikan prosedur penyelamatan.


Langkah Bang Wira serasa mengambang. Papa, Mama hingga Bang Bayu ikut menyambut kedatangan jenazah istri dan putra dari Lettu Wiranegara.


"Le.. Wira.. yang kuat nak..!!" kata Mama Bang Wira.


Tak sampai membalasnya, Bang Wira sudah ambruk dengan sempurna. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas tanpa tenaga, terlihat hancur dan berantakan.


"Ayo bantu..!!" Bang Bayu pun sigap membantu Bang Wira.


...


Usai Ashar Bang Wira baru bisa di sadarkan. Kakinya melangkah gontai melihat sang istri terbujur kaku di ruang jenazah.


"Ijin Dan, dokter Nick, seorang dokter dan ada seseorang lagi yang ingin menemui komandan..!!" tanya seorang anggota saat Bang Wira belum sempat memandikan sang istri dan mungkin juga ia tak akan sanggup melihat Dinda untuk terakhir kalinya.


:


"Terima kasih Lettu Wiranegara. Saya tidak akan pernah melupakan segala kebaikanmu" jawab Dan Akbar.


"Siap.."


"Atas nama pribadi dan keluarga, kami turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya istrimu" ucap Dan Akbar.


"Terima kasih Komandan.."


-_-_-_-_-


Butuh waktu yang cukup panjang untuk pelaksanaan operasi transplantasi itu. Di sana Bang Wira duduk termenung seorang diri, ia tidak ingin satu orang pun mengganggunya.


"Wira.. operasinya sudah selesai" kata seorang dokter senior.


"Iya Bang" jawabnya kemudian menarik nafas panjang.


:


"Boleh di cium pak, sebelum kami 'merawat' ibu" ucap seorang perawat yang nantinya akan mengurus jenazah almarhumah Dinda.


Berusaha tegar dan kuat, tapi hati ini tetap terasa sakit. Sakitnya terlalu kuat menghantam ulu hati. Kamu tinggalkan Abang bersama putri kita. Taukah bagaimana rasa sakitnya hatiku saat ini Dinda???

__ADS_1


Sayang.. Abang janji akan mencari Sahara, orang yang membuat rumah tangga kita hancur dan membuat Asya harus berpisah dari ibunya.


Bang Wira menghapus air matanya menahan kuat agar tangisnya tidak tumpah.


"Tolong sadarkan Abang kalau semua ini hanya mimpi..!! Begitu kah caramu menyapa Abang? Kenapa kamu permainkan perasaan Abang?? Abang tulus mencintaimu Dinda. Apa kamu tidak bisa percaya itu??"


...


"Pak Wira.. tolong tahan perasaan. Kasihan ibu..!!" bujuk Serma Amar yang sudah berada di rumah duka.


Bang Wira pun menghambur memeluk jasad Dinda.


"Kamu mengecewakan Abang Dindaaa..." pekiknya memekakan telinga seisi ruangan.


Disana Bang Bayu menarik tubuh Bang Wira kemudian memeluknya erat. Tanpa kata, hanya pelukan tanda persahabatan itu mengungkap segala rasa.


"Abaang.. aku mau Dindaku..!! Kembalikan Dindaaa..!!!!!" pekiknya meronta-ronta dalam dekapan Bang Bayu hingga kemudian tumbang dan hilang kesadaran.


"Ini semua salah Abang Wiraa.." rasanya Bang Bayu pun tak sanggup menghadapi semua ini.


Di luar sana Nesya dan Ibu Danyon ikut tak sadarkan diri membuat para pelayat kebingungan.


...


Jangan tidurkan Dindaku disana. Dinda pasti kedinginan..!!!" amarah Bang Wira masih memuncak, ia masih belum sanggup menerima kenyataan bahwa Dinda telah tiada.


"Dindaaaa lihat anakmu..!! Abang nggak bisa membesarkannya sendirian Dindaa..!!!!!"


Bang Wira kembali menghambur pada tanah yang menutupi jenazah Dinda di bawah sana.


"Mana yang kamu bilang sayang? Inikah yang kamu anggap cinta???"


"Wira.. sudah, jangan menghambat jalan Dinda..!!" Bang Prayitno pun berusaha menenangkan Bang Wira.


"Jangan pergi Dindaaaa..!!!" ucapnya meraung di antara pusara Dinda dan bayinya. Dadanya terasa nyeri dan sesak, tak terkira sakitnya begitu menusuk jantung.


Jika saja waktu bisa Abang putar kembali, lima menit waktu terakhir kita, akan Abang lakukan untuk segera membawamu kemanapun Abang pergi. Sayang.. hadirmu singgah bukan menetap. Dirimu kenangan, bukan bayangan. Jika bersamamu ada batasnya. Waktu denganmu tinggalkan cerita. Ini bukan aksara biasa.. Abang terasa, terbayang, terkenang.


Biarlah pahit manis Abang telan. Biarlah hitam dan putih menjadi saksi. Namun semua tak lagi menjadi laramu. Berpacu denyut nadi dan waktu. Selenggang langkah kau tak disini. Maaf Abang haturkan.. untuk dirimu yang terkasih.


Teriring doa, semoga ridho Allah selalu menyertai. Sungguh berat mengingat sebuah kenangan dan enggan terpisah. Tepat dua tahun kita bersama. Walau masa terakhir hanya percikan rindu di dada.. Abang hanya ingin ucapkan tiga kata.


Selamat jalan sayang.


"Abang juga berterima kasih untuk waktu yang kamu sisakan untuk Abang. Selamanya hadirmu tak akan pernah Abang lupa".


Bang Wira meremas dadanya dengan kuat. Sesaat kemudian ia ambruk menghantam tanah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2