
"Itu tidak pantas Wira. Membuka aib rumah tangga di hadapan para anggota lain..!!" tegur Bang Bayu.
"Siap salah Abang..!! Saya tidak sengaja" jawab Bang Wira.
"Ada-ada saja kamu ini"
"Siap salah"
...
Bang Wira membuka pintu rumahnya, hari ini usai adzan Maghrib Bang Wira baru tiba di rumah. Tak ada siapapun di rumah dan itu membuatnya sedikit gelisah. Tak lama terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya, Bang Wira bergegas ke depan dan memang benar ada suara motor. Ia memperhatikan wajah pria berbaju loreng yang wajahnya tidak di kenal Bang Wira.
Dinda langsung melewati Bang Wira tanpa sapa dan salam.
"Darimana kamu?" tanya Bang Wira.
"Siapa dia??"
"Anggota Abang"
"Anggota apa?? Abang nggak kenal. Kamu darimana??" tanya Bang Wira lagi.
Dinda tersenyum sinis.
"Anggota tak mengakui, setelah ini Abang pun pasti tak mengakui hubungan perselingkuhan Abang"
"Astagfirullah hal adzim.. ngomong apa kamu ini, kapan Abang selingkuh???" nada Bang Wira. sedikit lebih keras.
plaaaaakkk...
"Lihat ini..!!! Apa namanya ini kalau Abang nggak selingkuh???" Dinda memberikan ponselnya pada Bang Wira agar suaminya itu bisa melihatnya.
Bang Wira menerima ponsel Dinda dan melihat isi video dan foto 'dirinya' dengan wanita lain. Saking kagetnya Bang Wira sampai terhuyung, kepalanya terasa pening dan berat.
"Darimana kamu dapatkan video ini???"
"Dari selingkuhan Abang.. Sahara..!!!!!" Dinda melenggang pergi meninggalkan Bang Wira yang masih terpaku menata hatinya.
Bang Wira segera mengambil HTnya.
"Siapapun.. cegat motor n***a yang tadi mengantar istri saya pulang..!!!!!"
:
"Kamu jangan kemana-mana..!! Nanti Abang jelaskan setelah pria yang mengantarmu tadi tertangkap..!!!"
"Dinda mau pulang..!!" teriak Dinda saat Bang Wira menarik dirinya kembali ke kamar.
"Kamu tetap disini dan nggak boleh keluar tanpa seijin Abang..!!" bentak Bang Wira kemudian menyambar pistol di atas lemari dan pergi keluar kamar.
"Abang nggak bisa perlakukan Dinda seperti ini..!! Dinda nggak mau di duakan..!!!!!" teriak Dinda sembari memukul pintu dengan kencang.
~
__ADS_1
"Ada apa Wira??" tanya Bang Rendra yang mendengar keributan dari rumah littingnya itu.
"Sahara mengacau lagi"
"Dia mengganggu Dinda???"
"Eehh pot.. jangan pakai pistol mu..!!!!!" cegah Bang Rendra.
"Dia harus mati."
"Taipan bangkit, tolong persiapan..!!" Bang Rendra pun mengabari lingkungan sekitar nya.
:
"Siapa yang menyuruhmu?????" Bang Wira menghajar pria yang tadi mengantar Dinda. Dari sana juga Bang Wira paham jika pria itu bukan anggota militer.
"Saya tidak di suruh siapapun. Ini adalah inisiatif saya sendiri untuk menolong istri Pak Wira"
"Kau bohong. Darimana kamu tau nama saya Wira???" bentak Bang Wira karena saat itu nama dada di seragamnya adalah Panji R. W.
"Saya tidak di suruh siapapun" kata tentara gadungan itu.
Bang Wira kembali menghajar pria tersebut lalu melucuti semua pakaiannya untuk di periksa. Tak lama Bang Wira menemukan alat perekam di baju pria tersebut.
"Trik kacangan..!!!!!!!" Bang Wira membanting alat tersebut lalu menendang pria tersebut menggunakan sepatu PDLnya.
"Jangan Wira..!! Kalau dia mati kamu tidak akan mendapatkan informasi apapun" Bang Bayu mengingatkan.
Tak lama ada suara ponsel berdering. Bang Rendra mengangkat panggilan teleponnya.
Mata Bang Wira pun membulat tajam, ia segera keluar bertolak belakang dengan rumahnya dan mengambil arah berlawanan dari Batalyon.
...
"Ini ibu Wira yang baru?? Cantik.. dan menggoda, pria tersebut mengecup bibir Dinda. Para pemberontak itu membawa Dinda melewati jalan perkebunan yang cukup gelap dan kurang jamahan warga.
Hati Bang Wira benar-benar panas, ia ingin menghajar pria tersebut tapi ternyata Dinda menggigit bibirnya dan meludahi wajah pemberontak itu dengan kasar.
"Dasar wanita sialaaan..!!!!!" pemberontak itu menampar pipi dan menghantam Dinda dengan kuat.
"Dindaaaa..!!!! Jangan sakiti istriku b*****t..!!" Bang Wira sudah memberontak tapi belakang lututnya di jegal. Satu hantaman pun mengenai ulu hati Bang Wira tapi karena dirinya seorang pria tentu fisiknya jauh lebih kuat.
Tak tahan merasakan sakitnya, Dinda pun langsung terkapar.
"Aaaaarrrhhh.." Dinda memegangi perutnya. Mata Dinda dan Bang Wira saling menatap.
"Kuat sayang.. kamu harus kuat..!!" kata Bang Wira menguatkan Dinda.
"Indah sekali kisah cinta kalian. Tapi semua harus berakhir. Bos kami tidak senang." Pemberontak itu menjambak rambut Dinda.
"Urusanmu denganku.. bukan dengan istriku..!!!!!!" bentak Bang Wira.
"Uusshhh.. slow Kapten. Bagaimana rasanya?? Sakit melihat istrimu sakit??? Itulah yang dirasakan putri dari junjungan kami" kata pemberontak itu.
__ADS_1
"Siapa junjunganmu itu??" Bang Wira sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Orang tua Sahara. Gadis yang kau sebut namanya.. Sari"
Ingatan Bang Wira langsung berputar pada masa lalunya, dan itu semua memang benar.. ia pernah memiliki hubungan dengan gadis bernama Sari.
"Kau sudah ingat Kapten??"
"Ya.. lalu apa hubungannya dengan semua ini??" tanya Bang Wira.
"Pria yang kau tembak tujuh tahun lalu ada bos kami. Dan dia adalah kakek Sahara. video itu adalah alat pemancing emosimu melalui para istrimu yang labil. Dua nyawa masih belum cukup menggantikan nyawa kakek, orang kepercayaan dan nenek yang jadi sakit-sakitan karenamu" ucapnya sembari menendang perut Dinda dengan kencang.
"B******n.. sudah kubilang jangan bawa-bawa istriku dalam masalah ini. Jangan sentuh Dinda..!!" Bang Wira memberontak berusaha melepaskan diri dari sergapan musuh.
Para anggota bukannya tidak membantu. Mereka tetap siaga, hanya saja mereka tidak berani gegabah.. takut salah bertindak yang nantinya akan berakibat fatal untuk istri Kapten Wira ataupun Kapten Wira sendiri.
"Kau pun sudah meledakan gudang obat kami dan itu adalah sumber penghidupan kami, hal itu membuat Sahara stress dan keguguran karena terlalu banyak pikiran"
Mata Bang Wira melihat Dinda sudah sangat kesakitan. Dinda terus merintih setiap istrinya itu bergerak, para pemberontak akan semakin menekan hingga Dinda tidak bisa bergerak.
"Apa maksudmu??" Bang Wira ingin lepas tapi tangannya benar-benar terkunci.
"Kau yang telah menghamili Sahara bukan???"
"Dimana Sahara???? Aku ingin bicara sama dia..!! Aku memang meledakan gudang itu tapi aku tidak pernah merasa menyentuhnya."
"Bolehkah aku bicara dengan Sahara juga?" kata Bang Rendra menyahut. Wajah Bang Wira pun merah padam mengingat kejadian penyergapan bertahun-tahun yang lalu.
"Omong kosong.." pemberontak itu semakin menekan kepala Dinda dan menginjak punggungnya.
"Dindaa" sungguh sesak Bang Wira. Tangannya mengepal melihat sang istri terkapar tanpa daya. Enam orang memeganginya dengan erat, satu tangan sudah menjerat papa Asya dengan tali tampar.
"Kau akan lihat istri kesayanganmu ini kunodai hingga kau menangis darah Kapten Wira..!!!!!"
Pemberontak itu menyeret rambut Dinda. Para anggota mengacungkan senjata namun mereka bingung harus membuka mata atau menutup mata melihat istri seorang Kapten di perlakukan tidak hormat jauh dari kata menjunjung tinggi harga diri wanita. Baju Dinda pun sudah teracak-acak.
"Jangan sentuh aku, tolong..!!" ucap lirih itu begitu menyayat hati Bang Wira. Darahnya pun mendidih, meninggi hingga ke ubun-ubun kepala. Satu persatu di bantingnya para perusuh sampai satu tembakan mendarat, terdengar memekakan telinga. Entah siapa yang melepaskan tembakan itu.
doooorrr....
Ada titik air mata meleleh tak sampai hati melihat adiknya mendapat perlakuan buruk. Para anggota pun melanjutkan beberapa tembakan hingga para pemberontak itu tunggang langgang.
Para anggota berniat melepaskan tembakan sebagai peringatan. Namun mengingat wilayah mereka padat dengan penduduk.. tak mungkin mereka gegabah bermain di lingkungan sipil.
"Cukup.. sudahi dulu semua. Tolong bantu amankan keadaan disini..!!" perintah Bang Bayu.
Bang Wira merangkak menghampiri Dinda. Ia melepas pakaiannya untuk menutupi tubuh istrinya. Bang Wira memeluk tubuh Dinda dengan erat.. erat sekali. Tak ada kata.. hanya pedih dan perih merajai hati melihat sang istri yang terus menatapnya mengungkap ribuan rasa.
"Bagaimana adik ku Wira??" tanya Bang Siregar.
.
.
__ADS_1
.
.