Sayap Perwira

Sayap Perwira
62. Berita baru.


__ADS_3

Kenapa ya pada nggak percaya kalau candaan tentara itu gk main-main. Kalau dunia readers datar saja ya itu dunia readers semua. Tapi menurut Nara.. dunia kami itu asyik sesuai porsinya. Jadi jangan menghujat apapun soal karya Nara. Mungkin lingkungan kita berbeda. Terima kasih 🙏🙏.


🌹🌹🌹


"Dek, bangun dulu..!! Ayo sarapan"


Dinda menggeliat malas. Badannya masih terasa sangat berat dan lelah.


"Dinda khan sudah mandi dan sholat Bang" protes Dinda karena Bang Wira menarik kedua tangannya agar beralih pada posisi duduk dan tidak mengantuk.


"Sarapan.. bukan sholat" kata Bang Wira sembari mengatur handuk di bantal Dinda.


"Duuhh.. masuk angin kamu nanti, rambut basah kok bisa-bisanya tidur lagi"


:


Bang Wira sedikit menyesali perbuatannya. Dinda benar-benar tidak sanggup menggerakkan badannya. Istri Wira lemas, mungkin juga karena lelah dan kondisi dirinya yang tidak seperti kebanyakan orang.


"Dinda bagaimana Wir??"


"Masih lemas Gar.. Setelah ini aku mau bawa check up ke rumah sakit dulu" jawab Bang Wira kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


...


"Kondisi jantung Dinda sedikit melemah Wira. Kalau hanya rasa lelah saja, masih bisa di atasi. Aku sudah pernah bilang sama kamu, coba kamu cari tau dulu tentang Dinda. Psikis nya sedang terhantam"


"Abang yakin?? Aku melihatnya masih baik-baik saja, tapi akan aku coba selidiki kenapa Dinda sampai seperti ini" jawab Bang Wira pada seniornya di rumah sakit.


...


Tak tau bagaimana harus mengungkapkan perasaan, sehari setelah resepsi Dinda malah harus di rawat di rumah sakit. Kini Bang Wira lebih familiar dengan suasana rumah sakit tapi tempat ini adalah satu-satunya tempat yang tidak pernah ingin ia datangi.


Sungguh terasa sakit melihat orang terkasih harus menjalani perawatan karena jantungnya sedikit melemah.


"Kamu mikirin apa sih dek? Bilang sama Abang, jangan kamu simpan sendiri beban di hatimu"


"Dinda nggak mikir apa-apa kok Bang" jawab Dinda dengan senyum cantiknya.


"Mana Asya?"


"Asya sama bibi. Nggak mungkin khan Abang bawa Asya kesini..!!"


"Kalau Dinda nggak sakit, pasti sekarang Dinda sudah main sama Asya" kata Dinda tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


Bang Wira menekan perasaan dan batinnya.

__ADS_1


"Makanya cepat sembuh, Mana mungkin bisa main sama Asya kalau mamanya sakit begini?"


Sedang asyiknya berdua, pintu kamar terbuka.


"Uluuuhh.. pakai acara sakit segala. Masa kemarin baru buat acara gede-gedean.. sekarang sudah masuk rumah sakit? Wira ninggal hutang???" ledek Bang Siregar sengaja memecah suasana.


"Dinda sedikit capek saja Bang" jawab Dinda.


"Kamu harus sehat. Kita semua mau geser ke distrik timur bulan depan" kata Bang Siregar.


"Apa sih lu Gar, basi bercandanya"


"Lu yang apa? Nggak monitor ponsel, gulat melulu. Tinggal tunggu skep kita geser."


Bang Wira mengambil ponsel di tasnya yang memang benar tidak ia buka mulai semalam.


"Laah iya, aku baru monitor"


"Apa masalahnya bro? Sahara??" tanya Bang Wira yang tidak paham mengapa dirinya seperti di mutasi ke tempat yang jauh.


"Salah satunya. Terkait hak manusia saja" jawab Bang Siregar.


"Sudahlah.. kita jalani saja. Tentara harus siap di tempatkan di manapun dan di tugaskan di manapun"


"Bukan itu masalahnya, tapi.. pengobatan Dinda" ucap Bang Wira yang seketika juga membuat Bang Siregar terharu.


:


"Tolong Nick. Kalau rumah sakit jauh minimal aku sudah tau bagaimana cara menangani istriku..!!" kata Bang Wira yang terus memohon pada Bang Nick dan seniornya.


"Paling tidak, kamu harus punya beberapa alat medis di rumah dan ada stok obat yang harus kamu bawa kesana..!!" kata dokter senior.


"Siap..!!"


-_-_-_-_-_-


Malam hari sudah tiba. Bang Nick dan senior membantu mengajari Bang Wira tentang teori di dalam kamar rawat Dinda yang sedang di temani Mbak Hazna. Terlihat Bang Wira begitu serius mendengar setiap apa yang di ajarkan senior.


"Bagaimana Wira? Kamu paham??"


"Siap Abang.. paham" jawab Bang Wira tegas.


"Apa Yo coba dari tensi dulu..!!"


"Siap..!!" Bang Wira menarik tangan Bang Siregar agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Jangan aku kenapa sih Wir?? Benar dah, aku takut kalau jadi pasienmu.. bukannya sembuh malah jadi sekarat" kata Bang Siregar.


"Aaahh diam.. banyak mulut..!!" Bang Wira pun segera memasang alat tensinya dan memompa dengan tenaga tanpa perasaan.


"Eeehh Wiraa.. urat syaraf ku mau mau lepaaaas..!!!!" pekik Bang Siregar menggelinjang di tempatnya. Bang Nick dan senior ikut bingung karena Bang Wira masih tetap dengan semangatnya yang membara.


"Wiraaa..!! Stop..!!!!!!"


"Ya Tuhan, aku khan sudah bilang nggak mau jadi pasiennya Wiraa. Aku bisa sekarat, lumpuh dan hilang ingatan" protes Bang Siregar.


"Perasaan aku pompanya pelan" kata Bang Wira tanpa dosa.


"Jangan sampai aku jadi bahan percobaan mu lagi Wir, belum sampai jadi bapak.. bisa-bisa aku sudah jadi almarhum" kali ini Bang Siregar mati kutu karena hampir celaka menjadi korban adik iparnya.


"Abang.. sudahlah..!! Dinda janji pasti hati-hati dan jaga diri agar tidak menyusahkan Abang" kata Dinda disana yang tidak enak hati melihat usaha keras Bang Wira untuk menjaganya.


"Abang tau, tapi apa salahnya juga Abang belajar. Ini adalah ilmu yang berguna. Bisa di pakai dan diterapkan di saat genting" jawab Bang Wira menenangkan hati Dinda.


:


"Obat yang tertulis di resep ini aman atau tidak untuk ibu hamil??" tanya Bang Wira.


"Semua obat pasti memiliki resiko. Tapi.. memangnya Dinda lagi hamil??"


"Aku hanya tanya.. obat ini aman atau tidak?? Aku juga tidak tau kapan Dinda hamil" jawab Bang Wira.


"Hmm.. obat yang Dinda minum ini sedikit lebih keras mungkin tingkatannya adalah medium. Ada satu hal yang harus kamu tau Wira, obat ini harus di minum kalau Dinda merasa kesakitan tapi ini tidak baik untuk janin."


Bang Wira mengusap wajahnya, perasaannya campur aduk tak karuan.


"Dengan kata lain.. Dinda tidak boleh hamil??"


"Hanya satu tahun saja Wira, karena operasi jantung nya pun masih baru. Kalau kamu paksakan, kemungkinan nya ada dua. Dinda yang tidak kuat atau bayimu bisa terlahir tapi kurang normal" jawab Bang Nick.


"Astagfirullah hal adzim" Bang Wira terduduk lemas.


"Aku sudah bilang padamu agar jauh hari mengatakan pada Dinda kalau kemarin janinnya sudah tidak ada, ini yang aku takutkan.. Dinda berharap lebih" kata Bang Nick.


Bang Wira meremas dadanya menyadari jika kemungkinan besar Dinda memikirkan calon anaknya yang 'tidak kunjung besar', tapi semua itu tidak pernah terucapkan. Kini hati Bang Wira gelisah. Pikirannya berantakan harus memikirkan langkah apa untuk menyelamatkan hati Dinda. Jika dirinya salah langkah maka semuanya akan hancur.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2