
Bang Wira fokus mengerjakan tugas kantornya. Jika biasanya bang Wira akan menggunakan ponselnya untuk menghubungi Dinda agar putrinya tenang, kini dirinya bisa lebih bernafas lega karena Dinda secara langsung mengasuh putrinya.
"Abang.. susu Asya habis. Abang nggak punya stok susu?" tanya Dinda.
"Duuuhh.. Abang kelupaan beli." jawabnya sambil terus sibuk menatap layar ponselnya.
"Dinda saja yang beli Bang" Dinda mengambil tas kecilnya lalu bersiap pergi karena Asya sudah menangis.
"Tunggu Abang antar.. sepuluh menit lagi selesai" kata Bang Wira.
"Nggak usah, Dinda bisa sendiri" jawab Dinda.
"Abang bilang sebentar..!! Jangan memecah konsentrasi Abang..!!! Kamu tidak tau bahayanya di luar sana..!!!" bentak Bang Wira seketika emosi.
"Kenapa Abang semarah ini??? Kalau Abang sibuk kerjakan saja tugas Abang. Asya sudah lapar, dia belum seperti kita yang bisa menahan lapar" Dinda pun membalas ucapan keras Bang Wira.
"Sejak kamu berada di rumah ini. Kamu tanggung jawab Abang secara penuh. Jadi mulai saat ini biasakan berbicara dengan nada suara di bawah Abang...!!"
"Sekalian saja helai rambut Dinda yang jatuh juga menjadi urusan Abang..!!" ucap Dinda ketus.
"Kamu sendiri yang sudah tanda tangan surat perjanjian itu. Jangankan helai rambutmu, Abang meng*agahimu pun itu hak Abang" bentak Bang Wira sekali lagi kemudian meninggalkan Dinda yang masih terpaku sendirian di ruang tamu rumahnya.
~
Dinda terduduk lemas. Ia menarik nafasnya yang terasa begitu menyesakan dada. Ucapan Bang Wira terasa begitu merendahkan dirinya. Ia terasa begitu kotor karena sudah menerima transplantasi jantung dari almarhumah istri Bang Wira.
Aku sudah berjanji untuk mengabdikan diri seumur hidup untuk menjadi pengasuh bagi putri Bang Wira. Jadi aku harus kuat dan ikhlas menerima resiko ini. Ayo Dindaa.. kamu harus kuat, nggak boleh nangis.. Asya butuh kamu Dinda.
~
"Astagfirullah hal adzim.. kenapa aku bisa sampai berucap seperti itu. Dinda pasti sakit hati sekali mendengar ucapan ku" Bang Wira mengacak-acak rambut cepaknya.
Bang Wira pun mengintip Dinda dari lubang kunci pintu dapur rumahnya.
"Lho.. mana Dinda??"
"Abang lihat apa?" tanya Dinda yang tiba-tiba, berhasil mengagetkan Bang Wira.
Mata Bang Wira tertuju pada satu titik.. tepat perut bawah Dinda.
"Ehm.. ini..anu.. kuncinya macet, lubangnya rusak" jawab Bang Wira asal kemudian berdiri dan salah tingkah.
"Ayo ke supermarket..!!" ajak Dinda menurunkan egonya.
Bang Wira memperhatikan penampilan Dinda mulai atas kepala hingga ujung kaki.
"Pakai rok mini?? baju kurang bahan begini?????? Abang sobek sekalian sampai pusar..!!!"
"Memangnya kenapa??? Ini bagus" tanya Dinda.
"Bagus kalau Abang yang lihat. Kalau ada mata bujangan jelalatan.. habis kamu jadi tumpeng. Gantiiii...!!!!!" nada keras Bang Wira mulai terdengar lagi.
"Iyaaa.. isshh.. Om-om satu ini cerewet sekali" gerutu Dinda sambil berlalu
"Ngomong apa itu?? Om-om yang ini bisa bikin kamu keblinger..!!" tegur Bang Wira lagi.
"Duuhh.. Astagfirullah.. bisa nggak aman ini jantung" gumam Bang Wira sembari mengusap dadanya yang mulai jedag jedug.
...
"Beli bahan makanan untuk di rumah dek..!!" pinta Bang Wira sembari memasukan popok ke dalam trolly.
"Abang mau di masakin apa?" tanya Dinda.
"Ayam asam manis sama tumis kangkung" jawab Bang Wira dengan sengaja meminta masakan itu.
"Oke Bang.. siap..!!"
__ADS_1
"Selamat sore..!! Belanja Dan?" sapa seorang anak buah.
"Selamat sore. Iya ini. Susunya Asya habis." jawab Bang Wira.
"Siap Dan..!!"
"Ijin Dan saya mendahului."
"Ijin ibu..!!"
"Iya.. silakan" jawab Bang Wira menarik senyumnya.
"Eehh.. iya Om." jawab Dinda tak tau harus bagaimana mendapat sapaan seperti itu.
"Ibu?? Tak tau kah dia statusku hanya sebagai assisten rumah tangga dan pengasuh bayi?" gumam Dinda lirih.
"Nggak bapaknya sekalian?" tanya Bang Wira sembari berlalu pergi sembari menggendong Asya.
Wajah Dinda sedikit memerah karena ternyata Bang Wira mendengar nya.
***
Satu piring ayam asam manis dan tumis kangkung meluncur manis di perut Bang Wira. Ingin tidak melahap masakan Dinda, tapi rasanya sungguh sangat luar biasa. Pikirannya kembali kacau karena ternyata rasa masakan itu lagi-lagi sama dengan masakan almarhumah istrinya.
"Nggak enak ya Bang?" tanya Dinda.
"Yaa.. cukup menghibur, daripada Abang masuk angin gara-gara nggak sarapan" jawab Bang Wira.
"Menghiburnya Abang sampai dua piring??" tanya Dinda lagi.
"Ini namanya menghargai. Sudah di masakin ya Abang makan. Kalau Abang nggak makan, rugi donk Abang bayar kamu" jawab Bang Wira berkilah.
"Kapan Abang bayar Dinda??"
"Nih.. bawa ATM Abang..!!" kata Bang Wira lalu menyerahkan kartu ATM nya lada Dinda.
"Abang nggak takut kehilangan apapun. Abang hanya takut kehilangan anak dan istri lagi" ucap Bang Wira kemudian menyudahi acara makannya.
Dinda mengangguk pelan.
"Abang berangkat kerja dulu. Baik-baik jaga anak. Jangan kemana-mana tanpa ijin Abang..!!"
"Iya Bang..!! Dinda ngerti"
***
Bang Wira menutup pintu rumahnya usai melaksanakan doa bersama tepat di seratus hari kepergian almarhumah Adinda. Tiga bulan sepuluh hari istrinya 'pergi' meninggalkan dirinya juga Asya.
"Minum dulu Bang, biar hati Abang lega..!!" kata Dinda sambil mengangsurkan secangkir teh hangat di ruang tengah.
"Terima kasih" Bang Wira menerima teh buatan Dinda kemudian meneguknya.
pyaaaarrrr...
Gelas yang di bawa Bang Wira pun pecah. Tak lama Bang Wira nampak lemas, seakan tak bisa menyangga badannya Bang Wira ambruk di lantai menimpa Dinda.
"Aaahh.. Abaang..!! Abang kenapa Bang?" Dinda sedikit kesulitan beralih karena Bang Wira menindihnya.
"Abang kangen kamu Dinda..!!" gumam Bang Wira. Ada derai air mata yang cukup deras mengalir.
"Dindaa?? Abang pasti kangen sama Mbak Adinda ya?" ada senyum di wajah Dinda namun senyum itu bergurat luka. Entah karena apa.
Sedikit demi sedikit Dinda bergeser dari tubuh Bang Wira. Bang Wira sedikit menggigil, badannya demam. Dinda pun segera merawatnya.
:
"Jangan tinggalkan Abang Dinda..!!" Bang Wira antara sadar dan tidak menarik tangan Dinda.
__ADS_1
Dinda menghapus air matanya.
Dinda sadar hanya menjadi pengasuh bayi mu Bang. Apakah memelukku bisa mengurangi rindu Abang sama Mbak Adinda?.
Dinda pasrah saat Bang Wira menariknya. Tangannya terus memegangi tangan Bang Wira yang mulai lepas kendali. Hembusan nafas di tengkuknya terasa hangat.
Abang sadar atau tidak?? Taukah Abang, Dinda sudah buat dosa dengan biarkan Abang memeluk Dinda seperti ini? Dinda nggak ingin lagi di permainkan perasaan seperti dulu.
***
"Ijin Ibu, Bapak ada?" tanya seorang istri anggota saat Dinda baru saja memandikan Asya.
"Ada.. silakan masuk dulu Bu. Saya panggilkan bapak dulu" jawab Dinda.
~
"Kamu lah yang temui"
"Kapasitas Dinda apa Bang?" tanya Dinda tak paham karena Bang Wira meminta Dinda untuk menemui tamunya.
"Kalau di kantor, bisa Abang temui. Kalau di rumah ya kamu yang tangani. Masa istri anggota curhatnya sama Abang? semua harus sesuai prosedur. Sudah sana kamu terima, biar Asya sama Abang"
~
"Ijin Bu Wira, suami saya selingkuh. Saya ingin bapak menaikan kasus ini. Saya mau minta cerai" ucap Bu Taufik.
"Mohon maaf Bu Taufik.. Apa ibu sudah ada bukti yang valid, jika ibu hanya mendengar saja dari kata orang.. itu tidak bisa jadi bukti." jawab Dinda dengan tenang di usianya yang baru akan sembilan belas tahun.
"Saya sudah nggak tahan Bu, suami saya nggak pernah kasih saya uang belanja lagi" kata Bu Taufik.
"Sesuai prosedur.. laporan ibu saya terima. Bisa Bu Taufik sertakan bukti?"
Bang Wira tersenyum melihat cara Dinda menangani masalah. Ia pun akhirnya keluar.
"Maaf Bu, saya masih di belakang tadi. Jadi bagaimana Bu Taufik??" tanya Bang Wira kemudian duduk di samping Dinda sambil menggendong Asya.
"Saya sudah sampaikan pada Ibu pak..!! Saya ada bukti kalau suami saya selingkuh" Bu Taufik menyerahkan ponselnya pada Bang Wira untuk di cermati.
"Astagfirullah hal adzim.. Abaaang..!!!" refleks Dinda menyandarkan keningnya pada bahu Bang Wira. Dirinya sungguh tak sanggup melihat foto syur Praka Taufik dengan wanita lain.
"Abang jangan gitu ya Bang..!!"
"Cckk.. kamu ini. Kapan Abang begitu???" jawab Bang Wira langsung terlepas begitu saja dari bibirnya.
.
.
.
.
Jangan spoiler. Percayakan pada authornya🥰🥰
.
.
Silakan tinggalkan kesan tentang 'SAYAP PERWIRA' setelah komentar. Respon sampai 50 lebih ekstra up. Terima kasih 💓🙏🙏
.
.
.
.
__ADS_1