Sayap Perwira

Sayap Perwira
91. Sebuah perjuangan panjang.


__ADS_3

Konflik.. yang tidak tahan harap mundur. Terima kasih.


🌹🌹🌹


Bang Wira membantu Dinda untuk duduk dan bersandar karena istrinya itu belum bisa berjalan usai 'tidur' kurang lebih selama dua minggu. Kaki sulit untuk di gerak kan, badan pun juga masih terasa sakit bahkan untuk ke kamar mandi saja masih harus bersama Bang Wira. Tak masalah Bang Wira harus selalu standby di samping Dinda, asalkan Dinda bisa cepat pulih seperti sedia kala.


"Mau makan apa hari ini?" tanya Bang Wira.


"Apa saja Bang, Dinda juga belum selera makan apapun" jawab Dinda sedih karena tidak bisa memberikan ASI nya untuk Tian.


tok.. tok.. tok..


"Masuk..!!"


Bibi membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Bang Wira.


"Permisi Pak, ada Bu Mira mengantar makanan untuk Bapak" kata Bibi.


"Kembalikan lagi makanan itu dan suruh dia pulang..!!" perintah Bang Wira yang merasa sangat terganggu dengan kedatangan Mira disana.


"Tapi pak.. kata Bu Mira mau minta maaf dan beliau mengantar obat lagi agar pendarahan ibu bisa berhenti"


"Saya sudah dapat obat dari Jawa. Tidak perlu dia mengantar obat itu lagi" Bang Wira begitu marah karena ternyata Mira memberinya obat yang membuat Dinda sulit menggerakan badannya, dari rahimnya terus saja pendarahan dan Dinda sering mengalami pusing.


"Bang, aku mau minta maaf" tanpa perintah, Mira sudah berdiri di bingkai pintu dan itu semakin membuat Bang Wira murka.


"Keluar kamu dari rumah ini. Seharusnya kamu sadar kenapa dulu aku tidak pernah memilihmu.. kamu terlalu memaksakan agar keinginanmu terpenuhi, dan kali ini kamu melakukan hal yang sangat fatal Mira. Kamu diam-diam meminta orang lain untuk mencelakai Dinda. Aku sudah melaporkan kamu dan temanmu itu" bentak Bang Wira.


"Abang nggak tau perasaan ku, ini semua ku lakukan karena aku terlalu mencintai Abang. Aku rela berpisah dari suamiku demi mengejar Abang sampai kesini. Hanya aku wanita yang paling tepat untuk Abang" Mira sampai menangis terisak.


"Kauuu........" Bang Wira sudah emosi mendengarnya.


"Abang.. biar Dinda bicara sama Mbak Mira"

__ADS_1


Bang Wira tidak setuju tapi karena Dinda terus membujuk akhirnya Bang Wira mengalah, ia memilih berjaga di luar pintu kamar.


#


"Duduk disini mbak.. Dinda mau bicara..!!"


Mira duduk di ranjang sesuai permintaan Dinda.


"Mbak nggak perlu bersikap seperti itu, Dinda tau sebenarnya umur Dinda tidaklah panjang. Tak ada yang menjamin transplantasi jantung akan membuat penerima donornya akan berumur panjang. Sungguh mbak, jika Bang Wira memang masih menyimpan rasa sama Mbak Mira, Dinda ikhlas melepaskan Abang"


Hati Mira yang awalnya keras berubah menjadi lunak. Rasa ingin memiliki Bang Wira yang awalnya menggebu, kini seketika berubah tak menginginkan Bang Wira lagi. Rasa bersalah dan malu sebagai wanita begitu menghantui dirinya.


"Dinda, maafin aku ya. Seharusnya aku malu dan sadar dengan sikapku yang keterlaluan. Sekarang aku sadar kenapa Bang Wira tidak goyah dan mempertahankan kamu" jawab Mira.


Bang Wira merosot luluh lantah, ia sudah tau perkara ini tapi hatinya menolak untuk menerima kenyataan.


Ya Allah, jangan ingatkan aku tentang hal ini lagi. Aku tidak mau kehilangan Dinda.


~


"Dinda, sore ini aku akan pulang ke Jawa"


"Mbak Mira... tinggal lah disini, kami butuh Mbak Mira"


Mira tersenyum memegang jemari Dinda.


"Dinda.. kini aku tau artinya sebuah harga diri. Suamimu menolak terang-terangan kehadiranku. Itu artinya hati Bang Wira sudah tertutup untuk ku. Apa yang sudah aku lakukan adalah obsesi ku saja. Kalau wanita hina ini masih bisa memberi saran, berjuanglah untuk sembuh. Jika keyakinanmu untuk sembuh tinggi.. pasti kamu akan sembuh. Ingat Asya dan Tian.. juga lihatlah Bang Wira yang begitu mencintai mu"


Mira menepuk punggung tangan Dinda.


"Maafin aku Dinda. Biar cintaku usai disini saja. Mungkin cinta tak harus memiliki lebih tepat untuk ku Din"


...

__ADS_1


Bang Wira mengganti pakaiannya tanpa menoleh Dinda sama sekali.


"Abang mau kerja?"


Bang Wira pun tetap diam.


"Baang"


"Kamu jual suamimu untuk perempuan lain?? Abang nggak cinta sama Mira. Kamu keterlaluan sekali dek" bentak Bang Wira sudah terbakar emosi.


"Abang.. nggak ada niat Dinda seperti itu"


"Terus apa maumu?? Abang menjalin hubungan sama Mira lagi?????" ucap keras Bang Wira.


Dinda menunduk tak berani menatap mata Bang Wira.


"Jadi benar begitu?? Istri seorang tentara hanya satu seumur hidupnya. Kamu bersedia mundur??" tanya Bang Wira habis kesabaran karena ulah Dinda.


"Jika Abang menginginkan Mbak Mira, Dinda ikhlas Bang"


"Dindaaaaa...!!!!!!!!!!!!"


"Dinda ini nggak sehat Bang. Dinda tau.. sudah nggak bisa melayani Abang seperti dulu lagi" ucap lirih Dinda.


"Apa menikah itu tujuannya hanya untuk 'itu' saja??? Sekarang Abang balik.. kalau Abang yang tidak bisa menjalankan kewajiban Abang sebagai suamimu.. apa kamu akan tinggalkan Abang?" tanya Bang Wira.


"Nggak Bang"


"Nggak pantas kamu tanya hal seperti itu, masih banyak cara menyelesaikan masalah. Jangan hanya terkunci pada satu persoalan" jawab Bang Wira.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2