
Nafas Dinda mulai tak beraturan sedangkan Bang Wira sudah terbuai dalam mimpinya usai menuntaskan hasrattnya. Suara dengkuran lumayan berisik menggelitik telinga.
"Nyaman sekali ya tidur Abang. Sudah lega?" gumam Dinda sembari membelai kuncung Bang Wira.
Dinda ingin beranjak dari tempat tidur tapi dadanya mulai terasa sakit. Ia menarik nafas dalam-dalam agar tidak semakin terasa sesak.
:
"Malam ini bapak mau makan apa Bu?" tanya Bibi.
"Masak sop gurame sama tumis kangkung aja bi. Asya dan Nando juga pasti suka" jawab Dinda sembari mengeringkan rambut.
"Baik Bu, Bibi masak dulu"
Dinda berjalan pelan masuk ke dalam kamar. Badannya terasa menggigil dan nafasnya seakan tersendat.
Dalam keadaan rambut yang masih basah, Dinda langsung merebahkan dirinya.
~
Bang Wira menggeliat dari tidurnya, badannya sudah terasa lebih ringan. Ia menoleh melihat Dinda yang tengah nyenyak dalam tidurnya.
"Lho.. rambutmu basah sayang. Sudah mandi??" tanya Bang Wira.
Dinda sedikit merespon dengan senyum. Bang Wira mencium kening dan bibir Dinda.
"Kenapa nggak mau lihat Abang? Kamu nggak tidur khan?" Bang Wira membelai rambut Dinda.
Melihat Dinda, perasaan Bang Wira menjadi tidak enak. Agaknya ia sedikit menyadari apa yang terjadi pada sang istri.
"Ini kenapa? Jujur sama Abang..!! Ada yang sakit ya?"
Perlahan Dinda membuka matanya dan menguatkan diri menatap mata Bang Wira.
"Sakit sedikit, nggak apa-apa Bang. Harus terbiasa dengan keadaan seperti ini" jawab Dinda.
"Ini nggak benar dek. Kalau memang kamu nggak bisa 'terima dari Abang'.. Abang nggak apa-apa nggak diselesaikan disana. Kamu juga jangan terlalu menuntut soal anak lagi. Ada Asya, Tian.. sekarang juga ada Nando. Kurang apalagi??" ucap Bang Wira tak habis pikir.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang mengganjal dalam hatimu? Bilang sama Abang, Jangan ada yang di tutupi"
"Sungguh Abang ingin dengar?"
"Iya"
Dinda sedikit bergeser dan Bang Wira bersandar dan membantu Dinda agar bisa bersandar padanya juga.
"Seberapa berarti kah Dinda untuk Abang?"
"Apa maksud mu? Jelas kamu sangat berarti"
"Seberapa rindu Abang sama Mbak Adinda?" tanya Dinda.
"Sayang.. nggak baik membahas yang sudah tiada. Sekarang hidup Abang hanya kamu. Rindu untuk Adinda pun tak ada artinya lagi, sudah ada kamu yang memenuhi semua" jawab Bang Wira.
Dinda tersenyum getir, jawaban yang tak sesuai dengan kenyataannya.
"Ada apa?" Bang Wira mulai merasa tidak nyaman. Dirinya terus berpikir kesalahan apa yang sudah di buatnya sampai Dinda bertanya hal di luar dugaannya.
"Dinda ingin di sayang tanpa bayang-bayang dan ingin di anggap sehat, tidak menjadi beban Abang. Dinda ingin menjadi mbak Dinda yang melekat kuat dalam hati Abang sampai akhir hayatnya" jawab Dinda.
"Nggak ada Bang. Nggak apa-apa" mata Dinda mulai berkaca-kaca dan Bang Wira semakin yakin ada yang tidak beres di balik sikap Dinda yang semakin hari semakin aneh saja.
"Abang salah apa? Bilang sama Abang biar nggak ulangi lagi salahnya. Kita bangun rumah tangga ini untuk saling menyayangi, bukan untuk ribut" bujuk Bang Wira.
"Kenapa Abang diam-diam suka memandangi foto mbak Adinda di folder lain. Kenapa Abang terus memujinya dan terus katakan cinta untuk mbak Adinda?"
deg...
"Kapan? Nggak pernah dek" jawab Bang Wira sembari mendekap Dinda lebih erat, jantungnya mulai tak terkontrol lagi.
"Kita sudah sering membahas hal ini. Cinta Abang hanya untuk kamu. Tidak ada Adinda lagi. Kasihan dia"
Dinda terdiam menahan perihnya sendiri.
Batin Bang Wira mulai ketakutan.
__ADS_1
Apa Dinda tau setiap malam aku menyisakan waktu untuk Adinda?
flashback on..
Dinda sudah tidur, Bang Wira keluar dari kamar dan merebahkan diri di sofa, ia membuka folder yang selalu ia kunci rapat menggunakan sandi tanggal lahir Dinda. Ia mulai memandangi wajah Adinda di folder tersebut, kadang juga melihat video dimana saat ia usil mengganggu sang istri yang tengah beraktifitas di dalam rumah.
"Selamat malam sayang, bagaimana kamu sama jagoan kita disana? Abang rindu, setiap hari selalu rindu" ucapnya dengan senyum getir.
Setiap malam Bang Wira menyisakan waktu untuk memandangi foto itu dan kadang mengoceh sendiri seperti orang gila.
"Sayangnya Abang, disana dingin?? Abang selalu kirim do'a untuk kamu sama anak kita. Tunggu Abang disana ya cantik, sholehah nya Abang. Abang ingin terus bersamamu di surga. Terima kasih sudah memberikan putra putri lucu untuk Abang. Abang sangat mencintai kamu, sangat.. dan selalu.. sayang"
Bang Wira menangis tersedu-sedu mengingat kematian Adinda yang begitu membuatnya trauma dan pedih hingga rasanya ia takut untuk menjalani hidup ini karena rasa bersalahnya.
"Astagfirullah hal adzim..!!" ucapnya beristighfar saat mengingat Dinda. Istri yang kini mendampinginya.
Sebentar lagi Dinda akan melahirkan, rasa cemas ku untuk Dinda semakin bertambah. Aku takut kehilangan Dinda, aku sangat menyayangi Dinda melebihi apapun. Adinda sudah tidak ada, meninggalkan pedih dan penyesalan tak terkira. Kini aku hanya punya Dinda.. satu-satunya pengisi ruang hatiku., dia nyawa dan hidupku. Gadis kecilku yang cantik.. Dinda.
flashback off..
Dinda terdiam mengingat Bang Wira yang begitu mencintai almarhumah Adinda.
"Pernahkah Abang mendatangi Dinda saat Abang begitu merindukan mbak Adinda?" tanya Dinda membuat Bang Wira tercekat.
"Apa sih kamu ini?" sungguh saat ini jantung Bang Wira nyaris terlepas mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Nggak lah"
"Dinda tau Bang"
Astagfirullah hal adzim.. kenapa bisa jadi begini? Apa aku kurang menyimpan hatiku sampai Dinda peka dengan keadaan ku? Apakah ini yang membuatnya ingin terus seperti Adinda. Ya Allah, betapa jahatnya aku sudah menyiksa batin istriku sendiri. Mungkin dia ingin anak lagi agar sama seperti Adinda karena takut aku tidak tulus mencintainya.
.
.
.
__ADS_1
.