
Tolong jangan bikin Nara naik darah ya pembaca tercinta Nara.. yang mungkin baru muncul..!! Baca lagi yang betul.. Untuk Kamu 2 itu sah milik NaraY..!!!!!.
🌹🌹🌹
Oksigen terpasang membantu jalan nafas Bang Wira. Kejadian ini sungguh memukul jiwanya, hingga rasanya ia tak kuat lagi menerima cobaan ini, batinnya begitu tertekan.
"Bagaimana ini?? sudah pakai oksigen pun belum sadar juga" tanya Bang Bayu ikut cemas.
"Wira terlalu banyak pikiran, badannya juga pasti sangat lelah. Wajar saja kalau Wira sampai down seperti ini Bang" jawab Bang Nick pun ikut prihatin dengan keadaan sahabatnya.
...
Bang Bayu terus menemani Bang Wira hingga perlahan junior nya itu sadar.
"Wira.. badanmu sudah enakan?"
"Sudah Bang" baru kali ini Bang Wira menjawab pertanyaan Bang Bayu tidak menggunakan tanduknya.
"Abang tau, mungkin Abang tidak berhak meminta maaf.. tapi........."
"Bang.. tolong jangan ingatkan saya lagi. Semua masih terasa berat untuk saya. Mungkin jodoh saya dan Dinda hanya sampai disini. Dan yang pasti.. sebagai suami, saya yang lalai." jawab Bang Wira meskipun dalam hatinya menyimpan kesakitan yang luar biasa.
"Kalau kamu butuh apapun, jangan sungkan bicara sama Abang..!!"
"Siap Bang"
...
Malam terasa sunyi, hanya ada Bang Bayu yang sedang tidur menjaga dirinya di sampingnya. Entah kenapa hatinya masih terasa begitu kosong. Bayangan Dinda terus berkelebat dalam pikirannya.
Dinda.. kamu adalah sesuatu yang berharga dalam hati Abang, kini kamu dan Abang sudah terpisah. Jalan kita sudah berbeda sayang.
Dalam hati bisa berucap tapi belum tentu dirinya mampu menjalani kehidupan semudah dirinya berpikir.
***
Bang Wira usai melihat keadaan putrinya di rumah sakit. Tanpa sengaja melewati kamar rawat putri Dan Akbar. Kamar VIP yang jelas saja di pakai untuk kebanyakan para perwira tinggi maupun keluarganya.
Bersamaan dengan itu, Dan Akbar baru saja dari luar dan akan masuk ke kamar putrinya.
"Wira..!! Darimana?" Sapa Dan Akbar
"Siap Dan. Saya dari kamar inkubator Asya" jawab Bang Wira.
Dan Akbar menepuk bahu Bang Wira.
"Ikut saya sebentar..!!"
...
"Putri saya juga terlahir tidak mendapatkan belaian seorang ibu, tapi Alhamdulillah saya bisa mendapatkan anugerah dari Tuhan. Putri saya bisa hidup hingga usianya yang masih belum bisa di bilang matang. Apa kamu tau putri saya ini adiknya Siregar??" Tanya Dan Akbar.
"Siap.. tidak tau Komandan"
"Dia adik tiri littingmu itu"
Bang Wira terdiam sejenak. Ia melihat papan nama di ranjang gadis yang baru menginjak dewasa itu dan betapa terkejutnya Bang Wira saat membacanya hingga ia mundur selangkah.
"Dinda??"
"Iya Wira.. kenapa? Sama dengan nama istrimu?? Namanya Nahza Rahma Dinda. Kami biasa juga memanggilnya Dinda"
__ADS_1
Mata Bang Wira berkaca-kaca, ada rasa kesal menatap gadis yang terbaring tanpa daya di ranjangnya. Gadis itu sudah memiliki jantung Dinda, kini juga masih memakai nama Dinda. Sejenak Bang Wira menata hati dan pikirannya tapi semua masih terasa begitu pedih ia rasakan.
"Mohon ijin saya mendahului.. Komandan.!!" secepatnya Bang Wira meninggalkan tempat, rasanya sungguh tak sanggup membayangkan kenyataan yang ia alami saat ini.
***
Dua hari kemudian Bang Wira menggendong Asya keluar dari rumah sakit di temani kedua orang tuanya yang masih mengurus barang Asya di mobil
Tak sengaja Bang Siregar berpapasan dengan Bang Wira.
"Hei pot, Apa kabar?? Maaf belum sempat menemuimu" sapa Bang Regar yang sedang mendorong Dinda di kursi rodanya.
"Nggak masalah. Santai saja..!!" Jawab Bang Wira yang sedikit sibuk menenangkan Asya yang mulai merengek.
"Uusshh.. kenapa nih anak Papa? Asya haus??" Tanya Bang Wira pada putrinya.
"Gendongannya kurang nyaman Bang" ucap Dinda yang masih lemah.
"Boleh Dinda gendong?"
Bang Wira tidak menjawabnya, wajahnya pun datar saja tapi ia pun tak paham mengapa kemudian dirinya meyerahkan Asya pada Dinda.
Perlahan tangis Asya hilang, ia pun nyaman dalam pelukan Dinda.
"Mana botol susunya Bang?"
Bang Wira pun bagai kerbau di cocok hidungnya dan menurut saja perkataan Dinda.
"Hehehe.. dedek lapar ya? Hwuu.. kuat sekali minumnya. Cepat besar ya..!!" kata Dinda sembari menenangkan Asya.
"Maaf, saya harus segera pulang" Bang Wira bermaksud mengambil Asya dari gendongan Dinda tapi siapa sangka si kecil Asya malah menangis sangat kencang. Bang Wira seketika menarik tangannya dan berdiri mematung di depan Dinda.
Bang Regar pun tersenyum tipis melihat maung yang biasanya sangat garang kini sudah bisa selembut kapas berhadapan dengan sang putri.
"Kau bisa diam atau tidak?" Tegur Bang Wira.
Bang Regar menegakan punggungnya melihat ayah Bang Wira sudah tiba disana.
"Selamat siang Komandan..!!"
"Selamat siang"
"Lho.. kenapa Asya??" Tanya Papa yang kemudian langsung memahami situasinya. Tapi melihat wajah Bang Wira yang datar jelas Papa bisa menyimpulkan bahwa putranya itu kemungkinan besar tidak menyukai cucunya dalam dekapan Dinda.
"Saya duluan..!!" Ucapnya pamit meninggalkan Asya dan papanya bersama Siregar dan Dinda.
Papa dan Bang Siregar saling menatap kemudian beralih menatap Dinda yang sejak tadi terus saja mengajak bicara Asya.
:
"Ya karena dia sok sekali bisa menenangkan Asya. Memang siapa dia?? Ibunya juga bukan, sembarangan memakai nama Dinda dan yang paling parah dia hidup karena memakai jantung istriku Dinda"
"Huuusstt.. nyebut kamu le..!! almarhumah Dinda sudah memberikan amanat padamu untuk memberikan tubuhnya jika berguna bagi orang lain, dan ternyata Dinda yang ini yang menerima hadiah dari istrimu. Lalu kenapa kamu memusuhinya??" Tegur sang Mama.
"Nama Dinda itu pemberian ibunya, kamu jangan sensi begitu"
"Sudahlah Ma, aku nggak mau bahas ini lagi" nada keras Bang Wira sudah kembali pada dirinya yang kaku dan dingin.
Mama dan Papa hanya saling lirik tidak berani terlalu banyak menanggapi sifat putranya yang terkadang brutal seperti preman pasar.
Wajah garang Bang Wira langsung berubah menjadi sendu saat menatap wajah baby Asya si pelukannya.
__ADS_1
"Wajahmu seperti mama dek. Papa nggak kuat..!!" Bang Wira bersandar lemas di jok mobil belakang sambil menutupi wajah dengan sebelah lengannya.
"Sini biar mama yang gendong Asya. Kamu tidur saja..!! Kalau kamu pingsan lagi.. Mama sama Papa nggak kuat angkat kamu le" kata Mama.
Bang Wira hanya diam. Ia hanya belum sanggup memandangi wajah putrinya yang begitu mirip dengan Dinda.
***
Tengah malam Bang Wira menyusui Asya. Hanya ada dirinya dan Asya. Orang tuanya ada kunjungan kerja besok sehingga harus segera kembali ke kota sebelah.
Rasa lelah tak terkira merajai tubuhnya, tapi melihat Asya terbangun di malam hari rasanya tidak tega jika membiarkan putri kecilnya 'bermain' sendiri.
Susu di botol belum juga habis tapi Asya sudah menangis dan Bang Wira sama sekali tak tau apa penyebabnya.
:
Sudah ada satu jam Asya menangis dan ia begitu frustasi karena tidak paham keinginan putrinya.
Tiba-tiba terlihat dalam pikirannya untuk menghubungi Bang Regar.
"Hallo Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. nggak tau adat lu jam satu begini telepon gue?????" tanya Bang Regar di seberang sana.
"Ehmmm... Dinda ada?"
"Haaahh.. lu cari gue apa Dinda??"
...
Bang Regar terpaksa menggendong adiknya masuk ke rumah Bang Wira. Dinda baru saja keluar dari rumah sakit sore tadi dan belum bisa beraktivitas berat.
"Cari mati lu tengah malam paksa gue bawa Dinda. Ini perempuan pot..!!"
"Bacot lu nanti aja. Anak gue nangis terus. Nggak paham gue" jawab Bang Wira masih menenangkan Asya yang belum berhenti menangis.
"Sini Bang..!!" pinta Dinda.
Baru saja tubuh Asya tersentuh tangan Dinda, si kecil Asya langsung terdiam membuat Bang Wira jengkel bukan main.
"Apa-apaan nih??? Ngerjain papa kamu ya??" gerutu Bang Wira.
"Eghm.. Abang.. Dada Dinda sakit Bang..!!" ucap Dinda tiba-tiba membuat dua pria itu panik.
"Regar.. kamu bawa saja Dinda ke kamarku. Biar istirahat di kamar sama Asya" kata Bang Wira.
"Ke kamar lu Wir??? Nah lu?????"
"Gue sama lu di ruang tamu. Masa iya gue satu kukusan sama Dinda??? Ikhlas lu???" jawab kesal Bang Wira.
"Nah kalau takdir????????"
"Abaaaanngg..!!!" pekik Dinda menarik celana Bang Regar.
"Iyaaa.. iyaaa"
"Moncong lu bener-bener ya" Bang Wira sampai bersungut kesal.
.
.
__ADS_1
.
.