Sayap Perwira

Sayap Perwira
74. Karena kamu.


__ADS_3

"Iya.. Ini anak Bang Martin. Puas Abang..!!!!" teriak Dinda.


"Kenapa kamu seperti ini Dindaaa..!!!" Bang Wira ingin meluapkan amarahnya tapi Bang Arman menghadang Bang Wira karena cemas Wira akan menyakiti raga istrinya.


"Jangan sakiti dia. Dia sedang hamil Wira..!!"


"Kau tak usah banyak bicara Bang..!!" Bang Wira sungguh terbakar amarah sampai tidak bisa berpikir jernih.


"Wanita macam apa kau ini Dinda..!! Ini khan laki-laki pilihanmu? Jangan pernah kembali lagi dalam kehidupan ku..!!" Bang Wira meninggalkan Dinda dan Bang Arman membawa amarah memuncak dalam dada.


:


"B******n kamu Dinda. Aku benar-benar mencintaimu, menyerahkan hatiku untuk kamu.. tapi kenapa kamu mengkhianati aku?????" Bang Wira berteriak sekencangnya meraung-raung di dalam mobil tak sanggup membayangkan kebersamaan Dinda dan Bang Arman. Apalagi ia sangat mengharapkan anak dari Dinda.


"Dindaaa.. Dindaaaaaaaa....!!!!!!!!!" Bang Wira tertelungkup di kemudi mobil, badannya sungguh lemas.. pikirannya berantakan.


Ia menumpahkan tangisnya yang begitu pedih. Sakitnya hingga menembus jantung.


Sampai sekitar setengah jam hatinya perlahan tenang.


"Astagfirullah hal adzim.. apa yang aku lakukan?? Aku bicara apa?? Nggak mungkin khan istriku berbuat seperti itu. Ini pasti ada yang tidak beres. Dinda tau darimana aku ada di rumah sakit mengantar Anne??" gumam batinnya.


"Eghh.." Bang Wira meremas dadanya yang terasa tertekan kuat. Semakin lama rasa itu semakin menekan dalam dadanya. Merasa tak kuat lagi menahan sakitnya, Bang Wira menghubungi Bang Aaron.


"Aaron.. tolong kamu datang ke jalan hutan taman kota. Jangan lama-lama..!!"


...


"Ya Allah.. Abaang..!!" Bang Aaron kaget bukan main melihat Bang Wira tak sadarkan diri dengan wajah pucat.


"Abang kenapa Bang?? Mbak Dinda dimana??"


Bang Aaron segera menghubungi kesatuan di sekitar wilayah setempat.


"Tolong bantuan..!! Kapten Wiranegara tidak sadarkan diri di tempat. Amankan situasi..!! Saya tidak tau ini masalah internal atau eksternal"


...


"Abaang.. Abang nggak apa-apa khan Bang?" Alena memeluk Bang Wira yang sedang di rawat di rumah sakit.


Selang oksigen membantu jalan nafas Bang Wira. Setelah tiga jam, suami Dinda itu baru saja sadar.


"Aaron.. tolong cari Dinda..!!" perintahnya.


"Saya sudah mencarinya, tadi Abang terus saja berteriak dan mengigau memanggil nama Dinda" kata Bang Aaron.


"Apa ada hasil??" tanya Bang Wira yang syok memikirkan kebodohannya sampai dirinya seperti ini karena terlalu emosi.


"Ada yang melihat istri Abang menuju bandara bersama......"


"Bang Arman???" Bang Wira melanjutkan ucapan juniornya itu.


"Siap..!!"

__ADS_1


"Ya Tuhanku.. Dindaaa.." Bang Wira kembali meremas dadanya, sesak terasa hingga menekan ulu hati.


"Dinda menitipkan surat dan barang-barang ini untuk Abang.." dengan ragu Bang Wira menerimanya dan langsung membacanya.


"Astagfirullah hal adzim.. Dindaaa..!!" Nafas Bang Wira tersengal, hidungnya mengalir darah segar. Bang Wira kembali tergeletak tak sadarkan diri.


"Bang.. Abaaaanngg.." Alena kebingungan melihat Bang Wira seperti orang terkena serangan jantung.


...


"Abang antar kamu pulang saja ya dek..!! Ini nggak baik" Bang Arman merasa tidak enak karena sudah membawa Dinda pergi bersamanya meskipun Dinda sendiri yang sudah memintanya.


"Abang akan bujuk Wira lagi.


"Abang lihat sendiri, Bang Wira sudah menandatangani surat ini. Ada kata talak disini. Apa harus Dinda kembali??" kata Dinda sudah mulai tenang. Dirinya sudah tidak menangis lagi meskipun hatinya terasa remuk redam.


"Sabar dek. Pasrahkan semua sama yang di atas. Allah nggak tidur. Abang nggak yakin saja Wira bisa seperti itu. Dia itu sosok yang sangat tegas, disiplin dan bertanggung jawab."


"Namanya laki Bang, lihat wanita mulus sedikit pasti tergoda" kata Dinda.


"Tapi Abang merasa ada yang aneh dengan ceritamu" jawab Bang Arman.


"Apa yang aneh?? Dinda pergi sama Abang saja tidak di carinya. Mungkin rasa cemburunya sudah hilang. Sudahlah Bang, Dinda sudah terlalu sakit hati dengan kata-kata Bang Wira. Anaknya sendiri tidak di akui"


"Bukan begitu dek. Emosi Wira sedang bertumpuk, apalagi kamu bilang orang tuanya baru saja meninggal. Ngomong-ngomong.. Alena itu adiknya Wira khan?"


"Tolong jangan bahas itu dulu. Dinda sedang ingin menata hati. Tanpa Bang Wira.. Dinda juga bisa hidup" ucap Dinda tegas.


...


Bang Wira menaik turunkan jalan pikirnya, mencoba merasakan dengan hati untuk menerka masalah ini.


"Anne.. ingin bertemu sama kamu sore ini...!!" kata Bang Wira memancing Alena.


"Ooh.. iya, Nanti Alen kesana"


"Sejak kapan kamu kenal Anne??" tanya Bang Wira.


Alena terdiam mendengar pertanyaan Abangnya.


"Dan Bagaimana bisa dalam ketidak sukaanmu pada Dinda.. datang sosok Martin langsung menemui Dinda. Apa ini suatu kebetulan???"tanya Bang Wira lagi.


"Bisa saja Bang Martin menemui Dinda di hotel."


"Darimana kamu tau kalau Martin dan Dinda bertemu di hotel????" jiwa intel dan petarung seorang Wira tidak bisa di bodohi hanya karena jebakan receh seperti ini, tapi jujur kejadian ini sudah memporak porandakan rumah tangganya dengan Dinda.


"Jawab Alen..!!!!!" Bang Wira menghantam tiang infusnya sampai terlepas, ia turun dari ranjang pasien dan mendekati Alena.


Bibi yang ketakutan segera keluar dan mencari Bang Aaron.


"Kamu ingin lihat Abang cerai sama Dinda????"


:

__ADS_1


"Pak Aaron.. tolong. Pak Wira ngamuk sama Bu Alena di kamar"


"Ngamuk Bu?? Ada apa ya??" tanya Bang Aaron.


"Tidak tau pak? Bibi hanya dengar Pak Wira marah karena Bu Alena mau buat Pak Wira bercerai sama Bu Dinda." jawab Bibi.


"Astagfirullah.. Alen..!!"


:


Bang Aaron memegangi lengan Bang Wira, Jika tidak ia cegah.. mungkin seniornya itu sudah menghajar Alena karena sudah membuat ulah yang sangat fatal.


"Jangan di pukul Bang, saya tau Abang kecewa.. saya paham Abang lelah. Limpahkan semua sama saya Bang..!! Jangan sakiti Alen" pinta Bang Aaron.


Bang Wira ambruk terduduk di lantai, penyesalan dari kata-katanya juga begitu menyakiti hatinya.


"Tolong carikan saya nomer kontak Bang Arman..!!"


"Siap Bang.. Segera..!!"


:


Bang Aaron tak meninggalkan kamar sedikitpun, ia menjadi penengah untuk Bang Wira dan Alena sementara perawat memasang kembali jarum infus di punggung tangan Bang Wira.


"Masih mimisan Dan?" tanya perawat pria.


"Masih sesekali" jawab Bang Wira.


"Ijin Dan.. ibarat kepala, mungkin sudah panas terlalu penuh dengan pikiran. Banyak istirahat Dan biar cepat pulih" kata perawat.


"Bang, saya dapat nomer ponsel Bang Arman"


"Mana..!!"


"Sekarang kamu periksa ponsel Alena. Check kontak keluar masuk dan pesan singkatnya..!!" perintah Bang Wira. Ia ingin membuktikan kecurigaannya kemudian segera menghubungi Bang Arman.


Cukup lama belum tersambung sampai akhirnya sang pemilik nomer menjawab panggilan telepon itu.


"Selamat malam..!!" sapa di seberang sana.


"Selamat malam.. Ijin Abang.. Saya Wira"


Bang Arman melirik Dinda yang juga melihat ke arahnya.


"Suamimu telepon dek?"


"Suami yang mana?? Dinda sudah di ceraikan. Tidak punya suami lagi..!!" jawab Dinda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2