Sayap Perwira

Sayap Perwira
65. Selisih pendapat kecil.


__ADS_3

"Hhhkk.." Dinda mulai kembali mual.


Bang Wira memercing merasakan perutnya teraduk-aduk. Ia segera berlari ke kamar mandi sampai tidak sengaja hampir menabrak bibi dan Asya.


Bang Wira muntah di kamar mandi. Alena menggaruk kepalanya melihat Dinda mual tapi Abangnya yang harus merasakan muntah.


"Bang.. Abang nggak apa-apa?" tanya Dinda sambil memijat tengkuk suaminya.


Bang Wira hanya melambaikan tangan karena masih belum sanggup menjawabnya, tak lama ia kembali muntah.


"Bibi.. tolong buatkan saya es jeruk nipis..!!"


"Hhhkkk.."


"Baik pak, bibi buatkan"


:


"Sudah enakan apa belum Bang?" tanya Dinda sampai menangis sesenggukan karena sesaat tadi Bang Wira sudah hampir pingsan di tempat. Dinda terus memeluk lengan Bang Wira dengan erat.


"Iya, sudah enakan kok" jawab Bang Wira sudah segar kembali seolah tidak terjadi apapun.


"Abang sakit gara-gara Alen ya?? Alen nggak akan jahat lagi. Jangan sakit ya Bang?" Alen pun ikut menangis dan terus menggoyang sebelah lengan Bang Wira.


"Allahu Akbar.. kalian ini kenapa? Abang cuma masuk angin.. bukannya mau mati" tegur Bang Wira pusing sendiri dengan tingkah kedua perempuan yang terus bergelayut di kedua lengannya.


...


"Jadi mau makan malam nggak?? Abang pergi nih kalau wajah kalian masih seperti itu..!!" jengah sekali rasanya melihat Dinda dan Alena masih saling membisu dan menimbulkan hawa panas di rumah.


Alena dan Dinda saling lirik membuat Bang Wira semakin kesal.


"Ini pasti gara-gara si Martin. Jangan bawa nama Martin lagi di rumah ini..!!!" nada suara Bang Wira sampai terdengar menggelegar karena kesal.


"Nggak kok..!!" jawab Dinda dan Alena bersamaan.


"Letakan foto si jailangkung pembuat onar itu di meja..!!"


Dinda dan Alena kembali saling lirik.


"Sekarang..!!!!!!!"


"Dinda nggak punya fotonya Bang" kata Dinda mulai takut sedangkan Alena sibuk mencari foto Martin di ponselnya.


"Keluarkan foto setan mana yang kamu punya...!!!" ucapnya keras pada Dinda. Bang Wira sudah berkacak pinggang gemas melihat dua wanita di hadapannya.


Tak lama keduanya meletakan ponsel di atas meja.


Bang Wira melirik melihat kedua ponsel itu. Ia menahan senyum geli di balik amarahnya.


"Kurang ajar. Jadi kamu bilang Abang setan???" tegur Bang Wira melihat Dinda menunjukan wajahnya di ponsel.


"Simpan..!! Ingat wajah setan itu baik-baik sebelum kamu bertingkah."

__ADS_1


Dinda pun menyimpan ponselnya.


Bang Wira mengambil ponsel Alena lalu melihat wajah Martin.


"Rai koyo cemeng rembes wae kok dadi rebutan to yoo..!!!!" ucap geram Bang Wira.


tok..tok..tok..


Bang Wira berjalan membuka pintu depan dan melihat ada Bang Aaron di depan.


"Selamat malam" sapa Bang Aaron.


"Selamat malam. Kamu mau cari perlengkapan sama saya?" tanya Bang Wira melihat juniornya sudah rapi dan wangi.


"Siap..!!"


"Oke.. dengan satu syarat..!!" perintah Bang Wira mengingat ulah Alena yang membuatnya sangat kesal.


...


"Popoknya kebalik Abang..!!"


"Mana Abang tau dek, Abang khan belum punya anak" jawab Bang Aaron yang di perintahkan Bang Wira untuk mengasuh Asya bersama Alena.


"Di balik dulu Bang...!!" kata Alena.


Bang Aaron gemetar memakaikan popok Asya.


"Kenapa Bang?"


Alena tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Bang Aaron.


"Konyol sekali..!! Gini hari Abang masih takut berhadapan sama perempuan. Kalau menghadapi Alen.. Bagaimana Bang..!!" Alena merangkul pundak Bang Aaron kemudian mendekatkan wajahnya pada junior Abangnya itu.


Denyut nadi Bang Aaron berdetak lebih cepat. Jedag jedug dalam dada tak bisa di hindari.


"Kamu ini perempuan, kenapa tingkahmu liar sekali"


"Liar??? Ini hal yang biasa"


"Tapi tidak sopan di negara kita yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran" kata Bang Aaron dengan tenang merapikan Asya kemudian menggendongnya.


"Munafik.. sok polos sekali si Bang" Alena semakin berani menggoda Bang Aaron.


"Kamu mau apa??" tanya Bang Aaron.


"Beranikah Abang menantang Abang Wira?"


"Haaahh.. untuk apa?" mendengar nama Wira, Maung atau Taipan timur selalu membuat hatinya was-was.


"Lamar aku Bang..!!"


"Stress kowe dek???" tanya Bang Aaron.

__ADS_1


Alena terus mendekati Bang Aaron, pria yang baru saja di kenalnya dan ia anggap terlalu lugu.


"Kamu di kasih hati malah acak-acak empedu" Bang Aaron menidurkan Asya di pundaknya lalu menarik pinggang Alena membuat gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


:


"Lihat dirimu sendiri, kamu saja masih lemas begini.. bagaimana bisa gendong Asya. Makanya tadi Abang minta Aaron dan Alena ikut bersama kita" kata Bang Wira.


"Putri ku itu belum makan malam Bang..!!"


"Abang sudah bilang sama Alena dan Aaron. Sampai ada lalai nya mereka, Abang sendiri yang akan turun tangan" baru saja Bang Wira selesai bicara, Dinda sudah ambruk menimpa bahunya.


"Astagfirullah.. kamu pingsan lagi dek??? Kenapa sih kamu ini??"


Beberapa kali Bang Wira menepuk pipi Dinda akhirnya istrinya itu sadar juga.


"Sudah berapa lama kondisimu seperti ini dek??" tanya Bang Wira.


"Empat hari ini Bang" jawab Dinda lirih dan lemah sekali.


"Ayo ke rumah sakit..!!" ajak Bang Wira.


"Dinda bosan suasana rumah sakit"


"Kamu itu sakit dek"


"Dinda memang penyakitan, tapi Dinda nggak mau di anggap orang sakit. Dinda lelah terus di anggap sebagai beban" baru kali ini Bang Wira mendengar ucapan dinda yang begitu emosi.


"Iyaa.. ya sudah jangan marah-marah lagi. Minum obatmu saja ya, biar reda sakitnya" bujuk Bang Wira.


"Nggak mau, minum obat itu perut Dinda sakit sekali" tolak Dinda.


Bang Wira pun segera menghubungi Bang Nick untuk menanyakan obatnya.


"Ya Allah.. mati kah dia ini?? Kenapa panggilan telepon ku tidak di jawab" gerutu Bang Wira hingga mencoba menghubungi Bang Nick tapi tak pernah ada jawaban.


Tak patah semangat Bang Wira mencoba menghubungi seniornya tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari seniornya.


"Pokoknya Dinda nggak mau minum obat"


"Iya, kalau nggak mau ya nggak usah di minum. Di kunyah aja sama pisang" jawab Bang Wira masih sempat meledek Dinda di dalam rasa cemasnya. Tangannya sibuk menghubungi semua kawannya yang berprofesi sebagai dokter.


Dinda hanya bisa melirik Bang Wira, suaminya itu bahkan tidak menatapnya sedikitpun.


"Sebenarnya para dokter ini sedang pergi kemana???" ucapnya geregetan sembari menepak kemudi mobilnya.


"Apa semuanya pada nguras air laut, sampai tidak ada satu orang pun yang jawab panggilan telepon ku"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2