
Cerita ini sudah keluar dari jalur UK dan DUP. Nara mengambil beberapa poin dan berusaha menaikan cerita yang sudah ada tapi menyuguhkan konflik yang berbeda.
Bagi pembaca tercinta. Harap untuk lebih bisa mengontrol jari dan hati. Terima kasih 🥰🙏.
🌹🌹🌹
"Nggak usah nangis..!! wajar Bang Wira bersikap seperti itu. Ibarat tubuh, Dinda adalah nyawa Abangmu"
Seorang pria membawakan minuman untuk Alena.
"Terima kasih"
"Tapi aku nggak tau kalau akan seperti ini jadinya" jawab Alena menerima minuman yang di berikan pria itu.
"Saya hanya menyarankan agar kamu tidak cari masalah dengan Dinda kalau kamu nggak tau bagaimana akibatnya"
"Apa istimewanya Dinda? Semua perempuan sama" tanya Alena.
"Bagimu Dinda itu biasa, tapi bagi Abangmu.. Dinda itu segalanya. Kami satu Batalyon, memberikan 'penghargaan' pada Bu Wira begitu tegar dan lembut hati"
"Sebegitu baik kah kakak ipar ku?? Kenapa yang aku dengar berbeda?" tanya Alena.
"Maksudmu???"
"Mantannya Abang cerita kalau dia sudah mengorbankan segalanya demi Abang. Bertahun-tahun dia menunggu Abang tapi Abang tidak juga membalas cintanya. Bahkan dari pengorbanan itu.. dia sampaikan hamil"
"Maksudmu Sari????"
"Abang tau???" tanya Alena.
"Saya jelaskan. Kamu dengarkan baik-baik"
"Sebelumnya perkenalkan. Nama saya Aaron" Bang Aaron mengulurkan tangannya berkenalan dengan Alena.
:
"Alhamdulillah.." Bang Wira beringsut lemas melihat Dinda mulai membuka matanya.
"Hhhkkk.."
"Abang pakai parfum apa??" tanya Dinda.
"Parfum kesukaanmu dek" jawab Bang Wira masih belum bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Abang jauh-jauh..!! Dinda mual"
"Piye to?? Suami wangi kok malah nggak suka"
"Hhkk.." Dinda kembali mual.
"Yo wes, iyoo.. Abang ngalah. Ini Abang lepas baju. Jangan mual lagi ya..!!" terpaksa Bang Wira bertelanjang dada tak tega melihat Dinda terus saja mual.
"Abang jangan pakai parfum, pakai balsem otot aja" kata Dinda.
"Haaahh.. panas donk dek"
"Ayolah Bang..!!!!!" pinta Dinda dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Iyaa.. Abang pakai" tak banyak protes lagi, Bang Wira memakai balsem otot ke beberapa tempat di tubuhnya, barulah Dinda mau dekat dengannya dan memeluknya.
"Dia siapa Bang? Perempuan itu Dinda seperti pernah lihat" tanya Dinda yang pasti menahan perasaan sekuatnya. Wajahnya seperti sedang mengingat sesuatu.
"Alena, Alena yang kamu kenal dengan nama Renata" jawab Bang Wira.
"Adik perempuan Abang, adik kandung"
Dinda mengangguk dan sedikit lebih tenang.
"Maaf usilnya adik Abang."
"Dinda sudah ingat Bang, Renata itu kakak tingkat Dinda di Amerika. Dia model khan?" jawab Dinda.
"Iya benar. Kalian nggak pernah komunikasi?? Bukankah sesama pendatang pasti akan dekat"
"Kami tidak begitu saling kenal. Tapi kami pernah di pertemukan dalam suasana yang tidak pas"
"Hal apa??" tanya Bang Wira.
Dinda hanya menjawabnya dengan senyum.
"Dinda..!!" Sapa Alen.
Bang Wira menoleh dan melirik Alena dengan tatapan tajam dan kesal.
"Mbak Dinda" ucapnya membenahi ucapannya.
"Alen minta maaf sudah buat kerusuhan..!!"
"Iya nggak apa-apa" jawab Dinda.
"Keterlaluan kamu Alen..!! Selama ini Abang nggak pernah marah sama kamu, tapi hari ini Abang kecewa sama kelakuanmu Alen" tegur keras Bang Wira.
"Abang harap ini kelakuan anehmu yang terakhir..!!"
"Iya Bang, maaf Alen salah."
"Abaang.. sudah" Dinda kembali mengeratkan pelukannya dan itu membuat hati Bang Wira luluh.
"Slow Bang, istri Abang sudah baik-baik saja" kata Bang Aaron.
"Kamu jangan ikut campur atau kulibas juga mulutmu itu" bentak Bang Wira sudah kembali naik pitam.
Dinda mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Wira.
"Bang..!!"
"Apa sayang?" raut wajah Bang Wira seketika berubah tenang membuat mata Bang Aaron dan Alena membulat besar.
"Dinda pengen di manja Abang" bisiknya pelan.
"Siap laksanakan perintah Bu Wira..!!" jawab Bang Wira dengan tatapan nakalnya.
"Bukan main..!! Mbak Dinda pakai ilmu apa sampai Abang menurut begitu??" tanya Alen.
"Kamu jangan banyak bicara dek. Abangmu itu lagi jatuh cinta. Jangan ganggu atau kamu dapat masalah besar" jawab Bang Aaron berbisik di telinga Alena.
__ADS_1
...
Dinda menarik selimutnya, lalu membela rambut cepak Bang Wira. Papa Asya itu terlihat lelah usai di jinak kan.
Sebenarnya tadi Bang Wira sempat menolak ajakannya, tapi Dinda tau betul kelemahan sang suami dan akhirnya sekuat apapun seorang suami, jika sudah berhadapan dengan istri pasti pertahanan dirinya akan roboh juga. Dinda mengambil ponselnya lalu mengambil nomer seseorang dari ponsel Bang Wira.
"Alena.. pulanglah..!! Abang sudah tidur. Kita bicara di rumah"
"Kau apakan Abangku?"
:
"Kau hanya hidup dalam bayang-bayang almarhumah Mbak Adinda. Bagaimanapun mbak Adinda sudah melahirkan anak untuk Bang Wira. Mungkin Bang Wira tidak sanggup melupakan istrinya jadi untuk mengurangi rindunya, dia menikahimu. Bukankah jantung Mbak Adinda ada padamu?" tanya Alena tanpa perasaan.
"Seperti kamu yang dulu mengambil Martin dariku"
"Aleeeenn..!!!!!!!!" suara Bang Wira terdengar, ia terbangun karena ada keributan kecil di ruang tamu.
Mendengar suara Abangnya, nyali Alen kembali ciut.
"Duduk semuanya..!!!!!" bentak Bang Wira lebih keras.
~
"Dinda dulu sudah bilang kalau tidak pernah merebut Martin" jawab Dinda.
"Kenapa kamu tidak mau dengar." tanya Dinda pada Alena masih tetap berusaha tenang.
"Siapa lagi manusia bernama Martin itu?? Kenapa bisa kalian berebut makhluk bernama Martin????" wajah Bang Wira menatap kesal istri dan adiknya.
"Dan kamu Alen..!!!! Kalau kamu masih bicara ngawur dan tidak bisa menghormati istri Abang.. silakan kamu angkat kaki dari rumah ini..!!"
"Hubungan darah itu lebih kental Bang, kenapa Abang lebih memilih wanita yang masuk dalam kehidupan Abang dengan cara yang salah??? Kenapa Abang nggak mengakui kalau Abang yg tersiksa dengan pernikahan ini. Apa aku salah kalau semua ini hanya pelampiasan, kalau bukan karena jantung dan Asya.. Abang nggak akan menikahi Dinda"
"Aleeeenn..!!!" Bang Wira sudah ingin menampar wajah Alena tapi Dinda sigap memeluk Bang Wira.
"Abang.. istighfar..!!" ucap Dinda mengingatkan Bang Wira.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Wira ambruk dan duduk bersandar di kursi, badannya seketika terasa lemas. Dinda mengusap dada Bang Wira dengan lembut.
"Alena.. apa kamu bisa mencegah takdir Tuhan? Apa kamu bisa menolak saat Allah meniup rasa cinta dalam hatimu? dan apa kamu bisa memilih menyerahkan hatimu pada siapa?" tanya Bang Wira merendahkan suaranya.
"Saat seorang pria mendengar istrinya di rendahkan. Itu hal yang paling sakit.. Alena"
Alena diam seribu bahasa. Ada ucapan Bang Wira yang mengena di hatinya.
"Kenapa sikapmu seperti ini?? Apakah Papa, Abang.. mengajari mu hal seperti ini??" Bang Wira masih terpejam, tangannya ikut menyentuh tangan Dinda.
"Adinda pernah melahirkan anak Abang, tapi kamu harus tau Dinda juga mengandung anak Abang. Semua istri Abang sama derajatnya. Abang menikahi Dinda bukan karena ada jantung wanita lain disana. Cinta itu tak butuh banyak alasan. Cinta itu masalah hati. Kamu melimpahkan semua tuduhan untuk Dinda, hati Abangmu ini sakit sekali.. Alen"
Alena menunduk tak berani menatap mata Abangnya, disana Dinda sama sekali tidak membalas ataupun bereaksi.. hanya terlihat tangis yang mungkin sengaja di tahan kakak iparnya itu.
.
.
.
__ADS_1
.