
Menuju konflik keras dan ekstrem. Harap kebijakan dalam berkomentar. Himbauan mulai saat ini untuk skip dari pada saling menyakiti..!!!!!
🌹🌹🌹
"Mereka mengambil wajah dan di edit untuk di gabungkan bersama perempuan dengan Nama Sahara. Tujuannya untuk memecah tentara dan pihak keamanan lain. Jika pimpinan bersitegang dan fokus pada masalah ini, maka akan terjadi keributan. Pemberontak ini juga mengambil data dari kebersamaan kita di media sosial, dia datang melalui email dan mengincarmu juga mbak Mey"
kata Bang Wira menjelaskan.
"Kamu dan Mbak Mey dengan lugunya memberikan nomer ponselmu. Jadilah mereka mengadu domba kalian berdua dengan karangan ceritanya. Mereka berbuat seperti ini karena tau wanita lebih merasakan dengan hati daripada berpikir logis"
"Itu benar. Kalian pun sulit sekali di tenangkan sampai terjadi hal seperti ini. Untung saja tidak terjadi sesuatu dengan kandungan kalian" imbuh Bang Bayu.
"Tapi video itu terlalu vulgar Bang" kata Mey.
"Sekarang Abang tanya, kalau di sana cuma ada video Abang main congklak kira-kira menyulut emosi mu atau tidak?? Jelas mereka membuat video yang membakarmu" jawab Bang Bayu.
"Naahh.. itu lagi. Kamu itu istri Abang, kamu hapal nggak gaya Abang, cara Abang. Kenapa tidak berpikir sampai kesana?"
"Kita khan baru dua kali melakukannya Bang, mana Dinda paham" jawab Dinda dengan polosnya.
Tak hanya Bang Wira yang salah tingkah, tapi Bang Bayu dan Mey juga bingung harus bersikap.
"Ehm.. manten anyar to?"
Bang Wira tersenyum mengulum senyum kecut dan terasa pahit.
"Kalian selesaikan dulu masalah kalian. Kami pamit pulang dulu. Kita harus menenangkan diri" kata Bang Bayu.
"Siap"
"Nanti malam kita ketemu lagi, di kantor saja. Sekarang tangani yang ini dulu..!!"
"Siap Abang..!!"
:
Dinda baru saja mual hebat, mungkin karena efek pukulannya yang terlalu kencang. Badan Bang Wira masih terasa lemas melihat Dinda tak sanggup berdiri, apalagi sampai melihat muntahan Dinda yang sudah tidak berisi apa-apa lagi dan malah mengeluarkan darah dari lambungnya.
"Maaf.. maaf.. Abang nggak sengaja" setitik air matanya menetes sembari merawat sang istri.
"Dinda percaya Abang. Maafin Dinda juga ya Bang" ucap Dinda tanpa tenaga. Masih bisa bernafas saja sudah syukur.
"Kamu nggak salah, Abang yang salah. Tidak tegas menyelesaikan masalah ini dari awal. Seharusnya Abang lebih terbuka dan tidak takut dengan reaksimu" Bang Wira masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Sungguh saat itu dalam pikirannya hanya cemas dan cemas karena berbagai pertimbangan padahal ia sudah berniat mengutarakan nya, hanya saja waktu yang terlalu cepat bertindak.
"Sini Abang peluk..!! Sakit sekali ya pukulan Abang?"
"Sakiiit.."
__ADS_1
"Abang nyesel dek. Hati Abang sakit sekali menyadari tangan ini sampai menyakitimu. Hukum saja Abang, asal kamu bisa memaafkan Abang" Bang Wira sampai menyerusuk ke sela leher Dinda.
Dinda terdiam merasakan perlakuan lembut dari sang suami. Rasa mualnya perlahan hilang dan berubah menjadi rasa hangat dan nyaman.
"Bolehkah Dinda cemburu?" tanyanya sebelum sesaat kemudian ia tertidur dalam dekapan Bang Wira.
"Boleh.. boleh sayang. Kecemburuan mu itu tanda sayang kamu untuk Abang" bisik Bang Wira meskipun Dinda sudah mulai terlelap.
...
Sedikit perdebatan antara Bang Wira dan Bang Bayu mengenai pemecahan masalah yang terjadi.
"Kita harus bertemu dengan William. Mungkin disana dia juga sedang bersitegang dengan istrinya." kata Bang Bayu.
"Saya nggak bisa mikir Bang. Otak saya buntu" Bang Wira masih syok dan tidak ingin dulu berpikir tentang urusan ini.
"Mau sampai kapan kamu tunda menyelesaikan masalah ini?? Abang akan beri kamu akses ijin khusus untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau saja Abang tidak menjabat sebagai Danyon. Pasti sudah Abang selesaikan hari ini juga" kata Bang Bayu.
"Saya pun ingin lari cari dia. Geram sekali saya.. dia sudah buat saya sampai memukul Dinda."
"Lalu apa masalahmu..!!"
"Abang khan tau Dinda sedang mengandung. Posisi kita sama Bang. Istri Abang pun sedang mengandung. Jujur setelah kejadian ini, saya sangat takut meninggalkan Dinda sendirian tanpa pengawasan saya"
"Saya sendiri yang akan bertanggung jawab atas keselamatan istrimu Wira." janji Bang Bayu.
"Astagfirullah hal adzim.. Seumur hidup saya nggak pernah selemah ini menghadapi wanita Bang" Bang Wira mengusap wajahnya, sungguh hatinya merasa tidak tenang.
"Saya janji Wira. Selama kamu menyelidiki masalah ini. Dinda ada dalam penjagaan saya..!!"
***
"Abang mau kemana?" tanya Dinda yang melihat Bang Wira sudah rapi sepagi ini.
"Abang ada tugas luar dek. Hanya beberapa hari saja. Kamu jaga diri baik-baik. Makan yang teratur, banyak istirahat..!! Kalau ada sesuatu, kamu bilang sama Bang Bayu. Abang sudah koordinasi. Dan kalau kamu kemana-mana, tolong lapor piket depan." Bang Wira mengecup kening Dinda. Meskipun terasa berat.. menyelamatkan nama baik militer di negeri ini adalah tugas nya sebagai prajurit.
"Iya Bang. Dinda ngerti"
...
Sepanjang jalan hati Bang Wira terus gelisah. Saat ini hanya doa yang bisa ia lakukan sebagai perlindungan untuk istri tercinta nya.
~
Dinda merasakan dirinya kurang enak badan, ia pun memutuskan untuk pergi ke praktek kerja dokter Nick sendirian karena ia tidak ingin merepotkan Bang Bayu yang dengan kata lain adalah suami orang.
...
__ADS_1
"Ijin.. saya Letda William..!!"
"Santai saja. Kita sedang sedang dalam lingkaran hitam" jawab Bang Wira berbisik.
"Oke Bang, setelah saya selidiki dari pihak saya.. ada beberapa fakta. Motif balas dendam karena Abang melumpuhkan musuh dari 'sisi kanan' dan saya dari 'sisi kiri'. Terus terang video editan itu membuat istri saya menuntut cerai Bang." kata Bang William.
"Memang sungguh kurang ajar. Saya pun ribut dengan istri, mereka memecah konsentrasi kita melalui istri yang memang hal itu sebagai kelemahan utama kita."
"Benar Bang. Kasus ini masih di redam kuat karena taruhannya adalah seragam kita. Pertama.. kasus kita soal perdagangan wanita, kedua kita sendiri sebagai mucikari, ketiga kita memiliki hubungan terlarang dengan Sahara dan yang keempat soal pernikahan siri. Wajah kita sudah di acak-acak sampai istri ngamuk Bang" jawab Bang William.
"Benar Will, tidak ada bukti yang mengarah benar pada kita, saat itu status kita berdua sedang dinas khusus dan tidak bisa masuk dalam kedinasan karena bersifat sangat rahasia. Bang Bayu juga sedang melakukan dinas terakhirnya. Hanya panglima yang tau tentang kita, tapi tidak mungkin juga kita akan naik ke atas demi masalah ini. Segala resiko ini adalah tanggungan kita pribadi. Jika masalah kita hanya di putuskan sepihak oleh kepala staf kita, habislah sudah nasib kita."
...
Bang Bayu mencari Dinda diam-diam tanpa sepengetahuan Mey setelah mendapat laporan dari piketan. Bang Bayu pun segera menuju rumah sakit sesuai laporan piketan depan.
"Kenapa Dinda nggak menghubungi akunya, bahaya sekali kalau Dinda pergi sendirian" gumamnya dengan cemas.
...
Mata Bang Bayu menangkap sosok Dinda yang berdiri di pinggir jalan terpapar terik sinar matahari, kepanasan dan terlihat letih.
"Aduuuhh... kalau sampai ada apa-apa sama Dinda, panjang urusannya sama Wira." Ia pun segera turun dari mobil.
Tepat saat itu Dinda ambruk dengan sempurna menimpa Bang Bayu.
"Dindaaa.. Ya Allah, Abang bisa di hajar suamimu kalau kamu ada apa-apa"
Celakanya.. di seberang sana ada sosok mata menangkap basah Bang Bayu dan Dinda yang sudah masuk ke dalam mobil.
~
"Dinda.. sadar Dinda, Abang antar pulang ya..!!" "Tapi bagaimana ini?? Bisa ramai di Batalyon kalau begini caranya."
tok..tok..tok..
Bang Bayu menoleh ke samping mobilnya. Jantung nya nyaris terlepas melihat Mey berdiri di samping kaca jendelanya.
"Mama.. Kenapa bisa disini ma??"
"Ada apa ayah sama Dinda berduaan di sini??" tanya Mey.
Bang Bayu pun turun dari mobil dan berusaha menjelaskan pada istrinya.
.
.
__ADS_1
.
.