
Harap kebijakan dalam membaca..!!!
🌹🌹🌹
"Dek.. sayang..!! Ini Abang. Buka mata nya dulu..!!" bujuk Bang Wira dengan lembut meskipun ia sendiri harus menahan rasa sakit pada lukanya.
"Ijin Dan.. Biar saya bantu..!!" kata seorang anggota menawarkan bantuan.
"Nggak usah, biar saya saja" Bang Wira pun membawa Dinda masuk ke ruang kerjanya.
:
"Kenapa belum sadar juga ya Bu?" Bang Wira menggosok telapak tangan Dinda yang dingin.
"Sabar pak, ibu terlalu syok sampai tidak sadarkan diri. Saya bisa memaklumi nya" kata Bu Darto yang juga berprofesi sebagai seorang bidan.
"Iya Bu, saya yang meminta agar berita ini tidak tersebar dulu. Beberapa waktu ini istri saya mengalami banyak tekanan, makanya saya memutuskan untuk melandai kan berita.. tapi malah tidak sengaja jadi seperti ini" jawab Bang Wira dengan sedih.
Tak lama Dinda terbangun. Seketika rasa mual pun menyerangnya.
"Bagaimana rasanya? Apa ada yang sakit? Ini Abang pulang" sapa Bang Wira.
Seketika Dinda menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Aa_baang???" tanyanya seolah tak percaya dengan penglihatan nya sendiri.
"Iya dek.. ini Abang pulang" jawab Bang Wira sembari mengusap punggung Dinda.
Tangis Dinda begitu lepas, disana ia tumpahkan segala rasa dan rindunya.
"Sudah donk nangisnya, Abang khan sudah pulang" Bang Wira menghapus air mata Dinda dan memeluknya.
"Mana yang luka? Sudah baikan apa belum?" tanya Dinda masih sesenggukan.
"Halaaahh.. hanya tergores sedikit. Mereka itu hanya melebihkan berita saja, mana mungkin benda kecil yang terpental bisa buat orang sekarat??" kata Bang Wira.
"Abang jangan bohong. Selama menjadi istri Abang.. sedikit banyak Dinda sudah tau mana yang berbahaya atau tidak" jawab Dinda.
__ADS_1
Bang Wira mengambil tangan Dinda lalu meletakan tepat di atas lukanya.
"Istri Abang mulai pintar rupanya" satu kecupan mendarat di kening Dinda.
"Luka di badan masih sanggup Abang tahan, satu yang tidak bisa Abang tahan.. melihat istri Abang terluka"
Dinda mulai merasa nyaman berada dalam dekapan Bang Wira. Bu Darto pun meninggalkan Dinda dan Bang Wira dalam satu ruangan.
~
"Kenapa kamu selalu ceroboh mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia bagi Wira?? Sekarang Wira pasti marah sekali apalagi Dinda sampai pingsan dan histeris seperti itu. Abang kirim info itu ke kamu hanya sekedar memberi tau kamu, bukan untuk kamu sebar lagi sayang..!!" tegur Bang Rendra sembari menggendong baby Nala.
"Mana Nesya tau kalau itu di rahasiakan Bang"
"Sudahlah dek, sekarang kamu jangan ikut campur lagi dengan segala apapun yang berhubungan dengan Wira..!! Kamu tau khan bagaimana adatnya kalau sudah marah" ucap tegas Bang Rendra.
"Iya Bang, Nesya paham"
...
"Sakit sekali ya Bang?"
"Lebih sakit saat kamu menolak Abang" jawabnya ringan.
"Iiihh Abang. Sempat-sempatnya Abang kepikiran yang begitu, ini lukanya masih basah Bang..!!"
"Isi kepala ini jauh dari luka. saklar nya pun beda sayaang. Wajar lah" Bang Wira kembali memercing sampai memegang kuat sisi sofa saat Dinda lebih menekan lukanya.
"Itu sakit lho ya, kalau Abang koma gara-gara kamu aniaya bagaimana??"
Dinda langsung menjauhkan tangan lentiknya dari Bang Wira. Tapi Bang Wira menarik tangan Dinda kembali hingga tanpa sengaja bibir mereka sekilas saling menyentuh.
"Kamu nggak rindu Abang?" tanya Bang Wira berbisik di telinga Dinda.
Dinda menunduk tidak berani menjawab pertanyaan sang suami dan disana Bang Wira paham perasaan Dinda. Perlahan tapi pasti, Bang Wira mengecup bibir indah bersemu pink natural lalu merebahkan istri tercinta nya di sofa. Tangannya memencet kunci otomatis menutup tirai jendela dan pintu ruangan nya.
Terasa sekali Dinda begitu tegang dan ketakutan.
__ADS_1
"Abang janji nggak akan kasar lagi" ucap Bang Wira.
"Apa harus disini Bang?" tanya Dinda.
"Memangnya kenapa? Yang penting selesai dek" jawab Bang Wira sambil mengarahkan Dinda agar duduk membuka paha di atas pangkuannya.
"Tapi Bang.. Abang itu luka, belum kering juga lukanya." protes Dinda yang ketakutan jika terjadi sesuatu pada Bang Wira.
"Ya makanya kamu saja yang mulai" pinta Bang Wira sudah mulai sedikit terpancing karena Dinda terus meliuk cemas duduk di pangkuannya.
"Ayo cepat......."
Belum selesai Bang Wira berbicara, Dinda mendekatkan bibirnya dan mengecup hangat bibir Bang Wira.
Mendapatkan perlakuan khusus dari sang istri, pikiran Bang Wira pun melayang-layang. Awalnya ia hanya ingin menguji Dinda, tapi siapa sangka Dinda malah meladeni dirinya. Bukan masalah tidak menginginkan kebersamaan mereka, tapi memang benar adanya.. lukanya memang masih terasa sangat sakit.
"Abang benar mau disini??" tanya Dinda sekali lagi. Pipinya sudah semerah tomat dan memeluk Bang Wira dengan manja khas seorang istri yang tengah merajuk.
Bagaimana ini? Masa disini?? Tapi aku juga sudah tanggung banget. Mana mungkin aku bisa tahan lihat Dinda. Kalau aku lakukan sekarang, si eneng bisa ngambek lagi.
"Bang..!!" tegur Dinda menyadarkan Bang Wira.
Tanpa menunggu banyak waktu, Bang Wira langsung mengambrukan Dinda di sofa.
"Disini saja..!! Abang ganti kekesalanmu waktu itu" ucap Bang Wira seolah menyangkal rasa sakitnya, dia yang sudah memancing.. dia pun yang harus menyelesaikannya juga.
Bang Wira beranjak menindih tubuh Dinda, kedua mata itu saling menatap.
.
.
.
.
Harap di novel Nara manapun.. untuk tidak mengatakan tokoh Nara 'murahan'. Nara paling tidak suka. Alasannya silakan masuk di group atau chat pribadi. Sekian peringatan dari Nara.. harap di pahami..!!!!
__ADS_1