
"Perutnya sakit?? Nggak tahan dengan obatnya??"
"Iya broo..!! Kamu dimana? Mau konsultasi nih sekalian pamitan. Lusa aku berangkat"
"Aku ada di luar kota bro. Hmm tapi ngomong-ngomong.. sakit perut itu ada banyak alasan, salah satunya ada masalah dengan jantung baru Dinda, adanya penyakit baru juga" kata Bang Nicko.
"Yang benar saja kamu Nick. Bukankah pemeriksaan terakhir baik-baik saja" jawab Bang Wira.
"Kita tidak akan tau datangnya musibah Wira. Kamu banyak sabar ya, jaga istrimu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Minggu depan aku baru bisa pulang."
"Iya, nggak apa-apa. Terima kasih ya..!!"
:
Rasanya hati Bang Wira terasa tak karuan, pikiran berantakan. Beberapa menit duduk ia hanya bisa terdiam belum menemukan jalan keluar untuk masalah Dinda.
Disana daerah terpencil. Jauh sekali dari kota, kalau ada apa-apa sama Dinda, bagaimana aku mengatasinya.
"Bang, Dinda pusing" Dinda merasa mual.
Tiba-tiba perut Bang Wira terasa di aduk kuat. Ia segera keluar dari mobil dan berjongkok di samping parit di parkiran mall.
:
Beberapa menit setelah Bang Wira mengeluarkan isi perutnya, Dinda merasa sangat lega. Ia pun pergi mencari warung makan untuk membeli es jeruk nipis.
"Sudah baikan Bang?" tanya Dinda.
"Alhamdulillah sudah, kita pulang saja ya mumpung badan Abang sudah enakan" ajak Bang Wira.
"Tapi Asya bagaimana Bang?"
"Biar Aaron dan Alena belajar momong, Abang pusing dengar suara keributan mereka berdua" jawab Bang Wira.
Bang Wira mengirim pesan singkat pada Bang Aaron lalu meninggalkan juniornya itu karena cemas mual Dinda akan kambuh lagi.
...
Dinda dan bibi sudah tidur, rumah sudah sepi tapi tidak ada tanda kepulangan Bang Aaron dan Alena. Bang Wira mondar-mandir di ruang tamu melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam satu dini hari.
"B******n, kemana Aaron bawa Alena. Mereka tau waktu atau tidak???" umpat Bang Wira karena tidak bisa menghubungi Bang Aaron dan Alena.
Dalam hati Bang Wira, selain memikirkan Alena, ia juga memikirkan nasib Nala. Nesya harus mendapatkan perawatan dan Rendra sedang dalam masa 'pendidikan'. Jika meninggalkan Nala, itu adalah hal yang tidak mungkin. Ibu Rendra syok dan sakit keras karena ulah putranya itu sedangkan orang tua Nesya tidak bersedia menerima anak dari Adinda.
__ADS_1
Hingga pagi menjelang, Bang Wira masih menunggu Bang Aaron sambil sesekali mengontrol kondisi Dinda.
Tak lama terdengar kasak kusuk suara di depan rumah, Bang Wira masih duduk dengan tenang di sofa sampai akhirnya terlihat Alena berjingkat-jingkat masuk ke dalam rumah sembari menggendong Asya yang sedang tidur. Masih dengan langkah perlahan.. Bang Wira membidik sakelar lampu dengan bola mainan milik Asya hingga lampu ruang tamu menyala.
"Darimana??" tanya Bang Wira.
Alena gelisah, ia sangat takut sampai kakinya gemetar.
"Kamu punya mulut atau tidak?? Darimana????" tanya Bang Wira sampai mengagetkan Dinda yang sedang tidur.
Seketika perut Dinda kram mendengar suara Bang Wira.
"Baang..!!" pekik Dinda sampai tidak kuat bangun dari ranjang.
Pikiran Bang Wira pun teralihkan dan terfokus pada Dinda. Ia berlari masuk ke dalam kamar.
"Kenapa dek??"
"Abang yang kenapa?? Ini masih pagi sekali. Dinda kaget Bang, perut Dinda sakiiit" omel Dinda.
"Maaf.. maaf.. Abang cuma tegur Alen." Bang Wira membantu Dinda duduk agar istrinya itu bisa lebih rileks.
:
"Siap salah Bang"
"Lancang kamu, sebelum kamu jadi b******n, saya sudah lebih dulu bejat. Alasanmu menidurkan Asya di hotel itu nggak masuk akal" bentak Bang Wira sudah hampir menghajar Alena.
"Jangan Bang.. mereka cuma tidur saja" bujuk Dinda.
"Ilmu kamu terlalu tipis untuk tau dunia luar dek. Sekarang kamu diam dan duduk..!! Jangan ikut campur..!!"
"Tapi jangan pukul Alena..!! Dia adik Abang satu-satunya. Sakit di badannya bisa hilang, tapi luka di hatinya akan terus membekas" saking kesalnya Dinda, istri Wira itu sampai memukuli Bang Wira hingga mundur teratur.
"Abang itu sedang mendidiknya, bukan menyiksanya. Abang ini laki-laki. Dosa Alen, dosamu.. Abang yang memikulnya kalau Abang tidak sanggup mendidik wanita-wanita nya Abang" bentak Bang Wira.
"Kau pikir laki-laki dan perempuan akan melakukan apa di dalam kamar hotel, tidak mungkin mereka hanya saling melotot dan bertukar sinar ultraviolet"
Dinda mulai menyadari ucapan Bang Wira.
"Tapi ada Asya.. mana mungkin"
"Apa kita nggak pernah melakukannya saat Asya tidur??"
__ADS_1
"Saya yang salah Bang. Saya siap menanggung akibatnya." kata Bang Aaron dengan jantan.
Seketika Bang Wira menoleh dan menghajar Bang Aaron habis-habisan.
"Abaaang..!!"
Pekik ribut di pagi buta semakin membuat seisi rumah semakin kacau.
Dinda terdiam merasakan tubuhnya terasa ringan. Di dalam dadanya terasa tertekan dan perutnya seperti di remas kencang.
bruugggh...
"Dindaaa..!!!"
...
Tak peduli Dinda setuju atau tidak, Bang Wira segera membawa Dinda ke rumah sakit. Brankar dengan cepat menggelinding masuk ke ruang UGD.
Dinda pun segera di tangani oleh dokter piket jaga.
:
"Begitu ya pak, kalau begitu sekarang kita ke ruang USG saja" ajak Dokter.
Seketika Bang Wira begitu cemas. Ia sangat ketakutan kalau sampai Dinda tau rahimnya itu kosong.
"Kalau nggak pakai USG bisa dok? Istri saya sehat" tolak Bang Wira.
"Kalau istri Pak Wira sehat, kenapa Bapak membawanya ke sini?" tanya dokter langsung membuat Bang Wira mati kutu.
Brankar itu di dorong masuk ke ruang USG. Dinda menangkap kecemasan yang luar biasa di wajah Bang Wira.
Dokter mengoleskan gel di perut Dinda, disana Bang Wira sudah mau pingsan saja karena tidak kuat jika nanti harus menghadapi reaksi Dinda.
"Bang.. anak kita kenapa........"
Bang Wira memejamkan matanya tak sanggup melihat layar USG.
.
.
.
__ADS_1
.