
"Nihil Dan.. "
Ini sudah hari ke sembilan pencarian Dinda dan ini hari terakhir pencarian, para anggota harus kembali ke Batalyon karena memang tugas mereka sebagai prajurit tak hanya tentang mencari keberadaan Dinda saja tapi jelas saja ada hati seorang suami yang tidak puas dengan pencarian ini.
"Baiklah, kita kembali dulu dan saya akan mengajukan dinas luar untuk mencari keberadaan istri saya" jawab Bang Wira.
"Siap Dan. Saya siap mengikuti perintah" jawab para anggota.
***
Setibanya di Batalyon, Bang Wira sama sekali tidak ingin bertemu ataupun berurusan dengan Bang Bayu. Setelah lapor kedatangan secara resmi, Bang Wira langsung meninggalkan tempat tanpa memandang Bang Bayu lagi.
"Wira.. saya mau bicara..!!"
"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan Bang..!!" jawab Bang Wira.
"Wira.. kalau kita terus seperti ini, tidak bisa menyelesaikan masalah" kata Bang Bayu.
"Masalah itu ada sejak Abang lalai. Sekarang saya minta Abang masukan nama saya untuk aplos tugas ke wilayah Utara...!!" pinta Bang Wira.
"Kamu tau Dinda mengarah kesana???"
"Terakhir saya menumpas pemberontak disana, dan pasti mereka membawa istri saya ke markasnya" jawab Bang Wira.
"Wira.. masih ada kemungkinan Dinda mengarah ke barat"
"Tolong buatkan saja saya surat perintah. Kalau sampai ada sesuatu dengan nama Abang nantinya, saya sendiri yang akan melepas seragam saya..!!" ucap Bang Wira.
"Saya tidak takut jika harus kehilangan seragam saya ini Wira. Saya akan bertanggung jawab atas semua kesalahan saya. Saya yang akan siapkan semua berkas surat dinas mu. Selama saya masih menjabat Danyon disini.. kamu aman Wira" jawab Bang Bayu dengan tegas.
"Siap. Terima kasih" Bang Wira pun berlalu pergi tak peduli dengan lelah di tubuhnya.
Bang Bayu menghela nafas panjang.
Saya paham perasaan mu Wira, mungkin saya akan melakukan hal yang sama jika sampai terjadi sesuatu pada istri saya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Dinda.. saya tidak akan memaafkan diri saya seumur hidup saya Wira.
***
"Kalian kembali ke Batalyon besok.. sudah tiga bulan kalian ikut bersama saya. Maaf.. kalian harus meninggalkan keluarga karena masalah saya" ucap Bang Wira setelah tiga bulan pencarian mereka.
"Ijin Dan.. kalau boleh usul biar yang sudah berkeluarga saja yang kembali. Kami yang masih lajang biar ikut dengan Komandan." jawab Pratu Fian.
Bang Wira menimbang-nimbang usul anak buahnya.
"Kalian pun punya keluarga, kembalilah kalian ke Batalyon..!!" ucap Bang Wira.
__ADS_1
"Ijin Dan.. jangan merasa tidak enak dengan kami. Dari kejadian ini, kami bersepuluh ini jadi menyadari arti sebuah keluarga. Anak istri kami paham, bapaknya berangkat dinas dan milik negara ini. Kami menjaga negara, sembari mencari pahlawan yang telah hilang" jawab Serma Amar.
Ada rasa haru dalam hati Bang Wira. Sungguh jiwa setia prajurit memang tiada duanya.
"Terima kasih. Biar Allah yang balas segala kebaikan kalian..!!"
***
Bang Wira bersandar pada sebatang pohon di titik kesekian tempat pencarian mereka. Kini sudah di bulan ke enam mereka mengintai di bagian ujung selatan negara ini.
"Dan, makan dulu ya..!!" bujuk Serma Amar.
"Terima kasih pak, nanti saja..!! saya belum lapar" jawab Bang Wira yang tidak sesuai dengan keadaan tubuhnya yang sudah melemah.
"Besok usai sudah pencarian kita Pak dan hingga saat ini, belum ada tanda istri saya di temukan"
Pak Amar menepuk bahu Bang Wira. Saat ini kata sabar pun tidak akan pernah cukup untuk menenangkan batin komandan mudanya itu. Di dalam sana pasti ada hati yang begitu tersiksa menjalani hari dari pada letih badan yang sepuluh orang ini rasakan.
"Jika sabar belum cukup, mungkin sujud dan pasrah adalah jalan terbaik Dan. Mari saya temani sholat" ajak Pak Amar.
...
Bang Wira terisak sesak dalam sujudnya membuat para rekannya sampai ikut menitikan air mata melihat cinta komandan mereka untuk sang istri.
Tak lama usai sholat, Bang Wira menguatkan batin untuk pencarian terakhir nya.
...
Samar terdengar ada suara mengejan di balik derasnya suara hujan. Telinga tajam itu mendengarnya.
deg..
"Dinda.. itu pasti Dinda" kaki Bang Wira berjalan mengikuti suara hati. Diikuti langkah rekan-rekan nya, ia mendatangi sumber suara.
Mata elang Bang Wira membulat tajam melihat sesosok wanita merangkak memegangi perutnya menuju arah sungai.
"Dindaaa..!!!!!" Bang Wira menurunkan rangselnya dengan kasar, hanya senjata saja yang masih tersampir di lengannya.
Dinda menoleh ke arah suara yang menyapanya, suara yang begitu ia rindukan. Hanya senyum tipis tersungging dari bibir istri Lettu Wiranegara.
Bang Wira segera berlari menghampiri Dinda yang sangat kotor, terkena lumpur dan air hujan.
"Buka tempat darurat..!!!" Teriak Bang Wira.
Beberapa anggota berjaga, sedangkan sebagian lagi dengan cepat membangun tempat untuk berteduh.
__ADS_1
Bang Wira membawa Dinda menuju sungai dan memandikan istrinya itu.
"Dinda rindu Abang" ucap Dinda kemudian bersandar pada dada bidang suaminya yang juga basah kuyup.
"Abang juga. Sangat.. sangat.. dan sangat merindukanmu" jawab Bang Wira menahan sakit dalam dada.
Sekali lagi Dinda mengejan.
"Sabar sebentar sayang" Bang Wira segera membawa Dinda ke dalam tempat daruratnya.
Beberapa orang anggota ikut sibuk menyiapkan segala sesuatu yang diminta komandan mereka.
Bang Wira membongkar isi tasnya dan segera mengganti pakaian Dinda yang basah.
Terdengar suara letusan senjata dari kejauhan, fokus Bang Wira terpecah.
"Komandan fokus saja dengan istri, biar kami yang tangani mereka..!!" kata Serma Amar.
Bang Wira pun membantu Dinda. Sekuat-kuatnya.. sebisanya ia menyelamatkan Dinda.
:
"Bang, Dinda nggak kuat lagi..!!"
"Jangan bilang begitu sayang.. kamu harus kuat..!!" bujuk Bang Wira.
Dinda menangis mengingat ibunya. Bayang peluk sayang sang ibu seakan menghangatkan tubuhnya. Selama ini ia hanya mendapat curahan kasih sayang sang ibu tanpa belai sayang sang ayah.
Sekali lagi Dinda mengejan kuat, cairan hangat menyembur deras dan melesat dari rahim Dinda sesosok bayi mungil perempuan tangannya.
"Allahu Akbar.." gemetar tangan Bang Wira menerima gadis kecil di tangannya. Ia segera membasuh tangannya kemudian menangani bayi kecilnya hingga terdengar suara tangis lirih. Bayi yang begitu kecil dalam kelahiran usia delapan bulan dalam kandungan.
"Alhamdulillah.." ucap Bang Wira kemudian menidurkan si cantik dalam sarung yang selalu ia bawa.
Tak lama Dinda mengejan. Darah sudah tak bisa terkontrol lagi. Tanpa aba-aba, keluarlah sesosok bayi mungil laki-laki. Wajahnya tampan seperti papanya.
Bang Wira berusaha keras membantu jagoan kecilnya, namun sayang.. beberapa menit usahanya untuk menolong sang jagoan tapi tidak membuahkan hasil. Derai air mata Bang Wira tak terbendung. Di peluknya sayang jagoan pertamanya. Bang Wira masih bisa menciumi bayi kecilnya yang mungil.
"Papa sayang dedek. Sayang sekali..!!" ucapnya begitu pilu mendekap erat sang putra kemudian menciumnya lagi.
.
.
.
__ADS_1
.