
"Dek.. sayang..!!" Bang Wira menggapai tangan Dinda yang beranjak dari tempat tidur dan berniat meninggalkan nya sendirian.
"Dinda lelah Bang.. Dinda lelah merindukan Abang tapi hati itu tidak pernah untuk Dinda" jawab Dinda dengan ekspresi wajah datar seakan sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Berkali-kali Dinda katakan.. kalau bisa memilih.. Dinda tidak ingin jantung ini.. Dinda tidak mau hutang budi..!! Kembalikan jantung ini pada pemiliknya..!!!!!"
"Abang salah..!! Abang yang keterlaluan..!!" Bang Wira mulai ketakutan. Bang Wira menarik Dinda ke dalam pelukannya. Teringat saat Dinda ingin melompat ke tepi jurang karena rasa frustasinya.
Aku selalu terlupa.. padahal sejak dulu kamu memberi kode keras bahwa kamu paham dengan keadaan ku Dinda.. tapi aku tak kunjung berubah dan kadang masih selalu terbayang kenangan tentang Adinda.
"Dinda sudah tidak ingin dengar tentang semua itu Bang. Dinda ingin kita pisah" pekik Dinda.
"Dek.. nggak baik ngomong gitu sayang. Kamu lagi emosi. Kita bicara dulu ya..!!" bujuk Bang Wira dengan hati-hati.
"Dinda paham istri Abang sudah tidak ada, tapi Abang hanya mendatangi Dinda hanya karena rindu Mbak Adinda" pekik Dinda.
"Itu nggak benar dek. Sumpah.. Abang benar-benar sayang kamu. Abang sadar melakukan apapun di setiap harinya sama kamu" Bang Wira terus membujuk Dinda.
"Dinda nggak pernah meminta Abang melupakan Mbak Adinda karena Dinda sadar.. Dinda ini yang kedua, tapi bisakah Abang lebih banyak sadar untuk tidak sering mengingatnya. Kenapa Dinda hanya menjadi boneka pelengkap hidup Abang???"
Bang Wira tercengang bingung. Bagian mana lagi yang Dinda permasalahkan kali ini.
Melihat suaminya tak menyadari apa kesalahannya.. Dinda memberikan video dan rekaman suara yang selalu ia abadikan dan itu yang membuatnya begitu sakit hati.
▶️ Terima kasih sudah memberi anak-anak yang lucu. Pemberianmu ini segala-galanya buat Abang.
▶️ Kamu yang tercantik dan terbaik sayang.
▶️ Malam ini Abang sangat merindukan mu.. Apa Abang harus menemui Dinda untuk menyelesaikan nya?
▶️ Abang rindu sifat pengertian mu.
deg..
Rasanya Bang Wira ingin mati bunuh diri saat Dinda merekam gumamnya saat merindukan Adinda.
__ADS_1
"Lalu lihat video itu..!!" perintah Dinda membuat sekujur tubuh Bang Wira panas dingin.
📽️. Rekaman saat Bang Wira begitu menginginkan nya namun nama Adinda yang selalu terlepas dari bibir Bang Wira.
"Tak ada yang melebihi kamu Adinda sayang..!!"
"Astagfirullah..!!" Bang Wira hampir tak bisa bernafas saking bingungnya menghadapi amarah Dinda karena ulahnya sendiri.
"Sayang.. nggak semua yang kamu dengar itu benar. Jangan kamu ambil hati ya..!!"
"Kalau Dinda bilang.. Bang Arman adalah pria terbaik yang pernah Dinda kenal.. Abang bisa menerimanya??"
Bibir Bang Wira terkunci rapat. Kini ia sungguh merasakan sakit padahal pertanyaan Dinda hanya sekedar perumpamaan.
"Tidak enak menjadi yang kedua. Dinda ingin menenangkan diri sembari mengintrospeksi kecemburuan Dinda. Maaf.. Dinda egois, Dinda ingin memiliki hati Abang sendirian..!!" Dinda menyeka air matanya kemudian berlalu keluar dari kamar.
~
"Kamu mau bawa anak-anak kemana?" tanya Bang Wira.
"Kemana pun asal hati Dinda bisa tenang..!!"
Dinda tidak mendengar nya, ia menggendong Asya.
"Kalau kamu memang ingin menenangkan diri, tolong tanpa Asya.. dia anak Abang sama Adinda"
"Oohh.. begitu Bang?? Haruskah Abang mengingatkan kalau Asya putri Abang sama Mbak Adinda? Terima kasih atas penjelasannya Bang. Sekarang Dinda tau posisi Dinda di rumah ini" kata Dinda sembari menurunkan Asya dari gendongan nya.
"Dindaa..!!!!!"
Suasana hening saat Bang Wira membentak Dinda dengan kuat.
"Cukup..!! Abang akui.. Abang memang salah. Tapi semua ini bukan patokan kalau Abang tidak mencintai kamu dek. Abang sudah bilang.. kamu satu-satunya"
"Kalau Dinda memang satu-satunya. Kenapa selalu Mbak Adinda yang Abang sebut??? Kenapa Mbak Adinda yang selalu Abang ingat??? Sampai kita bersama tetap ada nama Adinda.. Adinda.. dan Adinda lagi..!!!" pekik Dinda histeris.
__ADS_1
Dinda menggendong Tian sembari menggandeng Nando di ikuti bibi yang bingung harus berpihak pada siapa. Tangis ketiga bocah begitu nyaring mengisi seluruh ruangan.
"Jangan bawa anak-anak..!! Anakmu ketakutan dek..!!!" Bang Wira mengikuti langkah Dinda.
Baru beberapa langkah Dinda berjalan, langkahnya terhenti.. Dinda memegangi dadanya dan ambruk di lantai dengan keras. Tian dalam gendongan Dinda pun hampir terjatuh kalau saat itu Bang Wira tidak sigap mengambilnya.
"Ya Allah.. kenapa jadi begini??"
"Bibi tolong jaga anak-anak. Saya bawa dinda ke unit kesehatan"
:
Seorang perawat meninggalkan Dinda, dokter dan Bang Wira usai memasang perban di kepala Dinda.
"Tingkat stress yang tinggi Wira. Untung segera di bawa kesini. Jantungnya sedikit 'bereaksi'. Kalian bertengkar?" tanya dokter senior.
"Kami habis ribut Bang" ucap jujur Bang Wira.
"Pantas. Tekanan darah istrimu tinggi sekali. Hindari segala hal yang memicu tekanan jantung dan stressnya..!!" kata dokter menjelaskan pada Bang Wira.
"Keadaan istrimu juga menurun Wir" dokter menggantung stetoskop di belakang lehernya usai memeriksa Dinda.
"Siap Bang"
:
Bang Wira memegangi tangan Dinda. Hatinya hancur, berantakan tak karuan.
"Ini hati Dinda sayang. Abang hanya manusia biasa, bukan malaikat. Andaikan bisa hati ini kamu baca.. kamu boleh membaca semuanya, tentang kamu.. juga Adinda. Abang memang masih memiliki rasa untuk Adinda.. sekali lagi Abang katakan, karena Adinda sudah memberikan dua buah hati untuk Abang tapi bukan berarti kamu tidak berarti. Abang memujinya bukan karena kamu tidak ada harganya. Malah hadirmu segala-galanya.. terlepas dari jantung itu milik siapa" Bang Wira terus mengusap tangan Dinda.
"Bagaimana pun keadaan kita.. sebagai pria yang pernah bersama Adinda.. tidak pantas jika Abang mengesampingkan dia setelah apa yang sudah kami lewati. Kesalahan terbesar Abang adalah masih belum bisa memisahkan cinta untukmu dan Adinda. Jika ada kata-kata.. dalam hati suami.. di antara semua istrinya ( jika memiliki lebih ).. pasti ada satu paling ia cintai. Dengan berat hati Abang katakan, itu jujur adanya. Tapi yang harus kamu tau.. dalam hati Abang.. itu adalah kamu" Bang Wira menunduk berurai tangis. Sungguh berat memiliki dua hati dalam hidup.
.
.
__ADS_1
.
.