
Bang Siregar tertawa puas berhasil mengerjai Bang Wira. Dua bungkus obat perang ia campur.
"Kamu kasih Wira apa?" tanya Bang Nick.
"Hahaha.. aku kasih jamu kuda. Biar garaang dia nanti." jawab Bang Siregar.
"Gila lu, kalau Wira OD bagaimana?? Tadi dia minta obat dari aku dosis rendah dan sudah di telan. Sekarang kamu kasih dua bungkus lagi. Mau jadi apa Wira nanti?????" tegur Bang Nick.
"Waduuhh.. aku mana tau kalau Wira sudah curi start. Gimana donk ini. Adik gue bisa di tubruk reog" kata Bang Siregar.
Bang Siregar dan Bang Nick segera menghampiri Bang Wira. Sesampainya disana, benar saja. Bang Wira sudah setengah kalap 'mengejar' Dinda.
"Abaaaaang.. Ya ampuun.. Bang Wiraaaa..!!!" Dinda kebingungan karena Bang Wira tidak mau melepaskannya.
"Tolongin Bang, ayo kita bawa ke kamar. Nanti biar Aaron handle tamu. Bilang Wira tiba-tiba nggak enak badan" kata Bang Nick.
"Memangnya Wira kenapa?" tanya Bang Bayu.
"Siregar.. kasih obat perang dua bungkus padahal tadi Wira sudah minum dari saya" kata Bang Nick.
"Innalilahi.. sarap itu si Regar..!!" Bang Bayu pun secepatnya membantu Bang Wira masuk ke dalam kamarnya diikuti Dinda yang sama sekali tidak paham situasi yang terjadi.
"Nggak apa-apa Bang Bayu. Nggak usah marah. Nanti Dinda kerokin Bang Wira." kata Dinda dengan polosnya.
"Kamu kira ini masuk angin????" tak tau lagi bagaimana Bang Bayu harus mengatakannya pada Dinda.
:
"Wiraaa.. aduuuhh.. Ini Abaang" Bang Bayu menepak tangan Bang Wira yang setengah sadar.
"Kamu kasih obat ini dulu Din. Yang penting suamimu sadar dulu..!!" kata Bang Nick.
"Kamu temani Wira sampai selesai. Asal selesai perlahan dia pulih benar"
Dinda mengangguk. Bang Nick, Bang Maulana dan Bang Bayu segera keluar dari kamar. Dinda pun mengunci pintunya rapat kemudian memberi Bang Wira obat dari Bang Nick.
:
Perlahan kesadaran Bang Wira mulai pulih meskipun tubuhnya masih begitu tegang. Ia memilih menutupi mata dengan lengannya. Teringat ucapan Bang Nick agar memberi saran untuk memberi jarak antar kehamilan Dinda. Tapi membayangkan Dinda akan menangis jika tau dirinya sudah tidak mengandung lagi lebih membuat batinnya tersiksa.
Dengan perasaan campur aduk Bang Wira menguatkan hati untuk duduk dan berhadapan dengan Dinda.
"Kamu kangen Abang nggak?" tanya Bang Wira.
__ADS_1
"Kangen.. tapi......"
Tak banyak kata dari Bang Wira, hanya tatapan mata yang mengungkapkan segala rasa. Sedih, takut, sakit dan rindu bercampur menjadi satu. Bang Wira mencium perut Dinda yang terpaku berdiri di hadapannya. Setitik air mata Bang Wira menetes.
Tolong Papa nak, tolong jangan lama-lama kamu hadir disini. Papa sudah tidak tau lagi bagaimana menghadapi Mama mu. Hati Papa terlalu lemah menghadapi tangis Mama mu.
"Uhuukk.."
"eghh" Bang Wira menekan dadanya karena tak sanggup merasakan denyut jantung yang kian berdegup kencang.
"Abang kenapa? Dinda bisa bantu apa?"
"Duduk disini..!!" Bang Wira menarik Dinda agar duduk di pahanya.
"Abang pengen sama kamu. Rasanya sudah sesak nggak karuan dek" Bang Wira menyerusuk di sela leher Dinda meminta perhatian dan pertolongan.
Melihat Bang Wira seperti itu Dinda pun tak berdaya menolak permintaan sang suami yang sudah terlihat begitu tersiksa.
"Dinda ingin di perlakukan manis layaknya istri kesayanganmu Bang" pinta Dinda.
"Pasti.. Kamu memang istri kesayangannya Abang dan hanya satu-satunya" Bang Wira dengan sabar melepas hiasan di rambut Dinda. Ingin rasanya segera menyelesaikan hasratt dan rindunya tapi dirinya sudah berjanji akan memberikan perlakuan manis untuk sang istri, jadi Bang Wira pun tak ingin ingkar dan egois hanya karena dirinya begitu menginginkan waktu yang indah ini.
"Bang.. Dinda takut anak kita sakit"
Bang Wira menyandarkan Dinda di bahunya.
Abang akan membuatmu merasakan jatuh cinta sama Abang sampai membuatmu sulit berpaling. Seperti Abang yang setengah mati seperti hilang akal karena jatuh hati padamu seperti saat ini. Abang kalah dek. Abang benar-benar mencintaimu.
:
"Kamu cantik sekali sayang..!!" Bang Wira gemas sampai memainkan pipi dan hidung Dinda.
"Abang pengennya anak kita mirip sama kamu sayang. Tapi kamu minta yang mirip Abang. Nanti kita lihat.. siapa yang menang" gumam Bang Wira tak hentinya menatap wajah Dinda yang membuatnya begitu terpesona.
Setelah beberapa lama harus menahan diri akhirnya ia bisa menyalurkan hasrattnya dalam keadaan yang 'dramatis'. Tapi masih ada rasa syukur karena dirinya masih bisa melakukan kewajibannya dengan sadar dan tanpa menyakiti sang istri.
Tak lama Dinda menggeliat, Bang Wira pun kembali memejamkan matanya.
Dinda memperhatikan wajah tampan Bang Wira. Jemari lentiknya menelusuri hidung mancung dan bibir sang Kapten muda. Dengan usilnya Dinda memainkan jarinya di bibir tipis Bang Wira.
"Hebat ya Om ganteng, begitu kah caramu memikat hatiku? Kamu itu milik ku, titik..!!" gumam Dinda yang semakin hari semakin merasakan perasaan yang berbeda pada Bang Wira.
"Oya.. Apa sekarang Nyonya sudah tergila-gila sama ajudannya??" tegur Bang Wira masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Abaang?? Abang nggak tidur??"
"Mau tidur bagaimana, tangan kiri ronda atas.. tangan kanan tangkap malingnya di bawah" jawab Bang Wira.
Dinda berbalik badan karena terlanjur malu tingkahnya tertangkap basah. Melihat itu Bang Wira semakin gemas saja menghadapi sang istri yang masih enggan mengakui perasaannya.
"Dek.. di belakang wardrobe itu, ada tokeknya. Kamu nggak mau Abang peluk??"
"Masa Bang??"
"Heemb.. barusan Abang tau, kepalanya nongol cari kawan" kata Bang Wira.
"Kawan Bang?? Dia ada kawan disini???"
"Ada lah, kawannya itu juga butuh dia buat nyerang.. tapi nggak mau ngaku" jawab Bang Wira.
"Kawan apaan tuh, cari Bang..!! tembak..!!" ucap Dinda kesal.
"Oke.. tembak dalam ya..!!" Bang Wira beralih kembali menyergap Dinda.
"Eehh Bang.. Abaaaanngg..!!" Dinda terkejut karena baru menyadari Bang Wira 'menipu'nya.
***
"Nggak sarapan?" tanya Bang Siregar.
"Biar nanti di kirim ke kamarku, adikmu nggak enak badan" jawab Bang Wira sembari membelai rambut panjang Dinda.
"Waahh.. lu ini ya, keterlaluan"
"Wajarlah bro, lututku saja rasanya mau lepas engsel nya" Bang Wira masih memijat tengkuknya yang terasa berat.
"Nah lu sendiri??"
"Gue mah santai, soalnya sudah nyicil"
"Dasar codhooott" umpat Bang Wira.
"Makanya kalem banget lu, gue aja lihat Dinda nggak tahan pengen gue caplok."
.
.
__ADS_1
.
.