Sayap Perwira

Sayap Perwira
25. Serangan panik.


__ADS_3

Kalau kurang paham dengan tokoh, di harap untuk membaca karya Nara yang lain. Jangan bilang Nara asal buat tokoh baru dan buat cerita nggak nyambung..!!


🌹🌹🌹


"Apa yang sakit? Kita ke rumah sakit lagi??" tanya Bang Wira.


"Nggak Bang. Kenapa harus ke rumah sakit terus yang Abang sebut?"


"Ya karena Abang cemas ada anak kita dek" jawab Bang Wira.


"Tidur sini ya sayang..!! Jangan kemana-mana" Bang Wira menaikan kaki Dinda ke atas ranjang.


Bang Wira terdiam dan berpikir sejenak.


"Waahh, kamu harus pakai sandal jepit nih. Terus malam ini makan apa ya? Jangan terlalu keras, kasihan adik" gumamnya bingung sendiri kemudian menyambar ponsel.


:


"Yang benar saja Bang.. ini banyak sekali, kita nggak mungkin bisa habiskan makanan ini berdua.


"Kita khan bertiga dek" jawab Bang Wira selalu mengingat calon buah hatinya di dalam kandungan.


"Iya, tapi semua harus lewat Dinda dulu"


"Sudahlah.. Abang panggil teman-teman Abang untuk bantu makan. Dinda di dalam saja, makan nasi goreng" jawab Dinda.


Bang Wira menggaruk kepalanya dengan bingung, ia tak menyangka.. membeli banyak makanan malam membuatnya repot sendiri. Ada nasi goreng, mie goreng, kwetiau, batagor, syomai, capcay, fuyung hai, sate ayam, sate kambing, martabak dan masih banyak lagi makanan lain.


...


"Istri nomer berapa nih yang hamil?" tanya Bang Bayu heran melihat karpet Bang Wira penuh dengan makanan. Bang Bayu datang karena Bang Wira menghubungi nya untuk 'menyelesaikan masalah'.


"Yang nomer dua Bang. Yang nomer satu saya tinggal di gudang. Sejak kemarin sudah nyakitin.. jadi saya hukum dia biar merenung di gudang" Jawab Bang Wira.


"Bini laknat ya Wir..!!"


"Ngomong-ngomong bini satu aja belinya banyak benar Wir..!!" tegur Bang Bayu.


"Maksudnya biar Dinda pilih sendiri Bang, Dinda susah makan. Saya kepikiran, takut Dinda lemas karena kelaparan" jawab Bang Wira terdengar susah.


Bang Bayu hanya bisa nyengir, dulu saat kehamilan putranya, ia tidak pernah seheboh itu. Rasa cemas sebagai seorang suami memang ada dan itu sangat wajar tapi tidak sampai terlalu panik seperti Wira.


"Ngomong-ngomong Danyon kemana nih?" tanya Bang Rendra.


"Tadi saya sudah undang, hanya saja istrinya tidak mengijinkan untuk kumpul dengan bawahan macam kita" jawab Bang Wira lirih karena di sana ada anak buah kepercayaan Bang Wira dan duduk tak jauh dari mereka.


"Eehh Sitorus.. duduk disini.!! Kenapa kamu nyempil seperti upil disana. Saat di rumah kita ini sama saja, biasa saja. Kerja ya kerja.. di luar itu lupakan dulu ketegangan kita..!!"


"Siap Dan..!!"


Akhirnya malam itu ada sekitar lima belas orang harus menghabiskan makanan yang di beli Bang Wira.

__ADS_1


***


Pagi ini akhirnya Bang Wira membatalkan ijin cutinya dan langsung bergabung mengikuti kegiatan Sertijab.


"Wir, kamu yang ambil alih memimpin yel ya, anakku rewel aja sejak tengah malam tadi" kata Bang Rendra.


Bang Wira memang sempat mendengar tangisan Nala dan malam itu Bang Wira tidak membangunkan Dinda yang tengah terlelap karena pengaruh 'obat tidur'.


"Kenapa Nala? Sakit??" tanya Bang Wira.


"Nggak tau. Rewel aja dia"


"Mungkin badannya sakit terlalu banyak di gendong. Sekali-kali kamu bawa di spa baby. Jangan bapaknya doank yang minta di spa" ledek Bang Wira.


"Nanti aku bilang sama Nesya"


:


Suara garang Bang Wira memimpin yel pagi ini membahana di seantero Batalyon. Si Maung memang tiada tanding, di medan tugas.. ia pun di segani karena kecerdasan dan kualitas nya yang luar biasa. Suara Maung kali ini pun juga sampai membuat anak kecil di sekitarnya mundur teratur.


Perpisahan yang luar biasa saat tidak ada yang menangisi Danyon lama dan malah terfokus pada Danyon baru yang sudah sering terdengar gaungnya.


Sesuai urutan rancangan Dinda, Bang Wira harus mendemo kan tarung derajat yang ia sendiri paham betul kalau Bang Rendra tidak begitu memahami alur tarung derajat. Disana Bang Wira pun di tuntut menghancurkan beberapa benda padat seperti batako dan sejenisnya.


"Ide siapa ini? kenapa rumit sekali??" bisik Bang Wira pada Dinda.


"Kalau yang begini ini bukan ide Dinda lah Bang. Ini urusan dinas. Ide om Prayitno" jawab Dinda juga berbisik.


...


Demo sudah di laksanakan dengan sempurna, kemudian Ibu Bayu, Danyon yang baru berdiri di hadapan rekan.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu, mohon perhatian. Ini ada permintaan dari seorang istri anggota, beliau ingin menantang Lettu Wiranegara untuk 'duel maut' " kata Ibu Bayu.


"Siapa Ma? Kok ayah nggak tau?" protes Bang Bayu selaku Danyon yang baru disana.


Bang Wira berkacak pinggang, ia sudah bisa menduga pasti ibu Danyon lama yang menantangnya, sebab ia tau ibu Danyon lama memang mempunyai keahlian beladiri. Laki dan perempuan 'bertarung' tapi ia berusaha menepis semua itu karena rasa jengkelnya kembali merangkak ke ubun-ubun.


"Saya terima..!!" jawab Bang Wira tidak main-main.


Akhirnya tak lama benar saja seorang wanita keluar dengan memakai pakaian lengkap dan memakai masker.


Untuk beberapa saat Bang Wira tertegun melihat wanita yang pastinya sudah sangat di kenalnya. Tak berbeda dengan Bang Wira, Bang Bayu pun sampai ternganga. Saking tertegunnya Bang Wira, ia sampai tidak mendengar aba-aba dari wasit.


Tendangan telak langsung menghantam Bang Wira.


buugghhh..


"hhhgghh.. Astagfirullah.. Dindaaaaaa.. apa-apaan kamu ini dek.." bentak Bang Wira terus menghindari Dinda sembari memegangi dadanya yang terasa nyeri.


"Giliran Abang yang Dinda kerjain. Abang sudah berapa kali buat Dinda cemas..!!!!!" pekik Dinda.

__ADS_1


Bang Bayu sampai berdiri dan ikut tegang.


"Ma.. kenapa Dinda pakai baju bela diri. Dinda khan lagi hamil" tegur Bang Bayu pada Mey istrinya.


"Astaga yah, mama lupa kalau Dinda lagi hamil"


"Kamu gimana to ma?????" Bang Bayu terkejut sampai melompati hiasan taman di hadapannya.


"Iyaa.. sabar..!!! tapi jangan seperti ini dek. Itu.. di sampingmu ada batako, hantam saja Abang.. selesai perkara. Anak ku piye itu dek?????? Sampai ada apa-apa.. kamu Abang banting betul ini dek..!!!!!" Bang Wira berputar-putar menghindari serangan Dinda yang membuatnya panik setengah mati.


Seketika Dinda berhenti menyerang. Ia baru mengingat kalau dirinya sedang berbadan dua.


"Bang..!! Perut Dinda nyeri..!!"


"Astagfirullah hal adzim.. Dindaaa..!!!!" Bang Wira dengan sigap mendekap Dinda.


"Piye Wir???" tanya Bang Bayu.


"Nggak tau Bang, haduuhh.. saya bisa mati berdiri kalau begini caranya" Jawab Bang Wira kemudian membawa dinda ke ruang kesehatan.


:


"Bisa-bisanya kamu lupa kalau lagi hamil..!!!!!" bentak Bang Wira karena terlalu panik.


"Maung..!! Istri dan anakmu baik-baik saja. Sudah jangan marah lagi" ucap dokter Nick yang akhirnya datang ke Batalyon karena paksaan Bang Wira.


Tak lama Bang Wira menekan emosinya menyadari perasaan sang istri pasti sedang labil karena hormon kehamilan.


"Bang.. Abaaaanngg..!!!!" Dinda menggoyang lengan Bang Wira dengan manja.


"Maaf Abang..!!"


Melihat tingkah manis istrinya seketika membuat hati Bang Wira luluh. Tapi dirinya harus bersikap tegas agar Dinda tidak ceroboh lagi.


"Lain kali jangan begitu. Abang benar-benar nggak suka. Ngawur kamu itu. Sempat kamu buat ulah lagi. Abang jewer telingamu" ancam tegas Bang Wira tapi bibirnya mengecup sayang bibir Dinda.


"Ini pertama dan terakhir kalinya kamu buat Abang jantungan. Kali ini ada maaf, tapi nggak untuk lain kali..!!"


"Iya pa"


Bang Wira mengusap lembut perut Dinda.


"Jangan mau di ajak kerjasama sama mama ya dek..!!" bisik pelan Bang Wira.


"Tolong jangan kurang ajar, saya masih bujang" kata dokter Nick dengan jengkel melihat Bang Wira begitu takluk pada sang istri. Aura garang liting nya itu hilang berhamburan entah kemana sejak bertemu Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2