Sayap Perwira

Sayap Perwira
37. Memberi kesempatan untuk diri.


__ADS_3

Bang Wira berdiri gagah memaksakan senyumnya. Ada hati yang tidak bisa berbohong tapi ia berusaha keras menahan segala perasaan demi menjaga hati seseorang yang mungkin berharga dan bertahta di dalam relung hatinya.


Dinda berdiri di hadapan Bang Wira lalu melepas pangkat di kerah leher Papa Asya lalu memasangnya dengan yang baru.


Mata Bang Wira terus memandangi gadis cantik di hadapannya. Rambut di Cepol menambah manis dan aura dewasa seorang Dinda menutupi usianya yang baru akan menginjak sembilan belas tahun.


"Selamat atas kenaikan pangkat Abang menjadi seorang Kapten. Semoga Abang selalu sehat dan bisa mengemban amanah tugas dengan baik. Jadilah pemimpin yang bijaksana, Asya pasti bangga punya papa seperti Abang"


Batin Bang Wira terguncang, tubuhnya gemetar. Ada rasa sakit tak terlukiskan disana, bayangan Adinda berputar-putar di kepala, terngiang suara lembut dan senyum almarhumah yang kemudian membuatnya tersentak. Seketika ia menyadari hanya ada Nahza Rahma Dinda di hadapannya.


Dinda ternganga saat Bang Wira tiba-tiba memeluknya dengan erat. Pelukan sarat akan makna.


"Aamiin..!! Terima kasih banyak do'amu. Insya Allah Abang bekerja sepenuh hati, ada anak yang butuh susu juga ada nafkah yang harus Abang penuhi" jawab Bang Wira.


Tanpa sadar, Dinda bersandar dalam pelukan Bang Wira. Ia pun membalas pelukan Bang Wira.


"Bolehkah Dinda memeluk Abang sebentar saja?"


"Boleh, sepuasmu.. sesuka hatimu" jawab Bang Wira.


Dinda merasa janggal, tapi pelukan Bang Wira terlalu nyaman untuk di rasakan.


"Dinda hanya merasa ada sesuatu yang tertahan dalam dada" ia merasakan kakinya lemas tak bertenaga.


"Apa yang kamu takutkan?? Lepas saja.. Abang akan dengarkan..!!"


"Jangan pernah jauh dari Dinda..!!"


"Nggak akan.. Abang nggak berani jauh dari kamu" bisik Bang Wira, tangannya mengusap punggung Dinda dengan lembut.


...


"Ini apalagi Bang? Banyak sekali makanannya"


"Makan saja. Kalau kamu pingsan Abang juga yang repot. Sudah lemas begitu" gerutu Bang Wira datar di ruangannya.


"Abang khawatir ya sama Dinda??" tanya Dinda menggoda Bang Wira.


"Abang nggak mau kamu sakit. Siapa yang mau jaga Asya?? Abang sibuk" jawab Bang Wira ketus.


"Terus kenapa Abang tadi peluk Dinda?"


"Pencitraan donk. Masa pangkat Abang Kapten, ganteng begini nggak punya pasangan. Malu donk sama Cassie yang sudah punya pasangan"


"Siapa Cassie??"


Bang Wira yang tadinya berkoar seketika berhenti bicara. Ia baru menyadari kalau Dinda belum tau tentang Cassie, 'gadis' yang dulu sempat membuat Adinda marah besar.


"Ehm.. kamu marah Din??" tanya Bang Wira.


"Punya hak apa Dinda marah?? Kecuali Dinda ini istri Abang. Barulah Dinda bertindak, Abang.. Dinda banting di lapangan" jawab Dinda tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang paling jujur.


Dinda berniat keluar untuk menemui Asya di ruang kepengurusan, tapi begitu membuka pintu.. Om Ody berdiri bersama 'gadis cantik' Bang Wira.

__ADS_1


guuuuuuuukk....


Anjing Bang Wira menggonggong kencang.



"Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaa"


bruuuuggghh..


Dinda begitu kaget hingga nyawanya terasa nyaris melayang, ia ambruk tak sadarkan diri sangking kagetnya.


"Oddyyy.. apa-apaan kamu..!!!!!" tegur keras Bang Wira yang kemudian


"Siap salah Dan. Saya tidak tau kalau Ibu takut sama Cassie" jawab Om Ody yang cemas melihat kemarahan Dan Wira.


"Kenapa Wir??" Bang Bayu sampai berlari ke ruangan Bang Wira karena mendengar bentakan Bang Wira yang cukup keras.


"Aduuhh Wir, kenapa itu Dinda pingsan? Nggak lagi isi khan?"


"Isi apa Bang?? Nasi uduk??"


"Abang kira ada maung junior ngerjain papanya?" jawab Bang Bayu asal.


"Aaiisshh.. Abang ini, nanti Dinda dengar..!!"


"Sudah lewat empat bulan Wira. Tunggu apa lagi? Jangan menyiksa batin sendiri" saran Bang Wira.


"Jodohmu dan Adinda sudah berakhir Wira. Abang juga pernah berada dalam posisimu. Mirip denganmu saat ini. Tapi ada hati lain yang harus Abang utamakan saat itu. karena sebagai pria sudah berucap, berarti berani bertanggung jawab. Ikatan batinmu kurang tajam Wira."


"Saya pikirkan nanti Bang..!!" jawab Bang Wira menolak merasakan hatinya.


Tak lama Dinda siuman. Ia melihat ada Bang Bayu juga di ruangan itu.


"Mana yang sakit? Cassie sudah pergi"


Mata Dinda menatap Bang Wira dengan kesal.


"Ganti namanyaaaaaa..!!!!!!!!!!" teriak Dinda sekuatnya.


"Allahu Akbar..!!" Bang Wira mengusap dadanya, kaget mendengar suara Dinda, tak lupa ia menggosok telinganya yang terasa pengang.


"Abang keluar dulu Wir, Nggak ikutan kalau Bu Wira ngamuk" Bang Bayu mengambil langkah seribu menyelamatkan diri.


"Ganti nggak??????" ancam Dinda.


"Iyaaa.. Abang ganti.. biar kamu puas..!!!" jawab Bang Wira.


"Abang nih, dadanya sampai sakit Bang" ucap Dinda kesal.


"Maaf to.. ini minum obat dulu. Kalau pingsan Abang seret nih" goda Bang Wira.


...

__ADS_1


Dinda masih memasak makan malam. Hari ini Bang Wira meminta Dinda untuk memasak. Di dalam kamar, Bang Wira menidurkan si kecil Asya.


"Badanmu semakin gemuk saja nak. Tangan dan pahami berlipat-lipat. Mama Dinda sudah merawatmu dengan susah payah. Mama Dinda menahan rasa lelahnya demi kita. Kelak kalau kamu nakal sama Mama Dinda.. Papa yang akan marah sama kamu" Bang Wira mengecup kening Asya yang sudah tidur nyenyak. Setitik air matanya tumpah, tapi hatinya sedikit lebih tenang.


braaaakk..


"Dindaaa???" Bang Wira tersentak mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Ia pun segera menghampiri arah suara.


"Suara apa tadi??" tanya Bang Wira.


"Keranjang bumbu dapur jatuh Bang," jawab Dinda pelan.


"Kamu kenapa??" Bang Wira mendekati Dinda yang seperti menahan sakit.


"Denyut jantung Dinda sedikit lebih kencang Bang. Dan baru terasa lagi sekarang" jawab Dinda.


"Biasanya harus bagaimana?? Ke rumah sakit? Atau harus minum obat dulu??" tanya Bang Wira bernada panik.


"Panik sekali?? Memangnya kenapa??" Dinda meledek Bang Wira.


"Jelas lah, kamu khan.......... pengasuhnya Asya" jawab Bang Wira melemah kemudian pergi meninggalkan Dinda.


"Tunggu Bang..!!"


"Kenapa lagi??"


"Abang makan saja, makan malam sudah siap. Tapi Dinda pengen ke kamar" Dinda baru berjalan dua langkah tapi kemudian langkahnya itu terhenti, ia berpegangan pada sisi meja.


Tanpa banyak bicara, Bang Wira melingkarkan tangan Dinda di tengkuknya kemudian membawa Dinda masuk ke dalam kamar. Langkah demi langkah Bang Wira melihat wajah cantik Dinda hingga sampai di kamar.


Bang Wira merebahkan Dinda perlahan. Tak sengaja bibir mereka saling menyentuh. Saat itu Bang Wira bisa melihat raut wajah gugup dari seorang Dinda. Sentuhan itu terasa berbeda, membuatnya sedikit tersengat aliran listrik mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sekilas terbersit bayang Adinda yang membuat hatinya kembali terasa begitu nyeri. Tangan Dinda mulai merenggang tapi Bang Wira menahannya kembali.


"Kita sudah tinggal satu atap empat bulan lamanya. Selama kebersamaan kita, apa hatimu bisa menerima kehadiran Abang?"


"Dinda menerima nya Bang. Dinda khan ikut Abang" jawab Dinda.


"Maksud Abang.. apa tidak ada perasaan antara laki-laki dan perempuan?" tanya Bang Wira hati-hati. Tidak seperti biasa sikapnya selembut ini.


"Ada Bang"


Bang Wira pun tersenyum mendengarnya.


"Jengkelnya Dinda sama majikan kaku dan menyebalkan seperti Abang.


Seketika wajah Bang Wira berubah datar dan kesal setengah mati.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2