
"Sakiiit..!!"
"Sabar.. Abang nggak akan biarkan ada apa-apa sama dan anak kita"
...
"Sejauh ini Alhamdulillah masih bisa di kendalikan Wir. Memang ada tekanan syok, ada tanda pendarahan tapi insya Allah untuk saat ini aku bisa mengatasinya, tapi sesuai prosedur yang harus kamu dan istrimu terapkan. Calon bayimu ini masih lemah Wira.. berdoalah ia sekuat dan setegar ibunya. Tolong tidak membuatnya stress. Ini sudah peringatan keras..!!" kata dokter Nick.
"Aku mau bawa Dinda pergi..!!" Bang Siregar membuka selimut Dinda lalu bersiap membopongnya.
"Jangan Gar. Aku mohon jangan bawa Dinda pergi" Bang Wira memegang kedua kaki Abang iparnya.
"Dua kali kamu kecolongan. Apa saja kerjamu sebagai suami. Adinda sampai meregang nyawa bersama buah hatimu, dan sekarang Dinda harus menanggung ulah dari masa lalumu"
"Kamu tau itu semua editan dan aku tidak pernah seperti itu Regar. Kenapa sekarang kamu meragukan aku??" tanya Bang Wira.
"Aku tidak mau tau, yang aku tau.. aku tidak mau adik ku celaka karena kelalaian mu ini Wira" Bang Siregar kembali akan membawa Dinda tapi Bang Wira pun mati-matian menghadangnya sampai Bang Bayu dan Bang Aaron melerai kedua perwira tersebut.
"Pertengkaran ini tidak akan menyelesaikan masalah. Ayo bicarakan dengan kepala dingin..!!" bujuk Bang Bayu namun tak juga di indahkan disana.
Berdiri di tempatnya Bang Rendra dengan gemetar, pikirannya buntu.. kalut dan kebingungan namun akhirnya....
"Aku yang menghamili Sari..!!"
Pernyataan itu masih membuat semuanya tercengang. Perlahan mata Dinda terbuka.. ada air mata disana. Ia meraih tangan Bang Wira dan Bang Wira pun menggapainya.
"Dan Bang Rendra yang melecehkan Dinda"
"Astagfirullah hal adzim.." jantung Bang Wira seakan hampir melompat mendengarnya. Emosinya kembali tersulut.
"Rendraaaaaa..!!!!" Amarah Bang Siregar pun memuncak di ubun-ubun kepala.
Tak ayal Bang Wira dan Bang Regar menghajar Bang Rendra habis-habisan dan pria itu tak melawan sama sekali.
"Kau ini laki-laki macam apa Rendraaaaaa..!!!!!" amarah Bang Wira sudah tak terkendali lagi hingga kalap bagai orang kesurupan. Bang Regar yang awalnya juga marah akhirnya mengalah dan memilih menenangkan adik iparnya. Kurang sedikit saja Bang Rendra bisa meregang nyawa di tangan taipan timur.
...
Bang Rendra sudah di bawa ambulans menyisakan Bang Wira yang menangis meraung mengingat kepergian Adinda. Selama ini balada rumah tangganya muncul karena ketidak sengajaan yang telah di lakukan Rendra sahabatnya sendiri, namun harus ia sadari.. kepahitan ini akan terasa lebih pahit dan ribuan kali lebih menyakitkan jika ia tidak bisa menyelamatkan Dinda yang kini sudah menjadi istrinya.
"Bang Wiraaaa.. kenapa Abang melakukannya??? Apa salah Bang Rendra?????" teriak Nesya tidak terima.
"Tanyakan sendiri pada suami mu yang bijaksana itu..!!" ucap Bang Wira masih dengan rasa frustasinya.
"Nesya nggak akan memaafkan Abang..!!" ucap Nesya yang masih di tenangkan Bu Danyon.
Bang Wira tidak peduli, ia segera masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan Dinda. Ia menarik nafasnya dan sekuat mungkin berusaha untuk tenang di hadapan Dinda.
__ADS_1
~
"Bagaimana Dindaku??"
"Nickolas sudah memberinya penenang" jawab Bang Regar.
"Aku sungguh tidak percaya awal masalah ini berawal dari Rendra. Dinda juga nggak pernah membicarakan masalah ini. Bertahun-tahun dia tertekan sampai meminta sekolah keluar negeri untuk melupakan masalah ini"
"Yang lebih parah aku dan Dinda bertetangga dengan Rendra. Tak tau bagaimana ia menyembunyikan rasa sakit hati dan ketakutannya selama ini" imbuh Bang Wira.
"Maaf Wira.. Kami sungguh tidak tau ada kejadian ini. Dia sudah melecehkan adik ku"
Bang Wira mengusap wajahnya, dalam hati masih mengucap istighfar.
"Jika saja dia pun menyentuh Dindaku, aku tidak akan mengerem tanganku untuk melayangkan nyawanya. Jika tidak.. aku akan menukar rasa sakit Dinda dengan nyawanya"
Tangis Bang Regar pun ikut pecah.
"Alhamdulillah.. Terima kasih kamu masih mau menerima Dinda dalam hidupmu."
Perlahan emosi kedua pria itu luntur. Bang Bayu dan Bang Aaron akhirnya bisa bernafas lega.
"Ayo kita keluar..!! Si kecil Abang cuma sama bibi" ajak Bang Bayu.
"Siap Bang" Bang Aaron pun meninggalkan tempat.
***
"Bang..!!" sapa Dinda. Saat itu Bang Wira baru saja usai sholat subuh.
"Dalem sayang. Ada apa? Perutnya sakit lagi?"
Dinda mengangguk pelan. Ada rasa takut yang teramat sangat dalam hatinya.
Bang Wira segera bangkit dan duduk di samping Dinda dan mengusap perut istrinya.
"Bang.. Apa anak ini bisa bertahan?? Rasanya masih sakit dan...."
"Nggak apa-apa. Dia pasti baik-baik saja, cuma kaget kaget semalam ikut latihan sama papanya" jawab Bang Wira yang tau betul masih ada sedikit pendarahan.
"Langkah selanjutnya kita harus bagaimana Bang?? Sahara dan keluarganya sangat marah" tanya Dinda.
"Kamu jangan pikirkan itu. Itu urusan Abang dan nanti bergabung dengan dinas. Kamu hanya perlu jaga diri, jaga kesehatan dan jaga anak kita..!!" Bang Wira mengecup kening Dinda lalu mengecup perut datar Dinda.
...
Beberapa orang berjaga ketat di sekeliling rumah Bang Wira atas perintah taipan timur. Bang Wira sedang berkoordinasi dengan Danyon dan yang lain untuk menyelesaikan masalah ini. Beberapa anggota juga mengamankan sekitar Batalyon.
__ADS_1
"Mohon ijin ibu. Ibu mau kemana?" tanya Om Ody.
"Saya mau bertemu istri Kapten Wira. Sudah ijin dengan beliau" jawab Nesya.
"Baik Ibu.. silakan masuk..!!" kata Om Ody membukakan pintu.
:
"Tapi itu kenyataan nya Mbak Nesya.. Bang Wira benar-benar sudah melakukannya"
"Kalian semua jahat..!!! Kalian hanya ingin memojokkan suamiku saja. Dulu Adinda hamil anak Bang Rendra, lalu Sahara dan kini kamu bilang kalau kamu sudah di lecehkan. Apa mau mu sebenarnya??????" Nesya begitu emosi dan mengguncang tubuh Dinda dengan kuat.
"Kau lihat itu.. itu adalah anak yang katanya putri Bang Rendra dan Adinda. Tidak kasihankah kamu sama aku Dinda??? Kenapa kamu ikut memfitnah suamiku juga?.? Belum cukupkah penderitaan itu aku terima???" bentak Nesya.
Dinda sudah sangat kesakitan karena Nesya mengguncang nya.
"Kamu harus ikut denganku dan lihat keadaan Bang Rendra..!!! Suamimu itu hampir membuat suamiku mati..!!!!!" bentak Nesya.
~
"Siapa di dalam..!!" bentak Bang Wira menegur seluruh anggota yang berjaga di rumahnya.
"Ijin Dan.. Ibu Rendra" jawab Om Ody.
"Astaga Tuhan.. Kalian tidak mengindahkan perintah saya??????"
"Siap salah Komandan. Kata Ibu Rendra.. beliau sudah ijin dengan komandan..!!"
Tanpa banyak basa-basi Bang Wira masuk ke dalam rumahnya, disana ia melihat Nesya sedang menarik tangan Dinda dengan kasar.
"Cukup Nesya..!!! Kamu mau bawa istriku kemana??" tanya Bang Wira menarik tangan Nesya.
"Dia harus lihat bagaimana menderitanya suamiku" teriak Nesya sembari mengibaskan tangan Dinda
"Jangan halangi aku..!!!!!" Nesya yang kalap mengambil pisau kecil di dinding rumah Bang Wira lalu mengarahkan pisau itu pada Bang Wira.
jleeeeebbbb....
Mata Bang Wira dan Dinda saling menatap. Keduanya saling memeluk dan jatuh luruh tanpa kata. Pisau di tangan Nesya jatuh begitu saja. Nesya begitu ketakutan, ia menangis memeluk putrinya. Ada rasa penyesalan begitu dalam.
"Dinda tau.. Beratnya mencintai seorang Kapten Wiranegara, tapi tak apa.. tak pernah jadi masalah. Jika kata dan rasa tak sampai padamu.. biarkan Dinda membuktikan.. Dindamu yang ini pun rela dan ikhlas mengantar nyawa demi prajurit yang hebat sepertimu Bang. Dinda percaya.. Sayap Perwira mu mampu menaklukkan semua. Dinda sudah mendengar kata cinta Abang.. Dinda pun sangat mencintai Abang..!!"
"Kenapa kamu lakukan ini dek..!!! Dindaaaaaaaaa..!!!!" teriakan Bang Wira memekakan seisi ruangan hingga Nesya gemetar dan terduduk lemas.
.
.
__ADS_1
.
.