
Sekarang Nara up seadanya ya readers tercinta. Menyesuaikan respon pembaca 🤭🤭🙏🙏🥰🥰.
Sayap Perwira n Antara loreng dan dirimu. Sekalian Nara jawab disini. Mood itu sulit naik kalau ada sesuatu ya readers.. harap maklum. Terima kasih banyak perhatiannya selama ini 😘😘😘
🌹🌹🌹
"Bang Wira dimana Bang?" tanya Dinda.
"Ada pekerjaan sebentar. Kantor sedang banyak kegiatan" jawab Bang Siregar sambil menyodorkan camilan untuk Dinda kemudian menemui sang istri yang juga ikut membantu merawat Dinda.
"Sini.. biar dedek sama Abang. Kamu istirahat, makan siang dulu. Abang sudah beli makanan kesukaanmu" kata Bang Siregar.
Hazna tersenyum mengangguk kemudian menyerahkan putra nya pada Bang Siregar.
~
"Sudah baikan?" seorang senior datang memberikan perawatan pada Bang Wira di rumah.
Jarum infus tertancap di punggung tangan. Badannya lemas tak bertenaga dan sesekali oksigen harus membantu menstabilkan jalan nafasnya.
"Sudah Bang" jawab Bang Wira.
"Kenapa sampai seperti ini sih Wir. Sedih juga saya lihat kamu. Cepat selesaikan masalah ini dan perbaiki rumah tanggamu. Dalam rumah tangga pasti akan akan ada masalah, tapi kita ini sebagai kepala keluarga harus tegas membawa kemana arah rumah tangga ini."
"Saya paham Bang..!!" Bang Wira tak sanggup berucap apapun lagi. Sungguh dalam hatinya hanya diliputi rasa cemas dan takut.
...
Bang Wira masuk ke kamar dan mengecup kening istrinya. Dalam hatinya terasa sakit dan menangis tapi ia harus tetap tersenyum.
"Si kecil rewel nggak?" sapa Bang Wira kemudian mengusap perut Dinda.
"Nggak Bang" Dinda membalas senyum Bang Wira meskipun dalam hatinya juga terasa sakit.
"Kita baikan ya dek. Abang nggak kuat kita seperti ini terus" ucap jujur Bang Wira.
__ADS_1
"Iya Bang"
Bang Wira menunduk saat Dinda bersedia melupakan semua yang terjadi di antara mereka.
"Abang nggak mau rumah tangga kita hancur, juga nggak mau kehilangan keluarga kecil kita. Ribuan maaf mungkin tidak bisa mengobati lukamu, tak bisa membenahi perkara yang sudah Abang buat.. tapi tidak pernah Abang tidak menyayangi kamu atau hanya menjadikanmu pelampiasan Abang karena kehilangan Adinda" kata Bang Wira.
Tak ada kata dari bibir Dinda, ia hanya mengangguk tak ingin lagi memikirkan keributan yang sempat terjadi kemarin, hatinya ingin tenang dan ia ingin perlahan belajar untuk ikhlas tanpa mengotori pikirannya lagi.
"Abang minta maaf.. sungguh-sungguh minta maaf sayang. Abang nggak sanggup hidup tanpa kamu" ucap Bang Wira lagi.
"Iya Bang.. Dinda ingin kedepannya rumah tangga kita menjadi lebih baik. Sebenarnya Dinda juga berat"
"Iya dek, Abang tau" Bang Wira memeluk Dinda, kali ini rasa itu begitu hangat, seakan mereka memulai cinta itu kembali.
***
Delapan bulan kemudian.
Bang Wira membantu Dinda berjalan masuk ke dalam rumah usai kegiatan kantor malam ini. Cemas itu semakin terasa karena istrinya itu sudah begitu kesulitan membawa beban perutnya yang sudah sangat besar.
"Sudah lewat waktunya, tapi si dedek belum mau keluar"
Bang Wira tersenyum melihat kecemasan Dinda. Mungkin ada salah satu faktor yang mempengaruhi disana.
"Dek, hukuman Abang sudah selesai apa belum?" Bang Wira membisikkan sesuatu d telinga Dinda membuat istrinya itu tersipu malu.
"Kali ini saja. Abang sudah rindu sekali" pintanya sedikit merayu, pasalnya selama ini dirinya hanya bermain-main saja dan kini dirinya sudah mulai tidak tahan.
Dinda menunduk tersipu malu, sebenarnya dalam hatinya juga sangat merindukan belai sayang suami tercinta.. tapi ia pun ingin tau bagaimana keteguhan seorang Wira mempertahankan hubungan mereka.
"Kalau sanggup gendong Dinda ke kamar.. Abang boleh selesaikan sekarang"
"Benar nih??" tanya Bang Wira memastikan pendengaran nya tidak salah.
"Iya Bang.. Asal Dinda aman sampai kamar" jawab Dinda.
__ADS_1
"Siaapp..!!" bukan hal sulit bagi Bang Wira jika hanya sekedar menggendong Dinda sampai ke dalam kamar.
Perlahan tapi pasti, Bang Wira menggendong Dinda yang semakin terasa bobot tubuhnya.
"Abang bantu buka jalannya..!!"
:
Bang Wira hampir menyelesaikan 'tugasnya', ia masih terbuai karena cukup lama tidak melepas rindu bersama Dinda hingga saat Dinda mengerang meminta Bang Wira menyudahinya.. suaminya itu seakan tidak mendengar apapun.
"Bang.." Dinda sedikit mendorong Bang Wira tapi suaminya tidak bergeming sama sekali.
"Bisa berhenti dulu nggak Bang? Perut dinda sakit..!!"
"Hmm.. iya" ucapnya dengan suara berat.
"Sabar sebentar..!!" Bang Wira mengecup puncak kepala Dinda agar Dinda tenang dan tidak berontak lagi.
Tak lama.. tuntas sudah rasa rindu Bang Wira, tapi bersamaan dengan itu.. Dinda mulai sesak. Bang Wira merasakan ada cairan hangat mengalir di sela pahanya.
"Aduuhh.. apa ini?" Bang Wira menarik diri dan langsung melihat ke tempat kejadian perkara.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Wira mengusap wajahnya.
"Perut Dinda mulas Bang"
"Ampun dah, persis banget kelakuan Mamanya.. baru juga di intip sudah ngambek" gerutu Bang Wira sambil mengatur nafasnya yang masih putus sambung.
.
.
.
.
__ADS_1