Sayap Perwira

Sayap Perwira
44. Amarah Taipan Timur.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!


Seluruh julukan di Novel Nara, real milik Nara Kamanatha dan di larang keras mengambilnya apalagi sampai mengambil inti cerita...!!!!!


🌹🌹🌹


"Sabar.. sedikit lagi..!!"


Terdengar Isak tangis lirih Dinda. Ini kedua kalinya Bang Wira mengajaknya memadu cinta. Disana Bang Wira masih sibuk dengan urusan tenaga dalamnya.


Beberapa menit kemudian Dinda terhanyut dengan perlakuan lembut si kapten muda itu. Jantannya Abang Wira membuat nya dirinya seakan melupakan rasa takutnya.


"Enak khan? Buat kamu semua ini dek..!!"


Saat Dinda sudah mulai lepas, Bang Wira pun akhirnya melepaskan nya dengan tuntas. Terdengar suara kelegaan dari Bang Wira.


"Baang.."


"Apa sayang..??"


"Mau lagi.."


"Aduuhh sebentar.. Abang gempor"


...


Bang Wira tertawa geli memeluk Dinda.


"Siapa tadi yang bilang nggak mau sama Abang?? Belaga sekali nih istri Abang" ledek Bang Wira.


"Kalau Abang nggak bisa diam.. Dinda marah nih" ancam Dinda.


"Waahh.. Abang takut banget dek..!! Istrinya maung kalau marah serem ya"


Dinda memalingkan wajahnya, Bang Wira pun kemudian tersenyum dan menarik Dinda ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang baru kali pertama mereka rasakan. Bang Wira mencium tengkuk Dinda. Ada aroma lembut yang ternyata ia sukai. Wangi aneka bunga yang begitu menenangkan.


"Dek, Abang mau tanya"


"Apa?"


"Kalau seumpama kamu hamil bagaimana?"


"Jangan dulu Bang, Dinda takut.. Asya juga masih kecil" jawab Dinda.


Wajah Bang Wira nampak pias. Gemuruh di dadanya terasa penuh sesak. Matanya terpejam sejenak menekan perasaan.


"Kalau Allah sudah berkehendak, kita mau bilang apa? Terima saja..!!"


Dinda mengangguk pasrah menurut ucapan Bang Wira.


"Kebanggaan nya Kapten Wira." Bang Wira menciumi perut Dinda.


"Abang sayang dia, Abang benar-benar inginkan dia, anak dari kamu"


Dinda tertegun.. tapi ia tidak menjawab apapun perkataan Bang Wira.


***


Dinda datang ke acara olahraga gabungan atas permintaan Ibu Bayu. Tidak ada Asya di rumah membuatnya sangat bosan dan akhirnya ia meluluskan ajakan Bu Bayu.


"Lemas sekali dek. Kamu sakit?" tanya Bu Bayu.


"Nggak mbak. Hanya belakangan ini saja sering mual" jawab Dinda.


"Masuk angin kali dek. Ini peralihan cuaca" kata Bu Bayu.


"Ya sudah.. ayo kita ikutan tarik tambang."


:

__ADS_1


Bang Wira baru saja kembali dari acara latihan kesigapan dan turun dari truk nya. Mata elangnya menangkap sosok berbaju senada dengan ibu-ibu anggota yang lain, warna navy dan tosca hanya saja warnanya sedikit bercorak dan yang lebih mencengangkan lagi, Bang Wira begitu mengenalinya.


"Dindaa....!!!!!!" Bang Wira membanting ranselnya kemudian secepatnya berlari menghampiri istrinya.


"Stop.. berhenti dek..!!!!"


Peringatan itu sudah tidak dapat di kondisikan lagi, Dinda terkejut ada suara keras dari arah kiri. Tali sudah mengencang, Dinda yang tidak siap malah terpeleset dan terjungkal sekuatnya.


"Aaaaarrrhhh.." Dinda kesakitan memegangi perutnya, baru kali ini ia merasakan sakit dan nyeri seperti ini.


"Bu Wiraa..!!" ibu-ibu yang lain akhirnya menghentikan acara tersebut.


Masih dengan menyimpan wajah marahnya, Bang Wira mengangkat Dinda.


"Cepat kamu kemudikan mobilnya..!!" pinta Bang Wira pada Om Ody.


...


Tangan Bang Wira mengepal kuat, rasa marahnya sudah benar-benar ada di ubun-ubun kepala. Ia menyambar vas bunga lalu meretakkan nya dengan tangannya.


"Maksud kamu apa main tarik tambang??? Semalam Abang sudah bilang kalau Abang sangat menginginkan anak ini..!! Apa kurang jelas di telingamu Dinda??????? Kamu nggak mau hamil anak Abang?? Mau buat dia celaka??????" bentak Bang Wira.


"Dinda minta maaf Bang. Dinda nggak tau kalau Dinda hamil" jawab Dinda terisak, Dinda mencoba meraih tangan Bang Wira tapi suaminya itu sangat marah.


"Adinda saja yang dua kali hamil, masih bisa peka dengan kehamilannya..!! Kemana naluri mu sebagai seorang ibu Dindaaa..!!!!!!" bentak Bang Wira lagi.


"Adinda itu masih bisa mempertahankan kehamilannya sampai mati padahal itu tanpa penjagaan Abang. Kamu benar-benar ceroboh Dinda"


Petir dan kilat menyambar, Bang Wira meninggalkan Dinda seorang diri di dalam kamarnya.


Adinda.. Adinda.. dan Adinda yang selalu terdengar dari mulut Bang Wira. Dinda merasa kecil, hina dan terpuruk. Tangan kecil itu menghapus tangisnya.


:


"Astagfirullah hal adzim.. Tuhan..Kenapa aku sampai bicara seperti itu????" gumam Bang Wira.


Terdengar kembali suara petir.


"Dinda..!! Anak ku???" Bang Wira pun membuang rokoknya dan berlari kembali ke kamar Dinda.


:


"Kenapa sampai tidak ada yang tau istri saya pergi kemana????" hati Bang Wira terasa tak karuan. Rasa kalut kembali mendera batinnya.


"Sebenarnya aku yang ingin tanya. Kamu itu tadi dimana sampai kehilangan istrimu??" tanya dokter Nick.


Bang Wira mengusap wajahnya dengan kepanikan luar biasa.


"Dindaaa.. dimana kamu sayang??" Bang Wira pun berlari keluar tak peduli dengan pertanyaan littingnya.


Langkah Bang Wira gusar. Ia berlari kesana kemari dengan cemas. Dua kali ia memutari rumah sakit tapi Dinda tak kunjung di temukan.


"Nggak Dinda.. kamu jangan pergi kemana-mana. Jangan tinggalin Abang..!!"


"Kemana Dinda??? Kamu apakan Dinda??????" Bang Regar menarik kerah seragam Bang Wira dengan kasar. Ia ikut panik saat Bang Wira menanyakan apakah adiknya itu ada di bersamanya atau tidak.


"Aku nggak tau"


"Nggak tau bagaimana maksudmu Wiraa???????" bentak Bang Regar.


"Regar.. tolong bantu aku cari istriku..!!" Kaki Bang Wira sudah lemas, badannya pun gemetar.


"Kamu ini kurang ajar sekali Wira..!!"


...


Dua jam lamanya Bang Wira memutari kota. Ia hampir putus asa. Sungguh ia sangat menyesali kata-katanya. Bang Wira bersandar lemas di jok nya.


"Cepat Regar..!! Dinda Bawa anak ku"

__ADS_1


"Kau kira kita lagi cari patung Monas yang langsung kelihatan??? Sebenarnya ada masalah apa sampai Dinda meninggalkanmu????"


Bang Wira terdiam seribu bahasa, ia hanya bisa mengusap dadanya yang semakin tidak tenang.


Tak lama mata Bang Wira melihat sesosok perempuan yang duduk di luar sebuah cafe di pinggiran kota. Penampilan Dinda pun sudah berubah.. begitu seksi, putih, mulus dan pastinya sanggup membuat mata pria jadi khilaf.


"Regar berhenti.. itu Dinda..!!"


Belum sampai mobilnya berhenti, Bang Wira sudah membuka pintunya dan berlari menghampiri Dinda.


"Woeee pot, edaaann..!!!!!!!!"


Suara klakson sudah menegur Bang Regar hingga dirinya harus minta maaf pada pengguna jalan yang lain.


"Akalnya sudah hilang kalau sudah berurusan sama perempuan. Tapi ini gila.. Dinda kasih makan dia apa sampai Wira bisa seperti orang hilang akal"


~


"Dek.."


Dinda melihat Bang Wira berdiri di hadapannya, nafasnya pun masih ngos-ngosan tapi ia berusaha tenang dan tidak kaget meskipun tak menyangka Bang Wira bisa menemukannya.


Dinda membayar gorengannya dan berdiri lalu meninggalkan Bang Wira tapi sebelum Dinda pergi.. Bang Wira menghalangi langkah Dinda.


"Sayang.. Abang minta maaf..!!"


Bang Regar pun berdiri disana usai memarkir mobilnya.


"Dinda tidak pernah memaksa Abang untuk di nikahi. Dinda juga merawat Asya dengan tulus. Dinda kalah segala-galanya.. bodoh, kekanakan, tidak seperti Mbak Adinda yang lembut dan selalu bisa Abang banggakan. Dia segalanya buat Abang. Dinda ini apa? Bukan ibu yang baik.. istri yang tidak di anggap."


Sungguh Bang Regar ingin menghajar Bang Wira habis-habisan tapi ia tidak mungkin ikut campur dalam urusan rumah tangga Wira dan Dinda.


Disana Bang Wira mencium bau alkohol yang sangat kental. Bang Wira melirik tangan Dinda yang menyembunyikan botol minuman di balik tubuhnya. Nampak isinya sudah setengah habis terminum.


"Tequilla?? Kamu minum itu???" Bang Wira merebut minuman tersebut tapi Dinda melarangnya, ia menegak minuman itu lagi lalu menggigit kecil bibir Bang Wira.


Dinda berjinjit mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Wira lalu menghisap rokok dan menghembuskan di wajah suaminya itu.


"Pilihlah dua hal yang paling kamu inginkan Om Wira sayang.. Menginginkan aku mengembalikan jantung istrimu.. atau aku menjadi p**a*r mu??" tangan Dinda bergerak nakal menggoda Bang Wira.


"Ngomong apa kamu Dinda?? Kamu mabuk, jangan ngelantur..!!"


"Dinda sadar Bang.. jawab..!!!!!"


Hati Bang Wira sudah remuk redam melihat tingkah sang istri.


"Ayo pulang dek..!! Kamu sudah capek..!!"


"Jawab.. kamu laki-laki khan??" tantang Dinda membuang semua rasa sopan santunnya.


"Aaarhh.. hhgghh" Dinda tiba-tiba memegangi dadanya dan bersandar lemas di dada Bang Wira.


Bang Wira sudah tidak tahan dengan situasi ini. Ia merampas botol minuman Dinda lalu membantingnya dengan kasar hingga botolnya pecah berhamburan. Bang Wira pun menghisap rokok yang tadi sempat di hisap oleh istrinya.


"Nakalmu masih amatiran sayang..!!" dalam kesakitan batinnya.. ia mengecup bibir Dinda. Alkohol yang di teguk Dinda sungguh membuat perasaan Bang Wira cemas. Alkohol sangat berbahaya untuk jantung Dinda dan calon buah hatinya.


"B******n tetaplah b******n, kamu menguji batin Abang Dinda.. maka.. jadilah p**a**r Abang selamanya.. karena Abang tidak ingin jantung itu kembali pada pemiliknya..!!"


Dinda memandang bola mata Bang Wira.


"Kenapa? Tidak bisakah Dinda berharga di mata Abang? Tidak bisakah Dinda menjadi kebanggaan Abang juga??" setitik air mata Dinda mulai menetes.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2