
Dinda tersenyum di hadapan Bang Wira meskipun hatinya menangis.
"Maaf.. Dinda sulit mengingat siapa Tian."
"Abang ngerti. Pelan-pelan saja.. Abang akan membuatmu mengingat Tian. Kita kembalikan lagi keadaan keluarga kita seperti dulu. Seperti saat Abang belum mengacaukan segalanya" jawab Bang Wira penuh penyesalan.
Dinda tak kuasa lagi menjawabnya. Hanya senyum penuh kepalsuan mengakhiri semua.
***
Dinda takjub melihat kamarnya begitu indah.. warnanya cantik seperti yang ia sukai. Hijau tosca dan dusty.
"Abang buat semua ini?" tanya Dinda.
"Iya donk.. semua untuk istri cantiknya Abang"
"Semuanya serba baru Bang?" tanya Dinda lagi.
"Iya dek.."
"Lemari itu juga ganti??" Dinda tak percaya dengan apa yang di lihatnya hari ini.
"Iya sayaang" Bang Wira merasa ada yang janggal dari diri Dinda. Jika memang istrinya itu tidak bisa mengingat semua kenangan.. lalu kenapa Dinda bisa mengingat lemari yang hilang. Sebab di bawah lemari itu ada banyak foto Adinda yang ia sembunyikan tanpa sepengetahuan Dinda.
"Isinya Abang kemana kan?" tanya Dinda sekali lagi semakin membuat Bang Wira merasa janggal.
"Sudah Abang masukan lagi isinya ke dalam lemari" jawab Bang Wira hati-hati apalagi saat kembali melihat wajah tidak puas dari Dinda meskipun istrinya itu mengangguk mengiyakan.
...
Nando dan Asya bermain-main di ruang tengah. Ekspresi wajah Dinda terlihat begitu bahagia apalagi saat bibi menggendong Tian. Bang Wira mulai menerka kembali, jika memang Dinda melupakan yang terjadi.. mengapa dia sekarang tidak menanyakan lebih detail tentang Nando ataupun Tian.
__ADS_1
"Mana ASI buat Tian? Biar Abang yang gendong" kata Bang Wira menguji Dinda.
"Belum di hangatkan bibi. Lagipula ASI Tian sudah mau habis karena hamil di dedek" jawab Dinda.
Bang Wira mendekati Dinda. Ia mengarahkan wajah Dinda agar melihat ke arahnya.
"Katakan Dinda.. kamu pura-pura tidak mengingat semuanya??"
"Apa maksud Abang?" Dinda masih bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun.
"Kenapa kamu berpura-pura tidak mengingat sebagian kenangan kita? Kamu pura-pura tidak mengingat Tian padahal kamu juga tau di dalam lemari itu ada banyak kenangan"
Dinda menepis tangan Bang Wira dengan kasar.
"Kenangan siapa? Abang sama Mbak Adinda?"
"Jangan kamu sebut nama dia lagi. Abang lelah mendengarnya Dinda"
"Abang juga stress Dinda.. kapan Abang tidak berusaha membuang Adinda dari hidup Abang? Abang ngaku salah masih menyimpan namanya dalam hati Abang. Tapi semua hanya sampai disitu.. sampai di batas itu cinta Abang karena... satu alasan Abang yang selalu Abang ingatkan.. kematian Adinda meninggalkan penyesalan dalam hati Abang. Abang merasa tidak berguna sebagai seorang suami" bentak Bang Wira terdengar begitu lepas.. ingin melanjutkan ungkapan hatinya tapi ternyata di detik itu juga Dinda tumbang tak sanggup mendengarnya.
"Dindaa..!!!!" Bang Wira sudah sebegitu tertekannya dengan keadaan.
:
Bang Wira menunduk menumpahkan tangisnya usai kembali memasang jarum infus di punggung tangan Dinda padahal baru dua jam selang infus itu terlepas dari istrinya.
Bang Wira beranjak dan mengambil semua foto Adinda di gudang lalu melemparkannya di belakang rumah. Bang Wira pun mengambil bensin dan menyiram pada barang Adinda.
"Kenapa aku selalu menyakiti istri-istriku??????" pekik Bang Wira.
Bibi sangat cemas sejak tadi melihat keributan tuannya. Hari-hari belakangan ini terasa begitu memilukan hingga puncaknya hari ini Bibi melihat Pak Wira sungguh tak karuan.
__ADS_1
"Wiraa..!!!! Astagfirullah hal adzim.. kenapa kamu Wir?????" Bang Siregar datang tepat waktu karena bibi sempat menghubungi nya.
"Akan ku buang Adinda jauh dari hidupku. Rasanya aku tidak kuat melihat penderitaan Dinda karena sikapku. Sumpah Gar.. aku nggak sengaja selalu mengingat Adinda.. aku sungguh mencintai adikmu." ucap Bang Wira sungguh-sungguh. Ia menyulut api dan membakar semua barang itu.
"Wira.. nyebut Kowe Wir..!!!!!!"
"Nggak ada Adinda lagi.. Aku nggak akan menyebut namanya lagi..!!!! Jauhkan Adinda dari hidupku. Aku nggak mau kehilangan Dinda." teriaknya tak karuan.
"Wira.. sadar Wiraaa....!!!!!!" Bang Siregar menyambar korek dan bensin di tangan Bang Wira.
"Dindaaa.. Dindaaaaa..!!!!!"
plaaakkk....
"Cukup Wira..!! Sadar.. Dinda sudah gila, jangan sampai kamu ikut gila juga..!!" tegur Bang Siregar.
"Ini semua di luar kuasaku. Aku salah.. Aku salah Gar..!! Aku minta maaf..!!!!"
"Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar di antara kalian berdua. Kalian masih saling menutup diri dan kurang komunikasi. Pendekatan mu pada istri masih sangat kurang Wir. Kalau komunikasi mu sama Dinda baik.. nggak mungkin ada kecemburuan seperti ini, bukankah Dinda paham resiko menikah dengan duda" jawab Bang Siregar.
"Yang jelas ada banyak kesalahanku yang membuat Dinda jadi seperti ini. Aku terlalu gegabah mengambil setiap langkah."
"Hari demi hari akan kamu lalui seperti ini kalau akalmu sebagai suami tidak kamu pakai. Apa seorang Wira tidak bisa berpikir waras sebentar saja. Ada banyak kehidupan bergantung padamu bro.. ingat calon bayimu..!! Ayo bangkit...!!!!" bujuk Bang siregar.
.
.
.
.
__ADS_1