
Dinda menggelinjang tak tahan merasakan tekanan di dalam perutnya.
"Sabar ya dek.. sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Bang Wira mengusap perut Dinda dengan cemasnya.
"Dinda sulit nafas Bang" kata Dinda.
"Iyaa.. ini Abang sudah cari jalan yang paling cepat"
Bang Wira sangat gelisah karena Dinda tidak mungkin melahirkan secara normal. Sakitnya Dinda sudah beberapa lama tidak kambuh, tapi kalau persalinan ini harus dipaksakan.. ini juga pasti akan berakibat fatal bagi Dinda.
"Di bidan saja Bang" pinta Dinda sudah semakin tidak tahan.
"Nggak bisa sayang. Kita harus ke rumah sakit pusat, persalinanmu ini harus di tangani secara khusus"
"Tapi rasanya ada sesuatu yang mendorong ke bawah Bang. Sakit sekali..!!" kata Dinda semakin merintih kesakitan.
"Astagfirullah.. tolong lancarkan jalan ini..!!" gumam Bang Wira.
:
Tak lama mereka sudah tiba di depan UGD rumah sakit. Bang Wira segera mengangkat Dinda masuk ke dalam ruang UGD.
"Pasien komplikasi jantung dan sedang hamil" kata Bang Wira.
"Baik Pak, sebentar saya hubungi dokternya..!!"
Dinda sudah hampir kehilangan kesadaran tapi Bang Wira masih terus mengajaknya bicara.
"Ayo kuat dek. Kamu pasti bisa..!! Kamu pengen anak perempuan?" bujuk Bang Wira.
Dinda mengejan sekali tapi Bang Wira mencegahnya.
"Jangan dek, sabar sedikit lagi. Tarik nafas.. lalu buang perlahan" kata Bang Wira mengarahkan.
Dinda merasa kesulitan dan memegang tangan Bang Wira dengan erat.
Dokter jaga segera memeriksa keadaan Dinda.
:
"Tindakan operasi juga sangat beresiko Pak, karena kepala bayi sudah jauh masuk panggul" dokter mengingatkan Bang Wira.
"Lalu bagaimana dok?" tanya Bang Wira.
"Tidak ada jalan lain. Ini harus di lakukan operasi darurat sekarang juga" jawab Dokter.
"Baiklah dok, lakukan saja yang terbaik bagi keduanya" pinta Bang Wira.
:
__ADS_1
Bang Wira ikut mendampingi Dinda yang akan masuk ruang operasi. Bang Wira terlihat sangat gugup tapi tak ingin menunjukkan di depan Dinda agar istrinya juga tidak semakin khawatir. Tangan Bang Wira mengusap perut Dinda, ia merasakan Dinda mengejan sekuatnya.
"Dek..!!" sapanya memastikan dengan degub jantung tak beraturan.
Pintu ruang operasi baru terbuka, Bang Wira kaget bukan main saat Dinda memegangi tangannya semakin kuat dan ternyata...
Suara tangis bayi menggelegar di depan pintu ruang operasi.
"Allahu Akbar..!!!!!" Bang Wira kaget saat bayi mungil melesat dari rahim istrinya.
"Bayinya lahir dok..!!" kata seorang perawat.
"Aduuhh.. ya sudah ayo kita tangani sekarang..!!"
...
Bunyi peralatan rumah sakit begitu menyakiti telinga Dinda, ia tidak suka suara-suara yang sudah familiar dengannya sejak kecil.
Pandangan Asya tertuju pada Bang Wira yang sedang mencium sayang pipi bayi kecil yang baru saja terlahir.
"Laki atau perempuan Bang?" tanya Dinda memastikan jenis kelamin bayinya.
"Perempuan.. cantik sekali dek" jawab Bang Wira.
Bang Wira kembali membuai putrinya.
"Anak Papa, tadi kaget ya Papa ajak main. Maaf ya nak..!!"
"Perbanyak istirahat mu itu. Kamu dengar sendiri khan apa kata dokter tadi. Kamu bisa melahirkan normal dan sehat setelahnya adalah berkah dan mukjizat yang jarang orang lain mendapatkan nya. Maka hargailah dirimu sendiri" kata Bang Wira tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagia.
"Iya Bang. Alhamdulillah Dinda masih bisa melihat Abang menggendongnya" jawab Dinda yang masih sangat lemah di ranjangnya.
"Boleh Dinda lihat putri kita Bang?"
Bang Wira tersenyum kemudian menidurkan putri kecil itu di samping Dinda.
"Cantik khan? Pipinya halus sekali. Matanya mirip sama kamu" kata Bang Wira.
"Hidung dan bibirnya mirip Abang" Dinda pun menimpali setelah melirik putrinya.
"Oiya donk.. rata-rata mirip Abang dah.. nggak ada lawan" ucap Bang Wira bangga.
"Tapi kecil sekali dia Bang. Beratnya hanya dua setengah kilo khan?"
"Nggak apa-apa.. nanti bisa di rawat di luar, berat itu sudah standar minimal. Biarpun hanya se biji pete yang penting anak sama mamanya sehat wal Afiat" jawab Bang Wira kemudian mengecup bibir Dinda.
"Terima kasih banyak sayang, kamu sudah banyak berjuang dan berkorban untuk keluarga kita. Hidup Abang terasa lengkap dengan hadirnya Tian dan si kecil kita ini. Terima kasih juga atas keikhlasan mu merawat Asya. Jika nanti Abang sudah tiada.. sampai surganya pun.. Abang ingin tetap terus bersamamu"
Entah kenapa ucap Bang Wira membuat Dinda begitu tersentuh. Ada sakit yang terbayang namun ada cinta yang lebih besar dari segalanya.
__ADS_1
"Sama-sama Bang..!! Terima kasih juga Abang masih tetap berusaha bertahan demi Dinda yang jauh dari sosok istri yang sempurna" jawab Dinda.
"Kamu yang terbaik sayang"
-_-_-_-_-
"Waahh.. cantik sekali ponakan Papa Siregar"
"Namanya siapa Din?" tanya Hazna.
"Nafa.. Abang memberinya nama Nafa."
"Ada Nala.. ada Nafa" kata Bang Siregar.
"Biar mereka tau kalau mereka adalah 'saudara'" jawab Bang Wira.
"Hmm.. bunga Nafa.. Nafa yang indah" kata Hazna.
"Cita-citamu tercapai Din. Punya seorang putri untuk Bang Wira." Bang Siregar mengusap kening Dinda.
"Perjalanan hidupmu masih panjang dek. Jangan ada kejadian seperti yang lalu. Manusia semakin hari semakin bertambah tua, bijaklah berkata-kata dan memilah setiap persoalan dalam hidup ini..!! ingat sudah ada anak di antara kalian. Pembentukan mental mereka harus di pupuk sejak dini. Apa yang akan kalian ajarkan kalau Papa Mamanya sering bertengkar" Bang Siregar sedikit menasehati Dinda dan Bang Wira.
"Iya Gar..!! Aku masih terus belajar untuk hal itu" jawab Bang Wira.
"Okelah.. yang jelas semangat untuk kalian berdua..!!"
Keempatnya saling berpelukan dan memberi dukungan satu sama lain.
"Sudah ya Wira.. adikku jangan kamu hamili lagi. Nggak tega aku lihatnya" kata Bang Siregar.
"Iisshh.. jangan di bahas yang itu Bang" Dinda mulai tersipu malu.
"Ya kalau Nyonya Wira yang minta.. masa ajudan mau nolak" jawab Bang Wira dengan santai.
.
.
.
.
~E N D~
.
.
.
__ADS_1
.
Nantikan ekstra part ya readers setia Nara..!! Terima kasih banyak atas dukungannya selama iniπ₯°π₯°ππππ