Sayap Perwira

Sayap Perwira
90. Untuk sang kekasih.


__ADS_3

"Keluar dari kamar ini..!!!!!!!!!"


"Adiiitt..!!!!!!"


Pratu Adit segera masuk setelah mendengar teriakan komandannya.


"Siap..!! Ijin arahan Komandan"


"Kamu darimana????" bentak Bang Wira.


"Siap.. dari toilet"


"Bawa keluar perawat itu, bisa-bisanya kamu kecolongan."


:


Bang Wira kesal sampai hatinya terasa panas. Mira yang dulu terlihat tenang kini sudah menjadi agresif di hadapannya.


"Kapan kamu bangun dek? Tadi kamu dengar sendiri khan kalau Mira seberani itu. Sekuatnya pria.. pasti akan mudah goyah juga jika terjebak bujuk rayu wanita. Hanya kamu yang pantas dan berhak merayu suamimu ini" ucap Bang Wira mengusap perut Dinda.


"Abang merasa hina saat bukan kamu yang merayu Abang. Abang rindu tingkah usilmu dek. Rindu omelanmu"


***


Dua Minggu sudah Dinda belum membuka matanya. Ini adalah batas akhir ketetapan dari dokter dan segala peralatan medis di rumah Bang Wira harus di kembalikan pada pihak rumah sakit.


"Saya beli alat ini Bang. Berapa pun harganya" pinta Bang Wira penuh permohonan.


"Ini milik pihak rumah sakit, tidak bisa di perjual belikan" kata senior Bang Wira.

__ADS_1


"Lewat dari dua minggu perawatan juga tidak baik. Obat yang masuk ke tubuh Dinda sangat keras.


Kaki Bang Wira gemetar, ia sangat ketakutan. Masih dalam kekalutan batinnya.. Mira melepas alat medis di tubuh dinda dan itu membuat Bang Wira semakin tersulut emosi.


"Jauhkan tanganmu dari Dinda..!!" bentak Bang Wira.


"Saya hanya menjalankan prosedur yang ada." jawab Mira dengan tenang.


Bang Aaron sigap membawa Mira keluar dari kamar sebab wajah Bang Wira sudah tidak bersahabat.


:


Stress melanda hati sampai Bang Wira mengunci kamarnya tak memperbolehkan para tenaga medis mengambil alat penopang kehidupan dari tubuh Dinda.


"Wira.. buka dulu pintunya. Kita bicara baik-baik..!!" Bang Siregar mencoba membujuk Bang Wira, sebab saat melihat tenaga medis.. emosi Bang Wira jadi meningkat tajam.


"Jangan bujuk aku. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi kalau hanya ingin bicarakan tentang alat ini" jawab Bang Wira. Dirinya meringkuk memeluk lututnya sudah tak tau harus bagaimana lagi meminta agar Dinda bisa sadar kembali.


"Pulanglah Regar.. aku tidak butuh orang yang pesimis dengan keadaan Dinda. Istriku pasti sembuh" ucap kasar Bang Wira.


"Wiraaa..!!!!!!"


"Keluarlah dari rumahku..!!!!!!!" teriak Bang Wira, ia beringsut ambruk menangis meraung meluapkan perasaan batinnya yang begitu tertekan.


"Dindaaa.. tolong bangun. Abang sudah tidak kuat lagi merasakan semuanya. Kalau kamu marah sama Abang.. Abang akan terima, tapi Asya dan Tian butuh kamu sayang" isaknya terdengar begitu sedih.


Dari luar, suara Tian yang menangis kencang semakin membuatnya berantakan. Bayinya sangat membutuhkan ibunya. Bang Wira menutupi kedua telinganya. Ada rasa sakit yang tidak bisa ia jabarkan.


Tak lama bunyi suara dari alat medis di dalam kamar terdengar nyaring. Bang Wira tersentak dan secepatnya bangkit melihat keadaan Dinda.

__ADS_1


Ada sebulir bening menetes dari ekor mata Dinda yang terpejam cantik. Bang Wira mengecup tetesan air mata itu dengan sayang.


"Assalamualaikum cantik ku. Apa kabarmu disana?" sapa Bang Wira.


"Kalau sudah puas kamu bermain disana.. cepatlah kembali disini, Abang dan anak-anak membutuhkanmu." Bang Wira kembali seseggukan melihat tetes air mata Dinda. Ia luruh memeluk Dinda dengan erat.


"Papa sayang kamu ma.. sangat sayang"


Ada tangan lembut membelai rambut cepak Bang Wira.


"Wa'alaikumsalam"


"Manis sekali kata-katamu pa" jawab lirih dari suara yang jelas sekali siapa pemiliknya.


"Allahu Akbar.. Dindaa..!!" Bang Wira terkejut melihat Dinda membuka matanya.


"Mama mau anak perempuan pa" ucap Dinda masih belum ada tenaga.


"Benar-benar kerepotan besarnya Abang. Lahir satu anak saja buat Abang nyaris jantungan. Bercandamu nggak lucu"


"Ganteng banget sih Bang"


"Ya Allah gustii.. Sebenarnya kamu ini mampir ngopi di warung mana? Kenapa jadi ngelindur nggak jelas gini dek" cemas sekali Bang Wira melihat Dinda.


"Kamu nggak nego macam-macam sama malaikat khan?" tanya Bang Wira tertular pikiran Dinda yang belum sepenuhnya pulih.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2