
"Dinda mau pisah ajaaa"
Bang Siregar memeluk erat tubuh Dinda, tak tega rasanya melihat adik perempuan satu-satunya itu harus menerima tekanan batin seberat ini.
"Nggak bisa sayang. Ada si kecil dalam rahim mu" kata Bang Siregar sembari mengusap perut Dinda yang masih rata.
Dinda langsung terdiam tanpa suara. Pandangannya kosong.
"Abang tau hatimu sakit, tapi percayalah.. Wira itu sayang sekali sama kamu" bujuk Bang Siregar.
Mendengar nama Bang Wira.. Dinda semakin histeris, apalagi saat ia mengingat segala kata cinta dan sumpah sayang Bang Wira untuknya. Dinda memukuli kepala dan perutnya. Ia juga menggosok tubuhnya dengan kasar.
"Bang Wira nggak cinta sama Dinda. Apapun yang Dinda lakukan nggak akan pernah buat Bang Wira mencintai Dinda. Kembalikan jantung ini. Dinda nggak mau. Dinda pengen pisah sama Bang Wira..!!!!"
Sungguh terpukul perasaan Bang Wira melihat Dinda begitu depresi karena kejadian ini. Tak terbayangkan jika dirinya harus kehilangan Dinda dan rumah tangganya hancur berantakan menyisakan tangis anak-anak yang kehilangan ibunya.
"Nggak.. Jangan Ya Allah..!! Aku nggak mau kehilangan Dinda" Bang Wira mengacak rambutnya dengan frustasi dalam kekalutan batinnya. Mentalnya ikut down seketika.
...
"Kalau kamu masuk, Dinda bisa histeris" Bang Siregar menghadang Bang Wira untuk menemui Dinda.
"Mau bagaimana pun keadaannya.. Dinda harus terbiasa denganku Gar. Kamu tidak bisa menjaganya setiap saat, karena kamu juga punya keluarga sendiri. Bagaimana pun juga Dinda adalah istriku, aku akan mengembalikan kepercayaan diri Dinda dan akan membuat Dinda sembuh seperti sedia kala" ucap Bang Wira sungguh-sungguh.
__ADS_1
Bang Siregar juga menyadari hal itu, tapi hatinya belum sepenuhnya tega melepas Dinda kembali bersama Bang Wira.
"Kertas putih yang sudah di remas tidak akan kembali halus mulus seperti semula.. Wira. Begitu juga hati Dinda yang sudah kamu hancurkan. Dengan cara apa kamu menebus semuanya. Kata cintamu bagai belati yang siap menghujam jantungnya."
"Apapun akan kulakukan asal bukan perceraian yang Dinda minta. Aku benar-benar nggak sanggup kehilangan Dinda. Aku sayang sama Dinda"
"Kalau kamu mencintai Dinda.. kenapa kamu tak bisa menyimpan nama Adinda dalam hatimu saja? Kalau kamu menyebut nama wanita lain dalam pernikahan mu, itu sama saja kamu membunuh istrimu secara perlahan. Sekarang kamu balik posisimu berada dalam posisi Dinda. Kira-kira saat ini kamu masih waras atau tidak?" tanya Bang Siregar menegur adik iparnya.
Sesak begitu terasa menusuk hati Bang Wira Tubuhnya terhuyung lemas tak kuat memikirkan Dinda.
"Aku ijinkan kamu bertemu Dinda, tapi jangan lagi kamu membuatnya semakin terluka. Cukup kejadian hari ini. Aku tebus obat dulu..!!"
"Nanti biar aku saja..!!"
...
Dinda berteriak tak karuan, tidak ingin bertemu dengan Bang Wira. Dinda merasa rendah diri dan begitu terpukul.
"Bang Wira minta maaf sayang. Abang salah, Abang memang salah. Dinda boleh pukul Abang, apa saja asal Dinda lega" bujuk Bang Wira.
"Dinda minta cerai.. Dinda minta cerai Bang" berkali kali Dinda meminta hal itu dari Bang Wira dan membuat suami Dinda itu begitu frustasi di buatnya.
"Jangan sayang.. kasihan anak kita. Jangan hanya karena kekecewaan mu itu lantas anak kita jadi korban"
__ADS_1
"Abang yang buat Dinda kecewa. Tidak pantaskah Dinda kecewa?? Dinda nggak mau mengemis cinta Abang. Kalau memang Dinda tidak di cintai.. lebih baik Dinda pergi. Lelah berjuang mempertahankan rumah tangga ini sendirian. Dinda nggak mau.. Dinda mau mati saja" teriaknya histeris sembari memukuli Bang Wira tak tentu arah.
Secepatnya Bang Wira memeluk Dinda. Hatinya terasa sangat sakit. Dinda sudah merasa rendah diri dan tidak di inginkan lagi.
"Sayang.. dengarkan Abang. Cinta itu datang tidak permisi. Seperti perasaan Abang dengan Adinda dulu. Abang sudah katakan sama kamu.. Abang menikahi Adinda karena menyelamatkan harga dirinya, sedangkan Abang menikahimu karena ingin menjaga harga dirimu. Kamu dan Adinda adalah sosok yang berbeda. Dinda adalah mantan, tapi kamu masa depan. Hanya saja perlu kamu ingat.. ada buah hati yang Adinda beri untuk Abang.. derajat itu sama dengan mu.. ibu dari anak-anak Abang. Cerita Abang dan Adinda hanya sekejap saja, itu pun penuh luka.. tanggung jawab sebagai suami Adinda.. sampai kapanpun tetap Abang pikul" dengan hati-hati Bang Wira melunakkan hati Dinda.
"Abang tau rasanya sakit sekali, karena Abang bukan perjaka. Abang ini duda. Tidak salah kamu cemburu.. Abang yang salah, sudah tidak adil dengan perasaan. Satu yang harus kamu tau dek.. setelah kebersamaan kita, tidak mungkin Abang tidak memiliki rasa sama kamu. Jelas Abang sayang, cinta sama kamu. Setiap hari ada senyum mu, setiap hari sikap bawelmu.. tidak mungkin Abang tidak luluh dengan sikap manjamu"
Dinda terisak lemas mendengar semua perkataan Bang Wira. Hatinya mengambang dan tidak bisa menerka. Retaknya sulit untuk di satukan lagi. Isaknya berhenti tapi kesadarannya semakin menurun.
"Mulai detik ini, Abang janji.. kamu satu-satunya dan tidak akan ada nama Adinda lagi..!!" ucap Bang Wira sengaja mengatakannya demi kebaikan semua. Ia tidak akan mengulangi kesalahannya. Mungkin menyimpan Adinda di lubuk hatinya yang terdalam adalah cara terbaik karena jujur sejak kejadian ini, ia begitu menyadari.. Dinda teramat sangat berharga.
"Jika sampai ada Adinda lagi terucap dari bibir Abang.. terserah maumu.. Abang akan terima" suara parau mengiring tetes air mata membasahi pipi Bang Wira.
Mata Dinda pun basah tapi terpejam tenang. Entah Dinda mendengarnya atau tidak.
.
.
.
.
__ADS_1