Sayap Perwira

Sayap Perwira
53. Tak pernah lelah untukmu.


__ADS_3

Bang Wira mengusap perut bawah Dinda. Sejak tadi Dinda masih terus merasa kesakitan.


Aku harus bagaimana Tuhan. Aku tidak tahan lagi dalam situasi ini. Tolong Tuhan.. Jika aku ini berlumur dosa, aku mohon selamatkan hati istriku, biarkan dia bahagia dan biarkan aku sendiri yang menelan pahitnya.


"Kalau kamu tidur, pasti rasa sakitnya tidak terasa" bujuk Bang Wira.


Dinda mengangguk kemudian tidur dalam dekapan Bang Wira.


Aku tidak bisa memaafkan kalian Rendra.. Nesya. Kalian semua membawa bencana dala rumah tanggaku. Kalian harus membayar mahal semua ini..!!


...


"Aku minta maaf Wira"


"Mulutku mungkin memaafkanmu, tapi hatiku tidak. Kelakuan mu sungguh biadab Rendra" jawab Bang Wira.


"Aku tau, aku terlalu ceroboh menghadapi godaan dunia. Saat itu aku tidak berfikir panjang dan buat kamu berpisah dari Sari. Maaf..!!"


"Apa yang kamu katakan?? Kenapa sampai banyak orang terlibat??" tanya Bang Wira sudah mengepalkan tangannya.


Bang Bayu dan Bang Aaron sudah memegangi lengan Bang Wira agar pria itu tidak lepas kontrol.


Masih ada keraguan dalam hati Bang Rendra untuk mengakuinya, tapi jika ia tidak mengatakannya.. maka masalah ini akan semakin panjang. Dengan berbesar hati juga pasrah, Bang Rendra akhirnya mau membuka suara.


"Aku bilang sama Sari kalau kamu sudah menjualnya padaku dan aku membujuknya sampai dia mau bersamaku. Aku iri karena kamu menjadi kepercayaan Bang Bayu sedangkan aku di selalu di bawahmu" jawab Bang Rendra.


"Astagfirullah hal adzim.. kalau kamu mau jabatan sebagai ketua team itu harus ya kamu bilang..!! Aku tidak butuh semua jabatan itu..!!!!!! Soal Sari, bisa-bisanya kamu menjual namaku hingga terjadi masalah sebesar ini" bentak Bang Wira.


"Iya Wira, aku tau.. aku salah dan aku sudah menyadarinya"


"Sadar mu itu sudah sangat terlambat Rendra. Istriku Adinda dan anak ku jadi korbannya. Bukan karena aku terlalu mencintainya.. tapi saat dia menjadi istriku, aku wajib melindunginya. Sekarang kamu harus tau.. akibat ulah mu juga Dindaku harus kehilangan bayinya. Sekarang bagaimana tanggung jawabmu??" kata Bang Wira.


Hanya tangis tanpa jawab terucap dari bibir Bang Rendra.


"Kau lihat video ini..!! Aku baru menyadari kalau ternyata ini adalah wajahmu. Mereka menuntut balas karena kata-kata bodohmu itu. Dan satu lagi. Aku meledakan gudang obat terlarang itu bukan hasil dari aku merayu 'Sahara', tapi murni aku menelitinya"


"Maaf Wira.. Maaf.. aku yang salah. Tolong jangan bawa Nesya dalam masalah ini. Dia juga korban." Bang Rendra sungguh menyesal.


"Kamu..!!! Kamu ini benar-benar b******n Rendraaa..!!!!!"


:


"Berangkatkan saya menyusul team Siregar Bang..!!"


"Nggak bisa Wira, tenagamu belum pulih. Dinda juga sangat membutuhkanmu. Siregar sudah mengerjakan tugasnya dengan baik dan dia yang akan menjelaskan pada Sahara sesuai rekaman suara Rendra tadi" tolak Bang Bayu.


"Aku tidak ingin anak istriku menjadi korban Bang."


"Percayalah Wira, Siregar pasti mampu melakukan tugasnya dengan baik. Sekali-kali kamu santai lah bersama istrimu. Jangan hanya meja kerja yang kamu hadapi" saran Bang Bayu.


"Sekarang cobalah pikirkan caranya untuk merayu Bu Wira kembali. Pikirkan cara mengatakan pada istrimu tentang kondisi yang sedang kalian hadapi saat ini..!!"


"Siap Bang..!!"

__ADS_1


"Okelah kalau begitu. Abang mau ke kantor dulu urus berkas nikahnya Siregar. Lepas tugas ini minta nikah dia"


Bang Wira hanya bisa nyengir kuda mendengar permintaan littingnya disana.


...


Dinda mulai bisa tertawa saat Bang Wira menggelitik perutnya.


"Sudah Abaang.. masih sakit"


"Oiyaaa.. Abang lupa. Maaf.. maaf..!!"


"Bang.. Asya nggak kesini ya?" tanya Dinda saat mulai merindukan Asya.


"Kesini.. tapi waktu itu kamu belum bangun. Jadi Asya ikut Papa lagi deh" jawab Bang Wira dengan senyumnya yang jauh bertolak belakang dengan hatinya yang menangis kencang.


"Gitu ya Bang? Terus kapan kita pulang??"


"Ya sabar donk. Itu luka mu saja belum kering. Kalau dedel lagi gimana? Apa mau Abang yang jahit??" goda Bang Wira.


"Iiihh itu sih maunya Abang"


Bang Wira tertawa geli melihat ekspresi waspada dari Dinda.


"Ya sudah, besok pagi kita pulang ya..!! Hari ini. Abang mau minta ijin semua dokter mu"


:


"Tapi calon bayiku aman khan Bang?" tanya Dinda pada dokter Nick.


Dokter Nicko melirik Bang Wira. Agaknya suami Dinda itu belum mengatakan apapun pada istrinya.


"Aahh.. Ehmm.. iya.." Dokter Nick hanya bisa menjawab ringan karena wajah Bang Wira sangat membutuhkan pertolongan.


Dinda tersenyum dan mengusap perut datarnya tanpa mengetahui yang terjadi pada dirinya.


:


"Aku nggak kuat Nick.. nggak sanggup melihat Dinda sedih karena tau anaknya sudah nggak ada."


"Tapi sampai kapan Wira?? Lama kelamaan Dinda akan bertanya tanya kenapa perutnya belum juga membesar" kata dokter Nick.


"Kalau Dinda tanya, aku akan menjawabnya. Sekarang biar seperti ini dulu. Keadaan Dinda belum stabil" jawab Bang Wira.


"Oke Wira.. kamu jaga kestabilan emosi Dinda. Saat ini pendarahan nya sudah hampir tidak ada lagi, tapi ingat.. rahimnya masih basah dan luka, semoga Dinda tidak bertanya macam-macam padamu"


***


"Selamat datang kembali Ibu Wira..!!!!" para ibu-ibu pengurus ranting menyambut Dinda di rumahnya.


Bang Wira sengaja meminta tolong pada Bu Danyon untuk mengalihkan perhatian Dinda dan itu ternyata memang sukses mengalihkan perhatian Dinda. Para ibu yang tidak tau keadaan Dinda yang sebenarnya kecuali Ibu Danyon, Ibu Wadanyon dan Bu Amar semakin mempermudah kegiatan malam itu dan segalanya tampak natural.


Petasan meledak di angkasa luas.

__ADS_1


"Hwaaaa..!!" Dinda begitu kaget sampai berbalik badan memeluk Bang Wira.


"Lihat dulu tulisannya..!!"


Para anggota berlarian di sekitar rumah Bang Wira yang malam itu sudah di sulap menjadi tempat yang begitu indah.


Untuk istriku.. Dinda


Kamu satu-satunya


Kebanggaan pengisi relung hati..


Cinta yang datang dari sebuah do'a..


Dinda..


Kalau memang bisa..


Aku ingin mataku hanya melihatmu.


Tangan ku hanya menyentuh mu


Dan.. diri ini hanya memelukmu.


Dinda..


Kesempurnaan mungkin jauh dari dirimu, tapi kamu pastilah yang terbaik.


Aku ingin gagah di matamu saja


Dan tak ingin kaum mu menikmatinya, karena... Aku ingin takhluk dalam genggam mu.


Cinta...


Suara riuh para anggota pun terdengar bingar. Memang kali ini acara Bang Wira sangat bebas dan tak ada batasan antara atasan dan pimpinan. Bang Wira menginginkan istrinya merasa bahagia dan rileks dengan suasana baru yang akan di laluinya.


"Mana bunganya..!!" pinta Bang Wira pada Bang Aaron.


Tapi saat itu tak terlihat batang hidung Bang Aaron hingga Lettu junior itu berlarian hadir disana.


"Ijin Bang, tadi saya ke toilet. Bunga untuk istri Abang di makan kambing" ucapnya sambil menunjukan bungkus bucket bunga yang hanya tersisa batang saja.


"Astagfirullah Aaron..!!!!!" Bang Wira jadi emosi acara romantisnya malam ini menjadi kacau.


"Sabar Bang.. Sabaarr.. saya sudah tanggung jawab. Sebentar lagi gantinya datang" kata Bang Aaron bergidik ngeri melihat tatapan mata Bang Wira.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2