
Bang Wira cemas sekali karena siang ini sudah harus berangkat ke tempat tugasnya tapi Dinda sama sekali belum mempersiapkan diri dan mengatakan akan ikut dengannya. Padahal saat malam pun Dinda tak menolak tidur satu kamar bahkan satu ranjang dengannya.
"Sebentar lagi kita ke bandara Bang..!!" tegur Bang Aaron karena seniornya itu masih memakai kaos oblong dan celana pendek.
"Kalau Dinda nggak ikut sama Abang.. Abang nggak akan berangkat..!!" jawab Bang Wira sembari menghisap rokok.
Bang Aaron menepuk dahinya. Sungguh seniornya itu sangat mencintai istrinya bahkan ia sangat menyesali nyaris kehilangan Dinda sampai kemarin sempat menderita sakit.
"Lalu bagaimana tugas di markas kita Bang??"
Saat Bang Wira masih terdiam. Mulutnya ternganga melihat Dinda datang dengan gayanya yang begitu menggoda, parasnya yang cantik dan senyumnya yang membuat Bang Wira salah tingkah.
"Dek, mau kemana??" Bang Wira tidak menggubris pertanyaan Bang Aaron.
"Mau menemui Bang Regar" jawab Dinda.
"Tapi nanti pulang sama Abang khan dek?" tanya Bang Wira cemas.
"Tergantung.. kalau Dinda nggak mau sama Abang.. bagaimana?? Seharusnya Abang kena hantam Abang Regar dulu. Baru Dinda puas"
"Ya sudah, di hantam pun nggak apa-apa. Asalkan kamu mau ikut pulang sama Abang. Nggak ngambek lagi, nggak lari lagi dari Abang." kata Bang Wira.
...
"Abang juga akan menyusul mu. Abang menemani Bang Righan di sana"
"Siap Abang" jawab Bang Wira dengan wajah penuh kewaspadaan.
Bang Arman menepuk bahu Bang Wira. Ia paham betul juniornya itu masih sangat waspada padanya.
"Abang sudah bilang, kisah Abang dan Dinda sudah usai. Kalau kamu mau, tolong doakan Abang saja.. biar segera mendapatkan jodoh untuk menemani hidup Abang"
"Siap Abang.. Insya Allah. Terima kasih banyak atas semua bantuan Abang pada keluarga saya"
"Aman Wira, jangan di pikirkan..!! Kalau Abang bisa bantu.. pasti akan Abang bantu semampu Abang"
...
__ADS_1
Dalam perjalanan, Dinda mual hebat. Mau tidak mau ia hanya bisa bergantung pada Bang Wira saja. Terlihat wajah culas Alena yang melirik Dinda dengan pandangan tidak suka. Ia tidak lagi bersitegang ataupun mencari hal dengan Dinda karena takut dengan 'hukuman' Bang Wira.
"Cari muka, masa mual saja sampai segitunya??" gerutu Alena hampir tak terdengar.
"Kamu jangan bilang begitu dek, nggak baik. Itu bawaan kehamilan. Suatu saat nanti kamu pasti akan mengalaminya. Lagipula Mbak Dinda khan istrinya Abang Wira. Wajar lah kalau Mbak Dinda mengeluh sama Bang Wira, kecuali Mbak Dinda mintanya sama Abang. Itu baru tidak wajar" jawab Bang Aaron panjang lebar.
Alena melirik Bang Wira yang begitu memperhatikan Dinda. Abangnya itu rela mengeluarkan banyak uang hanya demi menyamankan Dinda.
"Kalau Alen menikah nanti, Alen hanya mau menikah dengan pria yang seperti Bang Wira. Mencintai istrinya tanpa syarat. Menerima segala sifat Alen hingga kekurangan Alen yang terkadang di luar batas" kata Alena menyadari keadaan dirinya.
Bang Aaron menarik bahu Alena dan tak lagi peduli jika mungkin saja nanti Bang Wira akan menghajarnya karena sudah berani mendekap adik kandung kesayangan Taipan timur.
"Kekurangan yang mana? Dan pria macam apa lagi yang kamu cari? Bagi Abang kamu tidak ada kurangnya. Abang yakin.. kamu gadis yang baik. Jangan menyiksa dirimu dengan hal yang bertolak belakang dengan hatimu..!!"
Seakan terhipnotis, Alena pasrah dalam dekapan Bang Aaron dan Bang Wira hanya bisa meliriknya saja karena Dinda amat sangat membutuhkannya saat ini.
-_-_-_-_-_-
"Abang nggak mual lagi?" tegur Bang Aaron.
"Mual juga. Tapi masa Dinda sudah mual, Abang harus ikut mual juga. Di tahan lah mualnya demi istri" jawab Bang Wira.
"Oiya Bang, besok lusa ada kunjungan Dan Markas pusat untuk menemui Abang dalam rangka penyampaian ucapan duka cita secara langsung dan menilik langsung hasil kerja Komandan yang baru"
"Astagfirullah.. bisa tidak mundur dulu?? Entah kenapa rasanya mengingat wajah Bang Righan jadi mual sekali" Bang Wira sampai mengusap perutnya tapi sebagai anggota yang profesional, ia tidak boleh menghindar tentang pekerjaan.. apapun bentuknya.
"Ya sudah.. kamu jawab saja Abang bersedia"
"Siap Abang"
...
Malam hari mereka tiba di rumah. Alena pun langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa Dinda dan itu kembali menyulut emosi Bang Wira. Tanpa sadar Dinda memeluk Bang Siregar yang tadi juga ikut menjemputnya.
"Ada apa Wir, kenapa adikmu sepertinya nggak suka sama Dinda?" tanya Bang Siregar apalagi tidak seperti biasanya Dinda memeluknya seperti ini.
"Eehh.. kamu kenapa?? Bilang sama Abang..!!" terlihat sekali Bang Siregar menyadari ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Dinda sempat pergi dari rumah" jawab Bang Wira mengakui sempat terjadi kisruh dalam rumah tangganya.
"Haaaahhh.. ada masalah apa sampai Dinda pergi?????" mata Bang Siregar menatap Bang Wira dengan tajam, nada suara Bang Siregar mulai meninggi.
"Di apakan kamu sama si Maung??? Bilang sama Abang..!!!!"
"Semua sudah selesai Bang, Dinda hanya lega saja sudah ketemu Abang. Sudah.. jangan di bahas lagi." pinta Dinda.
"Bilang sama Abang atau Abang interogasi satu persatu. Ada apa??" bentak Bang Siregar.
"Maaf pot, aku tidak bisa mendidik adik ku. Bang Wira mengeluarkan dua lembar kertas yang menjadi sumber masalah dalam rumah tangga dirinya dan Dinda.
Bang Siregar mengambil kertas itu lalu membacanya.
"Alena yang buat ini????"
"Iya.."
"Darimana akalnya yang luar biasa itu muncul???? Eehh Wira, asal kamu tau ya.. sampai kapanpun Dinda ini tetap adik ku. Kalau kamu tidak bisa menjaganya dengan baik, biar aku saja yang menjaganya. Kamu jaga saja adik kesayanganmu..!!" Bang Siregar tak bisa membendung rasa marahnya.
"Aku mungkin memang tidak punya hubungan darah dengan Dinda. Tapi aku sayang sama adik ku ini. Kalau kamu mau menyakitinya, lihat dulu siapa Abangnya. Kuhajar juga kau pot..!!!!"
"Bang, jangan marah lagi. Dinda hanya ingin di peluk Abang. Dinda nggak apa-apa kok" Dinda sedikit menyesali perbuatannya yang seolah sedang mengadu pada Abangnya padahal ia tau betul Bang Siregar paling tidak bisa melihat dirinya menangis.
"Nggak apa-apa gimana??? Kamu sampai begini?? Wira kasar nggak? Kamu di pukul?" Bang Siregar memperhatikan Dinda disana sini.
"Harus di apakan dia ini, kurang ajar.. berani sekali buat adik Siregar nangis"
"Hukum Bang Wira donk Bang..!!" pinta Dinda.
"Mau hukuman apa?? Bilang saja.. kalau Wira nggak mau.. biar Abang tambah hukumannya" kata Bang Siregar dengan jengkelnya.
Bang Wira hanya bisa meringis ketar ketir kalau ibu Komandan tercinta yang akan memberi hukuman.
.
.
__ADS_1
.
.