Sayap Perwira

Sayap Perwira
71. Ujian menyakitkan.


__ADS_3

"Sanggup..!! Ayo kita ke Abangmu. Besok pagi.. Abang lamar kamu"


"Tak takut badanmu hancur kah Bang? Abang tau sendiri bagaimana Abangnya Alen"


"Nggak masalah kalau itu syarat untuk menyanding mu"


***


Tidak tau tata krama. Tidak punya sopan santun..!! Apa ini hasil pendidikan mu selama di luar negeri Alen????"


"Saya yang salah Bang"


"Nggak perlu kamu bilang, kamu juga salah..." bentakan Bang Wira terhenti saat ada panggilan telepon masuk. Ia segera mengangkatnya.


"Assalammu'alaikum pa" Bang Wira duduk sembari mengatur emosinya yang masih meninggi.


"Wa'alaikumsalam le. Bagaimana kabar keluarga? Asya juga Alen"


"Alhamdulillah baik semua pa. Kapan Papa mau mampir kesini? Bukannya Papa mau berkunjung ke tempat dinasku yang baru?" tanya Bang Wira.


"Insya Allah le. Oiya.. mana menantu Papa?" tanya Papa.


Bang Wira menarik lengan Dinda dan mendekapnya duduk di pangkuannya usai meletakan dua cangkir kopi hitam dan satu teh hangat untuk Alena.


"Papa mau bicara..!!"


"Assalamualaikum pa" sapa Dinda.


"Wa'alaikumsalam ndhuk. Sehat disana? Bagaimana cucu papa yang di perut?"


"Alhamdulillah semua sehat pa, Bagaimana papa sama Mama?"


"Papa dan Mama sehat. Papa pengen lihat anaknya Wira lahir dengan sehat, Jaga dirimu baik-baik ndhuk. Jaga Wira, Papa titip Wira juga Alena. Dengar Papa sayang. Wira itu sangat mencintaimu lebih dari apapun." kata Papa.


Bang Wira seakan tak peduli dengan ucapan Papa nya yang sedang berbincang dengan menantu kesayangannya. Ia sibuk menciumi bahu Dinda yang wangi. Tangannya pun mengusap lembut perut Dinda yang masih rata.


"Iya pa, Dinda ngerti"


:


"Pulanglah.. saya sedang tidak ingin naik darah dengan segala tingkah laku kalian"

__ADS_1


"Tapi Bang, saya kesini berniat bertanggung jawab atas segala perbuatan saya" kata Bang Aaron.


Untuk kedua kalinya ponsel Bang Wira berdering padahal belum ada sepuluh menit panggilan telepon dengan papanya terputus.


"Selamat siang.. kami dari pihak kepolisian. Kami mengabarkan bahwa bapak dan ibu mengalami kecelakaan saat akan menuju bandara" kata seseorang di seberang sana memakai ponsel Papa Bang Wira.


"Maaf pak, tapi orang tua saya sedang berada di Luar negeri. Di Rusia" jawab Bang Wira bingung karena setahu dirinya.. orang tuanya itu sedang ada di luar negeri.


"Korban berada di Indonesia Pak"


Bang Wira berdiri terpaku, Dinda terhuyung lemas bersandar pada Bang Wira, seketika Alena histeris melihat perubahan wajah Abangnya.


"Papa Mama nggak apa-apa khan Bang???"


"Papa Mama kecelakaan dek. Dikabarkan meninggal dunia" jawab Bang Wira.


"Papaaaaa..!!!!!!!!" teriak histeris Alena. Bang Aaron pun sigap memeluknya karena Dinda pun sudah terdiam tanpa suara di pelukan Bang Wira.


...


Setelah melaksanakan proses ijin pada Bang Righan. Bang Wira, Bang Aaron, Alena dan Dinda berangkat ke pulau Jawa untuk mendampingi jenazah Papa dan Mama. Tangis tak berhenti dari wajah Dinda dan Alena.


Rasa mual Bang Wira seakan tak dirasakan lagi karena Dinda mabuk perjalanan. Dalam pikiran Bang Wira terus berputar mengingat keinginan terakhir sang Papa juga kini tanggung jawabnya pada Alena yang semakin besar.


"Jangan nangis lagi dek. Kita manusia tidak ada yang mampu melawan takdir"


"Anak kita belum sempat melihat Opa dan Omanya Bang"


"Iyaa.. sudah ya sayang"


...


Sekitar tiga jam perjalanan sipil dan setengah jam perjalanan darat akhirnya Bang Wira beserta keluarga tiba di rumah rumah duka.


Jenazah orang tua Bang Wira sudah rapi dan siap di kebumikan. Peti jenazah sudah tidak bisa di buka lagi karena keadaan korban yang mungkin sudah tidak layak untuk di lihat.


Kaki Dinda gemetar melihat dua peti lewat di hadapannya sedangkan Alena langsung pingsan tak sadarkan diri.


"Abang fokus saja dengan Mbak Dinda biar saya jaga Alen" kata Bang Aaron.


Mau tak mau Bang Wira menyetujui usul juniornya itu karena memang Dinda butuh perhatian khusus darinya.

__ADS_1


"Bibi tolong jaga Asya, mamanya lagi nggak bisa jaga Asya" perintah Bang Wira.


"Baik Pak, bibi ngerti"


-_-_-_-_-


"Sejak kamu datang di hidupku, semuanya menjadi sial..!! Martin memilihmu, Abang menikahimu setelah kau memakai jantung istrinya, sekarang Papa dan Mama ku harus meninggal dengan kecelakaan tragis. Bisakah kau pergi dari hidupku??????" teriak Alena semakin histeris.


"Alena..!! Jangan ngawur kamu..!!" tegur keras Bang Wira.


"Kau lihat..!! Abangku pun selalu membelamu"


"Alen.. sudah..!!" bujuk Bang Aaron.


"Abang pilih dia atau aku, adik kandungmu..!!"


"Itu bukan pilihan yang pantas Alena..!!" Bang Wira sungguh murka melihat tingkah Alena.


"Baiklah, lebih baik Alen mati saja. Abang lebih mementingkan dia daripada aku" teriak Alena kemudian bersiap menelan sesuatu yang ia keluarkan dari saku celananya.


"Jangan Alen..!!" Dinda menerjang Alena dan menyambar botol kecil itu dan juga bersiap meneguknya.


"Astagfirullah hal adzim...!!!!!" Kemarahan Bang Wira sudah menggelegak sampai akhirnya Bang Wira merebut botol dari tangan Dinda dan membantingnya hingga pecah berantakan. Secepatnya Bang Wira memeluk Dinda dengan erat.


"Kita ini sedang dalam suasana berduka. Bisa-bisanya kamu buat keributan seperti ini dan menyudutkan Abang..!!!!!" bentak Bang Wira membuat Alena ketakutan.


"Kalau kamu mau kesal, marah sama Abangmu ini..!! Jangan libatkan Dinda. Abang yang pilih Dinda, Abang yang menikahinya. Nggak ada hak mu untuk menghakimi istri Abang. Sampai kamu senggol Dinda sedikit saja. Kamu akan berhadapan sama Abang..!!"


Alena syok mendengar pembelaan Bang Wira untuk Dinda.


"Tinggalkan dia Bang.. Ceraikan dia, dia nggak baik untuk Abang. Kenapa Abang nggak sadar juga. Dia bawa sial untuk keluarga kita" ucap Alena sesenggukan.


Dengan menekan perasaannya yang berhamburan tak karuan, Bang Wira pun mendekap Alena.


"Alen.. pantaskah kamu bicara seperti itu. Di dalam tubuh Dinda ada bagian dari diri Abang. Kenapa kamu bicara seperti itu? Kalau kamu inginkan Dinda pergi, sama saja kamu bunuh Abang. Di antara kalian.. bukanlah sebuah pilihan"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2