
Dinda melihat sekeliling kamar itu banyak menyimpan foto almarhumah istri Bang Wira. Terlihat sekali cinta Bang Wira begitu besar pada sang istri.
"Kelak aku pun ingin di cintai sepertimu mbak Adinda..!!" gumamnya pelan sambil memegangi botol susu Asya.
Tiba-tiba mata Dinda terfokus pada foto Bang Wira yang sedang berdiri berkacak pinggang menatap hamparan savana. Ada lagi fotonya sedang berjongkok bersama anjing kekar hitam yang menurutnya sangat menakutkan. Ada rasa yang tidak ia pahami, detak jantungnya berdenyut kencang saat melihat senyum manis dari wajah tampan Bang Wira.
"Kenapa hatiku sakit sekali memandangi wajahmu Bang?" tak sadar air matanya menetes membasahi pipi.
***
Bang Wira menangis dalam sholat nya, hal yang selalu ia lakukan dan tidak pernah ia tinggalkan. Jika saja di dunia ini tidak banyak mata yang memandangnya, mungkin ia akan terus menangis sejadi-jadinya setiap jam. Kisahnya dengan Dinda sungguh membekas lara.
Terbayang pertemuan terakhirnya dengan Adinda saat istrinya itu merangkak tanpa daya. Badannya sangat kurus kering tak terawat hanya tersisa tulang dan kulit yang melekat membawa perut yang membusung. Sungguh dirinya tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi di sana hingga memar, biru keunguan dan lebam hampir rata di seluruh tubuh Adinda. Saat memandikan istrinya itu, Adinda takut tersentuh olehnya karena merasa sangat kesakitan.
Ya Tuhan, bisakah aku tidak mengingatnya. Sakit sekali rasanya jika terus mengingat Dinda.
Bang Wira pun bersujud pasrah.
"Ya Allah, tolong ampuni dosaku, dosa istriku Adinda. Maafkanlah dia dari segala kesalahannya. Jika satu titik noda membuatnya cela, tapi dia adalah seorang ibu yang sempurna."
Bang Wira duduk dan menghapus air matanya.
"Dinda.. sakit sekali rasanya hati Abang kamu tinggal seperti ini, rumah jadi terasa hampa tanpamu. Asya masih begitu kecil. Rasanya Abang ingin menyusul mu saja. Tak kuat merasakan cobaan ini"
Terdengar tangis kecil Asya menyadarkan Bang Wira dari doanya. Ia pun segera menuju kamarnya.
~
Antara lupa dan tidak, Bang Wira tersentak ada sesosok wanita dalam kamarnya. Ia pun menundukan pandangan.
"Kenapa Asya??" tanyanya datar.
"Ini haus Bang. Dinda baru buatkan susu" jawab Dinda yang sedikit kesulitan bergerak karena luka operasi nya belum pulih.
"Kamu tidurlah, biar Abang yang gendong Asya..!!" kata Bang Wira.
Baru saja akan mengambil Asya dari gendongan Dinda, bayi kecilnya itu sudah menangis kencang seakan tak ingin berpisah dari Dinda.
Bang Wira menarik tangannya dengan bingung, ia tidak tau keinginan bayinya sendiri.
__ADS_1
"Asya sayang.. ikut Papa sebentar saja ya. Tante Dinda mau minum obat dulu biar bisa gendong Asya lagi" ucap Dinda sembari menyerahkan si kecil Asya pada papanya.
Tanpa tangisan lagi, Asya kecil menurut ucapan Dinda dan itu sukses membuat ubun-ubun Bang Wira kembali terbakar kesal. Bang Wira pun memilih meninggalkan kamar.
~
"Bangun pot..!! Nggak sholat??" Bang Wira membangunkan Bang Regar yang tidur pulas di ruang tengah.
"Sebentar lagi, aku capek mondar-mandir temani Dinda..!!" jawab Bang Regar.
"Sholat itu wajib. Nanti tidur lagi..!! Aku mau ke kantor urus berkas sebentar..!!" kata Bang Wira.
"Ya sudah kamu berangkat dulu. Asya biar sama aku dan Dinda"
"Dinda masih belum sehat. Kamu ajak saja Dinda pulang..!!!" perintah Bang Wira.
"Anakmu nempel sama Dinda. Kalau nangis lagi.. kamu sanggup tenangin baby mu??" tanya Bang Regar.
"Aku nggak mau bayiku tergantung sama Dinda" ucapnya tegas namun terkesan kaku.
Bang Regar menepuk bahu Bang Wira.
Bang Wira pun duduk di samping Bang Regar.
"Saya tidak pernah minta Dinda sakit seperti itu dan sampai merepotkan mu seperti ini. Saya juga yakin kamu tidak ingin putrimu bernasib seperti ini. Sebenarnya sejak pertama kali Dinda bertemu Asya.. adik ku itu selalu mengigau tentang putrimu, dan sekarang kamu lihat itu..!!" ucap Bang Regar kemudian menunjuk pada Dinda yang sedang menggendong Asya dengan sayang.
"Sebagian dari Dindamu, ada pada Dindaku. Kau boleh percaya atau pun tidak, setelah Dinda menerima donor jantung dari istrimu, sebagian sifatnya berubah"
Bang Wira mengusap wajahnya, terlalu berat ia harus menyadari satu persatu kenyataan yang begitu menyakitkan hati.
...
Usai kembali dari kantor, Bang Wira melihat Dinda sedang mengganti popok Asya. Bayinya begitu tenang dalam asuhan Dinda.
"Kamu sudah makan? Kemana Abangmu?" sapa Bang Wira.
"Abang ada panggilan mendadak. Tadi sudah coba hubungi Abang tapi Abang tidak menjawab telepon. Maaf Dinda masih disini. Nggak mungkin khan Dinda bawa Asya." jawab Dinda.
Bang Wira melihat ponselnya dan memang benar Siregar menghubunginya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan??" Bang Wira mengulang kembali pertanyaan nya.
"Gampang Bang..!!" jawab Dinda tapi kemudian ia terhuyung karena tidak kuat menyangga badannya.
Refleks Bang Wira mendekap Dinda.
"Eehh.. Dindaa..!! Kuat nggak kamu, kalau nggak kuat jangan memaksa mengurus Asya."
Mata Bang Wira dan Dinda saling menatap. Tatapan mata yang membuat degup jantung Bang Wira berdegup kencang. Tatapan mata yang begitu ia rindukan, mata milik almarhumah istrinya.
"Maaf..!!" Bang Wira melepas dekapannya, setelah menikah dengan Dinda, dirinya memang membatasi diri untuk dekat dengan wanita lain.
Dalam pikiran Bang Wira tiba-tiba terbersit ucapan Bang Regar. Ia pun memberanikan diri menguji nyalinya sendiri.
"Abang nggak bisa pakaikan popok dengan benar. Bisa kamu ajari Abang?"
"Oohh.. begini Bang" Dinda mengambil popok dari tempatnya, lalu mempraktekkan pada boneka tawon kesayangan almarhumah dan cara ini sama persis seperti yang almarhumah ajarkan padanya dulu.
Bang Wira pun melihat kesekeliling kamar. Ia baru menyadari, keadaan kamar itu persis seperti cara istrinya menatanya. Seketika kaki Bang Wira lemas, ia merosot merasakan almarhumah hidup pada diri Dinda.
"Abaang.. Abang kenapa??" tanya Dinda.
"Kenapa kamu datang dalam kehidupanku Dinda??? Kembalikan jantung istriku..!! Jangan pernah mencoba untuk menjadi ibu dari anak ku dan jangan pernah mencoba menyamai sifat Dinda" ucap Bang Wira dengan keras.
"Jika Dinda bisa memilih, Dinda ingin mati saja Bang. Sejak lahir ke dunia, Dinda hanya membawa kesedihan orang tua. Mama Dinda meninggal dan Papa harus kehilangan Mama. Untung saja Mama Bang Regar mau merawat Dinda hingga Dinda sampai di titik ini. Dinda tidak tau bagaimana cara Dinda berterima kasih pada almarhumah istri Abang yang sudah memberikan hidup kedua untuk Dinda" kali ini Dinda sungguh menangis mengungkapkan perasaannya.
"Dinda hanya ingin membalas budi baik istri Abang, jika segala perlakuan tidak bisa almarhumah rasakan, biarkan Dinda mengabdikan diri seumur hidup menyayangi Asya."
"Kau ini siapa berani menentukan arah tujuan hidup Abang?? Asya dan Abang mampu hidup sendiri tanpa bantuan mu sekalipun..!!!" Bang Wira mengambil alih Asya dan menggendongnya.
"Silakan tinggalkan rumah ini. Anggotaku akan mengantarmu pulang..!!"
.
.
.
.
__ADS_1