
Dinda tersenyum menanggapi celotehan Bang Wira, namun sesaat kemudian. senyum itu hilang.
"Nggak.. hukuman.. tetap saja hukuman"
Bang Wira menghela nafas yang terasa berat kemudian mengusap 'perutnya' yang membesar.
"Ini resiko apa Bang???" tanya Dinda.
"Resiko pengen enaknya jadi ya harus tanggung akibatnya" gumam nya pelan.
"Pintar Papa Wira" Dinda mengecup kening Bang Wira lalu melenggang pergi meninggalkan suaminya yang terdiam tanpa kata.
"Awas itu lipstik tipis-tipis jangan di hapus biar Dinda senang lihatnya. Capek tiduran lihat suami cantik khan senang lihatnya" ucap Dinda menirukan gaya bahasa Bang Wira.
"Awas kamu nanti, dimana-mana istri itu tunduk sama suami. Kalau sampai kamu nggak klepek-klepek, jangan panggil saya Kapten Wira" gerutunya gemas setengah mati melihat tingkah sang istri.
Bang Wira mengambil kaca dan memakai lipstik warna baby pink kesukaan sang istri.
"Demi kamu ini ma, kalau nggak sayang.. sudah Papa tumbuk kamu ya, cuma kamu yang berani ngerjain Komandan sampai begini"
"Aseem.. sudah pakai lipstik, belum cukur kumis lagi.. piye iki rupane???"
-_-_-_-_-_-
Para anggota menahan tawa melihat jepit rambut kupu-kupu menghias jambul Sang Komandan. Mungkin saja sang Komandan sedang terlupa melepas atribut tambahan usai bercanda dengan istri tercinta.
"Jelas semua? Pengawalan terkait pengamanan, kita lakukan sesuai SOP dan memakai pakaian sesuai yang tadi telah di tentukan.
"Siap Komandan..!!" jawab para anggota.
"Ketua team nanti di tangani Letda Aaron. Saya standby di tempat..!!"
"Bang..!!" Bang Aaron sedari tadi mencolek Bang Wira tapi seniornya itu tidak merasakannya.
"Ada apa?" tanya Bang Wira mulai risih saat Bang Aaron menempel padanya.
"Itu jepit rambut Mbak Dinda masih menempel di jambul Abang" jawab Bang Aaron berbisik.
Bang Wira meraba rambutnya dan benar saja, ia masih cantik dan memakai jepit rambut karena terburu-buru memberikan jam komandan di siang hari itu.
"Aduuuhh.. punya istri satu saja rasanya mau ngajak tawuran" gumam Bang Wira sembari melepas jepit rambut Dinda.
"Mohon maaf ya, saya sedang dalam misi penyamaran. Harap maklum momong istri hamil itu luar biasa. Untuk rekan semua, untuk tidak di tiru adegan berbahaya ini" ucap Bang Wira merasa tidak enak sembari menghapus lipstik yang tak juga hilang membuatnya semakin emosi karena malu setengah mati.
__ADS_1
:
"Coba pakai minyak tanah Bang..!!" usul Bang Aaron.
"Kamu mau Abang keracunan?? Perkara hilangkan lipstik aja pakai minyak tanah." jawab Bang Wira sembari menghisap rokoknya.
"Abang juga nggak tau Wir, atau pakai minyak gosok?? Hmm.. kal**n**??" imbuh Bang Righan.
"Abang kira saya kena koreng?? Cuma mau hilangkan lipstik nih Bang"
"Astaga.. cobalah kau tanya pada ibu negara..!!" usul Bang Righan.
"Nggak boleh Bang, seminggu ini saya harus menirukan gaya dan aktivitas harian yang Dinda lakukan."
"Tau rasa khan lu. Makanya jadi suami tuh jangan banyak mau. Belum lagi kelakuan lu yang kegatelan sama Dinda" Ledek Bang Righan.
"Suami minta jatah khan wajar to Bang." jawab Bang Wira.
"Ya beri jeda dulu lah, kompor masih nyala juga lu nggak tau waktu"
"Laahh, kok Abang tau???" tanya Bang Wira.
"Jelas lah, wajah-wajah penjahat sepertimu itu gampang sekali di tebak. Nggak bisa lihat istri nganggur. Karena Abang juga begitu sih" jawab Bang Righan sambil tertawa dan itu memancing kejengkelan Bang Wira.
Suara terompet tukang sayur keliling sudah ada di depan rumah. Dinda meminta tukang sayur itu berhenti di depan rumahnya. Meskipun ia sedang memberi hukuman, tapi ia juga masih memberi muka pada suaminya agar tidak menjadi bahan tertawaan ibu-ibu asrama.
"Ayo cepat Bang, belanja ke mamang sayur. Bawa dompet Dinda dan tirukan gaya Dinda. Catatan belanjanya sudah ada di dalam dompet..!! Gaya bahasanya harus mirip Dinda ya Bang..!!"
"Lailaha Illallah.. kamu saja yang belanja dek. Abang tambahi deh uang belanjanya" pinta Bang Wira.
"No.. tidak ada program tawar menawar." tolak Dinda.
Bang Wira menghela nafas lalu menyelipkan dompet kecil di ketiaknya mirip seperti kebiasaan sang istri lalu menyelipkan anak rambut yang jelas tidak ada ke belakang telinga dan membenahi bandonya. Dinda pun sampai terkikik melihat Bang Wira.
"Bu Wira belanja apa?" tanya mamang sayur yang memang sudah mendapat briefing dari Dinda.
"Hmm.. hari ini tuh Bang Wira malas makan. Apa saya masak sayur bayam sama bakwan jagung ya Mang??" Bang Wira berlagak seperti Dinda.
"Ya sudah lah Mang, saya masak penyet tempe sama lalapan terong saja"
Dari dalam rumah, Dinda tertawa terbahak karena ternyata seperti itu kelakuan yang mungkin selama ini sering ia lakukan.
"Bu Wira hamil berapa bulan?"
__ADS_1
"Nggak jelas Mang, yang mana bapaknya juga saya nggak ingat. Pokoknya tiba-tiba aja saya bengkak" jawab Bang Wira asal sembari mengusap perutnya.
"Eehh Mang, ini tetangga saya yang ini. Suka ngerjain suaminya. Belum tau dia rasanya kualat. Untung saya ini baik dan berbudi luhur, sampai setua ini saya belum pernah ngerjain suami.. karena nggak ada laki yang mau sama saya" kata Bang Wira menunjuk ke arah rumahnya sendiri.
Mamang ikut terkikik, ternyata sang Komandan bisa mengimbangi pertanyaan nya dan bisa mengajaknya berghibah.
"Ini belanjaan Bu Wira" Mamang sayur dari Jawa itu menyerahkan barang belanjaan yang Dinda pesan.
"Yang bayar tetangga sebelah ya Mang. Uang belanjanya lumayan itu Mang" ucap Bang Wira dengan genitnya.
"Iya, nanti saya tagih tetangga sebelah"
:
Bang Wira meletakan kantong belanjanya kemudian duduk menarik nafas. Perlahan ia mampu menyadari betapa beratnya menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga yang biasa di remehkan hanya karena 'tidak berpenghasilan'
"Langsung di siangi lalu di atur di dalam lemari es..!!" kata Dinda.
"Nanti malam saja ya dek. Badan Abang pegal nih"
"Kalau nanti malam, semua sudah jadi layu. Besok pagi di masak sudah nggak segar lagi" kata Dinda sembari menambah bobot air di perut Bang Wira.
Bang Wira memeluk Dinda dan mengusap punggungnya.
"Kamu pasti capek sekali ya dek mengerjakan semua ini?"
"Abang capek nggak cari uang untuk Dinda sama anak-anak?" Dinda balik bertanya.
"Nggak.. Abang ikhlas bekerja dan cari rejeki untuk kamu sama anak-anak. Terima kasih banyak kamu mau menjalani kehidupan ini tanpa mengeluh" Jawab Bang Wira.
"Dinda tidak ingin kata-kata itu. Dinda juga ikhlas menjalaninya, Dinda hanya mau Abang punya rasa memiliki dan menjaga apa yang Abang punya. Sebab jika yang tersayang itu tak lagi bisa Abang genggam, Abang akan tau rasanya sakit karena kehilangan. Jika saja saat itu Abang masih di beri kesadaran untuk tidak mengucap hal buruk. Karena kalau tidak.. saat ini Dinda bukan istri Abang lagi..!!"
Mata Bang Wira trpejam kuat. Ribuan rasa sakit menghujam ulu hatinya.
"Abang menyesal dek, sungguh sangat menyesal"
.
.
.
.
__ADS_1